Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Diplomasi Meja Makan dan Timah Panas di Jalan Sunyi
Suasana di dalam kediaman mewah Bapak Surya terasa sangat hangat, kontras dengan hawa politik kota yang sedang membeku. Di atas meja jati raksasa, tersaji hidangan kelas atas yang aromanya sanggup membuat orang khilaf.
Namun, perhatian sang mantan Menteri bukan pada makanan, melainkan pada lima orang di hadapannya yang tampak... sangat tidak wajar.
"Bara," Pak Surya meletakkan garpunya, menatap wajah Bara yang kini bersih dan tajam. "Saya sudah mendengar tentang lelangmu. 50 miliar dalam satu jam? Kamu benar-benar gila. Dan lihatlah wanita-wanita di sekitarmu... mereka tampak seperti personel girlband yang baru debut."
Viona, Alisa, Clara, dan Rani hanya bisa tersenyum kaku. Efek Elixir Nirwana memang membuat mereka tampak sangat muda dan bertenaga, tapi mereka tetap manusia. Mereka merasa lapar, lelah, dan—yang paling penting—mereka masih bisa terluka.
"Ini murni biologi, Pak surya," jawab Bara santai sambil mengunyah kerupuk yang ia bawa sendiri dari saku jasnya (kebiasaan gembelnya sulit hilang).
"Kecantikan adalah bonus, kesehatan adalah inti utamanya."
Pak Surya condong ke depan, wajahnya berubah serius.
"Dari yang aku tau kamu bermusuhan dengan Darmawan, dia tidak akan tinggal diam. Dia punya jaringan gelap yang luas. Saat ini, kalian aman di sini. Tapi di luar sana? Saya tidak bisa menjaminnya"
Bara mengangguk. "Saya tahu. Dia tipe orang yang licik dan bermain kotor. Dia akan menyerang saat kita lengah."
"Karena itu, saya ingin menjalin kerja sama, saya menginginkan 10 persen dari usaha mu, sebagai gantinya, saya akan menjadi penyokong bisnis mu."
Bara tau artinya ini, kalau seandainya mantan menteri yang di segani dan punya pengaruh kuat itu mendeklarasikan diri sebagai pemilik sebagian usaha, maka tidak ada yang berani menentang lansung otoritas dari produk bara, sudah di pastikan produk bara asli teruji dan tidak perlu terjadi hal-hal pemalsuan atau orang tidak percaya dengan khasiat ramuannya yang terjadi tempo hari, dan para pebisnis termasuk Darmawan akan berfikir dua kali untuk membuat masalah secara lansung, saat mengetahui hal tersebut, ini cukup menguntungkan bagi Bara.
Bara melirik Alisa dan viona yang mempunyai kedudukan tinggi di usahanya dan mereka mengangguk setuju.
"Baik.. kesepakatan diterima"
Kemudian mantan metri itu menepuk tangannya dua kali, datang lah beberapa orang berbadan tegap yang tampak terlatih.
"Saya sudah menugaskan satu tim Pasukan Rahasia untuk mengawal kalian secara diam-diam, Mereka adalah orang-orang terbaik saya. Kalian tidak akan melihat mereka, tapi mereka akan ada di sana jika sesuatu terjadi."
Bara tersenyum tipis. "Terima kasih Pak Surya, Perlindungan politik dan militer adalah dua hal yang saya butuhkan sekarang."
Pukul 22.30 WIB. SUV hitam milik Viona melaju membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang menciptakan bayangan panjang di aspal. Di dalam mobil, suasana terasa berat.
Viona yang menyetir, Alisa di sampingnya, sementara Bara, Rani, dan Clara di bangku tengah.
Tiba-tiba, telinga Bara berdenting. Instingnya yang terasah selama tinggal di Hutan Larangan menangkap getaran yang salah.
"Viona, tambah kecepatan. Pindah ke jalur kiri," perintah Bara tiba-tiba. Suaranya dingin dan tajam.
"Ada apa, Bara?" tanya Alisa cemas.
"Hanya perasaan..."
Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya, sebuah kilatan cahaya muncul dari arah gedung tua di depan mereka.
DORRR!
"TIARAP!" teriak Bara sambil menarik kepala Alisa yang sejajar dengan kepalanya ke bawah.
PRAAANG!
Kaca depan mobil bolong tepat di posisi kepala Bara berada sedetik yang lalu. Serpihan kaca mengenai jas Bara. Jika Bara telat bereaksi 0,1 detik saja, kepalanya sudah berubah jadi hiasan jok mobil.
"Penembak jitu! Jam 1!" teriak Rani, insting polwannya langsung bangkit.
Viona membanting setir ke kanan, mencoba melakukan manuver menghindar, tapi dari arah belakang, dua unit mobil SUV double cabin tanpa plat nomor melaju kencang, mencoba menjepit mereka.
"Kita terjebak!" teriak Clara panik.
Di saat situasi tampak buntu, dua motor sport hitam datang secara misterius. Inilah Pasukan Rahasia kiriman Pak Surya.
Para pengendara motor itu mengeluarkan senjata mesin ringan dari balik jaket mereka dan langsung memberondong ban mobil pengejar.
RATATATATATA!
Salah satu mobil pengejar hilang kendali, menabrak pembatas jalan dan meledak.
"Mereka datang!" seru Bara. "Viona, terus maju! Jangan berhenti!"
Namun, musuh tidak menyerah. Dari balik semak-semak di pinggir jalan, muncul lima orang bersenjata tajam dan pistol. Mereka menghadang jalan dengan barikade paku. Viona terpaksa mengerem mendadak.
CIIIITTTT!
Mobil berhenti. Pasukan rahasia Pak Surya langsung melompat dari motor mereka, berlindung di balik motor dan mulai terlibat baku tembak sengit dengan anak buah Darmawan.
DOR! DOR! BANG!
Bara melihat salah satu pengawal Pak Surya tertembak di bahu. "Sial, mereka kalah jumlah!"
Bara merogoh tas kecilnya. Dia tidak punya pistol, tapi dia punya alkimia. Dia mengeluarkan sebuah botol berisi cairan biru pekat.
Bara membuka pintu mobil sedikit, lalu melemparkan botol itu ke tengah-tengah kerumunan penyerang.
PYAARR!
Bukan ledakan api, melainkan kabut berwarna ungu pekat yang menyebar dengan kecepatan kilat. Inilah 'Gas Napas Hantu'. Siapapun yang menghirupnya akan mengalami halusinasi visual di mana mereka merasa dikerubungi oleh ribuan laba-laba raksasa.
"AARRGGHH! APA INI?! JAUHKAN DARI SAYA!" teriak salah satu penyerang sambil membuang senjatanya dan menggaruk-garuk tubuhnya sendiri dengan histeris.
Rani memanfaatkan kekacauan itu dia melompat keluar. Dengan satu gerakan bela diri yang presisi, dia merebut senjata penyerang yang sedang berhalusinasi dan melumpuhkan mereka dengan pukulan telak ke arah tengkuk, ya.. walaupun dia anak manja tetap saja statusnya adalah polwan yang terlatih oleh kerasnya bimbingan sang ayah.
"Bara, bantu aku! Orang-orang ini terlalu banyak"
Bara keluar dari mobil, membawa tabung bambunya. Dia melihat seorang penyerang hendak menembak Rani dari belakang. Bara lansung melemparkan jarum kecil yang telah di lapisi serbuk kelumpuhannya.
Sruuuuttt...
Pria itu tepat terkena di bagian leher, darah seakan terasa berenti dan tulang membeku tak bisa tergerakkan.
Pasukan rahasia Pak Surya akhirnya berhasil mengamankan area. Beberapa puluh orang penyerang tewas ada juga yang pingsan, sementara sisanya melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Pemimpin pasukan rahasia mendekati Bara. Wajahnya penuh peluh. "Tuan Bara, Anda tidak apa-apa? Maaf kami sedikit terlambat bereaksi."
Bara menatap lubang peluru di kaca mobilnya, lalu menatap jasnya yang kini compang-camping terkena serpihan kaca.
"Saya aman," jawab Bara dengan suara yang sangat tenang, tapi matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah dia keluarkan sebelumnya " Darmawan sudah menggunakan cara kotor. Sekarang, saya tidak punya alasan lagi untuk bermain cantik."
"Rani... masuk ke mobil. Kita pulang," ucap Bara. "
Alisa mendekati Bara, gemetar karena takut sekaligus takjub. "Bara... kepalamu tadi hampir..."
"Hampir bukan berarti kena, Al," Bara mencoba menghibur dengan senyumnya yang aneh.
"Lagipula, aku belum sempat pakai sandal Swallow baruku. Masa aku mati sekarang?"
Viona hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dalam situasi hidup mati pun kamu masih kepikiran sandal"
"Ayo pergi, biarkan polisi yang mengurusnya" ucap Rani, saat polisi datang ke lokasi setelah dia menelpon.
Mobil SUV yang sudah hancur kacanya itu kembali melaju dengan kawalan ketat pasukan rahasia.
Di tengah kesunyian malam, Bara duduk terdiam.
Darmawan telah mencoba mengambil nyawanya. Maka Bara akan mengambil segalanya: hartanya, perusahaannya, dan masa depannya.
Sepertinya Darmawan tidak takut terhadap kekuasaan yang telah di bangun Pak Surya artinya Darmawan mempunyai penyokong yang kuat, Bara salah mengira kalau Darmawan tidak akan berani menyentuhnya lagi setelah pak Surya berada di pihaknya.
Tapi Bara sangat puas dengan kinerja pak Surya yang bergerak cepat menyelesaikan semua masalah sampai memberikan ancaman pasti kepada Darmawan, tapi orang tua licik itu berkilah karena tidak ada bukti pasti untuk menuduhnya secara lansung.