SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. NOX?
Suara tembakan itu memecah malam seperti kaca yang dihantam palu.
DOR!
Celina dan Theo refleks membuka pintu mobil hampir bersamaan.
"Lucy!"
"Leo!"
Nama itu keluar dari mulut mereka tanpa komando, tanpa logika, hanya naluri mentah yang berteriak lebih keras dari rasa takut.
Udara malam terasa lebih dingin ketika kaki mereka menyentuh aspal. Gudang tua itu berdiri tak jauh dari sana, bangunannya besar, kusam, dan gelap, namun kini dipenuhi denyut bahaya yang nyata. Cahaya lampu tembak menyapu dinding logam berkarat, menciptakan bayangan bergerigi seperti rahang monster yang siap menelan siapa pun yang mendekat.
Theo meraih pergelangan tangan Celina.
"Tunggu," bisiknya cepat. "Kita tidak tahu apa yang terjadi. Itu suara senjata apai dan kita tidak memegang senjata apa pun. Hati-hati."
Celina mengangguk, napasnya tertahan. Matanya menyapu sekeliling dengan ketajaman yang berbeda dari sebelumnya, lebih fokus, lebih dingin. Ini bukan lagi Celina yang panik. Ini Celina yang tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan satu hal sejak dini:
Bahaya tidak menunggu izin.
Mereka berlari rendah, memanfaatkan kontainer tua dan tumpukan peti sebagai penutup. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah pun ikut menahan mereka.
"Kenapa ada tembakan?" bisik Theo, suaranya tegang. "Bantuan Papa belum sampai."
Celina menggeleng pelan. "Aku juga tidak mengerti."
Kekhawatiran mencengkeram dada Theo. Lucy dan Leo, dua anak yang selalu ribut, selalu tertawa, selalu memanggilnya Brother dengan suara nyaring, kini berada di dalam bangunan itu. Dalam genggaman orang-orang yang tak segan menarik pelatuk.
Mereka berdua menyelinap lebih dekat.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Puluhan pria berpakaian hitam berdiri rapi di sekitar gudang. Formasi mereka bukan acak, bukan gerombolan kriminal yang asal berkumpul. Jarak antar individu terukur. Senjata dipegang dengan sudut siap tembak. Tatapan mereka menyapu area secara bergantian, sistematis.
Seperti ... tentara.
Theo mengerutkan kening. "Mereka bukan orang Papa. Apa mereka kelompok penculik juga?"
Nada suara Theo penuh kebingungan.
Celina menyipitkan mata, jantungnya berdetak lebih lambat, lebih berat. Ada sesuatu yang familiar dalam cara mereka bergerak. Dalam disiplin sunyi yang tidak dibuat-buat.
"Nox?" gumam Celina pelan, hampir tak terdengar. "Kenapa mereka ada di sini?"
Theo menoleh tajam. "Kau kenal mereka?"
Celina menarik napas dalam. "Kau pasti sudah dengar tentang kelompok bayangan keluarga Lorenzo. Phantom milik Grandpa Rion ... dan Nox milik ayahku."
Theo membeku. "Ayahmu?" ulangnya pelan.
Celina mengangguk.
"Tapi kenapa mereka ada di Los Angeles?" Theo berbisik, nyaris tak percaya.
Belum sempat Celina menjawab, sebuah suara dingin memotong udara.
"Jangan bergerak."
Larangan itu datang bersamaan dengan kilatan moncong senjata yang diarahkan tepat ke arah mereka. Seseorang dari Nox menyadari keberadaan mereka berdua.
Theo refleks menarik Celina ke belakangnya.
Namun Celina mengangkat tangan perlahan.
"Tidak apa-apa," bisiknya pada Theo. "Percaya padaku."
Theo ingin membantah, tapi Celina sudah melangkah keluar dari persembunyian.
Langkah gadis itu tenang, punggungnya tegak. Seolah ia bukan gadis yang baru saja hampir kehilangan kendali karena adik-adiknya diculik, melainkan seseorang yang sudah terbiasa berjalan di antara laras senjata.
"Ini aku," ucap Celina dengan suara jelas. "Celina Lorenzo."
Pria yang menodongkan pistol itu membeku.
Matanya membelalak. Wajahnya pucat seketika.
"Miss. Celina?" suaranya bergetar. Tanpa ragu ia langsung menurunkan senjatanya. "Astaga, kenapa Anda ada di sini? Tempat ini berbahaya!"
Celina menatapnya tajam. "Justru itu yang ingin kutanyakan. Untuk apa Nox ada di sini? Di Los Angeles."
Pria itu langsung berdiri tegap, sikapnya berubah total, seperti prajurit yang berhadapan langsung dengan komandan tertinggi.
"Kami menerima perintah langsung dari Ayah Anda, Miss. Kami ditugaskan untuk mengawasi dan melindungi Anda serta keluarga Morelli dari balik bayangan. Begitu kami mendapat laporan tentang penculikan Mr. Leonel dan Miss Luciana, anak kembar Mr. Morelli, kami segera bergerak," jawab pria itu cepat dan formal.
Celina menutup mata sesaat, menghela napas.
Dad, sejak kapan kau menyuruh Nox turun untuk mengawasi? batin Celina.
Ayahnya sudah tahu. Dan sudah mengirim bayangan bahkan sebelum ia sempat meminta.
"Baik," kata Celina tenang. "Lanjutkan penyergapan. Hati-hati. Aku tidak ingin ada korban di pihak kita."
"Siap, Miss!" Pria itu memberi hormat singkat, lalu berlari kecil menuju rekan-rekannya, memberi isyarat cepat dengan tangan dan kode yang hanya mereka pahami. Dalam hitungan detik, formasi berubah, lebih rapat, lebih mematikan.
Theo melangkah mendekat, masih terlihat kaget.
Celina menoleh padanya. "Maaf, aku tidak tahu kalau Dad menurunkan orang untuk mengawasi kita selama ini."
Theo menggeleng pelan, lalu tersenyum miring, senyum yang sarat pemahaman baru.
"Sekarang aku mengerti. Kenapa nama Lorenzo selalu dibisikkan ... bukan diucapkan keras-keras," kata Theo penuh pujian dan kagum.
Mereka bergerak bersama Nox, menyusup ke sisi gudang. Theo refleks menarik Celina agar tetap dekat dengannya.
"Jangan jauh dariku," kata Theo tegas. "Dan jangan bertindak gegabah."
Celina mengangguk.
Dari celah pintu gudang yang sedikit terbuka, mereka melihat kilatan pergerakan. Beberapa anggota Nox ternyata sudah masuk lebih dulu, itulah sumber suara tembakan tadi.
Gerakan mereka cepat, presisi, sunyi. Tidak ada teriakan panik, tidak ada tembakan membabi buta. Setiap langkah seperti hasil latihan bertahun-tahun.
Theo terpukau. "Mereka ... seperti tentara sungguhan," gumamnya.
Celina menjawab tanpa menoleh. "Sebagian dari mereka memang begitu. Ada yang veteran perang. Ada yang pembunuh bayaran. Ada yang dibesarkan sejak muda dengan disiplin militer di Nox dan Phantom."
Celina berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara datar, "Phantom dan Nox bukan sekadar kelompok ilegal. Mereka adalah pasukan cadangan untuk hal-hal yang bahkan negara dna hukum tidak bisa sentuh."
Theo menelan ludah.
Kini ia paham sepenuhnya.
Lorenzo bukan hanya pebisnis.
Mereka adalah kerajaan, dengan tentara sendiri, hukum sendiri, dan bayangan yang bergerak ketika dunia resmi memilih menutup mata.
Senyum tipis muncul di wajah Theo.
"Kini aku paham dengan ucapan Cedric yang pernah dia katakan padaku," kata Theo.
"Perkataan apa?" tanya Celina, menoleh ke arah Theo.
"Jangan pernah jadikan Lorenzo musuh. Kau bisa menjadikan seluruh dunia menjadi musuhmu, tapi tidak dengan Lorenzo," jawab Theo.
"Berlebihan seperti biasa si Cedric," ujar Celina dengan senyum geli.
Tak lama kemudian, suara perlawanan mereda.
Satu per satu penculik diringkus. Jumlah mereka cukup banyak, lebih dari yang Theo bayangkan. Wajah-wajah keras yang kini tertekan ke lantai beton dingin, tangan terikat, senjata disingkirkan.
Celina melangkah maju.
Tatapannya menyapu mereka satu per satu, dingin, tanpa ragu.
"Cari tahu siapa yang menyuruh mereka. Jika menolak bicara langsung saja habisi," perintah Celina dengan nada dan ekspresi dingin.
Theo tersentak. Ia menoleh ke Celina, matanya melebar. Kata-kata itu keluar begitu mudah dari bibir gadis yang selama ini ia kenal cerdas, ceria, dan penuh empati.
Celina menyadari tatapan itu.
Sang gadis menoleh dan tersenyum kecil, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tidak sepenuhnya menyesal. Seolah dengan tatapan dan mimik wajah Celina mengatakan; Inilah aku. Inilah cara kerja keluarga Lorenzo.
Theo tidak berkata apa-apa. Ia paham.
Dunia ini bukan hitam dan putih. Dan di dunia bayangan, belas kasihan sering kali adalah kelemahan yang mematikan.
Namun tiba-tiba ...
Salah satu penculik meronta.
Dengan gerakan nekat, pria itu berhasil melepaskan diri dan menerjang lurus ke arah Celina.
Waktu seolah melambat.
"Celina!" teriak Theo.
Tanpa berpikir, Theo meraih pistol dari tangan salah satu anggota Nox di sampingnya.
DOR!
Satu tembakan.
Tepat.
Pria itu roboh seketika.
Sunyi menyelimuti gudang.
Celina berdiri membeku, menatap tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Lalu perlahan, ia menoleh ke Theo.
Mata mereka bertemu.
Celina tahu dengan pasti Theo tidak pernah membunuh siapa pun sebelumnya.
Namun malam ini ... segalanya berbeda.
Theo menurunkan pistol, tangannya sedikit bergetar, tapi tatapannya mantap.
"Kita sama sekarang, Princess," kata Theo pelan namun tegas. "Jangan menatapku seolah aku akan memakimu karena kau pernah mengambil nyawa orang lain."
Theo melangkah mendekat, berdiri sejajar dengan Celina.
"Aku yang akan masuk ke duniamu mulai saat ini," kata Theo.
Dan di malam yang dipenuhi bau mesiu dan darah itu, Celina tahu ...
Theo tidak lagi berdiri di ambang.
Ia telah melangkah masuk ke bayangan. Theo telah melumuri tangannya dengan darah.
keren 👍👍
" owh ini toh kisah black mantis "
kan kadang ada rider baru yg belum nemu buku lama, nemunya langsung buku sekuel buku sebelum nya, mau baca buku lama dulu nanti pasti ketinggalan cerita yg sekarang, jujur aku rider yang begitu, selesai kan cerita baru setelah tamat untuk lebih paham baru cari buku pertama nya, kadang ada penulis yang pembaca baru penasaran kan
" kalo penasaran sama cerita masa lalu baca aja yg judul nya bla bla "
haisss jujur kadang sebel aku 😁😁
HAHAHAHA 🤣🤣🤣
ketawa dulu sebelum di ajak perang 🥴🥴
makasih author untuk karya novelnya
Thor eiden belum ketemu jodohnya
apalagi Cedric
piye toh🤣🤣
but anyway
terimakasih atas cerita indah nya 😍