Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Penenang
Aluna terlihat begitu lesu ketika memasuki kamar, Ravindra tidak mengajaknya berbicara dan hanya melihat saja bagaimana Aluna yang tampak murung. Sudah pasti berkaitan dengan apa yang di katakan Rami.
"Tidak perlu mendengarkan perkataan orang tua yang sudah sepuh, anggap saja itu nasehat nenek-nenek, jika seorang cucu melakukan hal yang benar, maka akan tetap salah," ucap Ravindra.
Secara tidak langsung dia telah memberi semangat istrinya, walau nada suaranya terdengar begitu sangat ketus dan kesal kata-kata singkat itu seolah-olah bisa menjadi semangat untuk Aluna. Aluna tidak berbicara dan hanya mendengar saja.
Tok-tok-tok.
Kedua kepala itu sama-sama menoleh ke arah pintu. Ravindra melangkah mendekati pintu dengan membuka pintu tersebut.
"Mama," ucap Ravindra.
"Mama ingin bicara sebentar dengan Aluna," ucap Risma.
"Silahkan, aku mau mandi dulu," sahut Ravindra memberikan ruang untuk ibunya memasuki kamar mereka dan Ravindra kemudian langsung pergi memasuki kamar mandi.
Risma duduk di samping Aluna dengan menggenggam tangannya.
"Maafkan Nenek Ravindra," ucap Risma.
"Kenapa Mama harus mewakilkan seseorang untuk meminta maaf?" tanya Aluna.
"Tidak apa-apa. Ini semua adalah kesalahan saya dan membuat kamu terjebak dalam situasi ini. Aluna, bukan ini yang Mama inginkan dan Mama juga tidak tahu jika akan seperti ini. Mama udah tahu bagaimana sekarang posisi kamu dan juga hati kamu yang pasti tersakiti dengan apa yang dia katakan," ucap Risma.
Aluna tidak merespon dan hanya menatap kedua bola mata Ibu mertuanya yang bergenang, tampak nada suaranya terdengar begitu lirih merasa bersalah atas apa yang terjadi, tatapan mata yang penuh penyesalan dan ketulusan bahwa dia tidak menginginkan Aluna diperlakukan seburuk itu.
"Benar, Mama memang tidak mengundang ibu mertua Mama, karena sudah pasti beliau tidak akan menyetujui pernikahan ini. Mama pikir setelah kalian menikah dan Mama, Papa berbicara baik-baik akan berhasil membujuknya dan pelan-pelan menerima kamu dengan melupakan masa lalu yang terjadi, ternyata semua tidak semudah itu dan kamu harus mengalami hal ini," ucap Risma.
"Kenapa Mama harus memaksakan diri untuk menikahkan Aluna dengan Ravindra. Kenapa begitu menginginkan Aluna untuk menjadi menantu di rumah ini dan sementara di luar rencana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dibandingkan Aluna?" tanya Aluna.
"Karena kamu wanita yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Saat pertama kali Mama melihat kamu dan memang sudah yakin bahwa kamu adalah istri yang tepat untuk Ravindra, tetapi Mama tidak tahu jika keputusan Mama yang terlalu memikirkan diri sendiri membuat kamu harus menderita," jawab Risma.
Aluna merasa begitu sangat bahagia dicintai oleh seorang ibu yang tulus, Aluna bahkan tidak bisa marah dan kecewa atas apa yang telah dia terima, karena apa yang dia dapatkan lebih dari semua itu.
Risma memegang pipi Aluna, "Jangan pernah menyerah untuk pernikahan kalian,"
"Mama yakin, pernikahan kalian akan jauh lebih baik kedepannya, kamu harus bersabar sedikit. Kamu harus meyakini jika keluarga ini berpihak kepada kamu dan begitu juga dengan Ravindra," ucap Risma memberi semangat kepada menantunya.
Aluna menganggukkan kepala dengan tersenyum dan memegang tangan sang ibu mertua yang masih berada di pipinya.
"Aluna tidak punya alasan untuk menyerah dalam pernikahan ini. Aluna juga tidak menyimpan rasa sakit hati dengan apa yang dikatakan Nenek. Aluna menganggap itu semua adalah hal yang pantas didapatkan,"
"Mama tidak perlu khawatir apapun, Aluna akan baik-baik saja dan Aluna akan berusaha untuk meyakinkan Nenek, bahwa Aluna benar-benar belajar dari kesalahan dan bisa menjadi bagian dari keluarga ini," jawab Aluna secara berbesar hati menerima semua yang telah dia dapatkan.
Risma tersenyum mendengar jawaban bijak menantunya itu dan kemudian langsung memeluknya.
Ravindra yang berada di dalam kamar mandi ternyata sejak tadi menguping. Ravindra tersenyum tipis mendengar perkataan sang istri.
****
Aluna menuruni anak tangga dan harus menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan Rima. Aluna kesulitan menelan saliva ketika mendapat tatapan tidak suka dan seolah-olah ingin menerkamnya.
"Kamu akan tetap bertahan dalam pernikahan ini?" tanya Rami.
Aluna menjawab hanya dengan anggukan kepala.
"Apa alasan kamu melakukannya?"
"Apa yang kamu inginkan dan apa kamu sudah tidak bisa menikah dengan laki-laki lain dan atau tidak ada laki-laki yang akan menikah dengan kamu?" tanya Rami.
"Saya hanya ingin membuktikan bahwa saya juga layak untuk menjadi menantu dan saya akan belajar dari semua kesalahan saya di masa lalu," jawab Aluna dengan bijak membuat Rami tertawa kecil.
"Kamu merasa bersalah dengan perbuatan kamu?" tanya Rami.
"Benar! Saya pada saat itu masih berusia 20 tahun dan baru saja lulus kuliah, saya sama dengan wanita pada umumnya memiliki mimpi yang banyak. Tetapi Abi memaksa saya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak saya ketahui siapa pria itu dan jujur saja pada waktu itu saya memiliki seseorang yang sedang dekat dengan saya,"
"Dia menjanjikan sesuatu kepada saya dan saya pikir semuanya akan baik-baik saja dengan memilih untuk meninggalkan pernikahan. Karena sudah pasti seseorang yang kita kenal jauh lebih lama akan aman untuk kita dibandingkan seseorang yang tidak kita kenal sama sekali," Aluna cukup berani memberikan jawaban-jawaban yang sangat bijak dan sejak tadi Rami tidak menyela semua perkataannya.
"Saya memang salah, Nek, tetapi saya tidak mengatakan bahwa jika waktu bisa diputar kembali dan saya tidak akan meninggalkan pernikahan itu dan bukan berarti saya tidak menyesal. Tetapi jika tidak ada kejadian 3 tahun lalu maka saya juga tidak akan pernah belajar jadi seperti ini,"
"Mungkin saja ini sudah menjadi takdir Allah dan pada ujung-ujungnya saya tetap dipertemukan dengan Ravindra. Bukankah jodoh maut dan rezeki itu sudah ada yang mengatur dan mungkin saja 3 tahun lalu kami belum berjodoh dimakan dari itu Allah menggerakkan saya untuk meninggalkan pernikahan itu," ucap Aluna mengeluarkan semua perkataannya sesuai dengan isi otaknya tanpa disaring terlebih dahulu.
"Astaga, kamu memang benar-benar pintar berbicara, tapi dari semua kata-kata kamu tidak terlihat penyesalan sedikit di wajah kamu," ucap Rami semakin kesal.
"Itu hanya perasaan Nenek saja, bagaimana mungkin saya tidak menyesal dan bukankah tadi saya sudah menjelaskan panjang lebar...."
"Sudahlah, kepala saya sakit mendengarkan semua perkataan kamu dan intinya saya sampai saat ini tidak pernah memaafkan kamu dan tidak pernah menyetujui kamu menikah dengan cucu kesayangan saya dan saya juga merasa tidak suka kamu berada di rumah ini!" tegas Rami membuat Aluna hanya diam saja dengan dahi mengkerut,
Jujur saja dari raut wajahnya tampak kesal mendengar kata-kata tersebut membuat gendang telinganya sakit.
"Saya mungkin akan memaafkan kamu jika kamu bercerai dengan Ravindra!" tegas Rami pada permintaannya.
"Itu sangat tidak masuk akal dan bagaimana mungkin nenek lebih menyukai perceraian dan sementara perceraian adalah dibenci oleh Allah walau perceraian diperbolehkan," sahut Aluna dengan bijak memberi ceramah.
"Astaga, kepala saya benar-benar sakit mendengar perkataan kamu membuat saya benar-benar pusing," ucap Risma kemudian memilih pergi.
"Pusing, ya sudah," ucapnya tersenyum begitu saja dengan santai-santai saja.
"Mau seperti apapun aku tetap saja aku tetap saja salah," batin Aluna.
Bersambung.....