Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23.
Belum selesai perdebatan yang terjadi karena insiden makanan jatuh barusan.
" Ardhana, saya mau kamu pecat pelayan ini sekarang. " Ucap wanita yang tak lain adalah mama dari Bumi.
" Tapi tante, apa gak sebaiknya kita selesaikan baik baik, Haeyla juga baru kali ini ngelakuin kesalahan seperti ini. " Bela Ardhana.
" Apaan sih lo Ar?, udah jelas jelas ni anak salah, masih lo bela, kalau gini bisa bisa orang kapok dateng ke cafe ini. " tambah Serin lagi.
" Bu, tolong maafin saya, saya benar benar gak sengaja, tolong jangan pecat saya, saya butuh kerjaan ini. " Haeyla memohon.
" Udah deh ya, mending sekarang lo beresin barang barang lo, lo itu di pecat, dengar gak!. " Teriak Serin.
Haeyla langsung pergi sambil menangis, dia sangat sangat sedih dan hancur, pekerjaan itu sangat penting bagi Haeyla, dia bisa bertahan hidup hanya dari sana. Ardhana hanya bisa diam melihat kepergian Haeyla.
' Aku harus gimana sekarang?, aku harus kerja apalagi?, gimana nanti aku bisa hidup kalau aku gak punya pekerjaan lagi?. ' Gumam Haeyla berjalan sambil menangis.
Tidak sengaja di pertengahan jalan hujan turun dengan sangat deras, namun Haeyla tidak menepi sama sekali. Haeyla terus berjalan di tengah deras nya hujan, tidak tau lagi mana air hujan dan air mata Haeyla.
' Mama!, Haeyla butuh mama. ' gumam Haeyla lagi sambil terus menangis. Tiba tiba dari kejauhan ada satu mobil yang mendekati Haeyla.
" Haeyla?, Haeyla!, kamu kenapa?. " laki laki itu langsung keluar dari mobil nya dan menghampiri Haeyla yang terduduk di tepi jalan.
" Haeyla ini aku Arbian, kamu kenapa La?." Itu adalah Arbian yang berhenti mendekati Haeyla.
" Aku capek Arr. " Haeyla terus menangis sejadi jadinya. Arbian rasanya ingin marah karena melihat keadaan Haeyla sekarang ini, siapa yang sudah membuat Haeyla menjadi seperti ini.
" Ayo La, ikut aku ke mobil ya, kamu bisa sakit kalau disini hujan hujanan. " ajak Arbian.
" Tinggalin aku Ar. " pinta Haeyla.
" Gak akan. " Arbian menggendong Haeyla untuk masuk ke dalam mobil milikknya.
" Tenangin diri kamu La, ini, kamu pakai ini keringkan wajah kamu. " Arbian memberikan handuk kecil pada Haeyla.
Haeyla mengambil nya dan hanya diam.
" Kalau kamu belum mau cerita gapapa La, aku bakal temanin kamu terus. "
" Kamu mau aku anter pulang atau kamu mau ke suatu tempat mungkin?."
" Pantai. " Satu kata yang keluar dari mulut Haeyla saat itu.
Back to Fourtune.
' Gue harus nelpon Bumi kalau gini ceritanya. ' batin Ardhana.
Telpon Bumi berdering.
Ardhana.
" Yo, kenapa Ar?. "
" Gawat Bum, sumpah kacau banget. "
" Apaan?, lo bicara yang jelas!."
" Haeyla Bum, dia di pecat sama nyokap lo dari Fourtune. "
" Apa!?, kok bisa?, kenapa tiba tiba nyokap gue?. "
" Nyokao lo dan orang orang kantor nya meeting disini dan Haeyla gak sengaja numpahin makanan ke baju salah satu orang itu, dan nyokap lo marah, Serin juga ada disini. "
" Terus Haeyla sekarang mana?. "
" Haeyla pergi sambil nangis tadi Bum. "
" Kenapa gak lo tahan Ardhana!!. Arrghhh!. " Bumi sangat emosi mendengar ucapan Ardhana barusan.
' Maafin aku La, seharusnya aku gak pergi tadi.' guman Bumi sambil menyetir mobil nya dengan kecepatan penuh.
Rumah Haeyla.
Tok tok tok!!!
Tok tok tokk !!!
Bumi datang ke rumah Haeyla namun sepertinya Haeyla tidak ada di rumah sekarang.
' Kemana kamu La?, kemana kamu hujan hujan begini astaga!!!. ' Bumi terus menelpon Haeyla namun tidak tersambung.
Cafe Fourtune.
pukul 22:00
" Nah itu Bumi tante. " Bumi datang dengan baju yang basah dan wajah yang sangat tidak bisa di jelaskan.
" Maksud mama apa sih ma?, ngapain mama pecat karyawan aku sesuka hati mama?!." Bentak Bumi
" Kamu kenapa sih Bumi?, datang datang marah marah sama mama. "
" Ngapain mama pecat Haeyla?!, dia karyawan aku, bukan karyawan mama!, yang berhak nentuin dia layak atau gak kerja disini cuma aku!. "
" Dia kerja gak becus Bumi, mama gak mau nanti kamu malu. "
" Iya Bum, dia itu gak becus." timpal Serin.
" Diam lo!, lo gak usah ikut campur!." Semua hanya diam melihat kemarahan Bumi yang semakin memuncak.
" Dengar kalian semua ya!, termasuk mama!, Haeyla akan tetap kerja disini, gak ada orang yang akan bisa mecat dia tanpa izin dari aku, dan satu lagi, Kalian gak penting bagi saya, tapi Haeyla penting!. " Ucapan Bumi berhasil membuat mama nya dan Serin kesal .
" Kurang ajar kamu Bumi!, berani sekali anak itu berbicara seperti itu." wajah mama Bumi memerah karena kesal.
Sementara di tempat yang lain Arbian dan Haeyla ada di tepi pantai dengan keadaan hujan yang sangat deras. Mereka masih berada di dalam mobil.
" Mau cerita La?" Arbian menawarkan agar Haeyla berbagi kesedihan nya.
" Engga Ar, aku udah oke sekarang." Jawab Haeyla sembari merapikan rambut dan mengusap air mata di pipi nya.
" Jangan sungkan untuk berbagi cerita La, aku ada disini untuk kamu, aku siap dengar segala cerita kamu apapun dan bagaimana pun itu." Arbian menatap Haeyla dengan penuh perhatian.
" Makasih. Kamu udah perduli sama aku, tapi aku bener bener udah oke sekarang Arbian" Tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu keadaan Haeyla sudah membaik. Haeyla berbohong karena tidak ingin membuat Arbian ikut lebih jauh dalam masalah yang dia punya.
Yang bisa di lakukan Arbian saat ini hanyalah diam. Mungkin sekarang yang Haeyla butuhkan hanya tenang tanpa tanya. Cukup sulit untuk Arbian menahan agar tetap diam tanpa bertanya pada Haeyla. Namun itu yang terbaik di lakukan saat ini.
Sementara disisi lain Bumi yang sudah kalang kabut mencari keberadaan Haeyla.
' Kamu pasti lagi nangis saat ini Haeyla. Aku bisa merasakan itu walaupun aku gak lagi lihat kamu. Tolong segera pertemukan kami tuhan. ' Bumi memohon dengan wajah lusuh yang terlihat sangat gusar.
Back Arbian dan Haeyla.
" Aku tinggal untuk nelpon sebentar ya Haeyla?"
" Ya. Silahkan" Haeyla menjawab tanpa melihat Arbian.
Di luar mobil. Arbian tampak menelpon seseorang.
Telpon berlangsung.
" Ya. Ada apa Bian?" Suara itu adalah suara wanita yang tak lain adalah mama dari Arbian.
" Ma. Aku harus apa menghadapi wanita yang sedang hancur hati dan pikiran nya? Apa aku harus tetap diam saja. Menunggu sampai dia tenang?
" Siapa Bian? Wanita siapa yang kamu maksud?"
" Haeyla"
" Ada apa dengan Haeyla? Apa dia baik?"
" Dia lagi gak baik baik aja ma. Sepertinya dia sedang kalut dengan hati dan pikiran nya"
" Nak. Cukup selalu ada di samping nya tanpa harus mendesak berbagai pertanyaan padanya. Cukup dengan kamu selalu ada bersama dia. Itu sudah cukup untuk nya"
" Aku paham ma. Aku tutup telpon nya. Bye ma" Apa yang baru saja di lakukan oleh Arbian mungkin hal yang tepat. Jika dia gegabah dan terus menanyai Haeyla, mungkin Haeyla akan merasa tidak nyaman saat bersama nya.
Kediaman Cila pukul 23:55.
Tok tok tok. Pintu rumah di ketuk.
Beberapa menit seseorang datang membuka pintu.
" Cari siapa ya?"
" Bu. Saya mau ketemu dengan Cila"
" Oh. Non Cila. Sebentar ya" Yang membuka pintu rumah Cila adalah bibi nya.
2 menit kemudian.
" Bumi? Mau apa lo tengah malam ke rumah gue?" Cila datang dengan wajah yang sangat heran.
" Haeyla disini?" Tanya Bumi dengan nada penuh harap.
" Engga. Di rumah dia lah. Ngapain Haeyla disini malam malam gini coba"
" Engga. Yaudah makasih" Bumi langsung pergi dari rumah Cila saat itu juga.
' Loh apaan sih itu anak? Aneh banget. Lagian kenapa dia nanya Haeyla malam malam gini sih?" Guman Cila karena bingung melihat Bumi yang tiba tiba datang ke rumah nya.
Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang sudah pukul 01:00. Sementara Haeyla masih bersama dengan Arbian di dalam mobil di tepi pantai.
" Menurut kamu. Aku worth it gak untuk bahagia Ar?" Pertanyaan Haeyla membuat lamunan Arbian terpecah.
" Listen. Semua manusia berhak untuk bahagia Haeyla. Bahkan mereka yang buruk pun pantas untuk mendapatkan kebahagian mereka" Arbian menjawab dengan sangat lembut.
" Menurut kamu aku pantas?" Haeyla bertanya dengan air mata yang berlinang di pipinya sambil menatap nanar Arbian.
" Hey. Bukan pantas lagi. Kamu layak dan harus mendapatkan bahagia itu Haeyla" Arbian memberanikan diri untuk menghapus air mata di pipi milik Haeyla. Namun Haeyla masih terus meneteskan air matanya, seolah air mata itu tidak bisa dia hentikan.
" Dunia mungkin sangat jahat untuk kamu tempati Haeyla, tapi jangan lupa. Banyak orang yang perduli dan sayang sama kamu di dunia yang jahat ini" Arbian mengambil tangan Haeyla lalu menggenggam tangan halus itu.
" Peluk aku Arbian. Yakinin aku kalau aku masih bisa jalani hidup aku di dunia yang jahat ini" Walaupun sedikit ragu namun akhirnya Arbian memeluk Haeyla dengan penuh kehangatan.
" Aku yakin. Wanita kuat seperti kamu akan terus bertahan di kala kalut nya dunia Haeyla. I always be with you Haeyla Seraphine" Arbian membisikkan kata kata itu dengan pelukan yang masih erat diantara mereka.
Bersambung.