Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Dan Air Mata
Bagas, menatap pesan di ponselnya berulang kali.
Tak lupa, dia juga memastikan pada si pengirim tentang kebenaran pesan tersebut.
Senyumnya merekah. Kala keinginan dan tujuanya tercapai.
Buru-buru, Bagas pulang dari rumah duka, di salah satu tetangganya, untuk memberitahu pada orang tuanya.
Dengan senyum yang tak hilang. Bagas mengetuk pintu rumah dengan tergesa-gesa.
"Ada apa sih?" tanya Hayati, penutup kepalanya.
"Nadia mengirim pesan Bu, katanya besok, kita di suruh kesana," ungkap Bagas, seraya memegangi kedua bahu, sang wanita yang telah melahirkannya.
Hayati tertunduk lesu. Namun, senyum di wajah Bagas, sedikit menyentil relung di hatinya.
"Tapi ..."
"Aku sudah memastikannya Bu, kali ini berbeda. Mereka langsung yang memintanya," potong Bagas dengan mata berbinar. "Besok sore kita ke rumahnya ya bu, dan paginya kita ke pasar. Membeli beberapa bawaan untuk si empunya rumah," Bagas tersenyum bahagia.
Hayati mengangguk lemah. Berharap, jika apa yang dikatakan anaknya ialah kebenaran. Tak lupa, dia melirihkan doa, agar kebahagiaan menyertai anak bungsunya.
Ya, Bagas mempunyai tiga saudara perempuan. Masing-masing mereka sudah menikah, dan mereka bertiga juga sudah di boyong oleh suami masing-masing. Dan karena itu pula, Bagas tetap berada di rumah. Menjaga kedua orang tuanya yang sudah memasuki usia senja.
...✨✨✨...
Keesokan harinya, di rumah Nadia.
Nadia, telah bersiap dengan memakai dress berwarna navy. Warna yang sangat cocok untuk kulit putihnya.
Dia menatap keluar jendela. Sedangkan pintu, di biarkan terbuka.
Sesekali, dia melirik eneka suguhan yang telah di siapkan. Memastikan jika tak ada seekor lalat pun, yang hinggap disana.
Padahal, sekitar dua menit yang lalu. Nadia telah menerima pesan dari Bagas, jika ia siap berangkat.
"Bu, Ayah ... Terima kasih ya," lirih Nadia penuh harap.
Orang tuanya, yang berada di sofa seberang hanya saling menatap. Tak ada ekspresi disana.
Sesaat, Bagas dan orang tuanya sampai.
Kenapa sampai begitu cepat? Karena mereka satu kampung, dan keduanya hanya berbeda lorong.
Nadia bangun dengan tergesa. Dia sempat memperbaiki dress-nya, berharap penampilannya sempurna.
"Ayo masuk ..." ajak Nadia. Tak lupa, dia mengandeng Hayati.
"Assalamualaikum ..." ucap Hayati dan suaminya secara bersamaan.
Orang tua Nadia, menjawab salam sekenanya. Dan Hayati, langsung bisa merasakan atmosfer yang berbeda.
"Nadia, ambil minum di belakang," perintah Hesti, masih tanpa ekspresi.
Nadia mengangguk. Menuruti permintaan ibunya.
Tak lama, dia kembali dengan napan yang sudah berisi sirup.
"Minum dan makan lah ... Bukan kah, tujuan kalian untuk ini?" tanya ayah Nadia menatap sekilas ke arah keluarga Bagas.
Hayati dan suaminya saling lirik. Namun, tangan keduanya terulur untuk mengambil gelas yang telah diisi oleh Nadia.
"Jadi begini ,,, maksud kedatangan kami yang kesekian kalinya kesini, masih membawa keinginan yang sama. Yaitu, mempersunting nak Nadia, untuk anak kami Bagas," ucap ayah Bagas bernama Yusuf.
Hesti menyungging senyum remeh.
"Dan tujuan aku mengundang kalian kesini ialah,,," ayah Nadia menjeda ucapannya. Dia menelisik tamunya satu persatu. "Meminta agar Bagas melupakan Nadia. Karena sampai mati pun, aku gak akan sudi punya menantu seorang petani." tekan ayah Nadia, bernama Anwar.
"Ayah ..." Nadia berteriak, dengan mata yang mulai berkaca, bahkan dia sampai berdiri, akibat keterkejutan yang di alaminya.
Sedangkan Bagas memejamkan matanya. Kembali menelan penolakan untuk yang ketiga kalinya.
"Nadia, dengarkan ayahmu ..." Hesti menarik tangan anaknya. Meminta anaknya kembali duduk.
"Kalian yang harus mendengarkan aku," teriak Nadia menyentak tangan ibunya.
"Bu, ayah ... Walaupun bang Bagas tidak berpangkat. Tapi, keuangannya stabil. Bahkan, bisa dikatakan lebih. Dia gak akan membuatku lapar yah ... Dia bisa mencukupi segala kebutuhan ku, dia bahkan bisa memberi berapapun yang aku butuhkan," isak Nadia menjatuhkan tubuhnya di depan kedua orang tuanya.
"Tapi itu gak cukup Nadia ... Lihat sepupu mu! Suami mereka bahkan ada yang tentara, dokter juga sebagainya. Semua suami mereka punya gelar, setidaknya pns. Tapi, lihatlah Bagas. Bahkan kulitnya merah, akibat paparan sinar matahari," papar Hesti memperlihatkan contoh nyata di depannya.
"Ini, inilah contoh nyata kenapa aku tidak membiarkan anak ku menikah denganmu ... Dia jadi pembangkang. Bahkan, ketika kalian belum resmi jadi tunangan." berang Anwar, dengan muka merah.
"Ayah ..." lirih Nadia penuh permohonan. Bahkan air matanya mulai berjatuhan.
Anwar melirik istrinya. Dia memberi kode dengan mata, meminta sang istri untuk menyeret Nadia ke kamar.
Hesti yang paham keinginan suaminya, langsung bergerak tanpa harus di kode dua kali.
"Bu, bu ... Tolong restui kami," mohon Bagas berlutut, sebelum Hesti berhasil menyeret Nadia. "Aku, akan membahagiakannya bu," lanjut Bagas, penuh harap.
"Ibu, ibu ... Memangnya kamu keluar dari tubuhku?" Hesti menendang Bagas.
Melihat anaknya yang terjungkal. Hayati, buru-buru membangunkannya.
Kemudian, Hesti kembali menarik lengan Nadia, menyeretnya agar masuk ke kamar.
Teriakan Nadia menggema. Dan Bagas, hanya menatap sendu ke arah sang kekasih yang telah bersamainya selama delapan tahun.
"Lihat lah, bu Hayati, pak Yusuf. Lihat lah, bagaimana gilanya anakku. Dan penyebabnya hanya, satu. Yaitu Bagas!" seru Anwar menatap nyalang ke arah pasangan yang jauh lebih tua darinya.
"Bawa anakmu pergi dari rumahku. Dan aku haramkan, kalian untuk menginjakkan kaki di rumahku lagi," lanjut Anwar dengan menunjuk ke arah pintu keluar.
Bagas memejamkan matanya. Bukan karena perkataan Anwar. Melainkan karena janjinya kepada kedua orang tuanya.
"Jika lamaran ini juga di tolak. Maka, kamu harus siap untuk kehilangan Nadia, selamanya," ujar Yusuf, ketika Bagas, meminta ayahnya untuk kembali datang ke rumah Nadia.
"Kami udah malu dua kali nak ... Bahkan, seluruh kampung kita tahu, jika kedatangan baik kita, di tolak mentah-mentah oleh mereka," tambah Hayati, dengan mata berkaca-kaca.
Dengan di bimbing kedua orang tuanya. Bagas pulang sekaligus membawa hati yang telah rapuh bahkan rusak.
...✨✨✨...
Di kamar, Nadia hanya bisa berteriak memanggil-manggil Bagas dan keluarganya. Dia memukul-mukul teralis jendela. Berharap, Bagas dan orang tuanya tidak berlalu.
Berhasil.
Bagas memang mendekati kamar Nadia. Namun, kedua orang tua Bagas menarik keras tubuh Bagas, agar segera pergi dari sana.
"Ini bukan tempat kita nak, kita gak pantas berada disini," lirih Hayati yang sempat di dengar Nadia.
Bagas menoleh sejenak. Kedua mata mereka bersitatap. Dan Nadia menangkap, jika itu merupakan tanda perpisahan untuk keduanya.
kebiasaan ih