Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Kakak, jangan tertipu olehnya. Bekas luka seperti itu bisa dibuat-buat,” cetus Serly, suaranya terdengar dingin sebelum ia membuka pintu dan keluar dari mobil.
Kata-kata Serly tadi menggema di kepala Yudha, membuatnya sadar akan kebodohannya. Bagaimana mungkin ia masih mempedulikan Sonya, sementara hatinya sudah penuh kebencian terhadap perempuan itu? Ia mendesah pelan, pandangannya hanya melirik Sonya sekilas sebelum mengalihkan perhatian ke Arya.
“Arya, kita sudah sampai. Bangun, Nak,” ucap Yudha, membangunkan anak itu dengan nada lembut, penuh kasih.
Sonya hanya bisa memperhatikan. Nada suara itu menggoreskan sesuatu di hatinya, rasa yang pernah ia miliki ketika dulu Yudha memperlakukannya seperti seorang ratu. Tapi kini, semuanya tinggal kenangan yang samar.
Arya mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan membuka kelopaknya hingga benar-benar terbuka. Sebuah senyum cerah mengembang di wajah anak kecil itu, seperti ia baru saja terbangun di dunia di mana keluarganya lengkap.
“Arya, apa kamu bisa masuk dulu? Ayah ada yang ingin dibicarakan dengan Tante,” kata Yudha, suaranya masih lembut, meski matanya tak lagi menatap Sonya.
Arya mendongakkan kepala ke arah Sonya. Ada ragu di sana, rasa tak rela untuk melepas momen kebersamaan yang hangat itu. Tapi Arya tahu, menolak keinginan ayahnya hanya akan membuat situasi menjadi lebih sulit untuk Sonya.
“Iya, Ayah,” jawab Arya pelan. Namun sebelum keluar dari mobil, ia menoleh ke arah Sonya dan berkata, “Tante, terima kasih. Tidur Arya nyenyak sekali.”
Tanpa menunggu jawaban, Arya tiba-tiba memeluk tubuh Sonya dengan hangat.
Sonya tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut. “Sama-sama, Sayang. Sekarang masuk ya, istirahat yang cukup,” balasnya, membalas pelukan Arya sebelum melepaskannya.
Setelah Arya keluar dari mobil dan berlari kecil menuju rumah, keheningan menyelimuti ruang sempit itu. Kini hanya tersisa Yudha dan Sonya.
Sonya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bicara. Sementara Yudha, dengan tatapan kosong ke depan, menyusun kata-kata yang entah mengapa terasa berat untuk diucapkan.
“Yudha.”
“Sonya.”
Mereka memanggil satu sama lain di saat yang sama, membuat suasana menjadi canggung. Hening sesaat mengisi ruang di antara mereka hingga akhirnya Yudha membuka suara, nadanya dingin dan tajam seperti pisau.
“Hari ini terakhir kali kamu bertemu Arya. Aku tidak mau dia mendapat masalah baru karena kedekatannya denganmu.”
Sonya terdiam, tapi di dalam hatinya, kata-kata itu menghantam seperti jarum yang menusuk dalam. Ia tahu batasannya, bahwa ia tidak pantas menginginkan lebih dari sekadar perannya saat ini. Tapi tetap saja, larangan itu terasa seperti luka basah tersiram air garam.
“Aku tahu,” jawab Sonya pada akhirnya, berusaha terdengar tegar meski suaranya nyaris bergetar. “Apa ada hal lain yang ingin kamu katakan?”
“Menjauh dariku.”
Sonya menggeleng cepat, rasa tidak terima memancar dari wajahnya. “Aku tidak bisa melakukan itu.”
Yudha menatapnya dengan tatapan penuh ketegasan dan sinis. “Jadi, kamu akan menuruti keinginanku jika hubungan kita hanya sebatas ranjang?”
Sonya menahan napas. Kata-kata itu membuat dadanya sesak, tapi ia menolak menyerah. Dengan sedikit gemetar, ia menggigit bibir bawahnya dan berkata, “Bukankah ciuman beberapa waktu lalu juga kamu nikmati? Aku tahu kamu masih menginginkanku. Kenapa kita harus membuang-buang waktu untuk berpura-pura tidak peduli?”
Yudha tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan di sana. Hanya kepahitan yang mencuat dari ujung bibirnya. “Setelah lima tahun, kamu benar-benar berubah, Sonya. Tidak tahu malu.”
Kata-kata itu menghantam Sonya lebih keras dari yang ia kira. Ia membuang pandangan ke luar jendela, berusaha keras menyembunyikan air mata yang perlahan menggenang. Hatinya berteriak, penuh rasa sakit dan penyesalan, tapi mulutnya seakan terkunci. Ia tak tahu lagi bagaimana menjawab.
“Tawaranku tetap sama,” lanjut Yudha, nadanya dingin dan tegas seperti ukiran di batu. “Kalau kamu tidak mau, maka jaga jarak dariku. Jangan pernah mendekat lagi.”
Keheningan menggantung berat di antara mereka. Napas Sonya terdengar pelan tapi terputus-putus.
Di luar, malam semakin pekat, seperti menelan sisa-sisa keberanian yang masih Sonya miliki. Akhirnya, tanpa berkata apa-apa, Sonya membuka pintu dan keluar dari mobil, meninggalkan Yudha dan tempat itu dengan langkah tergesa.
Yudha tetap duduk diam, menatap lurus ke depan tanpa niat mengejar. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam kekacauan yang menggelegak di dalam dirinya. Setelah beberapa saat, ia beralih ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan memarkirkan mobil ke dalam garasi.
Namun, ketika ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah, suara gemuruh petir menggelegar di kejauhan. Hujan mulai turun perlahan, kemudian semakin deras, membasahi jalanan yang gelap. Yudha berhenti di ambang pintu, alisnya berkerut.
“Apakah dia sudah mendapatkan kendaraan untuk pulang?” gumamnya pelan, suara hatinya mulai terusik oleh kekhawatiran yang tak terduga.
Ia menatap hujan deras yang menghantam jalanan, pikirannya berputar. “Lingkungan ini kalau malam sulit menemukan kendaraan,” lanjutnya, kali ini sedikit lebih keras. Namun, suara lain di dalam dirinya mencoba melawan kekhawatiran itu. Dia bukan siapa-siapa lagi. Kalau dia terkena musibah, bukankah itu lebih baik?
Yudha mengatupkan rahangnya, pertempuran batin itu semakin sengit. Tapi sisi lain dari dirinya, entah sisi kemanusiaan atau sisa-sisa rasa pedulinya perlahan mendominasi. Dengan gerakan tergesa, ia kembali ke garasi, menyalakan mobil, dan melaju ke tengah hujan deras.
Beberapa kilometer perjalanan telah ia tempuh ketika dari balik kaca depan mobilnya, ia melihat sesuatu. Sonya yang kini digiring masuk ke dalam mobil, tubuhnya basah kuyup berlindung dibawah payung bersama seorang pria, dengan raut wajah yang tak terbaca. Dan Yudha tahu persis siapa lelaki itu.
Yudha mencengkeram setir, napasnya berat, matanya menyipit menahan emosi yang bergolak. “Hah… kamu begitu meremehkan dia, Yudha,” gumamnya dengan nada mencemooh.
Dengan gerakan kasar, ia memutar balik mobilnya dan melajukannya kembali ke garasi. Setelah memarkir, ia melangkah masuk ke rumah dengan langkah berat. Namun, pemandangan yang menyambutnya membuatnya menghela napas panjang. Serly sudah duduk di sofa ruang tamu, kedua tangannya terlipat, sorot matanya tajam menusuk.
“Jadi dia bukan sekadar karyawan, tapi juga mantan kakak?” tanya Serly tanpa basa-basi, suaranya penuh tekanan. Setelah masuk ke dalam rumah, Serly penasaran dengan Sonya dan akhirnya menanyakan informasi hubungan Sonya dan Yudha pada Bayu, yang kini ia tahu jika Sonya adalah mantan Yudha.
Yudha berhenti sejenak, lalu menatapnya datar. “Kamu tidak perlu ikut campur,” jawabnya dingin, jelas menandakan bahwa mood-nya sedang buruk.
Serly tidak terima. Ia berdiri, mendekati Yudha dengan ekspresi penuh tuntutan. “Kakak bilang aku tidak boleh ikut campur? Sebentar lagi kita akan tunangan dan menikah! Kalau aku tidak boleh ikut campur, lalu apa gunanya aku menjadi istri kakak?”
Yudha mendengus pelan, mencoba menahan kesal. Tatapannya tajam, tapi tetap tenang. “Serly, kamu sangat tahu hubungan kita seperti apa. Aku memang berjanji pada kakakmu untuk menjagamu, tapi menjaga tidak harus berarti menjadi suami istri, kan? Kamu yang memaksa ingin menjadi nyonya Anggara.”
Serly mengepalkan tangannya, mencoba menahan rasa sakit yang mendesak dadanya. Ia tahu, sejak dulu Yudha tidak pernah benar-benar menyukainya. Lima tahun terakhir ia bersikeras bertahan, berharap waktu akan mengubah perasaan lelaki itu. Namun, melihat cara Yudha bereaksi terhadap nama Sonya, ia tahu harapannya sia-sia.
“Kakak selalu menjauh,” suara Serly melemah, tapi penuh rasa frustrasi. “Aku pikir setelah kakakku tiada, aku akan menjadi satu-satunya wanita di sisi kakak. Tapi ternyata… ternyata masih ada dia, Sonya.”
Yudha hanya menatap Serly dingin. Melihat gadis itu terdiam, ia tanpa belas kasih berkata, “Kalau kamu sudah tidak menginginkannya, kamu bisa mundur.”
Serly mendongak, matanya membara. “Aku tidak akan pernah mundur! Pertunangan kita sudah dekat, dan aku sudah mengatur semuanya!”
Yudha mendengus pelan, seakan lelah menghadapi situasi ini. “Terserah kamu. Tapi jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan memiliki pernikahan yang sempurna.”
Serly menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang menggenang. Tapi sebelum ia sempat membalas, Yudha melanjutkan dengan nada tegas namun lebih tenang. “Kamu masih muda, Serly. Lebih baik pikirkan lagi semuanya. Kita tunda pertunangan itu sampai bulan depan.”
“Menunda?!” Serly hampir berteriak, tapi Yudha sudah membalikkan badan, meninggalkannya tanpa memberi kesempatan untuk protes.
Serly berdiri di tempatnya, gemetar antara marah dan terluka. Yudha telah memutuskan, seperti biasa, tanpa memedulikan perasaannya. Tapi di balik semua itu, ia tahu pertarungan ini bukan hanya tentang Sonya. Ini tentang bagaimana ia mempertahankan tempatnya di sisi lelaki yang tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Di sudut ruangan, Bayu yang sejak tadi diam mengamati, akhirnya melangkah mendekat. Ia menatap Serly dengan sorot mata penuh iba, lalu meletakkan tangannya di bahu gadis itu, mencoba menenangkan.
"Serly, tidak seharusnya kamu mengungkit semua yang kamu tahu," ucap Bayu pelan, suaranya lembut tapi penuh nasihat.
Serly menoleh, air matanya yang sejak tadi ditahan kini mulai mengalir. Ia menggeleng dengan tegas, wajahnya mencerminkan rasa sakit yang mendalam. “Lalu aku harus diam saja?!” suaranya meninggi, penuh emosi yang tak lagi bisa dibendung.
Ia menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. “Wanita itu duduk di bangku belakang, bertiga bersama Arya dan kak Yudha. Sementara aku… aku duduk sendiri di depan, menemani sopir! Aku ini calon istri Kak Yudha, tapi aku tidak lebih dari orang asing. Apa aku harus terus diam sementara aku diabaikan?”
Bayu terdiam, membiarkan Serly meluapkan semua isi hatinya. Suaranya pecah saat ia melanjutkan, “Aku hanya ingin Kak Yudha mengambil sikap. Menunjukkan sedikit saja bahwa aku penting, bahwa aku berarti. Tapi apa yang aku dapatkan, Kak Bayu? Apa?”
Tangisnya pecah seketika, membuat Bayu menundukkan kepala, merasa bersalah meski ia tahu tak banyak yang bisa ia lakukan. Perlahan, ia menepuk bahu Serly dengan lembut.
“Serly, aku mengerti apa yang kamu rasakan,” katanya, suaranya lebih tegas tapi tetap lembut. “Tapi memaksa seseorang untuk mencintai tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Cinta itu tidak bisa dipaksakan.”
“Tapi aku mencintainya, Kak!” sahut Serly, suaranya serak namun penuh keyakinan. “Aku sudah bertahan selama ini, aku sudah melakukan semuanya untuknya. Kalau aku menyerah sekarang, lalu apa artinya semua yang telah aku korbankan?”
Bayu menghela napas panjang, sorot matanya mencerminkan rasa iba yang mendalam. “Kadang, bertahan bukanlah jawaban, Serly. Kadang, melepaskan justru menunjukkan seberapa besar kamu mencintai dirimu sendiri.”
Serly menggeleng keras, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tapi di balik tangisannya, ada rasa frustrasi dan keputusasaan yang begitu nyata. "Ini semua karena Sonya, aku tidak akan mengalah begitu saja, tunggu Sonya aku akan membuatmu menyesal karena hadir diantara aku dan kak Yudha.