NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Siang itu, setelah menyelesaikan meeting dengan beberapa klien penting, Lucane duduk di sebuah restoran elegan bersama Demien ada juga Liam yang ikut duduk di sana.

Suasana restoran cukup tenang, hanya terdengar alunan musik jazz lembut dan percakapan rendah para pengunjung.

Demien menatap pria di depannya dengan raut serius. Ia bisa melihat kelelahan sekaligus kegelisahan di mata Lucane dan kata Liam sejak mereka keluar dari rumah Nana tadi pagi.

“Kau terlihat murung, Luc. Ada apa?” tanya Demien hati-hati.

Lucane menghembuskan napas panjang, menatap kopi hitam di depannya tanpa benar-benar melihat. “Nana menyuruhku menikah,” ucapnya datar.

Demien menaikkan alis. “Lalu di mana letak masalahnya?” tanyanya penasaran.

Lucane mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah sahabatnya. “Dengan wanita yang bahkan aku sendiri tidak tau siapa,” jawabnya pelan namun tegas.

Demien terdiam sejenak.“Maksudmu..,” tanya nya pelan

Lucane tidak langsung menjawab. Ia pun memutar cangkir champagne nya perlahan, menatap cairan pekat itu seolah sedang menatap masa depan yang tak pasti.

“Aku tidak tahu kenapa perjanjian itu ada, tapi Nana pernah bilang jika perjodohan itu sudah di atur dari dulu. dan atas permintaan nana juga memperlambat perjodohan itu sampai gadis itu berusia 25 tahun. dan ini lah saat nya ” Jelas Lucane.

mendengar itu Demien dan Liam sedikit terkejut.

“Kata mu, kau tidak tau siapa gadis itu bukan? bisa jadi dia sudah menikah.”

Lucane menatap Demien datar, “Dan sayang nya orang Nana selama ini mengawasi nya dan dia masi single,” ujarnya kesal.

Demien hanya terkekeh ringan. “Lalu apa rencanamu? tidak akan menemui nya dan menentang keinginan Nana?” tanyanya tenang, tapi tajam.

Lucane terdiam. Pertanyaan itu menohoknya langsung di titik paling sensitif. Ia tahu, menentang Nana bukan pilihan. Wanita tua itu adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya tanpa pamrih.

Lucane menatap keluar jendela restoran, memperhatikan lalu lintas siang yang padat. Orang-orang berjalan tergesa, mobil bersahut klakson, namun pikirannya melayang jauh ke rumah tempat Nana terbaring lemah. Suara lembut wanita tua itu masih terngiang di telinganya

“Menikahlah, Nak. Nana ingin melihatmu tidak sendirian lagi.”

Ia menghela napas pelan. “Aku tidak tahu, Dem… aku tidak bisa begitu saja menikahi orang yang bahkan tidak aku cintai,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat.

Demien menyandarkan punggungnya, menatap sahabatnya itu dengan tatapan campuran antara iba dan prihatin. “Aku mengerti, Luc. Tapi mungkin kali ini bukan soal cinta,” katanya hati-hati. “Ini tentang Nana. Tentang kebahagiaan terakhirnya sebelum dia benar-benar pergi.”

Lucane menatap kosong pada gelas wine di hadapannya. Tangannya yang besar menggenggam cangkir itu erat, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Baiklah, aku akan menemui siapa pun gadis itu.”

“Nah, begitu jika kau tidak cocok kau bisa mencari wanita lain untuk menggantikan nya,” jawab Demien setengah bercanda, tapi nada serius tetap terdengar.

Lucane hanya mendengus. “Kau pikir aku punya waktu untuk bermain dengan perempuan asing? Aku punya perusahaan untuk dijalankan, dan...” ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam keluar jendela. “...dan kehidupan lain yang tak semua orang perlu tahu.”

Demien terdiam. Ia tahu maksud kalimat itu bagian dari sisi gelap Lucane yang hanya segelintir orang tahu. Pria itu bukan sekadar CEO muda sukses. Ia juga memiliki kekuatan tersembunyi, koneksi gelap yang tak bisa dikaitkan dengan dunia bisnisnya.

Setelah beberapa detik hening, Demien tersenyum kecil. “Mungkin Tuhan punya cara sendiri. Siapa tahu, perempuan yang tepat muncul di waktu yang tak terduga.”

Lucane hanya mengangkat alis, ekspresi dingin masih melekat di wajahnya. “Perempuan yang tepat, ya?” gumamnya sinis.

Namun di balik nada skeptis itu, ada sesuatu yang samar di matanya keraguan, dan ntah kenapa, sedikit harapan yang belum sepenuhnya padam.

Pelayan datang membawa tagihan. Lucane mengambil kartu hitam dari dompetnya tanpa bicara, lalu berdiri. “Ayo, kembali ke kantor.”

“Seperti biasa, kau menghindar dari topik yang tak ingin kau jawab,” cibir Demien ringan.

Jackson hanya menatapnya datar.

Keduanya pun melangkah keluar dari restoran. Di luar, langit mulai berubah warna dari biru terang menjadi jingga keemasan. Lucane menatap langit sejenak sebelum masuk ke mobil.

namun sebelum Liam menjalankan mobil nya.

“Aku sudah kirim draf yang Nana berikan, cari wanita itu dan kita bisa langsung menemui nya” Liam pun mengangguk.

* * * *

Siang itu, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar pribadi Lexa Alexander, memantulkan debu-debu halus yang menari di udara. Ruangan itu sunyi terlalu sunyi untuk rumah sebesar ini. Di atas ranjang berlapis satin biru pucat, Nana Lexa duduk perlahan, tubuhnya yang rapuh hampir tenggelam dalam bantal-bantal besar.

Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah foto lama. Bingkainya sudah memudar, namun wajah-wajah dalam foto itu masih tersenyum seolah waktu tak pernah menyentuh mereka dirinya di masa muda, putranya, menantunya… dan seorang bayi kecil yang kini sudah tumbuh menjadi pria yang keras seperti granit, Lucane.

Jari-jari Nana yang bergetar mengusap permukaan foto itu, seolah mencoba menghapus jarak puluhan tahun.

Tatapannya melembut, tetapi juga dipenuhi rasa lelah.

“Sebentar lagi…”

Ia berbisik, suaranya lirih namun penuh kepasrahan.

“Sebentar lagi tugas ku selesai… dan bisa berkumpul dengan kalian.”

Ada senyum kecil yang tersungging senyum yang bukan bahagia, melainkan ikhlas.

Senyum seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk kedatangan yang tak terhindarkan.

Ia menatap foto itu sekali lagi dan menutup matanya, membiarkan angin lembut masuk dari jendela.

“Nana sangat berharap… Lucane bisa menemukan gadis itu.”

Gadis yang pernah dijanjikan pada keluarga mereka.

Gadis yang memegang kunci hutang budi mendiang ayah Lucane.

Gadis yang mungkin… adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan dinding es yang mengurung hati cucunya.

Nana meraih dada kirinya dengan lembut.

Usia tua membuat napas semakin pendek tanda tubuhnya sedang memperingatkan.

Namun ia tetap tersenyum.

“Luc… cucuku…”

“Kamu tidak boleh hidup sendirian seperti ini. Kamu butuh seseorang yang bisa melihatmu… bukan sebagai pewaris.”

Tatapannya menerawang, seolah melihat masa depan yang mungkin hanya tinggal harapan.

“Temukan dia… sebelum Nana pergi" gumam nya.

* * * *

Sore itu menurunkan cahaya keemasan yang menyelinap melewati kaca besar ruang kerja Lucane Alexander ruangan yang lebih terasa seperti medan perang daripada kantor. Tumpukan berkas menutupi separuh meja hitamnya, dan aroma tinta serta kopi pahit mengambang di udara.

Lucane duduk tegak, wajahnya tetap tanpa ekspresi seperti biasa, namun sorot matanya menunjukkan tekanan yang ia pendam sejak percakapan dengan Nana siang tadi. Dia mencoba fokus pada angka dan kontrak di hadapannya, tapi pikirannya berulang kali kembali pada kata-kata terakhir wanita tua itu.

Pintu diketuk dua kali.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Suara Lucane datar, tenang, namun dinginnya tetap terasa.

Liam, tangan kanan sekaligus sekretaris pribadinya, melangkah masuk sambil membawa tablet. Pria itu selalu rapi, tapi kali ini terlihat sedikit tegang karena tahu Lucane sedang tidak dalam mood ideal.

Ia berdiri tegak di depan meja.

“Saya sudah menemukan datanya, Tuan.”

Lucane tidak mengangkat kepala. Hanya tangannya yang berhenti menulis tanda tangan.

“Katakan.”

Liam menarik napas pelan sebelum membaca laporan dari tablet.

“Jema Èlodie Moreau.”

Suaranya jelas, profesional.

“Gadis, 25 tahun. Sebatang kara. Tinggal di apartemen mewah dekat kota. lulusan Stanford University”

Lucane akhirnya mengangkat kepalanya sedikit tatapannya tajam, seolah menembus layar tablet.

“Apartemen mewah?”

Nada sinis samar terdengar.

“Seorang karyawan biasa bisa tinggal di sana?”

Liam menggeleng.

“Pembayaran apartemennya rutin, tetapi tidak ditemukan ada sponsor, keluarga, atau transaksi mencurigakan. Semua bersih.”

Lucane kembali bersandar pada kursinya, rahangnya mengeras.

Liam melanjutkan,

“Dia bekerja sebagai karyawan administrasi di perusahaan swasta. Tidak ada catatan kriminal, tidak ada catatan medis yang mengkhawatirkan, dan… tidak ada tanda-tanda keterlibatan dalam hal-hal berbahaya.”

Hening sejenak.

Lucane mengetukkan jarinya ke meja.

Perlahan… teratur… namun penuh tekanan.

Dalam batinnya, ia membenci kenyataan bahwa seorang gadis asing yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang dunia kelam Alexander akan terseret hanya karena janji lama yang dibuat ayahnya.

Namun yang lebih ia benci adalah sesuatu yang menggelitik di dadanya ketika nama itu disebut.

Jema.

Nama yang asing, tapi terasa mengusik.

Liam memecahkan ketegangan, suaranya hati-hati.

“Anda ingin saya menelusuri lebih dalam, Tuan? Atau… memanggilnya?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Lucane menatap jauh ke arah jendela, seolah melihat bayangan masa depan yang tidak ia inginkan.

Kata-kata Nana berbisik lagi di kepalanya:

“Luc, temui gadis itu sebelum Nana pergi.”

Napadannya berat.

Dingin di matanya mulai retak, menunjukkan pergulatan yang jarang sekali dilihat orang lain.

Akhirnya, ia berkata pelan namun tegas:

“Tidak. Jangan panggil dia.”

Liam hampir mengangguk, tetapi Lucane menambahkan

“Aku yang akan menemuinya.”

Liam langsung terbelalak karena ini pertama kalinya sejak bertahun-tahun Lucane mau turun tangan sendiri untuk seseorang.

“Baik, Tuan.”

Lucane menutup berkas di depannya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak bisa lari dari takdir.

Dan hari itu… langit mulai gelap perlahan, seakan tahu bahwa sesuatu baru saja berubah dalam hidup pewaris keluarga Alexander.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!