"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Saat Gladis sedang asyik menyantap Capjay-nya, pintu dapur besar terbuka dan keluarlah Chef Mario, koki paling senior di Ocean Empress.
Ia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa sebuah piring porselen putih yang dihias dengan sangat cantik.
Di atas piring itu terdapat dua potong Chocolate Lava Cake kecil yang masih hangat, lengkap dengan hiasan buah beri dan ukiran saus stroberi yang membentuk simbol jangkar kecil.
"Maaf mengganggu makan malam Anda, Kapten, Nyonya," sapa Chef Mario sambil membungkuk hormat.
"Kabar tentang keselamatan Nyonya Gladis dan berita mengenai 'Dua Nakhoda Kecil' sudah sampai ke telinga kami di dapur. Kami sangat bersyukur."
Ia meletakkan piring itu dengan hati-hati di tengah meja.
"Ini adalah makanan penutup khusus. Cokelat hitam terbaik untuk menenangkan saraf Nyonya setelah kejadian tadi, dan ada dua porsi kecil sebagai simbol untuk si kembar. Kami menyebutnya 'The Twin Anchors'," jelas Chef Mario dengan senyum hangat.
Mata Gladis berbinar lebar melihat cokelat yang meleleh keluar dari kue tersebut.
"Oh, Chef! Ini cantik sekali. Terima kasih banyak!"
"Sama-sama, Nyonya. Jika Anda butuh sesuatu, bahkan jika itu mie instan di jam tiga pagi sekalipun, jangan ragu memanggil kami. Kami semua di sini siap menjaga asupan gizi pahlawan kecil kita," tambah Chef Mario sebelum berpamitan kembali ke dapur.
Arkan tersenyum, hatinya menghangat melihat betapa seluruh kru kapal begitu mencintai istrinya.
Ia memotong sedikit kue itu dan menyuapkannya ke mulut Gladis.
"Lihat, Sayang? Seluruh kapal ini menyambut mereka berdua," bisik Arkan lembut.
Gladis mengunyah kue itu dengan ekspresi sangat bahagia. Rasa manis cokelat itu seolah menghapus sisa rasa trauma yang masih tersangkut di benaknya.
"Arkan, kita harus jadi orang tua yang hebat untuk mereka. Mereka sudah melalui badai bahkan sebelum lahir."
Arkan menggenggam tangan Gladis di atas meja, di sela-sela piring Mie Goreng dan Koloke yang hampir habis.
"Aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang terluka lagi."
Arkan mengembuskan napas panjang mendengar rentetan permintaan Gladis.
Ia tahu betul siapa yang dimaksud Gladis dengan "penjual jagung viral" itu—seorang pria lokal di Istanbul yang terkenal tampan, selalu tersenyum manis, dan piawai melakukan atraksi saat melayani pembeli.
"Kumpir? Boleh. Baklava? Aku belikan satu kotak besar kalau kamu mau," ucap Arkan dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi rendah dan tegas.
Ia meletakkan garpunya, lalu menatap Gladis dengan mata yang menyipit. "Tapi bertemu penjual jagung itu? Tidak. Tidak akan."
Gladis yang sedang mengunyah sisa koloke tertegun melihat reaksi suaminya.
"Kenapa? Dia kan hanya penjual jagung, Arkan. Aku hanya ingin melihat atraksinya dan... yah, dia memang terlihat ramah di video."
"Ramah?" Arkan mendengus, rasa cemburu mulai membakar dadanya.
"Dia itu bukan hanya ramah, dia sengaja tebar pesona. Dan aku tidak mau istriku yang sedang hamil kembar berdiri di sana, memberikan senyum manis pada pria lain sementara suaminya adalah Kapten kapal ini."
Gladis menahan tawa melihat wajah Arkan yang sekarang terlihat lebih tegang daripada saat memimpin rapat navigasi tadi pagi.
"Sayang, jangan bilang kamu cemburu pada penjual jagung?"
"Aku tidak cemburu," bantah Arkan cepat, meski rahangnya mengeras.
"Aku hanya menjaga standar keamanan. Pelabuhan Turki sangat ramai, dan aku tidak mau kamu berdesakan hanya untuk melihat pria yang sibuk memutar-mutar tongkol jagung."
Arkan memajukan tubuhnya, meraih tangan Gladis dan menggenggamnya erat.
"Jika kamu mau jagung, aku akan minta Chef Mario memasakkannya untukmu. Jika kamu mau atraksi, aku bisa menyuruh kru navigasi melakukan tarian baris-berbaris di depanmu. Tapi jangan penjual jagung itu."
Gladis akhirnya tidak bisa menahan tawa lagi. Ia mencubit pipi Arkan yang sedang merajuk.
"Posesif sekali Kapten kita ini! Baiklah, aku batalkan bertemu penjual jagung itu. Tapi sebagai gantinya, kamu yang harus menyuapiku Baklava sambil memandangi selat Bosphorus, setuju?"
Arkan terdiam sejenak, lalu senyum tipis kemenangan muncul di bibirnya.
"Setuju. Hanya aku yang boleh menyuapimu di Turki besok."
Setelah kenyang dan puas menggoda Arkan tentang penjual jagung itu, Gladis mulai merasa matanya berat.
Efek dari obat bius yang tersisa, ditambah kelelahan setelah kejadian traumatis di laut, akhirnya menagih hak tubuhnya untuk beristirahat.
Arkan, dengan sigap dan penuh kehati-hatian, memapah Gladis kembali ke kabin utama mereka.
Ia memastikan langkah istrinya stabil, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Gladis seolah-olah wanita itu adalah porselen yang sangat rapuh.
Begitu pintu kabin tertutup, Arkan membantu Gladis melepas jaket dan sepatunya.
"Istirahatlah, Sayang. Besok pagi kita sudah sampai di Turki. Aku ingin kamu punya tenaga yang cukup untuk makan Kumpir," bisik Arkan sambil menarik selimut hingga menutupi bahu Gladis.
Gladis tersenyum sayu, tangannya mencari tangan Arkan di bawah selimut.
"Kamu tidak pergi ke anjungan lagi?"
Arkan menggeleng mantap. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Gladis, memeluk istrinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengusap lembut perut Gladis yang membawa dua nyawa berharga.
"Malam ini, duniaku hanya ada di ruangan ini. Tidurlah," ucap Arkan lembut.
Dalam keheningan kabin yang hanya dihiasi suara mesin kapal yang menderu pelan, Gladis akhirnya terlelap dengan perasaan aman yang luar biasa.
Arkan terus terjaga selama beberapa saat, menatap wajah tidur istrinya dan bersumpah dalam hati bahwa esok di Turki, ia akan memastikan Gladis hanya melihat kebahagiaan—dan tentu saja, memastikan mereka menjauh dari lapak jagung viral itu.
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kabin menandakan bahwa kapal telah membuang sauh di perairan Turki yang indah. Namun, bagi Gladis, pagi itu tidak diawali dengan tawa.
Ia terbangun dengan rasa mual yang hebat, hasil perpaduan antara trauma kemarin dan reaksi tubuhnya terhadap kehamilan kembar.
"Huekk... huekk..."
Arkan yang memang sudah terjaga sejak subuh langsung sigap.
Ia membantu menyangga tubuh Gladis di depan wastafel kamar mandi, memijat tengkuk istrinya dengan sangat lembut.
"Pelan-pelan, Sayang. Keluarkan saja semua airnya," bisik Arkan penuh perhatian.
Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Arkan membasuh wajah Gladis dengan waslap hangat.
Ia menatap wajah istrinya yang terpantul di cermin, hatinya mencelos melihat perubahan warna kulit Gladis.
"Kamu pucat, Sayang," ucap Arkan dengan nada cemas yang kental. Ia menyentuh dahi Gladis, memastikan tidak ada demam.
"Bibirmu juga kering. Sepertinya efek kejadian kemarin dan si kembar benar-benar menguras energimu."
Gladis hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada Arkan, napasnya masih sedikit terengah.
"Hanya pusing sedikit, Arkan dan rasanya perutku diaduk-aduk."
Arkan segera menggendong Gladis kembali ke ranjang.
Ia mengambil sebotol minyak kayu putih dan air jahe hangat yang sudah disiapkan kru dapur sejak pagi tadi.
Dengan telaten, ia membalurkan minyak di perut dan punggung Gladis, lalu menyuapi air jahe itu sedikit demi sedikit.
"Kita batalkan saja rencana ke darat ya? Kamu istirahat di sini, aku akan suruh Gerald membeli semua Kumpir dan Baklava terbaik di Istanbul untuk dibawa ke kapal," tawar Arkan.
Ia tidak sanggup melihat Gladis harus berjalan di tengah keramaian Turki dengan kondisi selembut itu.
Gladis menatap Arkan, matanya yang sayu mencoba mencari kekuatan.
"Tapi aku ingin melihat pemandangan Turki, Arkan. Aku sudah bosan melihat dinding kabin."
Arkan terdiam sejenak, menimbang-nimbang antara keinginan istrinya dan instruksi keselamatan dokter.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys