Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan yang "Mengganggu" Mata
Lampu sorot panggung utama meredup sejenak sebelum akhirnya jatuh tepat pada Every yang berdiri tegak di balik podium kaca. Ia menarik napas dalam, menatap ribuan audiens dengan ketenangan seorang pemimpin sejati.
"Honorable guests, fellow students, and innovators of the future."
Suara Every mengalun jernih, bergema di seluruh aula yang mendadak senyap.
"Today, we stand at the intersection of heritage and high-tech. We often think that progress means leaving the past behind, but true innovation is about carrying our roots into the digital age. This festival is not just a display of robots or cultural dances; it is a testament that resilience and creativity are the only currencies that matter in an ever-changing world."
Ia menutup pidatonya dengan senyum tipis yang sangat berkelas. "Let us not just build machines; let us build a legacy. Thank you."
Tepuk tangan bergemuruh hebat. Every turun dari panggung dengan anggun, sementara di sudut barisan keamanan, River berdiri bersedekap, matanya tak lepas dari sosok putih gading itu.
"Gila, Riv. Gue tarik kata-kata gue soal 'jebakan' lo tahun lalu," bisik Bimo yang berdiri di samping River, masih sibuk bertepuk tangan. "Dulu lo sengaja ngerancang strategi supaya Every kepilih jadi Ketua BEM cuma karena lo pengen liat dia stres dan ngebubarin BEM dari dalem, kan? Tapi liat sekarang... dia malah bikin BEM kita jadi yang terbaik se-nasional."
River mendengus, mencoba menjaga wajah datarnya. "Itu cuma keberuntungan. Gue tadinya cuma mau BEM ini bubar karena isinya cuma anak-anak manja yang nggak berguna. Gue pikir dia bakal nyerah di bulan pertama."
"Masa sih?" sahut Recha yang tiba-tiba muncul di antara mereka, menatap River penuh selidik. "Tapi lo kayak udah tahu Every itu sekompeten ini. Cara lo 'nyerang' dia di setiap rapat itu kayak lo lagi *coaching* dia buat jadi lebih kuat. Lo sebenernya udah kenal dia sejak lama, ya?"
"Nggak," jawab River cepat, terlalu cepat.
"Ah, masa? Lo tahu dia alergi kacang, lo tahu dia nggak bisa tidur kalau lampunya mati total, lo bahkan tahu cara bikin dia diem cuma dengan tatapan mata," cecar Bimo sambil menyenggol lengan River. "Jujur aja, Riv. Lo beneran mau bubarin BEM atau lo cuma mau bikin 'panggung' supaya Every bisa bersinar kayak gini?"
"Jangan ngaco," River memutar bola matanya, tangannya meremas botol mineral hingga berderit. "Gue musuh dia. Gue cuma mau ngetes sejauh mana mental 'Tuan Putri' itu bisa bertahan di bawah tekanan gue. Ternyata dia emang keras kepala. Itu doang."
"Tapi pertanyaan gue satu," Recha belum menyerah, "Kalau emang niat lo buruk, kenapa lo yang paling repot pas dia dikritik pihak kampus? Kenapa lo yang paling posesif kalau ada cowok lain deketin dia?"
River menghela napas kasar, urat di lehernya menegang karena merasa terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Ia menoleh ke arah Every yang kini tengah dikerumuni delegasi asing, wajah Every tampak berseri-seri.
"Gue jagain dia karena dia aset kampus saat ini. Kalau dia tumbang, kerjaan keamanan gue makin susah," River berdalih dengan logika yang ia paksa-paksakan. "Denger, tujuan awal gue tetep sama: gue mau buktiin kalau birokrasi kampus itu sampah. Kalau Every berhasil ngerubah itu, ya bagus buat dia. Tapi buat gue, dia tetep lawan yang paling nyebelin yang pernah gue temuin."
"Lawan yang lo sayang, kan?" goda Bimo.
River tidak menyahut. Ia lebih memilih berjalan pergi menuju pos belakang, menghindari berondongan pertanyaan teman-temannya.
Namun, jauh di lubuk hatinya, River tahu bahwa 'jebakan' yang ia buat dulu telah berbalik mengunci hatinya sendiri. Ia menciptakan lawan yang begitu sempurna, hingga ia sendiri tak mampu untuk benar-benar mengalahkannya.
"Dasar gengsi setinggi langit," gumam Recha melihat punggung River yang menjauh. "Musuh katanya, tapi pas Every turun panggung tadi, matanya kayak mau nangis saking bangganya."
......................
Aula utama kampus telah bertransformasi menjadi laboratorium masa depan yang dibalut kain tenun etnik.
Di sisi kiri, barisan robot pembersih otomatis hasil karya anak Teknik Mesin sedang melakukan tarian piring dengan piring-piring plastik di atas capit mekaniknya.
Di sisi kanan, paviliun teknologi pangan memamerkan es krim berbahan dasar tempe yang disajikan dengan presentasi ala restoran bintang lima.
"The fusion is impeccable!" seru Mr. Harrison, salah satu delegasi dari universitas mitra di Inggris. Ia menunjuk robot pengukur pH tanah yang didesain menyerupai patung Garuda. "Every, your team has successfully bridged the gap between tradition and industry 5.0. This is exactly what we look for in our exchange programs."
Every tersenyum manis, mencoba tetap profesional meski kepalanya sedikit berdenyut karena kurang tidur. "Thank you, Mr. Harrison. We believe that technology should have a soul, and that soul is our culture."
Namun, saat rombongan internasional itu beralih ke stan berikutnya, fokus Every mulai terbelah. Matanya secara otomatis mencari keberadaan satu orang: River Armani.
Di dekat pintu masuk area outdoor, River sedang sibuk. Bukan sibuk memperbaiki genset, tapi sibuk menjadi "pahlawan" bagi para tamu dan mahasiswa.
"Kak River... boleh minta tolong? HP saya jatuh ke sela-sela panggung, tanganku nggak nyampe," rengek seorang mahasiswi baru dengan nada yang dibuat sedemikian rupa.
River tidak berkata banyak. Ia berjongkok, mengulurkan tangannya yang besar ke bawah celah panggung kayu.
Every memperhatikan dari kejauhan bagaimana urat-urat lengan River menegang saat ia meraba lantai tanah di bawah sana.
"Nih. Hati-hati lain kali," ujar River singkat sambil menyerahkan ponsel itu.
"Makasih ya Kak! Duh, tangannya sampai kotor..." Si maba itu nekat mengelap tangan River dengan tisu basah. River diam saja, malah tampak tersenyum tipis yang jarang ia perlihatkan pada Every.
"Eh, liat tuh si River," bisik Recha di samping Every. "Ramah banget ya hari ini? Tadi dia juga bantuin dosen tamu dari Jepang bawa koper berat, sekarang jadi idola maba. Kok sama lo galak banget sih?"
Every mencengkeram papan jalannya erat-erat. "Mungkin dia emang punya bakat jadi pelayan masyarakat. Atau emang lagi tebar pesona biar sanksinya dicabut."
"Halah, bilang aja lo cemburu liat tangan favorit lo itu dipegang-pegang pake tisu basah," goda Recha.
Beberapa saat kemudian, River berjalan melewati Every untuk memeriksa kabel proyektor yang sempat longgar.
"Gimana, Tuan Putri? Seneng dapet tawaran pertukaran pelajar?" tanya River tanpa berhenti berjalan, suaranya terdengar malas namun tetap tajam.
Every mencegatnya. "Biasa aja. Lo sendiri gimana? Sibuk banget ya jadi 'malaikat pelindung' maba-maba? Tadi ada yang pegang tangan lo, lo diem aja. Biasanya kalau gue yang pegang, lo langsung sensi."
River berhenti, berbalik menatap Every. Senyum mengejek muncul di wajahnya. "Oh, jadi lo merhatiin? Gue cuma profesional, Every. Mereka tamu. Dan mereka nggak nyuruh-nyuruh gue kayak kuli."
"Gue nggak nyuruh, gue instruksiin!" Every mendesis. "Dan satu lagi, tolong ya, lo itu Koordinator Keamanan. Jangan terlalu banyak senyum ke mahasiswi lain, nanti mereka fokus ke muka lo, bukan ke pengamanan."
River terkekeh, ia maju selangkah hingga aromanya yang khas—parfum maskulin dan sedikit bau logam—menyerbu indra penciuman Every. "Bilang aja kalau lo nggak suka liat tangan gue disentuh orang lain. Gue nggak keberatan kok kalau lo mau nge-klaim kepemilikan di depan Mr. Harrison itu."
"Dalam mimpi lo, River!" Every membuang muka, pipinya terasa panas.
"Oke, kalau gitu gue balik kerja. Tadi ada mahasiswa dari kampus sebelah yang nanya arah toilet, kayaknya dia butuh gue buat 'nuntun' jalannya," River mengedipkan mata, sengaja memancing emosi Every.
"RIVER ARMANI! JANGAN BERANI-BERANI!" teriak Every tertahan, namun River sudah berjalan menjauh sambil tertawa kecil, memamerkan punggungnya yang tegap dan dominan di antara kerumunan tamu internasional yang terkesima dengan festival tersebut.