NovelToon NovelToon
Jebakan Sang CEO Wanita

Jebakan Sang CEO Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cinta Terlarang / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.

Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"

​Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.

​Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?

Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Vila pribadi keluarga Roy terletak di kawasan perbukitan yang sunyi, jauh dari kebisingan Jakarta. Bangunan bergaya minimalis tropis itu berdiri megah dengan pencahayaan temaram yang disengaja untuk menciptakan suasana intim. Arga mematikan mesin mobilnya di depan gerbang kayu tinggi. Tangannya masih mencengkeram kemudi dengan erat, buku-buku jarinya memutih.

Setiap inci logikanya berteriak agar ia memutar balik dan pulang ke pelukan Nabila. Namun, bayangan laporan yang disabotase dan ancaman pemecatan dari Pak Roy menahannya seperti rantai besi. Ia merasa seperti seorang prajurit yang dipaksa menyerah di tengah medan perang yang tidak adil.

Begitu pintu utama dibuka oleh seorang pelayan pria yang bungkam, Arga disambut oleh semerbak aroma lily putih dan lilin aromaterapi. Di ruang makan yang menghadap langsung ke kolam renang infinity, Siska sudah menunggu.

Ia tampil memukau, atau lebih tepatnya, mematikan. Siska mengenakan gaun malam berbahan sutra berwarna hitam dengan belahan tinggi di paha. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di tengkuknya yang putih. Ia menyesap red wine dari gelas kristal, menatap kedatangan Arga dengan binar kemenangan yang tak disembunyikan.

"Kau datang, Arga. Aku tahu kau pria yang logis. Kau tahu mana yang lebih penting antara harga diri yang semu dan karier yang nyata," ucap Siska sambil berdiri, mendekati Arga dengan langkah yang berirama.

"Mana laporannya?" tanya Arga tanpa basa-basi. Suaranya serak dan dingin.

Siska tertawa kecil, suara tawa yang merdu namun menyimpan bisa. "Sabar, Arga. Kita tidak bisa bicara bisnis dengan perut kosong. Duduklah. Aku sudah memesan koki pribadi untuk menyiapkan menu favorit kita dulu. Kau ingat, kan? Steak dengan saus truffle yang pernah kita impikan saat masih makan di pinggir jalan?"

"Itu masa lalu, Siska. Aku tidak ingin mengingatnya. Berikan laporan itu, dan aku akan segera pergi."

Siska mengabaikan permintaan Arga. Ia justru berjalan mendekat, aroma parfumnya yang berat mulai memenuhi paru-paru Arga, membuatnya merasa sesak. Siska meletakkan tangannya di dada Arga, merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan.

"Kau sangat tegang, Sayang. Rilekslah. Hanya ada kita berdua di sini. Suamiku sedang berada di Singapura untuk urusan mendadak, dan staf di sini sudah kuperintahkan untuk tidak mengganggu," bisik Siska tepat di telinga Arga.

Arga menepis tangan Siska dengan kasar. "Jangan panggil aku 'sayang'. Dan jangan pernah berpikir aku datang ke sini untuk melayanimu. Aku datang untuk pekerjaanku!"

Siska tidak tersinggung. Ia justru duduk di kursi makan dan memberi isyarat agar Arga duduk di hadapannya. "Baiklah, kita makan dulu. Setelah itu, laporan yang sudah kubetulkan ada di tablet itu," ia menunjuk sebuah perangkat elektronik di atas meja kecil.

Di luar pagar vila, sebuah mobil kecil berwarna perak terparkir di balik rimbunnya pohon besar. Nabila duduk di kursi kemudi dengan napas yang memburu. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan terluka. Ia melihat suaminya masuk ke dalam vila mewah itu. Ia melihat siluet wanita berbaju hitam yang menyambutnya.

Hati Nabila hancur, namun ia tidak pergi. Ia harus tahu sejauh mana Arga akan melangkah. Ia harus tahu apakah suaminya masih pria yang sama yang berjanji akan jujur di atas secangkir kopi pagi itu.

Di dalam ruangan, makan malam berlangsung dengan penuh tekanan. Arga nyaris tidak menyentuh makanannya, sementara Siska terus berceloteh tentang betapa megahnya hidup yang ia miliki sekarang dan betapa Arga seharusnya menjadi bagian dari kemegahan itu.

"Arga, lihatlah tempat ini. Semua ini bisa menjadi milikmu juga. Pak Roy sudah tua, dia tidak punya ahli waris lain yang sah selain aku. Jika kau berada di pihakku, kita bisa menguasai Airborne sepenuhnya. Nabila tidak bisa memberimu ini. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya dengan menjahit dan memasak sayur lodeh. Apa itu yang kau inginkan selamanya?"

Arga meletakkan garpunya dengan dentingan keras yang memecah kesunyian. "Nabila memberiku sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki, Siska. Kedamaian. Kejujuran. Dan cinta yang tidak butuh syarat."

Siska mendengus sinis. Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutar ke belakang Arga. Tangannya yang dingin mulai mengelus bahu Arga, lalu turun ke dadanya. "Cinta? Cinta itu hanya kata lain dari kemiskinan, Arga. Kau bicara soal kejujuran, tapi kau ada di sini sekarang, berbohong pada istrimu. Bukankah itu berarti kau pun sudah mulai terbiasa dengan duniaku?"

Siska membungkuk, menempelkan pipinya ke pipi Arga. "Ayo, Arga... berhenti berbohong pada dirimu sendiri. Aku tahu kau masih menginginkanku. Aku bisa merasakannya dari caramu menatapku di kantor."

Tangan Siska mulai bergerak lebih berani, mencoba membuka kancing kemeja teratas Arga. Arga mematung sejenak, bayangan masa lalu yang indah sempat melintas, namun kemudian bayangan Nabila yang sedang menunggunya dengan cemas di apartemen muncul seperti tamparan keras.

Arga berdiri dengan sentakan yang kuat, membuat kursi makannya terjatuh ke lantai.

"Cukup, Siska!" bentak Arga. Wajahnya merah padam karena amarah dan rasa jijik pada dirinya sendiri karena telah membiarkan situasi ini melangkah terlalu jauh. "Aku datang ke sini karena aku menghargai karierku, tapi aku tidak akan pernah menukar jiwaku untuk itu!"

Arga menyambar tablet di atas meja, memeriksa sejenak laporan yang sudah diperbaiki, lalu menyimpannya.

"Kau pikir kau bisa membeliku? Kau salah. Kau mungkin punya uang Pak Roy, kau mungkin punya jabatan tinggi, tapi bagiku, kau tetaplah wanita menyedihkan yang dulu mencampakkan cinta demi emas. Dan sekarang, kau bahkan lebih menyedihkan karena mencoba mencuri kebahagiaan orang lain."

Siska tertegun. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa tawarannya ditolak dengan cara yang begitu kasar. "Arga! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan! Aku bisa menghancurkanmu besok pagi!"

"Lakukanlah!" tantang Arga. "Pecat aku. Laporkan aku ke polisi. Lakukan apapun yang kau mau. Aku lebih baik hidup sebagai gelandangan bersama Nabila daripada harus bernapas di ruangan yang sama denganmu!"

Arga melangkah pergi dengan langkah lebar. Siska berlari mengejarnya, mencoba menarik lengan Arga di area teras depan yang terbuka, tempat yang sebenarnya bisa terlihat dari gerbang.

"Arga, jangan pergi! Aku belum selesai bicara!" Siska berteriak, ia mencoba memeluk Arga dari belakang, namun Arga mengibaskannya hingga Siska jatuh terduduk di atas lantai marmer.

Siska menatap Arga dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh kebencian yang murni. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa terhina. Ia, Siska Roy, wanita yang selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan, baru saja ditolak mentah-mentah oleh pria yang dulu merangkak di bawah kakinya.

"Kau akan membayar ini, Arga Mandala! Kau akan memohon padaku sambil menangis darah!" teriak Siska histeris.

Arga tidak menoleh. Ia masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya keluar dari vila itu secepat mungkin.

Saat mobil Arga melesat pergi, Nabila yang berada di dalam mobilnya hanya bisa terisak. Ia melihat semuanya. Ia melihat adegan di teras itu, Siska yang mencoba memeluk Arga dan Arga yang mengibaskannya. Meski Arga menolak, fakta bahwa suaminya ada di sana, di tempat tersembunyi itu, bersama wanita dari masa lalunya, adalah luka yang terlalu dalam bagi Nabila.

Nabila menyalakan mesin mobilnya. Tangannya gemetar. Ia tidak ingin pulang. Ia tidak tahu apakah ia bisa menatap wajah Arga dan mendengarkan kebohongan baru yang mungkin sudah disiapkan suaminya.

~

Arga sampai di apartemen dengan perasaan hancur. Ia membersihkan wajahnya di wastafel, mencoba menghapus bayangan Siska dari kepalanya. Ia masuk ke kamar, mendapati Nabila sedang berbaring, namun ia tahu istrinya tidak tidur.

"Nabila... aku sudah pulang," bisik Arga.

Nabila berbalik perlahan. Matanya merah dan sembab. "Bagaimana rapat koordinasinya, Mas? Berjalan lancar?"

Arga menelan ludah. "Iya, Sayang. Masalah laporan sudah selesai. Semuanya akan baik-baik saja besok."

Nabila tersenyum, namun senyum itu adalah senyum paling menyedihkan yang pernah Arga lihat. "Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Tidurlah, Mas. Kau pasti lelah setelah 'bekerja keras' malam ini."

Nabila kembali membelakangi Arga, memejamkan matanya rapat-rapat agar air matanya tidak tumpah lagi. Di dalam kegelapan kamar itu, sebuah dinding besar mulai terbangun di antara mereka. Arga merasa ia telah menang melawan Siska malam ini, namun tanpa ia sadari, ia baru saja mulai kehilangan istrinya.

Di sisi lain kota, Siska berdiri di tengah ruang makannya yang berantakan. Ia menghancurkan gelas kristal di tangannya ke lantai hingga berkeping-keping. "Nabila... semua ini karena Nabila," desisnya. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Arga dengan cara yang manis, maka aku akan menghancurkan hidupnya agar Nabila tidak punya apa-apa lagi untuk dicintai."

Rencana besar untuk memfitnah Arga kini telah matang di kepala Siska. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan Arga memiliki jalan keluar.

...----------------...

Next Episode....

1
Eva Karmita
alur ceritanya bagus bikin nano" ...
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰
Eva Karmita: sama" semangat 🔥💪🥰
total 2 replies
Eva Karmita
Arga ingat kalau sikap mu masih lembek kayak jelly harusnya kamu pikir dia kali menghadapi Siska tidak semudah dan segampang yang kamu bayangkan satu kali saja kamu buat kesalahan maka hancurlah rumah tangga yang kamu bangun dgn susah payah.... Nabila akan benar" pergi dari hidupmu dan kamu akan hidup dlm penyesalan seumur hidup
Eva Karmita
semoga Arga bisa melawan Mak lampir
Isee
semoga arga juga bisa menjalankan misi yg direncanakan nabila & jgn sampe ada jebakan tidur bareng siska.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
👀 calon mayit 👀
💪
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Siska otakmu konslet ya...kamu sendiri yang sudah menciptakan luka tapi anehnya malah menyalahkan orang lain 😤
Eva Karmita
😭😭 semangat Arga ingat ada wanita kuat dan tangguh dissimu
Eva Karmita
masa lalu yang menyakitkan 🥺
Eva Karmita
,dasar wanita iblis
Eva Karmita
Arga kenapa harus berbohong dengan istri mu sendiri 🥺😤
Isee
Nabila kenapa kamu ksh tau clue clue itu ke siska 😭😭😭 semoga nabila bisa membela arga & melawan siska sampai dpt hukuman
Eva Karmita
Arga jadilah laki" yg kuat jangan lemah dong.... masalalu harus di kubur untuk apa digali lagi tetaplah masa depan jangan menoleh kebelakang lagi
Isee
bener2 SAKIT si siksa, elu yg buat ulah, nyalahin orang lain.😡😡😡
👀 calon mayit 👀
nyeesek😭
Isee
semangat nabila 💪💪💪 lanjut kak
Miss Ra: siaaaap💪
total 1 replies
Isee
SARAP si siska😡😡😡😡
Isee
jika akhirnya agra gak berterus terang ke nabila, maka lepaskan agra tapi sebelumnya dampingi agra melawan siska sampai siska jatuh karna ulahnya sendiri & diceraikan sama pak roy.
Isee
wah DAEBAK 👍 nabila,,, dampingi selalu arga buat siska KEOK😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!