Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 - Seseorang Dari Masa Lalu Yang Kembali Ke Dalam Hidup Ku
-Jalan yang Tidak Bisa Kembali
Api di timur tidak terlihat dari benteng Florence,
namun Arthur bisa merasakannya.
Bukan sebagai cahaya, melainkan sebagai tarikan di dada perasaan yang sama ketika Hendry dulu berkata, “Kadang yang harus kau jaga bukan istana, tapi nama.”
Arthur berdiri di ruang peta sejak fajar. Garis-garis arang menandai wilayah Marquis Fireloren. Beberapa titik diberi tanda silang merah desa, pos logistik, jalur perdagangan kecil.
Semua terlalu rapi.
“Ini bukan penjarahan...” kata Arthur pelan.
“Ini pesan dari mereka...”
Toxen mengangguk. “Dan pesan selalu ditujukan pada seseorang.”
- -Keputusan yang Tidak Diminta
Marquis Florence datang tanpa rombongan. Ia hanya membawa mantel tipis dan wajah yang lelah.
“Kau ingin kembali ke timur?” katanya, bukan bertanya.
Arthur tidak menyangkal.
“Jika mereka ingin mengalihkan perhatianku dari perang disini, maka itu berarti...”
“Mereka takut padamu, tuan” Florence memotong.
Keheningan menyusup di antara mereka.
“Kau sudah delapan belas sejak beberapa hari lalu, dan... Hmmmm btw selamat ulang tahun Arthur...” lanjut Florence.
“Secara hukum kekaisaran, aku tidak bisa melarangmu.”
Arthur menatapnya lurus.
“Dan secara moral, aku tidak bisa diam.”
Florence tertawa kecil bukan karena lucu, tetapi karena pahit.
“Sekarang aku mengerti yang di alami oleh si Moren.”
Ia memberi jalan.
- -Surat yang Tidak Pernah Sampai
Di perjalanan keluar benteng, Arthur menerima satu gulungan kecil dari seorang kurir tua. Tidak bersegel bangsawan. Tidak ada lambang.
Tulisan tangan itu goyah.
Arthur,
Jika kau membaca ini, berarti Morvist gagal kembali.
Jangan cari aku di tempat terang.
Cari aku di tempat pertama kita pernah berbohong demi bertahan.
- -N
Arthur berhenti berjalan.
Tempat pertama mereka berbohong.
Ia tahu persis di mana itu.
- -Retakan di Medan Perang
Sementara itu, Duke New Gate kehilangan kesabaran.
Sabotase mulai terasa: meriam macet, suplai terlambat, laporan saling bertentangan. Ia tidak tahu siapa yang mengkhianati siapa dan itu yang paling berbahaya.
“Temukan para mata-mata itu sekarang!” perintahnya.
“Aku tidak peduli dari mana mereka berasalnya.”
Polein tidak menjawab. Ia mulai menghitung kemungkinan lain:
Bagaimana jika ini bukan ulah si Florence?
Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, mereka berdua memikirkan nama yang sama
Arthur.
- -Jejak Darah yang Tidak Mengering
Arthur tiba di desa perbatasan saat matahari condong ke barat.
Asap masih menggantung. Bau kayu hangus bercampur darah lama.
Tidak ada mayat.
“Ini sangat aneh...” gumam Toxen. “Mereka biasanya meninggalkan saksi yang mati.”
Arthur berjongkok. Tangannya menyentuh tanah kering, retak.
“Tidak...” katanya.
“Mereka membawa semuanya dari sini.”
Ia menemukan simbol terukir di tiang rumah:
enam garis melingkar, saling bertumpuk.
Borein pernah menggambarnya bertahun lalu di atas pasir, sambil berkata:
“Enam tangan bisa mengangkat siapa pun. Atau menjatuhkannya.”
Arthur berdiri.
“Ini bukan serangan,” katanya.
“Ini undangan mereka...”
- -Suara yang Dikenal
Malam turun cepat di timur.
Arthur masih berada di desa yang terbakar, kemudian saat ia berada di tengah reruntuhan desa, Arthur mendengar langkah kaki dari belakang.
Bukan banyak.
Hanya satu.
“Sudah sejauh ini kau melangkah melewati ku...” suara itu berkata dari balik bayangan.
“Dan kau masih belum tahu siapa yang coba kau lindungi...”
Arthur tidak mencabut senjata.
Ia mengenali suara itu.
“Paman Norvist... Tidak bukan, kamu bukan paman Norvist, kamu pasti paman ku yang satunya... Morvist” katanya pelan.
Sosok itu maju setengah langkah cukup untuk terlihat, tidak cukup untuk disentuh.
“Jika kau ingin tahu kebenaran tentang ayahmu, Arthur” kata Morvist,
“kau harus siap membenci seseorang yang masih hidup kala ini.”
Dan sebelum Arthur sempat menjawab,
bayangan itu menghilang dari kegelapan.
meninggalkan satu pertanyaan yang tidak bisa ditinggalkan:
Apakah musuh terbesar keluarga Moren… selalu berada di dalamnya?
- -Nama yang Tidak Pernah Disebut
Arthur tidak langsung mengejar.
Ia berdiri lama di antara puing-puing desa, mendengarkan malam yang kembali bernapas seolah tak pernah terganggu. Angin menyusup di sela kayu patah, membawa suara jauh serangga, dedaunan, dan sesuatu yang lain: kenangan yang dipaksa bangkit.
Toxen mendekat tanpa suara berlebihan.
“Apakah itu benar Morvist?” tanyanya.
Arthur mengangguk pelan.
“Atau seseorang yang ingin aku percaya itu adalah dia.”
Mereka meninggalkan desa tanpa menyalakan obor. Tidak ada yang perlu dilihat lagi. Semua yang penting telah diambil oleh tangan yang tahu persis apa yang dicari.
- -Tempat Pertama Mereka Berbohong
Perjalanan membawa mereka ke sebuah lembah kecil, tersembunyi di balik dinding batu alam. Dulu, tempat itu hanyalah persinggahan singkat sebuah pondok kayu, satu sumur, dan ladang yang gagal tumbuh.
Arthur mengenalnya dari cerita setengah utuh ayahnya.
Tempat di mana seorang bangsawan pernah menyamar sebagai orang biasa.
Tempat di mana kebaikan pertama kali berubah menjadi senjata.
“Kata tuan Hendry, di sinilah ayahmu bertemu dengan mereka” kata Toxen lirih.
“Bukan sebagai Marquis. Tapi sebagai Manusia.”
Arthur masuk ke pondok. Debu tebal, bau jamur, dan satu meja kayu yang pernah diperbaiki berkali-kali. Di bawahnya, terukir simbol kecil enam garis melingkar.
Arthur mengepalkan tangan.
- -Pengakuan yang Tertunda
Morvist muncul menjelang dini hari. Tidak dari bayangan, tidak dramatis. Ia duduk di bangku luar pondok seolah selalu ada di sana.
“Walalun aku baru pertama kali bertemu dengan mu, kau tumbuh dengan cepat sejak dari bayi, keponakan ku...” katanya.
“Dan terlalu cepat untuk dunia ini.”
Arthur tidak menyahut. Ia menunggu.
Morvist menatap langit.
“Ayahmu tidak jatuh karena ditipu. Ia jatuh karena memilih untuk tetap berdiri ketika semua orang lain menunduk.”
Ia mulai bercerita perlahan, tanpa heroisme.
Tentang enam orang itu.
Clorfin yang kehilangan tanah.
Permo yang kehilangan sesuatu yang berharga.
Ervin yang kehilangan nama.
Forlen yang kehilangan kehormatan.
Vastorci yang kehilangan segalanya kecuali ambisi.
Dan Borein yang kehilangan arah.
“Moren memberi mereka kesempatan untuk hidup” lanjut Morvist.
“Uang, perlindungan, nama.”
Arthur merasakan sesuatu mengeras di dadanya.
“Dan mereka membalasnya dengan kehancuran.”
Morvist menggeleng.
“Tidak langsung... Mereka membalasnya dengan ketergantungan... Dan ketika Moren tak lagi bisa memberi apa yang mereka inginkan… mereka memilih mengambil...”
- -Dosa yang Tidak Tertulis
“Ada satu hal lagi, Arthur” kata Morvist.
“Sesuatu yang tidak pernah Moren ceritakan, bahkan padamu.”
Arthur menatapnya tajam.
“Dia menandatangani satu perjanjian yang rahasia” lanjut Morvist.
“Bukan dengan mereka... Tapi dengan kekaisaran.”
Arthur membeku.
“Untuk melindungi desa-desa kecil di timur, Moren menyerahkan satu hak lama keluarga kita...” kata Morvist pelan.
“Hak yang seharusnya wajib diwariskan ke padamu.”
“Hak apa?!” tanya Arthur.
Morvist ragu. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak tua.
“Hmmm... Itu adalah sebuah hak untuk memilih...” katanya.
“Apakah kau ingin menjadi bangsawan yang sangat hebat… atau sesuatu yang lain.”
- -Bayangan yang Mengawasi
Mereka tidak tahu bahwa percakapan itu tidak sepenuhnya sunyi.
Di balik bukit, seseorang mencatat setiap kata.
Ervin menutup buku kecilnya, wajahnya tanpa ekspresi.
“Ahhh jadi itu yang sedang disembunyikan oleh Moren” gumamnya.
“Menarik...”
Ia menoleh ke arah utara ke medan perang yang masih bergolak.
“Kita tidak bisa menunggu lagi.”
- -Pilihan yang Datang Terlalu Cepat
Pagi datang dengan kabut tipis.
Arthur berdiri di depan Morvist.
“Apa yang harus kulakukan?”
Morvist tersenyum kecil.
“Tidak ada yang harus kau lakukan... Untuk saat ini”
Ia melangkah mendekat, lalu berbisik:
“Tapi apa pun yang kau pilih… dunia akan mengingat namamu dengan cara yang berbeda.”
Saat itu, seekor elang hitam yang sangat besar mendarat di atap pondok membawa gulungan bersegel kekaisaran Valerion.
Arthur membuka segelnya.
Isinya satu kalimat singkat:
Atas nama Kaisar Valeris III, Arthur Of Fireloren dipanggil untuk hadir.
Bukan sebagai pewaris.
Tapi sebagai penentu.
Arthur mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perang ini tidak lagi tentang siapa yang akan menang. melainkan siapa yang berhak memutuskan apa arti kemenangan itu sendiri...
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥