NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sebelas

"Tunggu kamu sembuh dulu baru kita melakukannya."

Pak Adnan menolaknya sambil menutupi tubuh Dahlia. Dia ikut merebahkan tubuhnya di sisi Dahlia, menoleh perempuan yang tetap cantik walau sedang sakit seperti ini. Wajahnya pucat dan kuyu.

"Memangnya kenapa kalau akunya sakit?."

"Mana enak."

Pak Adnan tersenyum sambil memeringkan tubuhnya menghadap Dahlia. Merapikan rambut yang sejak tadi berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga.

"Pak Adnan nggak pulang?."

"Aku mau di sini menemanimu."

"Terus gimana sama keluarganya Pak Adnan?.

"Mereka udah kembali ke hotel."

Lalu tangan Dahlia mulai nakal, membuka dua kancing bagian atas kemeja sambil memiringkan tubuhnya menghadap Pak Adnan.

"Jangan mancing, Ia."

Namun membiarkan tangan Dahlia bergerak bebas tidak beraturan di dadanya. Terkadang sedikit kasar, terkadang begitu lembut sehingga menimbulkan rasa geli yang menggelitik.

"Nggak, aku hanya mau tidur di sini."

Lalu kemudian Dahlia menempelkan wajahnya pada dada Pak Adnan. Dalam sekejap Dahlia sudah tidur, terdengar dengkuran halus. Pak Adnan hanya tersenyum sambil menggerakkan tangannya untuk membawa tubuh Dahlia semakin dalam dalam pelukannya.

Di lain tempat, Ryan masih betah bersama Liana di sofa yang tadi didengarnya gunakannya untuk bercinta. Tak ada gunanya juga pulang ke rumah, toh Dahlia tidak pulang juga setelah dia menghubungi rumahnya.

"Kamu masih belum bisa melepaskan Dahlia?."

"Perasaan nggak bisa dibohongi, Li."

"Kurang aku apa? Semua permintaan kamu selalu aku turuti. Menyelesaikan masalah keuangan keluargamu, pekerjaan baru untuk adik dan adik iparmu. Masih kurang apa lagi?."

"Kamu lupa? Dari awal hubungan ini ada karena suka sama suka tidak ada melibatkan perasaan apa pun. Aku menerima uang itu dari kamu karena kamu sangat puas dengan apa yang aku berikan ke kamu. Tapi kalau untuk perasaan, aku sangat mencintainya."

Liana bangkit lalu memungut pakaian yang kemudian dipakainya. Dia mengikat rambut panjangnya sambil berjalan ke dapur, mengambil air minum dari dalam kulkas lalu memberikannya pada Ryan.

"Setelah kejadian ini bagaimana? Apa mungkin Dahlia masih mau bersamamu?."

"Harus mau, dia nggak punya pilihan selain harus tetap bersamaku."

Liana yang duduk di sebelah Ryan hanya bisa menarik napas, memang sangat sulit mendapatkan hati Ryan. Padahal dia sudah berharap banyak dari Ryan dengan adanya hubungan ini.

Walau begitu tidak membuat Liana patah hati terlama, Sangat murah membawa Ryan naik ke atas tempat tidur dan mereka kembali bergumul.

Keesokan paginya.

Dahlia sudah segar dan terlihat lebih rapi. Siapa lagi kalau bukan karena Pak Adnan. Laki-laki itu begitu sangat memperhatikan Dahlia dengan sangat detail.

Makan, minum, obat dan vitamin sudah ada dalam satu nampan yang sudah disiapkan Pak Adnan. Seperti layaknya anak kecil, Pak Adnan menyuapi sampai membantu Dahlia minum obat.

"Ada lagi yang mau kamu makan nggak? Biar aku siapkan."

Dahlia menggeleng namun dia mengatakan sesuatu yang menggoda.

"Makan kamu belum, aku udah sembuh."

Pak Adnan tertawa terbahak.

"Itu terus yang kamu bahas."

"Aku ketularan Pak Adnan."

Keduanya sama-sama tersenyum.

"Tapi..."

Senyum itu segera hilang dari wajahnya.

"Kenapa?."

Pak Adnan mengusap lembut punggung tangan Dahlia.

"Ucapanku menjadi nyata, waktu itu aku bilang aku ingin melihat suamiku dan selingkuhannya sedang bercinta. Dan kemarin malam itu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Usapan lembut Pak Adnan berubah menjadi genggaman erat.

"Sakitnya luar biasa tapi di saat yang bersamaan aku merasa kuat. Aku tahu ada Pak Adnan yang akan selalu ada walau akhir-akhir ini kita ada jarak. Aku ke rumah Pak Adnan, aku melihat Pak Adnan bersama mereka. Aku nggak mau merusak kebahagiaan Pak Adnan bersama anak-anak."

"Iya, mereka sedang berlibur. Jadi mungkin agak lama akan tinggal di sini."

"Tinggal bersama Pak Adnan?."

"Nggak, mereka tinggal di hotel."

"Kenapa nggak tinggal di rumah Pak Adnan?."

"Aku yang nggak mau."

Lalu Pak Adnan melepaskan genggamannya untuk merangkul pundak Dahlia, semakin mendekatkan jarak di antara mereka.

"Kenapa? Kapan lagi mereka di sini?."

"Iya, tapi kami masih bisa bertemu 'kan?. Kalau mereka tinggal di rumah itu, kamu nggak akan leluasa datang ke sana. Buktinya, kamu balik badan saat tahu ada mereka."

Dahlia mencubit gemas lengan Pak Adnan. Dia malu laki-laki itu selalu tahu apa yang dirasakan.

"Masih mau tinggal di sini apa pulang ke rumahku?."

"Nggak enak kalau pulang ke rumah Pak Adnan karena bagaimanapun statusku masih istrinya Ryan. Di sini pun lumayan mahal tarif permalamnya. Nggak mungkin juga aku pulang ke rumah, belum mau mendengar banyak drama ini itu. Tapi nggak mungkin juga pulang ke rumah mama, mama sih nggak ada udah berangkat haji dan sebagian gantinya pasti kakakku akan banyak tanya. Jadi aku bingung mau ke mana?."

Pak Adnan tersenyum, sudah banyak pertimbangan namun masih belum tahu harus ke mana.

"Aku tahu harus ke mana?."

"Baik, aku antar."

"Ke pengadilan, aku akan mengajukan perceraian."

Pak Adnan mengangguk lalu mereka siap-siap meninggalkan kamar hotel.

Dengan barang bukti yang dimiliki Dahlia cukup sudah untuk segera memproses laporannya. Belum lagi ada bantuan hukum dari Pak Adnan untuk mempercepat semuanya.

Status janda bukan sesuatu yang terlalu menakutkan setelah dia melihat pengkhianatan Ryan. Lebih baik menjadi janda daripada harus tersiksa lahir batin, lagi pula Dahlia tidak lagi tinggal di tempat yang menganggap hina seorang janda. Jadi untuk apa merasa takut.

"Setelah dari sini aku nggak tahu mau pulang ke mana."

Pak Adnan menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Lalu dia melajukan mobilnya pelan, Dahlia menoleh Pak Adnan saat tahu rute yang dilaluinya.

"Tapi nggak apa-apa aku tinggal di rumahmu?."

"Tenang aja, aku udah bicara sama pengacara dan dia akan membantumu sampai selesai tanpa mempersulit kamu harus apa dan tinggal di mana bersama siapa."

"Lalu mereka?."

",Mereka akan menjadi keluargamu juga."

"Tapi aku malu."

"Tapi kamu nggak malu ngajak aku bercinta."

"Ish, itu kan beda."

Dahlia sudah berada di kamar Pak Adnan, dia hanya melihat saja kesibukan pria itu menata beberapa pakaiannya baru datang. Senang, segan, terharu, malu, campur aduk menjadi satu. Pak Adnan begitu sangat perhatian kepadanya.

"Tapi aku masih boleh kerja 'kan, Pak?."

Tiba-tiba saja terlintas pertanyaan itu karena dia takut kalau Pak Adnan akan memintanya berhenti kerja karena takut merusak reputasinya sebagai bos. Karena juga sebagian gajinya untuk mama dan kakaknya walau mereka tidak meminta. Mereka punya usaha sendiri yang cukup menghasilkan.

"Tentu aja boleh, kerja aja, nggak ada masalah. Justru aku senang bisa melihat kamu terus."

Dahlia tersipu malu.

Lalu Pak Adnan mencium hidung Dahlia, napas mereka saling beradu dan tatapan mereka sama-sama fokus pada bibir satu sama lain.

Dengan berani Dahlia mengalungkan tangan pada leher Pak Adnan walau harus jinjit.

"Nggak perlu meminta izin lagi untuk bisa menciumku di mana pun yang Pak Adnan mau."

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!