NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kerusuhan di Kota Karang Hijau

​Kota Karang Hijau tidak seperti kota mana pun yang pernah dilihat Lin Xiao di Kekaisaran Phoenix. Temboknya terbuat dari batuan obsidian yang dilapisi lumut bercahaya hijau, memberikan kesan kuno sekaligus mistis. Di langit kota, terlihat beberapa kereta perang yang ditarik oleh binatang buas bersayap melintas dengan angkuh. Namun, di balik kemegahannya, aroma darah dan keringat tercium tajam di antara gang-gang sempitnya. Ini adalah kota transit bagi para tentara bayaran, pedagang gelap, dan pelarian yang ingin mengadu nasib di Benua Pusat.

​Lin Xiao berjalan melewati gerbang kota setelah membayar "biaya masuk" berupa sekeping perak berkualitas tinggi yang untungnya masih diterima oleh penjaga. Di sampingnya, Mu Rong dan kakeknya tampak sangat gelisah.

​"Senior, sebaiknya Anda menutupi wajah Anda," bisik Mu Rong dengan nada khawatir. "Di Kota Karang Hijau, kecantikan tanpa perlindungan sekte besar adalah undangan bagi bencana. Terutama bagi para praktisi nakal dari Sekte Taring Iblis yang sering berkeliaran di sini."

​Lin Xiao tidak menanggapi, namun ia menarik tudung jubah hitamnya lebih dalam. Matanya terus memindai sekeliling, mencari lokasi Aula Teleportasi yang diceritakan Mu Rong.

​Aula itu berada di pusat kota, sebuah bangunan berbentuk piramida terbalik yang dijaga ketat oleh prajurit berbaju zirah berat dengan simbol karang hijau di dada mereka. Di depan aula tersebut, antrean panjang terlihat penuh dengan kultivator yang tampak frustrasi.

​"Hanya satu bulan sekali?!" teriak seorang pria besar di depan loket. "Aku sudah membayar seribu Batu Roh tingkat menengah, kenapa aku masih harus menunggu?"

​"Peraturan baru dari penguasa kota, Tuan," jawab petugas loket dengan nada malas. "Prioritas diberikan kepada murid-murid dari Sekte Cahaya Suci dan sekte sekutunya. Jika kau hanya seorang praktisi bebas, kau harus menunggu sampai ada slot kosong."

​Lin Xiao mengepalkan tangannya di balik jubah. Satu bulan? Dia tidak punya waktu satu bulan. Setiap detik yang terbuang adalah bahaya bagi Yun'er.

​Ia melangkah maju, melewati antrean panjang tersebut. Tindakannya segera memicu kemarahan para kultivator lain.

​"Hei! Jalang kecil, kau pikir kau siapa?! Antre di belakang!" teriak seorang pria bermata satu yang membawa gada berduri. Ia mencoba mencengkeram bahu Lin Xiao.

​Tanpa menoleh, Lin Xiao melepaskan sedikit tekanan aura dari Inti Dewa Kegelapan-nya.

​BUM!

​Pria bermata satu itu terlempar ke belakang, menabrak pilar bangunan hingga retak. Ia memuntahkan darah, matanya terbelalak karena tekanan energi yang begitu pekat dan dingin. Seluruh antrean seketika menjadi sunyi. Mereka menyadari bahwa gadis di bawah jubah ini bukanlah mangsa empuk.

​Lin Xiao berhenti di depan loket. Petugas itu kini tidak lagi tampak malas; ia menegakkan punggungnya dengan keringat dingin di dahi.

"Apa... apa yang bisa saya bantu, Senior?"

​"Aku butuh formasi teleportasi menuju Kota Awan Putih. Sekarang," suara Lin Xiao datar namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.

​"Itu... itu sulit, Senior. Formasi menuju Kota Awan Putih sedang dikunci secara eksklusif oleh Tuan Muda Zhou, putra dari penguasa kota ini. Dia sedang bersiap untuk berangkat ke perjamuan Sekte Cahaya Suci hari ini."

​"Siapa yang menyebut namaku di sini?"

​Sebuah suara angkuh terdengar dari dalam Aula. Seorang pemuda berpakaian sutra hijau mewah keluar, dikelilingi oleh empat pengawal yang semuanya berada di Tahap Inti Emas tingkat menengah. Ia adalah Zhou Fan, penguasa kecil kota ini yang terkenal karena sifatnya yang cabul dan arogan.

​Mata Zhou Fan langsung tertuju pada Lin Xiao. Meskipun wajahnya tertutup tudung, aura anggun dan misterius Lin Xiao tidak bisa disembunyikan.

​"Oh? Seorang praktisi bebas yang cantik," Zhou Fan tersenyum menjijikkan. "Kau ingin menggunakan formasiku? Tentu bisa. Tapi biayanya bukan Batu Roh. Bagaimana kalau kau menemaniku minum di kediamanku malam ini? Jika aku puas, aku sendiri yang akan mengantarmu ke Kota Awan Putih menggunakan kapal pribadiku."

​Mu Rong yang berdiri di kejauhan menutup mulutnya karena takut. Ia tahu reputasi Zhou Fan; tidak ada wanita yang kembali dengan selamat setelah memasuki kediamannya.

​Lin Xiao mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan mata ungunya yang berkilat kejam di balik kegelapan tudung. "Kau ingin aku menemanimu?"

​"Tentu saja, Manis—"

​SLAP!

​Bukan tamparan tangan, melainkan gelombang energi hitam yang menghantam wajah Zhou Fan hingga ia terpental masuk kembali ke dalam Aula, menghancurkan beberapa meja ukir yang mahal.

​"Tuan Muda!" teriak keempat pengawalnya.

​"BUNUH DIA! KULITI DIA HIDUP-HIDUP!" raung Zhou Fan dari dalam reruntuhan, wajahnya yang tampan kini bengkak dan berlumuran darah.

​Keempat pengawal itu segera mencabut senjata mereka. Mereka adalah praktisi berpengalaman di Benua Pusat, teknik mereka jauh lebih halus daripada para perampok di hutan. Dua di antaranya menyerang dengan pedang angin, sementara dua lainnya mencoba mengurung Lin Xiao dengan jaring energi tanah.

​Lin Xiao mendengus dingin. 'Nirwana: Seribu Kelopak Kematian!'

​Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya, dan ribuan kelopak mawar hitam yang terbuat dari energi murni melesat keluar. Kelopak-kelopak itu tidak hanya tajam, tapi juga memiliki sifat menghisap energi spiritual lawan.

​Serangan pedang angin musuh langsung hancur saat bersentuhan dengan mawar hitam. Sebelum para pengawal itu sempat bereaksi, kelopak-kelopak tersebut telah melilit tubuh mereka, menembus zirah, dan mengunci meridian mereka.

​"AAARRGGHH!"

​Keempat pengawal Inti Emas itu jatuh berlutut, wajah mereka memucat karena energi spiritual mereka disedot secara paksa. Dalam hitungan detik, mereka kehilangan kemampuan untuk bertarung.

​Lin Xiao berjalan perlahan mendekati Zhou Fan yang kini mencoba merangkak mundur dengan ketakutan. Kerumunan di luar aula menonton dengan napas tertahan; mereka belum pernah melihat seseorang berani membuat kerusuhan sebesar ini di Kota Karang Hijau, apalagi menghajar putra penguasa kota dengan begitu mudah.

​"Kau... kau tidak tahu siapa ayahku?! Dia adalah praktisi Tahap Jiwa Baru (Nascent Soul)! Kau akan mati jika menyentuhku!" ancam Zhou Fan dengan suara gemetar.

​Lin Xiao menginjak dada Zhou Fan, menekan paru-parunya hingga pria itu kesulitan bernapas. "Aku tidak peduli siapa ayahmu. Aktifkan formasi itu sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari lagi."

​"HENTIKAN!"

​Sebuah tekanan aura yang luar biasa dahsyat jatuh dari langit, membuat seluruh bangunan Aula Teleportasi bergetar hebat. Seorang pria tua dengan jubah hijau tua muncul di udara. Matanya memancarkan api kemarahan. Inilah Zhou Tian, Penguasa Kota Karang Hijau dan praktisi Tahap Jiwa Baru tingkat awal.

​"Beraninya kau melukai putraku di wilayahku sendiri!" raung Zhou Tian. Ia mengangkat tangannya, membentuk sebuah telapak tangan raksasa dari energi hijau yang siap menghancurkan Lin Xiao menjadi debu.

​Lin Xiao mendongak, matanya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Justru sebaliknya, ia merasa tertantang. Inilah pertama kalinya ia berhadapan dengan praktisi Tahap Jiwa Baru sejak ia menyerap Jantung Phoenix.

​'Inti Dewa Kegelapan: Aktivasi Tingkat Kedua!'

​Rambut Lin Xiao berubah menjadi perak berkilau secara instan. Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya, membentuk bayangan mawar raksasa yang menelan seluruh ruangan. Tekanan auranya bahkan mampu menandingi sang Penguasa Kota.

​"Jiwa Baru?" Lin Xiao tersenyum sinis, memegang gagang pedang Nightshade. "Mari kita lihat, apakah jiwamu cukup kuat untuk menahan kegelapanku."

​Seluruh kota terdiam. Pertempuran antara seorang gadis misterius dan Penguasa Kota baru saja akan meledak, dan ini adalah pertama kalinya otoritas Benua Pusat ditantang secara terbuka oleh seseorang yang berasal dari "wilayah pinggiran".

1
Arix Zhufa
mampir thor
Dian Utami
bagus Thor jln cerita ny langsung bertindak 👍10 bintang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!