"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pulang ke Penjara Emas
Pukul sembilan pagi tepat. Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar dari bawah jendela apartemen. Achell, yang sudah terbangun sejak fajar, duduk di tepi ranjang dengan mata sembap. Di ruang tamu, ia bisa mendengar suara bariton Victor yang sedang berbicara dengan Jake.
"Dia sudah siap?" tanya Victor singkat. Nada suaranya tidak terdengar seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan besar, melainkan seperti bos yang sedang menagih laporan.
"Dia ada di kamar. Tapi aku sarankan kau bicara baik-baik padanya, Vic. Dia bukan salah satu bawahanmu," jawab Jake dengan nada memperingatkan.
Pintu kamar Achell terbuka. Victor berdiri di sana, menjulang tinggi dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia menatap Achell sejenak, matanya sempat terpaku pada raut pucat gadis itu, namun ia segera menekan rasa ibanya.
"Ayo, Achell. Mobil sudah menunggu," ucap Victor datar.
Achell mendongak. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun ribuan kata untuk menolak. Ia ingin berteriak bahwa ia benci Victor, bahwa ia ingin tinggal bersama Uncle Jake saja. Namun, saat matanya bertemu dengan mata abu-abu Victor yang dingin namun dominan itu, lidahnya mendadak kelu.
Rasa cinta yang "bodoh"—begitu Sophie selalu menyebutnya—kembali mengambil alih kewarasan Achell. Ia merasa seolah-olah ditarik oleh magnet yang tak terlihat. Kehadiran Victor memberikan rasa aman yang semu, sebuah candu yang membuatnya lupa akan luka semalam.
"I-iya, Uncle," jawab Achell lirih. Ia berdiri dan meraih tasnya.
Jake yang berdiri di belakang Victor hanya bisa menepuk dahinya sendiri. "Achell? Kau sungguhan mau pulang bersamanya setelah apa yang terjadi? Kau bisa tinggal di sini bersamaku, sayang. Aku tidak keberatan."
Achell menoleh ke arah Jake dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maaf, Uncle Jake. Aku... aku masih punya banyak barang di mansion. Dan aku harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir nanti."
Jake menghela napas panjang, menatap Victor dengan tajam. "Kau benar-benar penyihir, Victor. Kau memberikan ramuan apa pada anak ini sampai dia tetap menurut padamu?"
Victor hanya membalas dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia mengambil alih koper kecil dari tangan Achell. "Terima kasih atas tumpangannya, Jake. Kami pergi sekarang."
Selama perjalanan di dalam mobil, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Achell duduk menyamping, menatap keluar jendela, sementara Victor sibuk dengan tablet di tangannya, seolah-olah kejadian fitnah kalung itu tidak pernah terjadi.
"Uncle," panggil Achell pelan, memecah kesunyian.
"Ya?" sahut Victor tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.
"Kenapa kau tidak bertanya padaku? Tentang bagaimana perasaanku semalam?"
Tangan Victor berhenti bergerak di atas layar. Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Masalah itu sudah selesai, Achell. Kalungnya sudah ditemukan. Fitnah itu sudah terbukti salah. Tidak ada gunanya membahas sesuatu yang sudah berlalu."
"Tapi aku malu, Uncle. Seluruh sekolah melihatku diperlakukan seperti itu," suara Achell mulai bergetar.
Victor akhirnya menoleh. Ia menatap Achell dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dunia ini keras, Achell. Kau harus belajar menghadapi tuduhan tanpa harus menangis seperti bayi. Aku tidak membelamu semalam karena aku ingin kau belajar berdiri di atas kakimu sendiri."
Kebohongan. Achell tahu itu hanya alasan untuk menutupi gengsi Victor. Namun, si bodoh Achell justru mengangguk pelan. Ia memilih untuk mempercayai kebohongan itu daripada harus mengakui bahwa pria yang dicintainya memang tidak peduli padanya.
"Lain kali... aku akan lebih kuat," bisik Achell.
Victor kembali menatap tabletnya. Di balik wajah datarnya, ia sebenarnya merasa lega. Ia lega karena Achell masih semudah itu ia kendalikan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa bersalah yang mulai menggerogoti. Ia tahu bahwa setiap kali ia melakukan ini, ia sedang menghancurkan kepingan-kepingan jiwa Achell yang paling tulus.
Sesampainya di mansion, mansion itu terasa lebih dingin dari biasanya. Achell masuk ke kamarnya, sementara Victor langsung menuju ruang kerjanya.
Achell melempar tasnya ke lantai dan merebahkan diri di ranjangnya yang luas. Ia mencium aroma seprai yang berbau seperti parfum Victor yang tertinggal.
"Aku benar-benar bodoh," isaknya pelan ke bantal. "Tapi aku tidak bisa pergi. Tidak sekarang."