Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
.
Mobil mewah yang dikendarai Aldo berhenti di depan gerbang megah kediaman keluarga Darmawan. Nyonya Ratna, Laras, dan Aldo keluar dari mobil dengan wajah masam dan penuh kekesalan. Suasana di dalam mobil terasa tegang, tidak ada satu pun yang berbicara.
Nyonya Ratna, dengan tatapan tajam yang menusuk, menatap Aldo. Ia merasa sangat marah dan dipermalukan karena Aldo tidak mampu membayar berlian di toko perhiasan tadi. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang sosialita ternama telah diinjak-injak oleh Riko dan Aldo.
"Kau benar-benar memalukan!" bentak Nyonya Ratna dengan nada geram, menunjuk Aldo dengan jari telunjuknya. “Katanya uangmu banyak. Tapi nyatanya apa? Kamu bahkan tidak mampu membayar berlian? Kau membuatku malu di depan banyak orang!"
Aldo hanya mampu tertunduk diam. Namun, dalam hatinya iya sedang menahan amarahnya. Ia mengumpat Nyonya Ratna habis-habisan. Kalau bukan karena wanita tua itu yang terlalu sombong, mana mungkin mereka dipermalukan di hadapan Riko.
"Sialan! Wanita tua matre ini selalu membuat masalah?” gerutu Aldo dalam hati. “Kalau bukan karena Laras yang bisa dimanfaatkan, aku pasti sudah meninggalkan dia dari dulu! Dasar, ibu dan anak sama-sama gila harta!”
Segala caci maki yang hanya mampu ia lemparkan dalam hati.
"Maafkan aku, Tante," ucap Aldo dengan nada menyesal, mencoba menenangkan Nyonya Ratna. "Aku tidak sengaja melakukan itu. Aku benar-benar tidak tahu kenapa kartuku bisa ditolak. Mungkin ada kesalahan teknis dari pihak bank."
"Alasan!" bentak Nyonya Ratna dengan nada sinis. "Jangan-jangan selama ini kamu hanya membohongi kami. Sebenarnya kamu bukan dari keluarga kaya, kan?"
Entah kenapa nyonya Ratna tiba-tiba saja menjadi curiga. Mereka juga tidak pernah tahu siapa orang tua Aldo. Yang selama ini ia dengar hanyalah orang tua Aldo tinggal di luar negeri untuk mengurus bisnis keluarga mereka.
Laras, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Ia tidak ingin melihat ibunya dan Aldo bertengkar lebih lama lagi.
"Sudahlah, Ma," ucap Laras dengan nada lembut, mencoba menengahi pertengkaran itu. "Jangan menyalahkan Aldo terus.” Laras percaya, Aldo memang benar-benar kaya. Buktinya selama ini Aldo selalu memberikan dia hadiah berupa perhiasan dan barang branded.
Nyonya Ratna terdiam, lalu menghela napas panjang. Berbagai pertanyaan tentang Riko bermunculan di benaknya. Bagaimana Riko bisa memiliki banyak uang? Bagaimana tiba-tiba Rico dipanggil dengan sebutan Tuan? Bagaimana bisa Rico ternyata memiliki saham mayoritas di perusahaan besar? Riko jelas terlihat lebih kaya daripada Aldo. Kalau seperti itu, bukankah lebih baik jika Laras kembali dengan Riko?
Sementara Aldo, pria itu tak hanya kesal dengan caci maki nyonya Ratna. Ia lebih merasa frustrasi dan tertekan. Ia takut bahwa kejadian di toko perhiasan tadi akan mempengaruhi karirnya sebagai seorang aktor. Bagaimana jika di antara pengunjung yang tadi merekam menyebarkan video mereka? Ia juga khawatir bahwa Laras akan meninggalkannya. Itu artinya ia akan kehilangan ATM berjalan.
Namun, di antara ketiganya, Laras-lah yang paling terbebani pikirannya. Kejadian tadi membuatnya terus bertanya-tanya, bagaimana bisa Riko yang dulu miskin dan tidak berdaya, kini menjadi seorang pria kaya raya dan berkuasa?
Pikiran-pikiran itu terus berputar-putar di kepalanya, membuatnya semakin penasaran dan gelisah. Riko telah berubah menjadi pria yang jauh lebih menarik dan mempesona daripada Aldo.
“Sepertinya, aku memang telah membuat kesalahan besar. Tapi…bukankah Riko sangat mencintaiku? Jika aku meminta maaf dengan tulus, iya pasti mau kembali menerimaku.”
*
*
*
Suasana di apartemen Riko terasa hening. Riko dan Ibu Maryam duduk berdampingan di sofa ruang tengah, terdiam dalam pikiran masing-masing. Riko menggenggam erat tangan ibunya, mengetahui mungkin saja ibunya masih syok dengan segala sesuatu yang wanita tua itu lihat hari ini.
“Apa yang ibu pikirkan?" tanya Riko lembut. Tangannya merengkuh bahu wanita itu dan memeluknya erat.
Bu Maryam menggeleng dalam pelukan. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Dari orang miskin yang hidup di pinggiran kota, kemudian pindah ke sebuah apartemen mewah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, sebagainya itu sudah terlalu luar biasa. Tapi, ternyata itu belum cukup menunjukkan semua. Karena ternyata, putranya memiliki sesuatu yang tak ditunjukkan.
"Ibu seperti tak mampu berkata-kata,” ucap wanita tua itu lirih. "Dan, ibu bangga dengan semua yang kamu capai. Tapi, ibu mohon. Tidak usah melakukan balas dendam pada orang-orang yang telah menyakitimu. Balas dendam hanya akan menimbulkan dendam berikutnya. Tidak akan ada habisnya."
Bu Maryam menjeda ucapannya lalu mengangkat kepala untuk menatap wajah putranya. "Mungkin, saat ini kamu akan berhasil membalas dendam. Tetapi, jika mereka tidak terima, mereka akan kembali mencari cara untuk membalas dendam kepadamu. Lalu kamu kembali membalas mereka. Dan begitu seterusnya. Ibu tidak mau kamu hidup dalam lingkaran dendam.”
Riko mengangguk dan tersenyum mengerti. "Riko juga tidak berniat untuk balas dendam, Bu,” dustanya. "Riko hanya melakukan ini untuk membela harga diri kita. Riko tidak ingin kita terus menerus direndahkan, diinjak-injak oleh orang lain. Riko ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak lemah, bahwa kita bisa melawan."
Ibu Maryam terdiam sejenak, merenungkan kata-kata putranya. Ia memahami perasaan Riko, tetapi ia tetap khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ibu mengerti, Nak," ucap Ibu Maryam dengan nada lembut. "Tapi ingat, jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri dalam dendam ini. Jangan sampai kamu menjadi seperti mereka, orang yang penuh dengan kebencian dan amarah."
Riko menggenggam erat tangan ibunya, mencoba menenangkannya. "Ibu jangan khawatir," ucap Riko meyakinkan. “itu tidak akan terjadi. Riko akan selalu menjadi putra ibu yang baik."
Riko kemudian memeluk ibunya dengan erat, tak ingin membuat ibunya itu khawatir. Tapi melepaskan dendam, apakah ia bisa?
Ibu Maryam membalas pelukan Riko dengan erat. Ia berdoa dalam hati agar putranya selalu dilindungi oleh Tuhan dan dijauhkan dari segala macam bahaya.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄