"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Kantor Skyline Group, Medan. Pukul 08.00 WIB.
Pagi di gedung Skyline Group biasanya dimulai dengan ritme yang teratur dan tenang. Namun hari ini, atmosfer di lobi utama terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung di udara, bisik-bisik pelan di antara para karyawan yang tidak tau menau dengan keberadaan para petugas keamanan yang sudah bersiaga di kantor sejak pagi buta, dan wajah-wajah pucat para tim keamanan yang berjaga di setiap sudut. Mereka semua baru saja melewati malam paling mengerikan dalam sejarah karir mereka: malam di mana sang harimau, Garvi Darwin, kehilangan kendali karena hilangnya sang ratu.
Tepat pukul delapan lewat lima menit, sebuah taksi konvensional berhenti di lobi. Pemandangan yang sangat langka di gedung di mana mobil-mobil Eropa miliaran rupiah biasanya terparkir.
Pintu terbuka. Kaki jenjang yang dibalut stiletto hitam mengkilap melangkah turun.
Sava keluar dari taksi dengan kepala tegak. Meskipun ia hanya mengenakan long dress linen yang ditutupi oleh blazer hitam yang ia ambil dari villanya, auranya sebagai COO Skyline Group tidak berkurang sedikit pun. Rambut brunette curly-nya tertiup angin pagi Medan, membingkai wajah cantiknya yang tampak tenang, seolah ia baru saja kembali dari liburan mewah, bukan dari pelarian yang menghebohkan.
Ia melangkah masuk ke lobi. Para staf keamanan yang melihatnya hampir saja menjatuhkan alat komunikasi mereka. Mereka segera menunduk dalam, antara lega karena nyawa mereka selamat dan takut karena mereka gagal menemukan wanita ini semalaman.
Sava mengabaikan semua tatapan itu. Ia langsung menuju lift pribadi yang membawanya ke lantai eksekutif.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, Winata hampir saja menjatuhkan tablet di tangannya. Wajahnya yang kelelahan dan matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun.
"Sava?!" pekik Winata pelan. Ia segera berlari dan menutup pintu ruangan itu dengan rapat. "Ya Tuhan, Alsava Emily! Kamu dari mana saja? Aku hampir mati serangan jantung semalaman!"
Sava meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di kursi kebesarannya dengan tenang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Winata dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Aku hanya mencari udara segar, Win. Kota ini terlalu sesak."
"Udara segar sampai mematikan ponsel dan menghilang dari radar?" Winata mendekat, suaranya gemetar karena cemas. "Sava, kamu tidak tahu apa yang terjadi di mansion semalaman. Garvi... dia gila. Benar-benar gila! Dia mengerahkan semua tim keamanan, dia menyisir seluruh hotel di Medan, dia bahkan menyewa orang untuk melacak setiap taksi yang melintas. Mansion Darwin seperti markas militer semalam!"
Sava hanya menyesap air mineral yang ada di mejanya, sama sekali tidak tampak terkejut.
"Aku tahu."
"Kamu tahu? Dan kamu tetap membiarkannya?"
Sava tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kemenangan kecil. "Percuma dia menyuruh mereka mencariku, Win. Orang-orang yang dia percaya untuk melacakku... mereka adalah orang-orang yang sudah lama berada di bawah kendaliku."
Winata tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Maksudmu... tim keamanan internal?"
"Sebagai COO, tugasku bukan hanya mengurus profit, tapi juga mengurus orang-orang di balik layar," ucap Sava tenang. "Mereka tahu siapa yang paling sering berada di kantor dan siapa yang benar-benar peduli pada kesejahteraan mereka. Jadi, saat Garvi memerintahkan mereka untuk mencariku, mereka memberinya laporan palsu. Mereka tidak akan pernah membuka mulut soal di mana aku berada, meskipun Garvi mengancam akan memecat mereka."
Winata menggelengkan kepala, takjub sekaligus ngeri. "Kamu benar-benar gila, Va. Kamu bermain api dengan pria yang paling manipulatif di kota ini. Kamu tahu kan, kalau dia tahu kamu mengendalikan orang-orangnya, dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah?"
"Dia sudah tidak melepaskanku sejak dulu, Win. Apa bedanya?"
Winata duduk di kursi depan meja Sava, ia menatap sahabatnya itu dengan iba. "Tapi semalam... aku melihat sisi yang berbeda dari Garvi. Dia tampak hancur, Va. Dia tidak marah karena kamu melarikan diri, dia ketakutan. Aku bisa melihatnya. Sepertinya... dia benar-benar mencintaimu, dengan caranya yang aneh dan merusak itu."
Gerakan tangan Sava yang sedang merapikan berkas terhenti. Ia mengangkat pandangannya, menatap Winata dengan sorot mata yang sinis dan penuh kepahitan.
"Cinta?" Sava tertawa hambar, suara tawa yang terdengar menyakitkan. "Win, kamu sudah mengenal Garvi hampir sepanjang hidupmu. Kamu tahu dia adalah manusia paling manipulatif yang pernah diciptakan. Apa yang kamu lihat semalam bukan cinta, itu adalah rasa takut kehilangan properti berharga."
"Sava, tapi—"
"Cinta tidak membuat seseorang merasa tercekik, Win," potong Sava tajam. Matanya kini berkaca-kaca meski suaranya tetap tegas. "Cinta yang dimiliki Garvi bukan untuk membahagiakanku. Itu hanya untuk memuaskan egonya sebagai penguasa. Itu hanya menyakitiku, terus-menerus. Jika dia mencintaiku, dia tidak akan pernah memberiku alasan untuk melarikan diri ke pantai antah-berantah hanya untuk bisa bernapas."
Winata terdiam. Ia tidak bisa membantah kebenaran di balik kata-kata Sava. Ia tahu betapa banyak luka yang disembunyikan Sava di balik jas mahalnya.
"Sekarang, bersihkan wajahmu, Win," ucap Sava kembali ke mode profesional. "Siapkan agenda rapat siang ini. Aku ingin semuanya berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam. Dan jangan beritahu siapa pun bahwa aku sudah di sini."
"Tapi Garvi pasti akan langsung ke sini begitu dia tahu kamu muncul di lobi," ujar Winata cemas.
"Biarkan saja dia datang," sahut Sava tenang, namun ada kilatan tekad yang dingin di matanya. "Aku punya kejutan kecil untuk Mr. Garvi Darwin."
Sava bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan kota Medan. Ia tahu, mungkin sekarang, Garvi sedang mengamuk atau mungkin sedang meratapi kehilangannya.
Tiba-tiba, pintu ruangan Sava terbuka dengan bantingan keras.
BRAKK!
Bukan Garvi. Melainkan Roy, asisten pribadi Garvi, yang masuk dengan napas terengah-engah dan wajah yang luar biasa pucat.
"Nyonya Sava... Anda sudah kembali?" tanya Roy dengan suara bergetar.
"Ada apa, Roy? Kenapa kamu tidak mengetuk pintu?" tanya Sava dingin.
Roy menelan ludah, ia melirik Winata lalu kembali pada Sava. "Mr. Garvi... beliau mengalami kecelakaan saat mencari Anda semalam. Mobilnya ditemukan masuk ke jurang di pinggiran kota satu jam yang lalu, dan sekarang beliau sedang dilarikan ke Rumah Sakit Columbia Asia."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sava. Ketenangan yang ia bangun sejak pagi runtuh dalam sekejap. Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya yang memegang tepi meja seketika mendingin.
"Apa?" bisik Sava parau.
"Tuan menyetir sendiri dalam keadaan frustrasi dan kurang tidur, Nyonya," lanjut Roy dengan mata berkaca-kaca. "Keadaannya kritis."
Sava membeku. Inikah kejutan yang ia inginkan? Inikah akhir dari pelariannya? Ia menatap Winata yang juga terpaku dengan wajah ketakutan. Di tengah rasa benci dan ingin cerai yang membara, ada sebuah rasa sakit yang jauh lebih tajam menghujam dadanya saat mendengar pria yang ia benci itu berada di ambang maut.
Sava segera menyambar tasnya, namun sebelum ia melangkah, ponsel di mejanya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal—nomor yang sangat familiar dengan gaya pesan wanita-wanita Garvi sebelumnya.
Pesan: "Sava, jangan terlalu senang. Garvi mengalami kecelakaan karena dia sedang menuju apartemenku untuk mencarimu. Dia tidak pernah benar-benar mencari di tempat yang benar, kan? Datanglah ke rumah sakit, kita perlu bicara tentang bayi yang sedang kukandung."
Langkah Sava terhenti. Ia menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. Rasa cemas dan rasa hancur kini bercampur dengan pengkhianatan yang lebih busuk dari sebelumnya.
Apakah ini manipulasi terakhir Garvi, ataukah ini kehancuran total bagi pernikahan mereka?
***