"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kegembiraan Gladis benar-benar terpancar saat ia berfoto bersama sang penjual jagung.
Dengan senyum lebar, Gladis berpose sambil memegang tongkol jagung bakar, sementara si penjual menunjukkan gaya khasnya yang energetik.
Arkan yang memegang ponsel untuk memotret mereka, sesekali berdehem kecil—mencoba menahan rasa cemburunya yang masih tersisa sedikit, namun tetap memastikan hasil fotonya bagus untuk istrinya.
Setelah sesi foto selesai, Gladis duduk di kursi balkon kabin dengan lahap menikmati jagung bakar yang masih panas.
Rasa manis, gurih, dan aroma asap khas Turki itu benar-benar mengobati rasa mual dan suasana hati buruknya tadi.
"Terima kasih sudah datang ke sini," ucap Arkan kepada si penjual jagung dalam bahasa Inggris yang fasih.
Ia memberikan imbalan yang sangat murah hati sebagai kompensasi karena telah membawa pria itu keluar dari lapaknya.
Arkan menoleh ke arah Gerald yang berdiri siaga di dekat pintu. "Gerald, tolong antarkan dia kembali ke dermaga dengan selamat. Pastikan semua urusan administrasi dan bayarannya diselesaikan dengan baik."
"Siap, Kapten," jawab Gerald sambil mempersilakan pria Turki itu keluar.
Setelah suasana kembali tenang, Arkan menghampiri Gladis yang sedang asyik menggigit butiran jagung. Ia berlutut di depan istrinya, menatap wajah Gladis yang kini jauh lebih cerah dan tidak pucat lagi.
"Enak jagungnya?" tanya Arkan lembut.
"Enak banget! Lebih enak dimakan di sini karena tidak perlu berdesakan," jawab Gladis sambil tersenyum lebar ke arah suaminya.
Ia memotong sedikit bagian jagungnya dan menyuapkannya ke mulut Arkan.
"Maaf ya sudah membuatmu repot, Kapten Posesif."
Arkan mengunyah jagung itu sambil tersenyum tipis.
"Apapun untukmu dan si kembar. Asal kamu tidak menangis lagi, aku rela membawa satu pasar Istanbul ke atas kapal ini."
Mereka berdua menghabiskan waktu sore itu di balkon kabin, menikmati angin selat Bosphorus yang sejuk sambil sesekali merasakan tendangan halus yang seolah-olah berasal dari kegembiraan si kembar di dalam perut Gladis.
Malam itu, kapal Ocean Empress membelah perairan Mediterania dengan sangat tenang.
Arkan telah menyiapkan dek observasi pribadi yang tertutup untuk kru lain.
Di sana, sebuah meja bundar dengan taplak putih bersih telah ditata rapi, dihiasi lilin-lilin kecil yang apinya menari ditiup angin laut yang sepoi-sepoi.
Langit malam itu sangat bersih, menampakkan taburan bintang yang berkilau seperti berlian di atas hamparan permadani hitam.
Suasana begitu sunyi, hanya ada suara deburan ombak yang memukul lambung kapal secara ritmis.
Arkan menarik kursi untuk Gladis, lalu duduk di hadapannya.
Ia menggenggam jemari Gladis di atas meja, menatap mata istrinya dengan penuh kesungguhan.
"Sayang, aku ingin minta maaf soal kejadian siang tadi," ucap Arkan pelan.
"Aku tahu caraku salah. Bentakanku tadi sama sekali tidak pantas. Aku hanya sangat trauma membayangkan kejadian di dek kemarin. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan kalian."
Gladis menatap Arkan dengan lembut. Rasa hangat menjalar di hatinya melihat kerapuhan di balik sosok Kapten yang biasanya begitu tangguh itu.
Ia menganggukkan kepalanya perlahan, membalas genggaman tangan Arkan.
"Aku juga minta maaf, Arkan," bisik Gladis tulus.
"Aku terlalu keras kepala dan tidak memikirkan kekhawatiranmu. Aku lupa kalau aku tidak lagi sendirian, ada dua nyawa yang harus kujaga. Maafkan aku karena sudah membuatmu takut."
Arkan tersenyum lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
Ia mencium punggung tangan Gladis lama. "Kita belajar bersama, ya? Ini pengalaman pertama kita menjadi orang tua, apalagi langsung dapat paket kembar."
Malam itu mereka habiskan dengan menyantap hidangan laut segar dan Baklava yang manis, ditemani alunan musik klasik yang diputar pelan.
Keharmonisan kembali tercipta, jauh lebih indah daripada sebelumnya.
Di bawah saksi jutaan bintang Mediterania, Arkan dan Gladis saling berjanji untuk lebih saling mengerti satu sama lain.
"Arkan," panggil Gladis saat mereka sedang menikmati pemandangan laut.
"Ya, Sayang?"
"Sepertinya si kembar suka suasana ini. Mereka sangat tenang di dalam," ujar Gladis sambil mengusap perutnya dengan senyum bahagia.
Arkan menyesap jus jeruknya pelan, lalu menatap Gladis dengan tatapan yang lebih serius namun tetap hangat.
Di bawah naungan bintang Mediterania, ia teringat satu hal yang sempat tertunda karena hiruk-pikuk kejadian belakangan ini.
"Sayang," panggil Arkan lembut.
"Berbicara tentang masa depan kita dan si kembar., aku jadi teringat sesuatu. Bagaimana dengan kuliahmu? Kamu sudah masuk semester akhir, kan?"
Gladis yang sedang asyik memandangi laut seketika menoleh.
Ia menghela napas pendek, teringat pada tumpukan jurnal yang sempat ia abaikan di laptopnya.
"Iya, Arkan. Sebenarnya aku sudah harus mulai bimbingan intensif."
"Kapan jadwal pengajuan skripsimu?" tanya Arkan lagi, memastikan.
"Minggu depan, Arkan," jawab Gladis pelan.
"Minggu depan adalah batas akhir pengumpulan draf proposal skripsi. Aku sebenarnya agak khawatir, dengan kondisi kehamilan kembar ini dan posisiku yang masih di atas kapal, apakah aku bisa menyelesaikannya tepat waktu?"
Arkan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Gladis.
Ia meraih tangan istrinya, memberikan kekuatan.
"Minggu depan kita sudah melewati perairan Yunani dan akan bersandar cukup lama. Aku sudah mengatur agar kamu mendapatkan akses internet satelit yang paling stabil di kabin. Kalau kamu merasa lelah, jangan dipaksakan, tapi kalau kamu butuh bantuan untuk mencari referensi atau sekadar teman diskusi, aku di sini."
Arkan tersenyum tipis, menggoda sedikit. "Kaptenmu ini mungkin ahli navigasi laut, tapi kalau cuma jadi asisten riset istrimu sendiri, aku rasa aku sangat kompeten."
Gladis tertawa kecil, rasa bebannya sedikit terangkat.
"Terima kasih, Sayang. Aku ingin sekali lulus tepat waktu sebelum si kembar lahir. Jadi saat mereka lahir, aku sudah bisa fokus sepenuhnya menjadi ibu."
"Aku bangga padamu," bisik Arkan sambil mengecup kening Gladis.
"Ibu yang hebat, calon sarjana yang cerdas. Kita akan kerjakan skripsi itu bersama-sama minggu depan."
Arkan tersenyum mendengar permintaan Gladis. Ia senang istrinya ingin terlibat lebih jauh dalam dunianya, apalagi hal itu bisa menjadi pengalih perhatian yang baik dari rasa mual dan stres skripsi yang menghantuinya.
"Kamu ingin belajar tentang rumah kedua kita?" Arkan berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Ayo, mumpung cuaca malam ini sangat tenang. Aku akan tunjukkan padamu bagaimana aku menjaga kalian tetap aman di tengah luasnya samudera ini."
Malam itu juga, Arkan membawa Gladis menuju Anjungan (Bridge), jantung dari kapal pesiar mewah Ocean Empress.
Begitu pintu otomatis terbuka, suasana sunyi dan profesional menyambut mereka. Ruangan itu luas, dengan dinding kaca melengkung yang memberikan pandangan 180 derajat ke arah laut hitam yang memantulkan cahaya bulan.
Hanya ada lampu-lampu indikator kecil berwarna merah dan hijau yang berpendar di tengah kegelapan, agar tidak mengganggu penglihatan navigasi.
"Selamat malam, Kapten. Nyonya," sapa dua orang perwira jaga yang berdiri siaga di balik konsol kemudi. Arkan hanya mengangguk tegas, lalu membawa Gladis ke kursi komando utama.
"Duduklah di sini, Sayang," ucap Arkan sambil membantu Gladis duduk di kursi tinggi yang empuk.
Arkan berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di bahu Gladis sambil menunjuk ke deretan layar monitor yang berkedip di depan mereka.
"Ini adalah Radar ARPA. Titik-titik hijau ini adalah kapal lain di sekitar kita. Jaraknya, kecepatannya, dan arahnya semua terekam di sini," Arkan menjelaskan dengan suara rendah yang menenangkan. "Dan yang di tengah ini, yang berbentuk segitiga kecil, adalah kita."
Gladis menyentuh salah satu layar dengan takjub. "Jadi, kamu tahu setiap ada benda yang mendekat?"
"Tentu saja. Tidak boleh ada yang luput dari pantauanku, apalagi jika ada 'gangguan' seperti kemarin," suara Arkan sedikit memberat saat teringat Vera, namun ia segera kembali fokus.
"Lalu yang ini adalah ECDIS, peta digital kita. Lihat garis merah itu? Itu adalah rute yang sudah aku buat untuk membawa kita ke Yunani."
Arkan kemudian membimbing tangan Gladis ke sebuah tuas kecil yang terlihat sangat modern.
"Ini bukan seperti setir bajak laut di film-film, Sayang. Kapal ini digerakkan oleh sistem Azipod. Hanya dengan sentuhan jari, kita bisa memutar raksasa ini."
Gladis merasakan getaran halus di bawah telapak tangannya saat ia menyentuh instrumen itu.
"Hebat sekali. Aku tidak menyangka tanggung jawabmu serumit ini, Arkan."
Arkan mengecup pelipis Gladis. "Sekarang kamu tahu, setiap kali aku berada di sini, pikiranku terbagi dua: satu untuk keselamatan ribuan penumpang di kapal ini, dan satu lagi—yang paling besar—untuk kamu dan anak-anak kita di kabin bawah."
Gladis bersandar di dada Arkan, memandangi garis cakrawala yang tak berujung.
Rasa kagumnya pada sang suami semakin bertambah.
Di tengah laut lepas, di bawah komando Arkan, ia merasa menjadi wanita paling aman di dunia.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys