Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Lembaran Baru Dan Luka Lama
Bab 32
Lembaran Baru Dan Luka Lama
Suasana kosan begitu sepi di pagi hari yang cerah. Beberapa penghuni masih terlelap dalam mimpi, sementara yang lain sudah bergegas berangkat bekerja, mengejar impian di tengah kerasnya kehidupan kota. Namun, sebagian besar dari mereka bekerja di malam hari, menjadi bagian dari gemerlap dunia hiburan yang penuh dengan tantangan dan godaan.
Di kamarnya yang sederhana, Lyra duduk termenung dengan segelas kopi hangat dan sebungkus roti di hadapannya. Mentari pagi yang masuk melalui celah ventilasi kecil menyinari wajahnya, memberikan sedikit kehangatan dan harapan. Pagi itu, ia berencana untuk berkeliling di sekitar kawasan tempat tinggalnya, menyusuri setiap sudut jalan dan gang, mencari tahu lebih banyak tentang lingkungan barunya, sekaligus mencari lowongan pekerjaan jika ada. Lyra tidak ingin menganggur lebih lama, membiarkan dirinya terlarut dalam kesedihan dan penyesalan. Ia ingin segera memulai langkah baru, membangun kembali hidupnya dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah.
Lyra berjalan dengan santai. Menikmati udara segar dengan suara beberapa aktivitas di sekitarnya. Ada yang tidak peduli dengan kehadiran Lyra. Namun banyak mata juga yang memandang keindahan Lyra dengan wajah cantik dan kulit putih mulus dan bersih.
"Siapa?"
"Nggak tahu. Orang baru, mungkin."
Tak heran jika Lyra menjadi pembicaraan orang-orang yang melihatnya. Apalagi ada hidung belang dan buaya dengan mata tak berkedip melihat mangsanya.
"Mau kemana Neng?" sapa salah seorang bapak-bapak.
"Oh, cuma ingin berkeliling Pak."
"Ooh."
Singkat, namun Lyra merasa jadi tidak enak karena baru menyadari orang-orang banyak menatapnya. Pada akhirnya ia menjadi malu. Dan berjalan lebih cepat untuk menghindari tatapan orang-orang.
-
-
-
Di tempat berbeda.
"Ibu malu Dik... malu! Kamu itu sudah berselingkuh, mengkhianati Novia, dan lihat... ?! Di tinggalkan kamu?! Ck! Ibu mau minta jemput Iqbal saja! Ibu mau pulang!"
Dik hanya diam. Omelan ibunya di pagi itu hanya sekedar lalu lalang tanpa ia dengar sedikitpun karena hati dan pikirannya tertuju pada Lyra. Marina semakin kesal padanya. Dan akhirnya benar-benar menelpon Iqbal dan minta di jemput hari itu juga.
Iqbal datang tiga jam kemudian. Ia segera berangkat begitu mendengar keluhan ibunya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam. Langsung pulang saja, kamu kuat Iq?" tanya Marina begitu melihat anaknya berada di ambang pintu yang terbuka. Ia memang sudah menunggu kedatangan Iqbal dan sudah rapi bersiap untuk pulang ke rumahnya.
Iqbal melihat sekitar. Tidak ada Dika di ruang tamu itu. Hanya ada ibunya dengan wajah penuh kesal.
"Apa nggak apa-apa Bu? Bang Dika mana?"
"Dia di kamar. Biar saja dia itu, ibu capek nasehatin dia tapi nggak mau denger! Sudah, ayo kita pulang saja sekarang! Ibu malu lama-lama berada disini."
Iqbal menuruti permintaan sang ibu yang terlihat sangat tidak betah itu. Ia pun segera mengangkat tas ibunya dan memasukannya ke bagasi. Setelah memastikan ibunya sudah aman duduk di dalam mobil, ia kembali melangkah masuk dan mendekati pintu kamar Dika yang tertutup rapat.
"Tok... Tok... Tok...!"
"Bang Dika..., aku sama Ibu pulang ya? Jaga kesehatan Abang, jangan sampai sakit," pamit Iqbal.
Iqbal menunggu beberapa saat. Hening tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun mendesah berat lalu berkata lagi. "Kami pulang ya Bang. Assalamualaikum..."
Tidak ada jawaban dari dalam, Iqbal pun berbalik badan dan melangkah pergi. Ia lalu menutup pintu rumah rapat-rapat, kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi. Meski Dika berulah demikian, Dika tetaplah seorang Kakak yang ia sayangi sebagai seorang saudara. Apalagi Dika selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga setelah Ayah mereka tiada.
Iqbal menghormati Dika. Dan sedih melihat Kakaknya itu berubah hanya karena seorang wanita. Padahal ia sudah merelakan cinta pertamanya untuk sang Kakak. Namun hati Dika yang telah buta oleh nafsu dan keserakahan membuat Iqbal kecewa dan kesal terhadap Dika.
"Jadi Bu, gimana ceritanya?" tanya Iqbal tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi begitu mereka sudah memasuki jalan besar.
"Ibu sudah nggak mengerti lagi dengan jalan pikiran Abangmu itu! Ibu benar-benar kecewa dan malu. Apa kurangnya Novia selama ini? Sudah ditinggal perempuan itu, masih saja dia berusaha mencari kemana perginya, seolah dunia ini hanya ada dia seorang. Apa di otaknya itu cuma ada wanita itu?! Apa dia sudah lupa dengan anak istrinya?!"
"Jadi wanita itu benar-benar sudah pergi Bu?"
"Iya. Bikin malu Ibu saja! Tapi bagus dia pergi, Ibu nggak mau punya mantu kayak dia!"
"Terus, Bang Dika?"
"Abang mu itu dah kayak orang frustasi. Diem, bengong, kayak orang bego! Entah tidur atau nggak dia malam tadi."
Iqbal dapat menyimpulkan dari cerita sang Ibu kalau Abangnya sangat mencintai wanita itu dan terpukul serta patah hati setelah di tinggalkan.
"Ibu kasihan sebenarnya sama Abang mu itu. Tapi Ibu kesal, omongan Ibu ini nggak di indahkan sama dia. Keras kepala! Ini pelajaran buat dia biar lebih bijak lagi. Sudah dewasa kelakuan kayak remaja saja!"
Iqbal mengerti perasaan ibunya karena ia pun merasa demikian, sayang kepada Dika namun kecewa atas keputusannya.
-
-
-
"Assalamualaikum, Nov. Ada apa?"
"Wa'alaikumsalam. Iq, apa ada kabar dari Ibu?"
Malam harinya, Novia menelpon ketika Iqbal baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur setelah seharian di perjalanan menjemput ibunya.
"Hari ini aku menjemput Ibu pulang. Ibu marah sama Bang Dika karena malu. Sepertinya wanita itu benar-benar kabur sampai-sampai Bang Dika kelihatan frustasi, kata Ibu."
Sesaat dada Novia terasa sesak mendengarnya. Sekuat itu kah perasaan Dika untuk wanita itu, pikirnya. Novia jadi ragu, apakah setelah ini perasaan Dika akan kembali sama untuknya seperti kemarin-kemarin, atau kah sudah berubah lebih mendominasi kepada Lyra. Yang jelas cintanya kepada Dika sendiri pun sudah berubah, tak lagi sama seperti dulu.
"Nov, kamu masih di sana?" tanya Iqbal dengan nada lembut, khawatir dengan keadaan Novia.
Novia tersentak, tersadar dari lamunannya yang kelam. "Eh, iya Iq. Aku masih mendengarkan," jawabnya dengan suara serak, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Iqbal menghela napas panjang, ia tahu betul Novia pasti merasa sangat sedih, kecewa, dan terluka oleh perbuatan Dika. Ia ingin sekali memeluknya, menghapus air matanya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Nov, jangan terlalu dipikirkan. Wanita itu sudah benar-benar pergi sesuai janjinya. Untungnya, dia bukan wanita penggoda yang hanya ingin memiliki Bang Dika seutuhnya dan tidak peduli pada kalian, anak dan istri Bang Dika. Kalau dia wanita lain, aku ragu cara kita memisahkan mereka hanya cukup dengan kata-kata saja. Mungkin kita harus melakukan sesuatu yang lebih drastis," ujar Iqbal dengan nada prihatin. "Meski ini berat, anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi, Nov. Lupakan semuanya, buang jauh-jauh semua kenangan buruk itu. Jika kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga mu dengan Bang Dika, tetaplah pura-pura tidak tahu apa-apa, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, demi kebaikan rumah tangga kalian."
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
benerannn psikopat cinta 🤣