"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Diplomasi Ikan Pindang dan Kedatangan Tamu Negeri Sakura
Pagi itu, komplek perumahan tempat Bagas tinggal mendadak riuh rendah. Bukan karena ada tukang sayur baru, melainkan karena ada dua buah mobil sedan hitam mengkilap yang berhenti tepat di depan pagar rumah Bagas. Di pintu mobil itu tertempel logo minimalis bergambar kepala kucing dengan tulisan: Nekonami Corp. Tokyo.
Bagas sudah berdiri di teras sejak subuh. Bagas memakai baju batik paling rapi (meskipun kekecilan di bagian perut) dan baret merah kebanggaannya. Di sampingnya, Patung Jago Perunggu yang sudah dicoret-coret spidol berdiri gagah seolah-olah ikut menjadi penyambut tamu negara.
"Ndoro! Mereka datang! Siapkan tehnya, pastikan gulanya tidak kebanyakan, kita harus terlihat profesional dan tidak butuh uang meskipun aslinya kita sangat membutuhkan uang!" seru Bagas panik kepada Dira yang masih sibuk merapikan rambut Mama Ratna di dalam rumah.
"Iya, Pir! Berisik banget sih!" sahut Dira dari dalam. "Mama, tolong ya, ulekannya disimpan dulu. Jangan sampai tamu Jepangnya ketakutan liat Mama lagi ngulek cabai seolah lagi ngebantai musuh!"
Pintu mobil terbuka. Turunlah dua orang pria Jepang bersetelan jas hitam yang sangat tajam, lengkap dengan dasi yang simetris sempurna. Mereka adalah Mr. Tanaka (Direktur Kreatif) dan asistennya, Mr. Sato. Mereka berjalan dengan langkah yang sangat terukur, kemudian berhenti tepat di depan pagar.
Bagas membuka pagar dengan bunyi kreeeeet yang memilukan. Mr. Tanaka dan Mr. Sato langsung membungkuk sangat rendah—hampir sembilan puluh derajat.
Bagas yang tidak mau kalah sopan, ikut membungkuk. Tapi karena perutnya terganjal batik yang kekecilan, dia malah terlihat seperti orang yang sedang kena kram perut mendadak.
"Selamat datang, Mr. Sushi! Eh, Mr. Tanaka!" sambut Bagas dengan bahasa Inggris yang dicampur logat Bekasi. "Silakan masuk ke dalam palace (istana) kami yang sangat... vintage (tua) ini."
Mereka semua duduk di ruang tamu yang sempit. Mr. Tanaka dan Mr. Sato duduk dengan posisi tegak sempurna di salah satu sofa. Sementara itu, Jaka duduk di samping Bagas sambil memegang tablet murahannya, bertindak sebagai "Legal Advisor" gadungan. Manda berada di pojokan ruangan, memegang kristal pembersih ruangan karena dia curiga tamu Jepang itu membawa "energi robot" yang terlalu kuat.
"Bagas-san," ujar Mr. Tanaka dengan suara berat dan aksen Jepang yang kental. "Kami telah melihat video kucing Anda, Supra-san, saat di Singapura. Karakter wajahnya yang sinis, tatapannya yang menghakimi manusia, dan cara jalannya yang... unik... sangat sesuai dengan filosofi Wabi-Sabi kami: Keindahan dalam ketidaksempurnaan."
Bagas mengangguk-angguk sok mengerti. "Tentu, Mr. Tanaka-san. Supra itu bukan kucing sembarangan. Dia itu aktor metodis. Dia pincang bukan karena kecelakaan, tapi karena dia sedang mendalami peran sebagai kucing yang tertindas oleh sistem!"
Dira muncul membawa nampan berisi teh manis dan camilan rengginang. "Silakan diminum, Mr. Tanaka. Maaf, camilannya cuma ini."
Mr. Tanaka mengambil sepotong rengginang dengan sangat hormat, seolah-olah itu adalah kerajinan tangan ternama. Begitu dia menggigitnya—KRAK!—suaranya menggema di ruangan itu. Mr. Tanaka tampak terkejut dengan kekerasan rengginang tersebut, tapi dia tetap tersenyum sopan.
"Sangat... bertekstur," puji Mr. Tanaka sambil mencoba menelan remah-remah rengginang yang tersangkut di tenggorokan.
"Oke, langsung ke poinnya saja, Mister," ujar Jaka sambil membuka dokumen kontrak yang dikirim lewat email kemarin. "Klien kami, Supra, adalah aset nasional. Jika Anda ingin membawanya ke Tokyo untuk kontrak iklan Smart-Sandbox, kami punya beberapa persyaratan tambahan yang tidak bisa dinegosiasikan."
Mr. Sato segera mencatat di buku kecilnya. "Sebutkan, Jaka-san."
"Pertama," Bagas mengambil alih pembicaraan. "Supra tidak boleh diberi makan makanan kucing kalengan biasa. Dia punya lidah patriot. Dia harus dicarikan Ikan Pindang segar setiap hari. Kalau di Tokyo tidak ada penjual pindang keliling pakai motor, kalian harus menyediakannya lewat kurir khusus!"
Mr. Tanaka berdiskusi sebentar dengan Mr. Sato menggunakan bahasa Jepang yang sangat cepat. "Kami bisa... mengimpor ikan dari Indonesia atau membuat replikanya dengan teknologi koki Michelin kami. Setuju."
"Kedua," lanjut Bagas. "Selama syuting di Tokyo, Supra harus ditemani oleh tim pendukungnya secara lengkap. Itu berarti Saya (sebagai manajer), Dira (sebagai humas), Jaka (sebagai tim hukum), dan Manda (sebagai konsultan aura bumbu). Oh, dan satu lagi: Mama Ratna."
Dira menyikut Bagas. "Pir, Mama ikut juga?"
"Harus, Ndoro! Mama baru saja menang MasterChef audisi satu! Dia harus melakukan ekspansi sambal ke Tokyo! Kalau Mama nggak ikut, siapa yang mau masakin kita di sana?" bisik Bagas.
Mr. Tanaka tampak sedikit ragu. "Ibu Ratna... apakah beliau juga memiliki talenta khusus yang menunjang Supra-san?"
Tiba-tiba, Mama Ratna muncul dari dapur dengan celemek MasterChef-nya dan sebuah piring kecil berisi sambal terasi keemasan sisa audisi kemarin.
"Talenta? Ini talenta saya! Cobain ini, Mr. Tanaka! Ini adalah jembatan rasa antara Jakarta dan Tokyo!"
Mr. Tanaka yang tidak enak hati untuk menolak, mengambil sedikit sambal itu dengan ujung jarinya kemudian mencicipinya.
Hening. Satu detik... dua detik...
Mata Mr. Tanaka mendadak berair. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Dia mulai bernapas pendek-pendek. "Ini... ini... Sugoi! Pedasnya seperti meletusnya Gunung Fuji di dalam mulut saya! Sangat... emosional!"
"Nah, kan!" seru Mama Ratna bangga. "Mama bisa buka pop-up store sambal di Tokyo sambil nemenin Supra syuting. Gimana?"
Mr. Tanaka menyeka air matanya dengan sapu tangan sutra. "Luar biasa. Kami butuh energi seperti ini untuk kampanye iklan kami. Kami setuju! Seluruh tim akan kami fasilitasi dengan akomodasi di Shinjuku!"
Jaka langsung bertepuk tangan kencang. "GILA! KITA SEMUA KE JEPANG!"
Tapi, ada satu ujian terakhir. Mr. Tanaka ingin melihat langsung bagaimana Supra berinteraksi dengan "calon majikan" barunya. "Bolehkah saya menggendong Supra-san? Kami harus memastikan ada chemistry kimiawi di antara kami."
Bagas memanggil Supra yang sedang asyik tidur di bawah kolong kursi. "Pra! Sini! Ada bos dari Jepang mau liat lo! Jangan malu-maluin, tunjukin muka sinis lo!"
Supra berjalan perlahan dengan gaya pincangnya yang legendaris. Kemudian berhenti tepat di depan sepatu mengkilap Mr. Tanaka. Mr. Tanaka membungkuk, mencoba mengulurkan tangannya dengan lembut.
Semua orang menahan napas. Dira sudah cemas kalau Supra tiba-tiba mengeluarkan cakar mautnya. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan.
Supra menatap Mr. Tanaka selama beberapa detik, kemudian dengan santainya Supra melompat ke atas paha Mr. Tanaka, melingkarkan badannya, dan langsung kembali tidur sambil mendengkur keras (purring).
"Ohhh... Kawaii..." gumam Mr. Tanaka dengan mata berkaca-kaca. "Dia sangat tenang. Dia memiliki jiwa seorang Shogun yang sedang pensiun."
"Artinya setuju ya?" tanya Bagas memastikan.
"Sangat setuju! Ini kontraknya, silakan ditanda-tangani," ujar Mr. Sato sambil mengeluarkan dokumen bersampul emas.
Bagas menandatangani dokumen itu dengan gaya yang sangat teatrikal, diikuti oleh Dira sebagai saksi. Jaka sudah mulai menghitung-hitung berapa banyak pasang sepatu yang bisa dia beli di Harajuku nantinya, sementara Manda mulai mencatat lokasi kuil-kuil di Jepang yang memiliki energi "kucing keberuntungan".
Setelah para tamu Jepang itu pulang dengan perasaan puas (dan lidah yang masih terasa terbakar sambal), Bagas langsung mengangkat Supra tinggi-tinggi ke udara.
"PRA! KITA JADI INTERNASIONAL! TOKYO, BERSYAPLAH MENERIMA INVASI TAPIR!" teriak Bagas kegirangan.
Mama Ratna langsung sibuk menelepon grup WhatsApp pengajiannya. "Halo? Bu RT? Iya, ini saya Ratna. Saya mau pamit sebentar ke Jepang, mau ngajarin orang sana cara ngulek yang bener. Iya, doakan ya!"
Dira duduk di sofa, menatap Jago Perunggu-nya. "Pir... gue masih nggak percaya. Minggu depan kita beneran terbang?"
"Beneran, Ndoro! Persiapkan kopermu! Tapi ingat satu hal..."
"Apa lagi?"
"Jangan lupa bawa minyak goreng satu liter di koper. Takutnya nanti di Tokyo ada pagar yang bentuknya menantang leher gue lagi."
Dira melempar bantal sofa ke wajah Bagas. "GAK ADA PAGAR-PAGARAN LAGI, BAGAS!"
Kontrak sudah ditandatangani, paspor sedang diurus (termasuk surat kesehatan Supra), dan Mama Ratna sudah mulai mengemas sepuluh kilogram terasi ke dalam koper kedap suara.
Tapi, di saat mereka sedang merayakan kesuksesan, sebuah berita muncul di televisi:
Ditemukan spesies kucing baru di Tokyo yang mirip robot, apakah posisi kucing domestik terancam?
Bagas menyipitkan mata. "Saingan ya? Tenang Pra, robot nggak punya nyawa, mereka nggak tahu rasanya makan pindang sisa pasar!"
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍