Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Kenan
Langkah kaki mereka bergema di lorong hotel yang lebih sunyi menuju area parkir VIP. Begitu pintu kaca besar ballroom tertutup di belakang mereka, hawa dingin dari penyejuk ruangan sentral dan angin malam yang mulai menyusup dari pintu lobi terasa menusuk kulit bahu Alea yang terbuka.
Alea menghentikan langkahnya sejenak, memejamkan mata, dan menghirup udara dalam-dalam. "Huff... akhirnya keluar juga dari sana," gumamnya lega. "Rasanya seperti baru saja keluar dari sarang singa."
Tiba-tiba, Alea merasakan sesuatu yang hangat dan berat tersampir di bahunya. Ia sedikit terlonjak saat melihat Kenan baru saja melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja berwarna putih tulang yang pas di badannya, menonjolkan bentuk tubuhnya yang tegap. Dengan gerakan yang sangat alami namun tegas, Kenan merapikan jas itu di atas bahu Alea untuk menutupi bagian punggung dan lengannya yang terbuka.
"Lain kali jika keluar malam, pakailah pakaian yang sedikit tertutup. Cuaca malam sangat dingin dan tidak baik untuk kesehatan Anda," ucap Kenan dengan nada datar.
Alea terpaku sejenak. Aroma parfum maskulin yang khas bercampur dengan sedikit aroma kayu dari jas Kenan langsung menyeruak ke indra penciumannya. Jas itu terasa sangat hangat, bekas panas tubuh Kenan masih tertinggal di sana.
Alea menatap Kenan dengan mata berbinar-binar, lalu sebuah senyum menggoda tersungging di bibirnya.
"Ihh... so sweet deh," celetuk Alea sambil merapatkan jas besar itu ke tubuhnya, merasa jauh lebih nyaman.
Kenan berdehem kecil, berusaha memalingkan wajahnya agar Alea tidak melihat rona merah tipis yang muncul di telinganya. Ia kembali ke sikap kakunya dan segera berjalan selangkah di depan untuk membukakan pintu mobil.
Alea menyandarkan tubuhnya di kursi belakang, masih membalut dirinya dengan jas milik Kenan yang terasa hangat. Sementara itu, Kenan mulai menjalankan mobil keluar dari area parkir hotel.
Alea tidak bisa lagi menahan kekesalan yang sedari tadi ia pendam. Ia menoleh ke arah Kenan melalui spion tengah, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang sangat jelas.
"Kenan, kamu lihat sendiri kan tadi? Aku benar-benar muak!" seru Alea sambil menghentakkan kakinya. "Sikap Dafin tadi benar-benar keterlaluan. Dia sengaja sekali menempel padaku di depan kolega Papa seolah-olah aku ini barang miliknya."
Kenan tetap fokus pada jalanan di depannya, namun telinganya mendengarkan dengan saksama. "Saya melihatnya, Nona," jawab Kenan pendek.
"Dan yang paling parah..." Alea bergidik ngeri, bahunya sedikit bergetar. "Dia tadi memanggilku dengan sebutan Sayang di depan semua orang. Ihh! Aku langsung merinding dengarnya! Rasanya ingin sekali aku menyiram wajahnya saat itu juga."
"Kenapa dia tidak sadar juga kalau aku sama sekali tidak tertarik padanya? Apalagi setelah semua yang dia lakukan dengan Maya. Dia benar-benar pria bermuka dua."
Kenan melirik sedikit ke arah spion tengah, menatap Alea yang sedang bersungut-sungut.
"Pria seperti Dafin itu tidak punya pendirian, Nona," ucap Kenan.
"Dia hanya mengikuti ke mana arah keuntungan dan ego membawanya," lanjut Kenan.
"Di depan Tuan Arkan dia bisa menjadi pria penurut, di depan Anda dia berakting manis, tapi di belakang itu semua, dia tidak punya prinsip yang kuat untuk menjaga kehormatannya sendiri. Pria yang punya pendirian tidak akan memaksakan perasaannya pada wanita yang jelas-jelas tidak menginginkannya."
Alea terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Kenan. "Kamu benar. Dia hanya pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan ayahnya."
"Tepat, Nona. Dan orang yang tidak punya pendirian seperti dia biasanya akan hancur sendiri saat fondasi kebohongannya mulai goyah," tambah Kenan.
Mobil berhenti dengan sempurna di depan lobi utama kediaman Maheswari. Kenan segera turun dan membukakan pintu untuk Alea. Gadis itu keluar, masih dengan jas hitam Kenan yang tersampir di bahunya.
"Terima kasih untuk malam ini, Kenan. Dan terima kasih untuk jasnya," ucap Alea dengan senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. "Sekarang kamu pergilah beristirahat. Jika aku butuh sesuatu, aku akan meneleponmu."
Kenan membungkuk hormat. "Baik, Nona. Selamat malam."
Kenan menunggu sampai Alea masuk ke dalam rumah sebelum ia melangkah menuju paviliun khusus pengawal di sisi kiri bangunan utama. Begitu sampai di kamarnya yang minimalis namun rapi, Kenan menutup pintu dan melepaskan kemeja putih tulangnya. Tubuhnya yang penuh dengan beberapa bekas luka lama.
Tiba-tiba, suara getaran keras terdengar dari laci mejanya. Bukan dari ponsel kantor yang biasa ia gunakan, melainkan dari sebuah ponsel model lama yang ia simpan khusus.
Kenan mengambil ponsel itu. Layarnya menampilkan nama pemanggil yang membuatnya menarik napas panjang, Ayah.
"Halo, Yah," sapa Kenan, suaranya melembut, jauh dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan. Ia menanyakan kabar ayahnya dengan nada penuh perhatian.
"Kenan... pulanglah," suara renta di seberang sana terdengar parau. "Kau terus saja di sana. Apa kamu tidak merindukan ayahmu yang sudah tua ini? Hanya kau yang ayah miliki saat ini, Nak."
Kenan terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah jendela paviliun. Rasa bersalah menghujam dadanya, namun ia teringat pada janji dan misinya yang belum usai.
"Aku akan pulang, Yah. Aku janji. Tapi nanti, saat semuanya sudah benar-benar selesai di sini," jawab Kenan pelan.
"Jangan lama-lama," sahut ayahnya dengan nada kecewa yang tersamar. "Waktu itu juga kamu mengatakan hal yang sama, tapi dua tahun tak pulang-pulang. Ayah hanya ingin melihatmu sekali saja sebelum tenaga ayah benar-benar habis."
"Sedikit lagi, Yah. Ada nyawa yang harus aku beri keadilan, dan ada seseorang yang harus aku lindungi sampai dia benar-benar aman. Setelah itu, aku akan pulang dan menetap bersama Ayah."