NovelToon NovelToon
RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat / Action / Pusaka Ajaib / Mengubah Takdir
Popularitas:417
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.

“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”

Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Susunan Ingatan. Siapa Sonny?

Sebuah dunia baru terbentang di depan mata Raze. Kios-kios pasar kecil berjejer di pinggir jalan tanah, penuh dengan sayur-mayur segar. Orang-orang berlalu-lalang dengan santai, pedang atau pisau tergantung di pinggang mereka, seolah itu hal biasa seperti membawa dompet.

Tak ada bangunan lebih tinggi dari tiga lantai. Rumah-rumah dari batu dan kayu berdempetan rapat, atapnya miring dan ditutup genteng tanah liat. Tak ada kendaraan melayang, tak ada suara mesin mendengung di langit. Hanya gerobak kayu yang didorong tangan atau ditarik kuda, roda-roda berderit pelan di atas tanah berlubang.

Orang-orang berdagang dengan koin perak dan tembaga yang berdering di tangan, atau uang kertas kasar yang dilipat rapi. Tak ada scanner mana, tak ada kristal pembayaran, tak ada teknologi yang ia kenal.

Raze terus berjalan di belakang Sonny, langkahnya pelan sambil menyerap setiap detail.

'Mungkinkah ini benar-benar dunia lain? Atau aku dipindahkan ke pelosok terpencil yang technya masih primitif? Tapi.... mana sihirnya? Tak ada aura mana di udara. Tak ada penyihir yang memamerkan mantra kecil.' batin Raze bingung.

Buku tua itu berjanji aku akan menghuni tubuh baru, tapi tak pernah bilang di mana atau bagaimana caranya. Seharusnya aku curiga dari awal. Buku yang penuh ritual Ilmu Hitam.... Ternyata tak sesederhana itu.

Tiba-tiba Raze berhenti di tengah jalan. Tangannya tanpa sadar menekan dada, seperti ada beban berat jatuh ke sana.

Harta karunku....

Semua kristal mana kelas tinggi, ramuan rahasia, artefak terlarang yang ia simpan di brankas bawah tanah.... Semuanya masih di dunia lama.

Bagaimana aku naik level sekarang? Monster mistis yang kulawan sampai nyaris mati.... Dungeon berbahaya yang kumasuki sendirian.... Semua usaha puluhan tahun.... Sia-sia.

Kenangan membanjiri pikirannya. Malam-malam dingin melawan naga bayangan demi satu sisik langka. Pertarungan sengit dengan penyihir saingan untuk merebut gulungan terlarang. Nyawa yang hampir hilang berkali-kali demi barang-barang itu.

Sonny yang berjalan di depan menyadari Raze berhenti. Ia berbalik, melihat ekspresi anak itu yang tiba-tiba berubah masam.

'Kasihan sekali,' pikir Sonny dalam hati. Mengira Raze meratapi nasib tubuhnya saat ini.

Ia melangkah mendekat, hendak menepuk bahu Raze, tapi anak itu sudah bergerak lagi dengan langkah yang berat.

'Itemku...' Raze menahan isak dalam hati, memaksa kakinya melangkah.

Tapi saat ia mulai menerima kehilangan itu, pikiran lain muncul seperti cahaya kecil di kegelapan.

"Tunggu.... Grand Magus! Mereka tidak ada di dunia ini... Kau benar-benar bisa memulai dari awal dengan mudah.'

Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

~~

Pintu masuk Klan Brigade Merah dijaga oleh dua patung singa batu yang besar, mulut mereka terbuka seolah siap mengaum kapan saja. Cahaya matahari sore memantul di permukaan batu yang halus, membuat bayangan mereka terlihat hidup. Di samping pilar tebal itu, dua pria berseragam merah berdiri kaku seperti patung sungguhan, tombak panjang di tangan, mata mereka menyapu setiap orang yang lewat.

Di atas gerbang kayu besar, sebuah papan bertuliskan "Klan Brigade Merah" dalam huruf-huruf tegas yang asing bagi Raze. Pola dan garisnya tak ia kenal, tapi anehnya, maknanya langsung masuk ke pikirannya seolah ia sudah tahu sejak lahir.

'Apa itu "klan"? Bukan guild penyihir, bukan faksi politik seperti yang ia kenal. Kalau begini, bisakah aku dihormati sebagai dewa di sini?'

Sonny membawa Raze melewati gerbang itu tanpa banyak bicara. Kompleks di dalamnya luas, lebih mirip kamp militer kecil daripada markas guild biasa. Beberapa bangunan kayu dan batu tersebar rapi, dihubungkan oleh jalan tanah yang lebar. Halaman latihan di kedua ujungnya masih ramai meski matahari mulai condong ke barat. Puluhan orang berseragam merah yang sama berlatih pedang, memanah, atau bergulat di tanah.

Raze ditempatkan di ruangan sudut sebuah bangunan kecil yang terpisah dari gedung utama. Ruangannya sederhana sekali: satu tempat tidur kayu dengan kasur jerami tipis, meja kecil, dan lampu minyak di sudut yang nyalanya kuning redup.

Terlalu redup....!

'Aku bisa pakai mantra sederhana untuk mempertajam penglihatan malam,' gumam Raze dalam hati. 'Ah tidak... Itu hanya pemborosan mana.'

Ia memperkirakan, dengan inti baru ini, ia mungkin hanya bisa merapal lima atau enam mantra kecil sebelum kehabisan tenaga. Belum lagi pembantaian keluarga tubuh ini. Siapa pun pelakunya, kalau mereka tahu ada yang selamat, mungkin akan datang lagi mengejar. Klan Brigade Merah ini sepertinya punya pengaruh besar di daerah ini, setidaknya cukup untuk jadi tempat perlindungan sementara.

Raze bangkit, mencari toilet. Saat menemukannya di sudut ruangan, ia langsung mengernyit. Tak ada pintu pemisah, hanya lubang bulat di lantai kayu dengan dua pijakan kaki di sampingnya.

'Tidak.... Jangan bilang toilet di sini cuma lubang di tanah.'

Raze menghela napas panjang, pasrah. 'Aku pernah melewati daerah kumuh di Alterian, tapi ini.... ini lebih parah.'

Pengalaman kecil itu justru memperkuat tekadnya. Kalau mantra buku tua itu benar-benar membawanya ke dunia ini, pasti ada cara untuk kembali. Atau setidaknya, ada cara untuk menguasai dunia ini sepenuhnya.

Setelah itu...

Raze mengambil lampu minyak, mendekatkan nyalanya ke cermin kecil yang tergantung di dinding. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat wajah tubuh barunya.

Kulitnya mulus dan bersih, tanpa kerutan atau bekas luka, sesuai usia remaja akhir. Matanya besar, hidung mancung, bibir tipis. Tapi tubuhnya sangat ramping, hampir kurus, ototnya minim dibandingkan para prajurit Brigade Merah yang ia lihat tadi. Bahkan dibandingkan dirinya di masa muda dulu, ini lebih lemah.

Jari-jarinya menyentuh rambut. Sebagian besar lurus, tapi ujungnya melengkung acak-acakan, seperti tak pernah disisir rapi. Dan warnanya....

Putih bersih seperti salju, berkilau samar di bawah cahaya lampu.

'Rambutku juga putih di tubuh lama.... Tapi itu karena mantra bintang lima yang ku paksakan, ditambah prosedur terlarang untuk menyerap esensi kegelapan murni.

Tapi... Di tubuh ini, rambut putih sejak lahir.'

Mata pemuda itu melebar untuk sesaat. 'Apakah tubuh asli anak ini tidak berambut putih? Apakah jiwaku yang masuk memicu perubahan itu? Atau efek samping dari mantra penggantian yang terlalu kuat?'

Pikiran itu terputus oleh ketukan pelan di pintu kayu. Sebelum ia sempat menjawab, pintu terbuka dan Sonny masuk, membawa nampan sederhana berisi roti keras, keju, dan segelas air.

"Maaf lambat, Raze," kata Sonny, meletakkan nampan di meja kecil. "Aku tahu kau pasti gelisah. Kami ingin tahu apa saja yang kamu ingat tentang malam itu. Apa pun yang bisa membantu kami tangkap pelakunya."

'Mereka tidak menganggapku tersangka. Bagus. Satu-satunya yang selamat justru membuatku terlihat seperti korban sempurna.'

Raze mengambil kesempatan itu. Ia menceritakan versi yang sudah ia susun di kepala. bangun di tengah malam, mendengar suara gaduh, lalu diserang oleh pria berpakaian hitam. Ia berjuang mati-matian, akhirnya membunuh penyerang itu untuk membela diri.

Lalu ia tambahkan bagian penting: sejak kejadian itu, ingatannya hilang total.

Pengakuan amnesia ini akan jadi tameng sempurna untuk setiap kesalahan atau perilaku aneh di masa depan.

Sonny mendengar dengan sabar, wajahnya penuh empati. "Aku tak bisa bayangkan betapa beratnya ini untukmu." Ia diam sebentar, lalu bertanya pelan. "Apakah.... kau ingat aku?"

****

1
Kholi Nudin
lanjutt gas!
Wisma Rizqi
mantap thorr.. gas lanjut!
Wisma Rizqi
wih mantap😄
Wisma Rizqi
buku baru . CIAYOOO THOR💪
vian16
yang ini jangan gantung Kaya buku pertama ya🤭
Wisma Rizqi: udah update tuh barusan
total 1 replies
Kholi Nudin
Sehari jangan cuma 3 bab tor. pelit amat
vian16
Wah baru lagi thor💪 gas upload
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!