Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 20
Jam dinding Happy Mart tepat menunjukkan 22.00 ketika Zahra akhirnya menutup laci kasir. Ia merapikan rambut sebentar, lalu berpamitan pada rekan shift malam.
“Duluan ya,” ucapnya pelan.
“Siap, hati-hati di jalan,” sahut salah satu rekan shift malam.
Belum sempat Zahra melangkah pergi, suara godaan sudah lebih dulu menyambar.
“Ciee… yang mau jalan sama pacarnya,” celetuk Bang Zul—rekan kerjanya yang tadi masih satu shift siang—dengan senyum jahil. Ia jelas sempat mendengar obrolan singkat Zahra dengan Zaidan sebelum ini.
Zahra langsung melirik dengan wajah sedikit memerah.
“Bukan pacar, Bang Zul. Cuma kenalan aja,” bantahnya cepat.
“Kenalan yang berakhir jadi pacar,” sambung Rere sambil nyengir, ikut-ikutan menggoda.
Zahra menghela napas kecil, pasrah. “Kalian nih ya… imajinasinya kejauhan.”
“Lah, kalau bukan pacar, kok ditungguin sampai jam sepuluh malam?” Bang Zul menaikkan alisnya, makin usil.
“Dia lagi ada yang mau dibicarain,” jawab Zahra jujur, lalu menambahkan dengan nada setengah menyerah,
“Dari pada aku diejekin terus, mending aku pulang duluan.”
Rere tertawa kecil. “Ya udah, Ra. Hati-hati. Jangan lupa kabarin kalau udah nyampe.”
“Iya,” jawab Zahra sambil tersenyum tipis.
Begitu keluar, udara malam menyambutnya dengan sisa bau hujan. Lampu parkiran menyala redup. Zahra berjalan ke arah motornya dan berhenti ketika melihat Zaidan sudah berdiri tak jauh dari sana.
“Kamu sudah selesai?” tanya Zaidan.
“Iya, Pak,” jawab Zahra sambil mengenakan helm. “Mau pulang.”
Zaidan mengangguk, lalu menggaruk tengkuknya pelan, sebuah gestur kecil yang jarang ia sadari sendiri.
“Kalau… kamu nggak keberatan, saya mau ajak kamu pergi sebentar.”
Zahra terdiam sejenak. Ia tampak sedang memikirkan ajakan Zaidan. Ia pikir Zaidan tidak serius dengan ucapannya yang mau menunggunya hingga jam pulang kerjanya.
“Pergi ke mana, Pak?”
Zaidan mengangkat bahu ringan. “Terserah kamu. Saya cuma pengen ngobrol. Sebentar aja.”
Zahra berpikir cepat. Lalu matanya sedikit berbinar, seperti baru ingat sesuatu.
“Kita ke pecel lele dekat rumah saya aja gimana, Pak?” katanya hati-hati.
“Kebetulan tadi siang ibu saya nitip. Katanya kalau saya pulang malam, sekalian dibawakan.”
Zaidan tersenyum. “Pecel lele?”
“Iya,” Zahra ikut tersenyum kecil. “Dekat kok. Nggak sampai lima menit dari rumah.”
“Boleh,” jawab Zaidan mantap. “Kamu naik motor sendiri, ya. Saya ikut dari belakang.”
Zahra mengangguk lega. Ia menyalakan motornya lebih dulu, dan membawanya ke jalan raya dengan Zaidan menyusul dengan jarak aman. Jalanan malam cukup lengang, lampu-lampu toko pun memantul di aspal yang masih basah.
Tak lama, mereka berhenti di sebuah tenda pecel lele sederhana. Lampu bohlam menggantung, suara minyak mendesis menemani obrolan pengunjung yang tak seberapa ramai.
Zahra turun dan langsung menghampiri penjual.
“Bang, satu lele, ya. Sambalnya dipisah aja.”
Zaidan berdiri di sampingnya. “Dua porsi di sini juga, Bang.”
Zahra menoleh sedikit. “Pak—”
“Sekalian,” potong Zaidan santai. “Biar nggak cuma nganter. Temanin saya makan. Saya belum sempat makan tadi”
Mereka duduk di bangku plastik. Angin malam berembus pelan. Zahra menunggu pesanan sambil menunduk, sesekali memainkan ujung tasnya.
“Maaf ya, Pak,” katanya tiba-tiba. “Jadi malah ngerepotin.”
Zaidan menggeleng. “Nggak. Justru… terima kasih. Saya ditemanin makan malam ini.”
Zahra tersenyum kecil. “Ibu saya bilang, pecel lele paling enak dimakan malam-malam.”
Pesanan datang. Zahra menyuapkan nasi perlahan. Kali ini rasanya tidak hambar. Ada hangat yang pelan-pelan mengisi dadanya yang tidak ia tahu asalnya dari mana.
“Katanya ada yang mau diomongin, Pak?” tanya Zahra di sela kunyahannya.
Pertanyaan dari Zahra itu membuat Zaidan menghentikan gerakan menyendoknya. Ia yang ditanya mendadak langsung gugup. Padahal tadi ia merasa sudah sangat yakin, lalu kenapa sekarang tiba-tiba jadi takut gini, pikirnya.
Melihat Zaidan yang tiba-tiba diam, Zahra mengernyitkan dahinya. Ia bahkan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zaidan.
“Pak?”
Zaidan kemudian tersentak. Ia gelagapan, dan menggaruk kembali leher belakangnya.
“Pak Zaidan nggak apa-apa?” tanya Zahra memastikan.
Zaidan langsung mengangguk cepat.
“Tidak apa,” jawabnya dengan nada suara yang tenang.
“Lalu?” tanya Zahra lagi.
Zaidan awalnya bingung, namun ia kemudian paham maksud dari pertanyaan wanita itu.
“Saya hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.”
Kini Zahra yang mendadak terdiam. Kalimat Zaidan hanyalah kalimat sederhana, namun entah kenapa terasa menghangatkan di dada Zahra.
“Saya baik, Pak. Terima kasih,” jawab Zahra dengan tenang.
“Pak Zaidan tidak perlu mengkhawatirkan saya,” sambungnya.
“Dan… untuk mengetahui keadaan saya, lain kali tidak perlu dengan mengajak saya seperti sekarang,” ucap Zahra pelan, tapi tegas. “Saya sudah sangat baik-baik saja. Bu Maya dan petugas PPA yang lain benar-benar menjaga dan membantu saya. Sekarang saya sudah jauh lebih baik, Pak Zaidan.”
Zahra menoleh ke arahnya. Tatapan itu membuat Zaidan terdiam sejenak. Ia bisa merasakannya. Zahra yang duduk di hadapannya bukan lagi Zahra yang dulu ia temui di koridor kantor polisi, dengan bahu merunduk dan mata yang selalu menunduk.
Wanita di depannya kini tampak lebih tegak. Wajahnya memang masih sederhana, tanpa riasan berlebih, tapi ada keteguhan dan ketenangan yang jelas terpancar. Seolah ia telah berdamai dengan luka yang pernah begitu menyakitkan.
Zahra menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Saya tahu niat Bapak baik. Dan saya berterima kasih. Tapi sekarang… saya ingin berdiri dengan kaki saya sendiri.”
Zaidan menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia beri nama antara lega, kagum, dan sedikit kehilangan.
“Saya senang dengarnya,” jawab Zaidan akhirnya, suaranya lebih lembut dari yang ia kira. “Kalau begitu, berarti kamu benar-benar kuat, Zahra.”
Zahra tersenyum tipis. Dan tak lama ia berdiri, dan berjalan menghampiri si penjual untuk membayar makanannya.
“Saya aja yang bayar,” sela Zaidan yang langsung memberikan satu lembar uang berwarna merah.
“Tidak perlu, Pak,” ucap Zahra langsung dan ikut memberikan uang lembaran merah miliknya pada si penjual.
“Saya yang ngajak ketemu, jadi saya yang harus bayar,” jawab Zaidan.
Tidak ingin berdebat lebih lama, Zahra akhirnya pasrah dan menarik kembali uang miliknya.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya pelan.
Zaidan hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
Sambil menjinjing kresek yang berisikan pesanan ibunya, Zahra berjalan keluar dari tenda menuju tempat dirinya memarkirkan motornya. Zaidan menyusul di belakang dan menghampiri motornya yang terparkir bersebelahan dengan motor Zahra.
“Saya pulang dulu, Pak Terima kasih untuk traktirannya malam ini.”
Zaidan memasang helmnya sambil berkata, “Saya temani sampai depan gang.”
Zahra mengangguk tanpa banyak protes. Zahra melaju lebih dulu, Zaidan mengikuti dari belakang, memastikan jarak tetap aman.
Malam terasa tenang.
Dan dibalik helm full facenya, Zaidan mulai berbicara sendiri, mengutarakan isi hati dan pikirannya.
“Ini udah langsung ditolak, nih?”
...----------------...
Elaaah gitu aja udah patah semangat aja, Pak Pol. Belum ada jawaban, belum ada perkataan apapun udh nyerah aja. Jangan cemen dong. Tiru tu papa fadi 😄😄