NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tiga

Mikhasa diam menatap Axel. Menatap kedua matanya yang menyimpan ketulusan, ketulusan seseorang yang takut ditinggalkan. Sebuah ketulusan akan keinginannya pada keberadaan Mikhasa disini. Tetap bersamanya.

Mikhasa mengangguk. "Iya, Tuan. Saya pasti tetap disini," jawabnya. Meski di dalam hati ia tahu, keberadaannya tak lebih dari penyangga bagi jiwa Axel yang rapuh.

"Lebih dari itu, Mikha. Kuharap kau tidak takut padaku," sahut Axel.

"Selama Anda tidak bertindak melewati batas, saya tidak akan takut,” jawabnya jujur.

"Oke," Axel mengangguk cepat. "aku tidak akan macam-macam," jawab Axel. Dia segera menambahkan. "Tapi jika kau mau, kau boleh macam-macam padaku."

Mata Mikhasa membulat. "Axel!! Kau ini niat minta maaf nggak sih?!" Serunya.

Axel terkekeh kecil. Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya terlihat benar-benar hidup.

“Aku bercanda,” katanya cepat, mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Sedikit. Oke, mungkin setengah serius.”

Mikhasa medengus pendek, masih setengah kesal. "Jadi mau makan atau tidak, Tuan muda yang baik hati?"

"Asal kau mau menemani." Jawab Axel santai.

Bagi Mikhasa nada itu terdengar nyebelin. "Tugas saya memang menemani anda, termasuk makan siang," jawab Mikhasa.

"Wah," Axel menyeringai. "akhirnya kau tahu tugasmu yang sebenarnya. Baguslah."

"Karena percuma berdebat dengan anda. Hanya akan membuat saya sakit kepala," balas Mikhasa datar.

"Itu karena kau terlalu gampang meledak, Mikha."

"Bukan," sanggah Mikhasa spontan. "Bukan saya yang gampang meledak, tapi anda yang seringkali membuat orang emosi."

"Itu karena kau mudah tersulut," sahut Axel.

"Tidak. Tapi karena anda yang terlalu seenaknya."

"Karena kau seringkali tidak patuh, Mikha."

"Patuh pada hal-hal yang aneh itu tidak masuk akal."

Axel mengangkat alis. "Pikiranmu saja yang aneh. Ku rasa perintahku tidak ada yang aneh."

Mikha akhirnya berkacak pinggang. Menatap Axel semakin kesal. "Jadi, Yang Mulia,” katanya sinis, “Anda mau makan siang atau tidak?”

Axel justru tertawa pelan, ringan dan lepas. Padahal Mikhasa sedang kesal setengah hidup.

Axel akhirnya berdiri, mengancingkan jasnya dengan gerakan rapi, lalu melangkah mendekati Mikhasa.

“Ayo,” katanya singkat.

Mereka berjalan bersama menuju ruang makan eksklusif. Duduk berhadapan seperti biasa, meja panjang, hidangan tertata sempurna, suasana yang terlalu mewah bagi Mikhasa.

'Kalau dipikir dari sisi baiknya, ini tuh sebenarnya anugerah banget,' batin Mikhasa. 'Lihat saja, makan siang di tempat eksklusif, menu luar biasa lezat sampai harus dikunyah pelan-pelan biar rasanya meresap ke jiwa. Gratis pula. Hal yang bahkan nggak pernah terlintas di hidupku selama ini.'

Belum lama mereka makan, Axel lebih dulu meletakkan alat makannya. Setelah jam istirahat ini, ia memiliki pertemuan penting.

“Aku ada rapat,” ujarnya sambil berdiri. “Makanlah dengan tenang. Aku pergi dulu.”

Mikhasa mengangguk. Ia refleks ikut berdiri begitu Axel bangkit.

“Apakah Tuan sudah minum vitamin?” tanyanya tiba-tiba, saat Axel hendak melangkah pergi.

Axel berhenti. Menatapnya, tatapan lekat yang terasa aneh.

Mikhasa langsung merasa perlu menjelaskan. “Menurut short drama yang sering saya tonton, CEO tampan dan kaya raya itu harus rajin minum vitamin supaya tetap bugar. Soalnya… kalau CEO gendut, katanya nggak cocok.”

Bibir Axel berkedut, menahan tawa mendengar itu. “Kurangi menonton yang seperti itu,” katanya. “Tidak baik untuk kesehatan otakmu, Mikha."

Axel berbalik melangkah pergi. Langkah tegap dan berwibawa. Semakin menjauh.

Mengingat Axel yang tadi pagi minum obat, Mikhasa mendadak cemas. “Tapi Tuan sudah minum vitamin, kan?” Mikhasa bertanya lagi.

Axel menghentikan langkahnya di sana. Perlahan ia membalik badan menatap Mikhasa.

“Belum,” jawabnya santai. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. “Apa kau ingin membantuku meminumnya, Sweetheart?”

Mikhasa berkedip cepat. Bulu kuduknya langsung meremang seketika, merasa ngeri. "Tidak," jawabnya.

Tanpa berkata apa-apa, Axel menyelipkan tangannya ke saku dalam jasnya. Sebuah botol kaca kecil berwarna gelap ia keluarkan.

Mikhasa terdiam melihat itu. Obat atau vitamin? Ia tak tahu.

“Kemari, Sweetheart. Bantu aku,” ucap Axel santai.

“Anda bisa melakukannya sendiri. Kenapa harus saya?” Mikhasa jelas keberatan.

“Airnya di dekatmu.”

Mikhasa langsung melirik meja di depannya. Setelah ragu sesaat, ia menuangkan air ke dalam gelas. Ia lalu melangkah mendekat dan menyerahkan gelas itu pada Axel.

“Ini,” katanya singkat.

Axel menerima gelas tersebut. Namun alih-alih langsung meminumnya, ia justru menyerahkan botol kecil di tangannya pada Mikhasa.

Mikhasa refleks menerimanya. Ia menunduk, memperhatikan botol gelap itu di tangannya.

'Ini obat atau vitamin? Enggak ada labelnya…' batin Mikhasa.

“Ambil satu untukku, Sweetheart,” ujar Axel.

Tanpa banyak pikir, Mikhasa membuka tutup botol itu. Satu kapsul ia jatuhkan ke telapak tangannya. Ia segera menutup kembali botol tersebut, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

Telapak tangannya terulur, hendak menyerahkan kapsul itu pada Axel. Namun Axel tidak mengambilnya. Sebaliknya, pria itu mencondongkan tubuh sedikit, lalu membuka mulutnya pelan.

Mikhasa tertegun. Ia mengalihkan pandangan sejenak, mendengus kecil, menahan kesal yang tidak perlu diperdebatkan. Lalu kembali menatap Axel.

Pelan, Mikhasa mengulurkan tangannya dan memasukkan kapsul itu ke mulut Axel dengan hati-hati. Ujung jarinya sempat menyentuh bibir pria itu. Ia segera menarik tangannya begitu yakin kapsul tersebut sudah berada di dalam mulut Axel.

Axel menyesap minumannya perlahan, menelan apa yang ada di mulutnya dengan tenang.

“Terima kasih, Sweetheart,” ucapnya dengan senyum. Ia menyerahkan kembali gelas itu pada Mikhasa. “Vitamin paling manis yang pernah ku minum.”

Mikhasa memilih diam tidak ingin menyahutnya.

Tangan Axel terangkat, refleks ingin mengusap rambut Mikhasa. Namun gerakan itu terhenti di udara. Ingatannya kembali pada reaksi gadis itu setiap kali ia menyentuh tanpa izin, tegang, membeku, takut, lalu menjauh.

Akhirnya, Axel menurunkan tangannya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat.

Mikhasa mengangguk pelan. Ia berdiri di tempatnya, menatap Axel yang perlahan membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan dengan keheningan.

Mikhasa kembali ke ruangannya. Duduk tenang di kursi kerjanya, menyalakan komputer, lalu kembali tenggelam dalam dunia yang jauh lebih aman baginya, pekerjaan.

Drtt. Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Pak Edo.

“Dokumen yang harus anda pelajari sudah saya kirimkan ke email Anda, Nona Mikhasa.”

Mikhasa segera membalas. “Baik, Pak. Terima kasih.”

Sekali lagi, meskipun posisinya hanyalah titipan, ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Waktu berlalu tanpa terasa. Saat jam pulang kerja tiba, Mikhasa merenggangkan bahu dan lehernya pelan. Otot-ototnya terasa kaku.

“Huff… bekerja jauh lebih damai tanpa pandangan Axel,” gumamnya ringan dengan senyum puas.

Namun ia tetap menunduk, kembali fokus. Merapikan file-file yang harus ia laporkan pada Pak Edo besok. Memeriksa ulang jadwal undangan Axel, memastikan tidak ada yang saling berbenturan.

Hingga akhirnya ia berhenti. “Lebih baik cepat pulang nggak sih," katanya pada diri sendiri. “Mumpung Axel nggak ada di kantor.”

Mikhasa merapikan meja kerjanya, memastikan semuanya rapi, lalu berdiri. Langkahnya ringan saat keluar dari ruangan.

Namun ia terhenti di koridor. “Aku lewat mana ya?” gumamnya bingung.

Biasanya, ia menggunakan lift khusus Axel dan tamu-tamu penting. Tapi sekarang ia sendirian. Mana boleh menggunakan lift istimewa itu.

Suasana sepi, ya.. Karena jam kerja sudah berakhir sejak tadi.

Mikhasa menatap dua arah lorong di depannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengambil keputusan ke arah yang berbeda.

1
Mmh dew
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
☀IKA APRIL SSC🌷
udah mulai sadar kah klo kau sebenarnya jatuh cinta ma Mikha
☀IKA APRIL SSC🌷
cieeee cieeeee cemburu yaa lihat Mikha senyum manis sama cowok lain dan malah caper pake kacamata hitam sore2 gmn aq gk ngakak 🤣🤣🤣
☀IKA APRIL SSC🌷
dapet julukan baru lagi skrg wkwkwkwkwkkk Mikha si alien udah 4 julukan klo gk salah 😂
Nda
🤣🤣oh kacamata.. 🤭gra² kacamata ya..
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!