NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Pulang ke Penjara Emas

Pukul sembilan pagi tepat. Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar dari bawah jendela apartemen. Achell, yang sudah terbangun sejak fajar, duduk di tepi ranjang dengan mata sembap. Di ruang tamu, ia bisa mendengar suara bariton Victor yang sedang berbicara dengan Jake.

​"Dia sudah siap?" tanya Victor singkat. Nada suaranya tidak terdengar seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan besar, melainkan seperti bos yang sedang menagih laporan.

​"Dia ada di kamar. Tapi aku sarankan kau bicara baik-baik padanya, Vic. Dia bukan salah satu bawahanmu," jawab Jake dengan nada memperingatkan.

​Pintu kamar Achell terbuka. Victor berdiri di sana, menjulang tinggi dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia menatap Achell sejenak, matanya sempat terpaku pada raut pucat gadis itu, namun ia segera menekan rasa ibanya.

​"Ayo, Achell. Mobil sudah menunggu," ucap Victor datar.

​Achell mendongak. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun ribuan kata untuk menolak. Ia ingin berteriak bahwa ia benci Victor, bahwa ia ingin tinggal bersama Uncle Jake saja. Namun, saat matanya bertemu dengan mata abu-abu Victor yang dingin namun dominan itu, lidahnya mendadak kelu.

​Rasa cinta yang "bodoh"begitu Sophie selalu menyebutnya kembali mengambil alih kewarasan Achell. Ia merasa seolah-olah ditarik oleh magnet yang tak terlihat. Kehadiran Victor memberikan rasa aman yang semu, sebuah candu yang membuatnya lupa akan luka semalam.

​"I-iya, Uncle," jawab Achell lirih. Ia berdiri dan meraih tasnya.

​Jake yang berdiri di belakang Victor hanya bisa menepuk dahinya sendiri. "Achell? Kau sungguhan mau pulang bersamanya setelah apa yang terjadi? Kau bisa tinggal di sini bersamaku, sayang. Aku tidak keberatan."

​Achell menoleh ke arah Jake dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maaf, Uncle Jake. Aku... aku masih punya banyak barang di mansion. Dan aku harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir nanti."

​Jake menghela napas panjang, menatap Victor dengan tajam. "Kau benar-benar penyihir, Victor. Kau memberikan ramuan apa pada anak ini sampai dia tetap menurut padamu?"

​Victor hanya membalas dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia mengambil alih koper kecil dari tangan Achell. "Terima kasih atas tumpangannya, Jake. Kami pergi sekarang."

​Selama perjalanan di dalam mobil, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Achell duduk menyamping, menatap keluar jendela, sementara Victor sibuk dengan tablet di tangannya, seolah-olah kejadian fitnah kalung itu tidak pernah terjadi.

​"Uncle," panggil Achell pelan, memecah kesunyian.

​"Ya?" sahut Victor tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

​"Kenapa kau tidak bertanya padaku? Tentang bagaimana perasaanku semalam?"

​Tangan Victor berhenti bergerak di atas layar. Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Masalah itu sudah selesai, Achell. Kalungnya sudah ditemukan. Fitnah itu sudah terbukti salah. Tidak ada gunanya membahas sesuatu yang sudah berlalu."

​"Tapi aku malu, Uncle. Seluruh sekolah melihatku diperlakukan seperti itu," suara Achell mulai bergetar.

​Victor akhirnya menoleh. Ia menatap Achell dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dunia ini keras, Achell. Kau harus belajar menghadapi tuduhan tanpa harus menangis seperti bayi. Aku tidak membelamu semalam karena aku ingin kau belajar berdiri di atas kakimu sendiri."

​Kebohongan. Achell tahu itu hanya alasan untuk menutupi gengsi Victor. Namun, si bodoh Achell justru mengangguk pelan. Ia memilih untuk mempercayai kebohongan itu daripada harus mengakui bahwa pria yang dicintainya memang tidak peduli padanya.

​"Lain kali... aku akan lebih kuat," bisik Achell.

​Victor kembali menatap tabletnya. Di balik wajah datarnya, ia sebenarnya merasa lega. Ia lega karena Achell masih semudah itu ia kendalikan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa bersalah yang mulai menggerogoti. Ia tahu bahwa setiap kali ia melakukan ini, ia sedang menghancurkan kepingan-kepingan jiwa Achell yang paling tulus.

​Sesampainya di mansion, mansion itu terasa lebih dingin dari biasanya. Achell masuk ke kamarnya, sementara Victor langsung menuju ruang kerjanya.

​Achell melempar tasnya ke lantai dan merebahkan diri di ranjangnya yang luas. Ia mencium aroma seprai yang berbau seperti parfum Victor yang tertinggal.

​"Aku benar-benar bodoh," isaknya pelan ke bantal. "Tapi aku tidak bisa pergi. Tidak sekarang."

Achell baru saja hendak memejamkan mata saat pintu kamarnya diketuk. Bibi Martha masuk dengan nampan berisi susu hangat dan biskuit kegemarannya. Wajah wanita tua itu tampak penuh kecemasan.

"Makanlah sedikit, Nona Achell. Nona terlihat sangat pucat," ucap Bibi Martha lembut.

Achell duduk bersandar di kepala ranjang, menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Terima kasih, Bi. Apa... apa Uncle Victor menanyakan sesuatu?"

Bibi Martha menghela napas, ia duduk di tepi ranjang. "Tuan langsung mengunci diri di ruang kerja. Beliau membatalkan semua janji makan siang hari ini. Nona, dengarkan Bibi. Bibi sudah mengenal Tuan Victor sejak dia masih kecil. Dia pria yang sulit, egonya setinggi gunung. Tapi semalam, setelah kembali tanpa Nona, dia tidak tidur sama sekali. Dia berdiri di balkon sampai subuh."

Achell tertegun. "Dia tidak tidur? Tapi tadi pagi dia terlihat... biasa saja. Sangat rapi, sangat berwibawa."

"Itu topengnya, Nona," sahut Bibi Martha sedih.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di koridor, dan tak lama kemudian Victor muncul di ambang pintu yang terbuka. Bibi Martha segera berdiri, memberikan hormat, dan keluar dari kamar, meninggalkan mereka dalam kecanggungan yang mencekam.

Victor tidak masuk, ia hanya berdiri di sana dengan tangan di dalam saku celana. "Mandilah dan ganti pakaianmu. Pak Thomas akan mengantarmu ke toko perhiasan sore ini. Pilih apa pun yang kau suka sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan semalam."

Achell meletakkan gelas susunya dengan denting yang cukup keras.

"Kompensasi? Kamu pikir perasaan malu itu bisa ditukar dengan seuntai kalung, Uncle?"

Victor mengernyit. Ia tidak terbiasa dibantah setelah ia merasa memberikan solusi. "Aku hanya ingin kau merasa lebih baik. Kau suka barang-barang cantik, bukan?"

"Aku hanya ingin dihargai, Uncle!" suara Achell naik satu oktav. "Aku lebih suka kamu berdiri di sampingku semalam dan berkata pada wanita itu bahwa kamu mengenalku dengan baik, daripada memberiku seluruh toko perhiasan di London hari ini!"

Victor melangkah masuk, auranya mendominasi ruangan. "Jangan mulai lagi, Achell. Aku sudah bilang dunia ini kejam. Jika kau terus mengharapkan orang lain menjadi pahlawanmu, kau akan selalu berakhir kecewa."

"Tapi Aku bukan 'orang lain'!" teriak Achell dengan air mata yang mulai mengalir deras. "Dan Kamu adalah duniaku! Kamu yang membawaku ke sini, Uncle, kamu juga yang menjanjikan perlindungan! Kenapa kau begitu takut terlihat lemah hanya untuk membelaku?"

Victor terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Achell yang kini tampak begitu rapuh di tengah kemewahan kamar itu. Ada dorongan dalam dirinya untuk maju dan memeluk gadis itu, untuk membisikkan kata maaf yang sebenarnya sudah ada di ujung lidahnya. Namun, dinding keangkuhan Edward yang telah dibangun selama puluhan tahun menahannya.

"Aku tidak takut lemah," ucap Victor dingin. "Aku hanya tidak ingin memanjakan emosimu yang tidak stabil. Sekarang, lakukan apa yang kukatakan. Pak Thomas menunggu pukul empat."

Achell berbisik dalam hati bahwa ia tak akan pergi kemana-mana esok hari, lebih baik ia ikut bersama uncle jake saja tadi, pikirnya.

Victor berbalik dan pergi, meninggalkan Achell yang kembali terisak. Di balik pintu yang tertutup, Victor sebenarnya berhenti sejenak. Ia mengepalkan tangannya di dinding, memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa menang karena Achell kembali ke mansionnya, namun di saat yang sama, ia merasakan sebuah retakan besar dalam hubungan mereka yang tak akan pernah bisa ia tambal hanya dengan emas dan permata.

"The Punchline" dari hidup Victor adalah kenyataan bahwa ia memiliki kunci untuk hati Achell, namun ia lebih memilih untuk menggunakannya sebagai belenggu daripada sebagai cara untuk membebaskan mereka berdua dari kesunyian yang menyiksa ini.

1
Anonymous
lnjut 💪
brawijaya Viloid
terus update thorer😎
shabiru Al
nemu juga ya jake,, kirain bakalan jadi jomblo abadi
Hanja
Yuuk lanjut Thor 🤍
brawijaya Viloid
lanjut thorr ihhh 🙄
brawijaya Viloid
tuhkan victor tu syg bgt sm achell
brawijaya Viloid
hahaha🤣
brawijaya Viloid
liam 🤣
brawijaya Viloid
tanggung jwb thor nangis ni 😭
brawijaya Viloid
achell 😭😭
brawijaya Viloid
mantap bgt g bertele" 😎
brawijaya Viloid
g dong krn victor dulu prnh buat achel celaka, wajar dong achell trauma 😌
brawijaya Viloid
wayo loh victor
brawijaya Viloid
🤭🤭🤭🤭
brawijaya Viloid
liam lucu 🤣
brawijaya Viloid
semakin menarik😎
brawijaya Viloid
waduhh bhy ni
jajangmyeon
Cerita nya unik 🥰 semoga happy ending
Ra H Fadillah: pantengin terus yaa ceritanya 💞 terima kasih 😉
total 1 replies
jajangmyeon
author ni beda bgt deh sukaa 🥳
jajangmyeon
menarik nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!