Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Skandal Safir dan Darah
Semburat jingga mulai membelah langit Jakarta yang kelabu pasca badai. Di atas atap Panti Asuhan Cahaya, Ryuga masih mendekap Kiara yang tubuhnya gemetar karena kelelahan dan kedinginan. Helikopter Seline telah menghilang di balik gedung-gedung tinggi, meninggalkan jejak asap hitam yang perlahan memudar.
Namun, ketenangan itu semu. Ryuga merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebagai seorang pria yang tumbuh di dunia korporasi yang kejam, ia tahu kapan ia sedang diawasi.
"Kiara, bisa berdiri?" bisik Ryuga, suaranya kembali ke mode siaga.
Kiara mengangguk lemah. Ia mencoba merapikan sisa-sisa Gaun Biru Safir-nya yang kini lebih mirip kain perca. Ryuga membantunya berdiri, matanya menyapu area parkir di bawah gedung. Di sana, di balik rimbunnya pohon bakau, sebuah sedan hitam mewah terparkir diam tanpa lampu.
Di dalam sedan tersebut, seorang pria duduk dengan tenang di kursi belakang. Ia mengenakan sarung tangan kulit hitam, dan di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan mekanik dengan dial burung Phoenix berkilau terkena cahaya fajar. Jarum detiknya berdetak dengan presisi sempurna identik dengan detakan jam saku S-1945 yang dipegang Kiara.
Pria itu menurunkan kaca jendela sedikit. Ia tidak keluar, namun auranya terasa sampai ke atap gedung.
"Ryuga, lihat mobil itu," bisik Kiara, jemarinya mencengkram lengan kemeja Ryuga. "Jam di saku saya... bergetar."
Benar saja, jam saku S-1945 di tangan Kiara mulai mengeluarkan bunyi dengungan halus, sebuah fitur sinkronisasi jarak pendek yang hanya aktif jika berada di dekat 'jam induknya'.
✨✨✨✨
Sementara itu, di lantai bawah, Dino sedang dalam masalah besar.
Ambulans yang ia gunakan sebagai markas darurat telah dikepung oleh tiga orang pengawal bersetelan rapi namun mereka bukan orang Hendra, dan bukan pula orang Seline.
"A-ampun, Mas! Saya cuma kurir donat nyasar!" seru Dino sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Salah satu pengawal, yang memiliki tato burung Phoenix di lehernya, mengetuk kaca jendela ambulans dengan laras senjatanya. "Keluar, Fotografer. Tuan besar ingin bicara."
Dino menelan ludah. Ia melihat ke arah kamera DSLR-nya yang masih tergeletak di kursi penumpang.
Dengan gerakan kilat, ia menekan tombol shutter dengan kaki, mengambil foto wajah pengawal itu secara diam-diam. "Oke, oke! Saya keluar! Tapi jangan lecetkan wajah ganteng saya, ya!"
Di atas atap, Maya muncul dari balik pintu tangga dengan wajah pucat. "Ryuga, Kiara... kalian harus segera pergi. Dia ada di sini."
"Siapa, Maya?" tanya Ryuga tajam.
"Pria yang ibumu takuti sekaligus cintai," jawab Maya penuh teka-teki. "Pemilik asli proyek S-1945. Dia yang selama ini memalsukan kematiannya untuk mengamati kalian dari jauh."
Tiba-tiba, ponsel di saku Ryuga bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:
"Silsilah bisa dipalsukan, tapi detak jantung mekanik tidak pernah berbohong. Turunlah, Ryuga. Mari kita bicara sebagai keluarga... atau sebagai musuh."
Ryuga menatap Kiara. Ada ketakutan di mata Kiara, tapi juga rasa ingin tahu yang besar. Ryuga mengeratkan genggaman tangannya pada Kiara. "Apapun yang terjadi di bawah sana, tetaplah di belakangku. Aku tidak peduli siapa dia, dia tidak akan menyentuhmu."
Konfrontasi di Halaman Panti
Mereka turun ke halaman panti yang becek. Pintu sedan hitam itu terbuka. Pria itu keluar. Ia tampak berusia sekitar enam puluh tahun, rambutnya beruban rapi, mengenakan setelan tweed yang sangat berkelas. Wajahnya adalah perpaduan antara ketegasan ayah Ryuga dan kelembutan yang aneh.
"Selamat pagi, Ryuga. Dan Nona Kiara yang pemberani," ucap pria itu. Suaranya berat dan berwibawa.
"Ayah?" suara Ryuga tercekat.
Pria itu tersenyum tipis, lalu menunjukkan jam tangan foniks di lengannya. "Ayahmu sudah lama mati, Ryuga. Aku adalah Bramasta Dewangga yang asli. Pria yang kalian anggap pembunuh selama sepuluh tahun ini... sebenarnya adalah orang yang memastikan kalian tetap hidup sampai detik ini."
Kiara melangkah maju, keberaniannya muncul kembali. "Lalu kenapa Anda membiarkan ayah saya dituduh sebagai pengkhianat? Kenapa Anda membiarkan saya hidup dalam kemiskinan?"
Bramasta menatap Kiara dengan tatapan yang dalam, hampir seperti seorang ayah yang menatap putrinya. "Karena kau bukan sekadar 'aset' Seline, Kiara. Kau adalah sistem operasi hidup dari S-1945. Dan sekarang, jam itu sudah aktif... perang yang sebenarnya baru saja dimulai."
Suasana di halaman Panti Asuhan Cahaya mendadak beku. Kabut subuh yang dingin seolah berhenti bergerak saat nama Bramasta Dewangga terucap. Ryuga berdiri mematung, tangannya yang tadi siap menarik pelatuk perlahan turun, namun otot-otot lengannya masih tampak tegang.
"Paman Bramasta?" Ryuga mendesis. "Sepuluh tahun kami mencarimu untuk membalas dendam, dan sekarang kau muncul sebagai malaikat pelindung?"
Bramasta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat, mengabaikan moncong senjata yang masih mengarah padanya. Ia berhenti tepat di depan Kiara, membuat Ryuga secara refleks menggeser tubuhnya untuk menutupi Kiara.
"Kau memiliki mata ayahmu, Kiara. Keras kepala dan penuh rasa ingin tahu," ucap Bramasta tenang. "Ayahmu, Satria, tidak pernah mengkhianati siapa pun. Dia setuju dicap sebagai pengkhianat agar Konsorsium tidak memburumu. Dia menukarkan reputasinya demi nyawamu."
Sub-Plot: Dino dan Penyelamatan Berisiko
Di dalam ambulans, Dino mulai kehilangan kesabaran. Pengawal bertato foniks itu mulai mencoba membuka paksa pintu kendaraan.
"Oke, Dino... jangan panik. Gunakan insting fotografermu," gumam Dino. Ia mengambil lampu flash cadangan berdaya tinggi dan menghubungkannya dengan aki ambulans.
Saat pintu terbuka sedikit, Dino meledakkan flash tersebut tepat di wajah ketiga pengawal itu. BLAAAST! "Rasakan itu, buta sementara selama lima menit!" Dino melompat keluar, membawa tas kameranya, dan berlari menuju kerumunan pohon bakau. Namun, bukannya lari menjauh, ia justru berputar menuju mobil sedan hitam Bramasta. "Kalau aku bisa memasang pelacak di mobil Tuan Besar ini, aku akan jadi legenda!"
Thriller: Kode yang Bergetar
Kiara mengeluarkan jam saku S-1945 dari saku gaunnya yang robek. Jam itu kini bergetar semakin hebat, mengeluarkan suara denting frekuensi tinggi yang hanya bisa didengar oleh telinga yang terlatih.
"Bramasta, jam ini... apa yang sebenarnya ia lakukan?" tanya Kiara, suaranya kini lebih stabil.
"S-1945 bukan hanya kunci satelit," jawab Bramasta, matanya beralih ke jam di tangan Kiara. "Itu adalah pemancar frekuensi rendah yang bisa menonaktifkan semua senjata elektronik dalam radius lima kilometer. Seline menginginkannya untuk menguasai militer. Tapi Satria merancangnya agar hanya bisa aktif jika disentuh oleh seseorang dengan pola detak jantung yang spesifik."
Bramasta menunjuk ke arah pergelangan tangan Kiara. "Detak jantungmu adalah kodenya, Kiara. Kau adalah bio-key yang sebenarnya."
Tiba-tiba, sebuah titik merah laser muncul di dada Bramasta.
"TIARAP!" teriak Ryuga.
DOR!
Tembakan sniper memecah kesunyian. Peluru menghantam kaca depan sedan hitam, meleset tipis dari kepala Bramasta.
Slow Burn: Perlindungan di Tengah Hujan Peluru
Ryuga menyambar tubuh Kiara, menjatuhkannya ke tanah dan menindihnya untuk melindungi wanita itu dari tembakan susulan. Mereka berguling ke balik tembok beton tua panti asuhan. Di posisi yang sangat intim itu, di tengah desing peluru, Ryuga menangkup wajah Kiara dengan kedua tangannya.
"Dengarkan aku," bisik Ryuga, napasnya memburu di depan wajah Kiara. "Apapun yang dikatakan pria itu tentang jantungmu atau kodenya, kau tetap milikku. Bukan milik Dewangga, bukan milik Konsorsium. Mengerti?"
Kiara mengangguk, ia bisa merasakan keringat dingin Ryuga menetes ke pipinya. Di tengah ancaman maut, pengakuan posesif Ryuga justru memberinya rasa tenang yang aneh. "Saya mengerti, Pak Bos. Sekarang, mari kita keluar dari sini hidup-hidup."
Pelarian ke Menara Dewangga
"Maya! Bawa mereka ke mobil cadangan di dermaga!" teriak Bramasta sambil membalas tembakan ke arah hutan bakau. "Seline mengirim regu pembunuh bayaran. Kita harus kembali ke Menara Dewangga. Itu satu-satunya tempat dengan enkripsi yang cukup kuat untuk melindungi detak jantung Kiara!"
Dino muncul dari semak-semak, melompat ke arah mereka dengan napas tersengal. "Aku sudah pasang pelacaknya! Eh... maksudku, ayo lari!"
Mereka berlari menembus hujan peluru menuju dermaga, di mana sebuah kapal cepat dengan mesin ganda sudah menunggu. Saat mereka meluncur pergi, Kiara menatap ke belakang. Ia melihat Panti Asuhan Cahaya mulai terbakar—rahasia masa kecilnya musnah dalam api, menyisakan masa depan yang kini sepenuhnya bergantung pada detak jantungnya... dan pada pria yang kini memeluknya erat di tengah badai.
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?