Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJARA CERMIN DAN AYAH YANG ASING
"BERHENTI! JANGAN SENTUH IBU!"
Viona menjerit, suaranya melengking membelah aula emas yang megah itu. Jantungnya berdegup kencang, koin di dalam dadanya berdenyut menyakitkan seolah-olah ingin meledak keluar. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bodi SUV hitam milik Adrian perlahan menjadi transparan, memudar seperti asap di bawah terik matahari. Dan yang paling mengerikan, Elena—ibunya—mulai terurai dari ujung jemari kakinya menjadi butiran debu emas yang berkilauan.
"Vio... tolong..." rintih Elena. Suaranya terdengar jauh, seolah ia sedang berbicara dari balik dinding kaca yang sangat tebal.
Pria yang memiliki wajah persis Nathan Mahendra itu tidak bergeming. Ia berdiri dengan sikap sempurna, pena emasnya masih menari di udara, menggoreskan garis-garis cahaya yang menghapus keberadaan Elena dari realitas. Matanya yang perak murni memantulkan kekosongan yang dingin.
"Kamu tidak mengerti, Viona," ucap Arsiparis itu datar. "Keberadaan Elena adalah anomali. Dia seharusnya mati sepuluh tahun lalu. Membiarkannya hidup hanya akan mengacaukan perhitungan harmoni dunia. Saya hanya sedang melakukan koreksi administratif."
"Koreksi administratif?! Itu Ibu gue, brengsek!" teriak Viona. Ia tidak peduli lagi siapa pria di depannya. Tanpa berpikir panjang, ia menghentakkan gagang payung birunya ke lantai marmer.
BUMMM!
Gelombang kejut berwarna biru safir meledak dari ujung payung, menghantam proses penghapusan tersebut. Pendar biru dan debu emas bertabrakan di udara, menciptakan percikan api dimensi yang menyakitkan mata. Proses pemudaran Elena berhenti sejenak, tubuhnya kembali memadat meski masih terlihat rapuh.
"Adrian! Lakuin sesuatu!" seru Viona sambil menahan tekanan energi dari payungnya.
Adrian, yang baru saja berhasil merangkak keluar dari sisa-sisa SUV yang belum lenyap, segera membuka tabletnya yang layarnya sudah retak. "Gue lagi coba, Vio! Tapi sistem di aula ini gila! Ini bukan cuma kode komputer, ini susunan takdir yang ditulis pake algoritma cahaya! Gue butuh waktu buat nyari backdoor-nya!"
"Rik, jagain Ibu!" perintah Viona lagi.
Riko berlari mendekati Elena, merangkul tubuh wanita itu yang kini gemetar hebat. "Vio, cepetan! Gue ngerasa lantai ini makin panas!"
Arsiparis itu sedikit mengerutkan kening, tampak terganggu karena "tulisannya" diinterupsi. Ia memutar pena emasnya, dan tiba-tiba seluruh aula mulai bergetar. Ribuan roda gigi di langit-langit berputar lebih cepat, menciptakan suara raungan mekanis yang memekakkan telinga. Lantai aula yang luas itu mendadak terbelah dan berputar seperti piringan hitam raksasa, memisahkan Viona dari teman-temannya.
"Jika kamu menolak koreksi kecil ini, maka saya harus menghapus seluruh babnya," desis Arsiparis.
Ia mengangkat tangannya, dan dari lantai marmer muncul ribuan cermin raksasa yang mengelilingi Viona. Setiap cermin memiliki bingkai perak yang dihiasi ukiran jam pasir. Di dalam pantulan cermin-cermin itu, Viona tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat ribuan versi kematiannya: tertabrak truk, tenggelam di laut, jatuh dari gedung, hingga mati kedinginan di sebuah halte bus.
"Vio, jangan liat cerminnya!" teriak Adrian dari kejauhan. "Itu Recursive Reality Loop! Kalau lo fokus ke salah satu pantulan, jiwa lo bakal kesedot dan lo bakal mati sesuai apa yang ada di cermin itu!"
Viona mencoba memejamkan mata, namun suara detak jam dari cermin-cermin itu seolah menarik paksa kesadarannya. Kepalanya mulai berdenyut hebat. Rasa sakit dari koin di dadanya semakin menjadi-jadi, seolah-olah koin itu bereaksi terhadap tekanan dimensi di sekitarnya.
"Adrian, gimana cara matiin ini?!" tanya Viona dengan gigi gemeretak.
"Satu-satunya cara adalah lo harus lakuin sesuatu yang nggak bisa diprediksi sama kalkulasi Ordo!" jawab Adrian panik sambil terus mengetik di udara, menciptakan layar-layar holografik kecil di sekelilingnya. "Ordo itu benci ketidakteraturan. Lo harus jadi anomali yang murni!"
Viona menatap Arsiparis yang kini melayang di tengah-tengah lingkaran cermin. Pria itu tampak begitu tenang, seolah ia adalah Tuhan yang sedang merapikan perpustakaan. Viona teringat kata-kata ayahnya di dalam mimpi: Hidup itu seperti hujan, kamu tidak bisa meminta pelangi tanpa melewati mendung.
Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Sesuatu yang sangat manusiawi dan tidak logis.
Viona melepaskan pegangannya pada payung biru itu, membiarkannya jatuh berdenting di lantai. Ia menarik napas panjang, lalu mulai tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya, tawa yang penuh dengan kepedihan sekaligus tantangan.
Arsiparis itu berhenti bergerak. Pena emasnya tertahan di udara. Untuk pertama kalinya, ekspresi bingung muncul di wajahnya yang datar. "Apa yang lucu? Kamu sedang menghadapi kepunahan total."
"Gue ketawa karena lo itu lucu, 'Ayah'," sahut Viona dengan sisa tenaganya. "Lo punya kekuatan buat nulis sejarah, tapi lo nggak tahu gimana rasanya sedih. Lo ngatur waktu, tapi lo sendiri terjebak di dalemnya kayak robot karatan. Lo nggak bakal pernah bisa nulis perasaan gue, karena perasaan itu acak, berantakan, dan nggak butuh algoritma!"
Viona berlari maju, bukan ke arah Arsiparis, melainkan ke arah salah satu cermin yang menampilkan dirinya sedang duduk di halte hujan—halte pertama tempat ia bertemu Alfred.
"Vio, jangan masuk ke sana!" teriak Elena.
Tapi Viona tidak peduli. Ia melompat ke arah permukaan cermin itu. Alih-alih menabrak kaca keras, ia merasa seolah melewati tirai air yang dingin. Dunia aula emas itu lenyap, digantikan oleh aroma aspal basah dan suara rintik hujan yang menenangkan.
Viona berdiri kembali di trotoar Jakarta. Langit berwarna abu-abu pekat. Di depannya, halte tua itu berdiri dengan pilar kayu yang keropos. Dan di sana, di bawah atap halte, duduk seorang pria muda. Pria itu tidak memakai jas abu-abu Arsiparis; ia memakai jaket denim tua dan sedang mengelap kacamata.
Itu Nathan Mahendra. Ayah Viona yang asli dari memori sepuluh tahun lalu.
"Ayah?" bisik Viona, air matanya tumpah seketika.
Nathan mendongak, matanya yang hangat dan penuh kasih menatap Viona. Ia tersenyum lebar, menunjukkan kerutan di sudut matanya yang sangat akrab bagi Viona. "Vio? Kamu kok basah kuyup begini? Sini, duduk di samping Ayah. Ayah baru mau pesen teh botol di warung sebelah."
Viona berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya. Aroma keringat dan rokok tipis dari baju ayahnya terasa begitu nyata. Ini bukan simulasi dingin Ordo; ini adalah rumah.
"Ayah... Vio kangen banget. Vio capek, Yah. Semuanya gila," isak Viona di dada ayahnya.
Nathan mengusap rambut Viona dengan lembut. "Ayah tahu, Nak. Ayah tahu semuanya berat buat kamu. Tapi kamu hebat, kamu sudah sampai sejauh ini."
Viona melepaskan pelukannya, menatap wajah ayahnya. "Yah, kita harus pergi dari sini. Ada orang yang mirip Ayah di luar sana, dia mau hapus Ibu. Kita harus nyelamatin Ibu."
Nathan terdiam sejenak. Senyumnya masih ada, tapi tiba-tiba terasa sedikit... kaku. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah pena perak. Pena yang memancarkan cahaya biru redup.
"Pena itu..." Viona melangkah mundur perlahan. Jantungnya kembali berdegup kencang karena waspada. "Kenapa Ayah punya pena milik Alfred?"
"Pena ini adalah bayaran yang Ayah berikan agar kamu bisa masuk ke sini, Vio," kata Nathan. Suaranya mulai berubah, menjadi sedikit lebih berat, sedikit lebih... mekanis. "Supaya kamu aman. Bukankah kamu ingin tetap di sini bersama Ayah selamanya? Di sini tidak ada Julian, tidak ada Baskara, tidak ada rasa sakit."
"Enggak," bisik Viona. "Ini bukan memori gue. Ayah nggak pernah punya pena itu. Siapa lo sebenarnya?!"
Nathan berdiri. Tubuhnya mendadak tumbuh lebih tinggi, bayangannya memanjang menutupi seluruh halte. Wajahnya mulai mencair, fitur-fitur wajahnya menghilang digantikan oleh permukaan halus seperti cermin.
"Viona, dengerin Ayah baik-baik," suara itu kini terdengar seperti ribuan detak jam yang beradu. "Orang yang kamu lawan di aula tadi... itu bukan Arsiparis Utama yang sebenarnya. Dia hanyalah Sweeper, program penghapus tingkat tinggi. Arsiparis yang asli... dia sudah menunggu sepuluh tahun agar koin itu kembali ke jantung memori ini."
Tiba-tiba, langit Jakarta di luar halte mulai retak. Potongan-potongan langit jatuh seperti pecahan kaca, menyingkapkan kegelapan hampa di baliknya. Dari kegelapan itu, muncul ribuan burung gagak mekanis yang matanya bersinar merah.
"Lalu... kalau dia bukan Arsiparis, terus lo siapa?" tanya Viona dengan suara bergetar.
Sosok yang menyerupai ayahnya itu meraih leher Viona dengan tangan yang terasa dingin seperti batu granit. Cengkeramannya begitu kuat hingga Viona sulit bernapas.
"Saya?" sosok itu tertawa dingin. "Saya adalah alasan kenapa Nathan Mahendra harus mati sepuluh tahun lalu. Saya adalah Penjaga Penjara Kenanganmu. Dan sekarang, koin itu milik Ordo kembali."
Di luar cermin, di aula emas, Adrian dan Riko berteriak histeris. Mereka melihat pantulan Viona di dalam kaca sedang dicekik oleh bayangan hitam.
"Vio terjebak dalam Closed Loop!" teriak Adrian sambil memukul permukaan cermin yang kini sekeras baja. "Seseorang di dalem sana lagi nyoba nge-format ulang ingatan Vio biar koinnya bisa diambil secara utuh tanpa ngerusak tubuhnya!"
"Pecahin kacanya, Adrian! Cepetan!" teriak Riko kalap.
"Nggak bisa asal pecah, Rik! Kalau kita pecahin dari luar tanpa sinkronisasi, jiwa Viona bakal ikut hancur jadi jutaan fragmen!" Adrian menoleh ke arah Elena yang masih terbaring lemah. "Ibu... Ibu satu-satunya yang punya frekuensi yang sama sama Vio. Ibu harus panggil dia balik!"
Elena membuka matanya yang bersinar emas redup. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak menuju cermin tempat putrinya terjebak. Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca yang dingin.
"Viona... denger suara Ibu, Nak..." bisik Elena.
Di dalam cermin, Viona mulai kehilangan kesadaran. Pandangannya menggelap. Namun, tepat sebelum ia menyerah, ia merasakan getaran hangat di tangan kirinya—tempat ia menulis kata 'SEKARANG'. Kata itu tiba-tiba berpendar merah terang, membakar tangan bayangan hitam yang mencekiknya.
"Gue... nggak... bakal... kalah!" geram Viona.
Ia meraih payung biru yang entah bagaimana muncul kembali di tangannya di dalam dimensi memori itu. Ia tidak membuka payung itu. Ia menusukkan ujung payungnya yang tajam tepat ke arah 'wajah' cermin sosok ayahnya.
PRANGGG!
Suara kaca pecah bergema bukan hanya di dalam memori, tapi di seluruh aula emas.
Viona terlempar keluar dari cermin, jatuh tersungkur di depan Elena. Namun, saat ia mendongak, ia menyadari bahwa aula emas itu sudah bukan aula lagi. Mereka kini berada di tengah sebuah ruang kosong yang luas, dikelilingi oleh jutaan jam pasir raksasa yang semuanya mengalirkan pasir ke arah satu titik di tengah: sebuah kursi singgasana yang diduduki oleh seorang pria tua yang sangat akrab.
Tuan Alfred.
"Selamat, Viona," ucap Alfred sambil mengelus gagang perak payung gagaknya. "Kamu baru saja membunuh sisa-sisa jiwa ayahmu yang saya simpan di dalam cermin itu. Sekarang, mari kita mulai transaksi yang sebenarnya."