NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panen Pertama Padi Emas

Malam semakin larut di lereng Menoreh. Hujan sudah berhenti, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan suara jangkrik yang bersahutan.

Di dalam gubuk reyot, suasana terasa begitu mencekam.

Ibu Rahayu terbaring meringkuk di atas amben bambu. Tubuhnya menggigil hebat, namun keningnya panas membara. Wajahnya yang tirus terlihat semakin cekung, pucat pasi seperti mayat hidup.

Sejak kejadian pengusiran tadi pagi, stres yang menghantam batinnya, ditambah perut yang kosong sejak kemarin, membuat asam lambungnya naik dan memicu demam tinggi.

Sekar duduk di samping ibunya, mengompres dahi wanita itu dengan kain basah yang airnya diambil dari gentong.

"Jangan usir kami... tolong..." Rahayu mengigau dalam tidurnya, air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam.

Hati Sekar terasa diremas. Janji 50 juta itu adalah beban yang sangat berat, tapi melihat ibunya seperti ini jauh lebih menyakitkan.

Sekar tahu, obat penurun panas saja tidak akan cukup. Ibunya butuh asupan nutrisi.

Tubuh Rahayu sedang memakan dirinya sendiri karena kelaparan.

Sekar membetulkan letak selimut lusuh ibunya. Dia memastikan pintu gubuk sudah terkunci rapat dengan palang kayu.

"Tunggu sebentar ya, Bu. Sekar carikan obat," bisik Sekar pelan.

Sekar membaringkan tubuhnya di sisi sempit amben, tepat di samping ibunya.

Dia mengatur napas, memejamkan mata, dan memusatkan pikiran pada tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manisnya.

Dalam hitungan detik, kesadaran Sekar tertarik masuk ke dalam dimensi lain.

Tubuh fisiknya di dunia nyata tampak tertidur tenang di samping ibunya, namun jiwanya kini berdiri tegak di hamparan tanah hitam yang subur.

Begitu Sekar membuka mata di dalam Ruang Spasial, indra penciumannya langsung diserang oleh aroma yang menakjubkan.

Wangi.

Sangat wangi.

Bukan bau tanah basah atau bau apek gubuk. Udara di ruang ini dipenuhi aroma manis yang legit, perpaduan antara wangi pandan, melati, dan santan yang baru mendidih.

Sekar terkesiap. Dia menatap ke depan, dan napasnya tertahan di tenggorokan.

Di hadapannya, petak tanah yang kemarin dia tanami benih sisa, kini telah berubah menjadi lautan emas.

Padi itu tumbuh setinggi pinggang, batangnya kokoh dan tegak lurus.

Namun, yang paling mencolok adalah bulirnya.

Bulir-bulir padi itu tidak berwarna kuning jerami biasa, melainkan kuning keemasan yang berkilau seolah disepuh logam mulia.

Mereka merunduk berat, tanda bahwa isinya padat dan siap panen.

"Luar biasa..." desis Sekar tanpa sadar.

Dia melangkah masuk ke tengah sawah mini itu. Tangannya menyentuh salah satu malai padi.

Sensasinya halus, tidak gatal seperti padi varietas biasa yang memiliki bulu-bulu halus tajam.

Sekar memetik satu butir gabah, lalu mengupas kulitnya dengan kuku.

Beras di dalamnya tidak berwarna putih susu, melainkan putih transparan dengan inti sari berwarna kemerahan di tengahnya, seperti permata delima kecil yang terbungkus kristal.

Analisis Profesor Sekar langsung bekerja otomatis.

Observasi: Terjadi mutasi genetik spontan akibat paparan air spiritual dan unsur hara tanah dimensi ini. Fenomena Bio-fortifikasi alami.

Kandungan nutrisinya pasti berkali-kali lipat dari beras biasa. Ini bukan sekadar makanan; ini adalah suplemen kehidupan dosis tinggi.

Namun, kekaguman ilmiah itu segera berganti dengan kekhawatiran praktis.

Aroma wangi ini... terlalu kuat. Baunya seperti nasi yang baru ditanak, padahal ini masih berupa tanaman di sawah.

Jika bau ini tercium sampai ke luar gubuk, Eyang Marsinah dan Bibi Mirna pasti akan langsung menuduhnya memelihara pesugihan atau membakar kemenyan.

Sekar bergegas lari ke pinggir batas ruang spasial, sebuah kabut putih yang menjadi dinding dimensi ini.

Dia mencoba mengendus udara di dekat perbatasan.

Aroma wangi itu berhenti tepat di batas kabut. Tidak menembus keluar.

Sekar menghela napas lega. Hukum fisika di ruang ini tampaknya terisolasi sempurna. Rahasianya aman.

Sekarang, saatnya kerja keras. Sekar tidak punya mesin pemanen modern. Dia berjalan menuju gubuk bambu kecil yang ada di tengah ruang spasial.

Di sana, dia menemukan beberapa peralatan pertanian kuno yang sepertinya sudah tersedia sebagai 'paket awal' ruang ini.

Ada sebuah ketam, pisau panen tradisional Jawa yang terbuat dari kayu dan besi tipis serta sebuah arit.

Sekar mengambil ketam itu. Dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menyingsingkan lengan kebayanya.

Di dunia nyata, tubuh Sekar mungkin lemah dan kurang gizi. Namun, di sini, kesadarannya terasa kuat, ditenagai oleh atmosfer ruang yang kaya oksigen murni.

Cekrek. Cekrek.

Suara batang padi yang terpotong terdengar ritmis.

Sekar memanen padi itu satu per satu dengan ketelatenan seorang petani dan presisi seorang bedah.

Keringat mulai menetes di pelipisnya. Punggungnya mulai terasa pegal.

Meskipun ini adalah tubuh proyeksi kesadaran, sensasi lelahnya terasa begitu nyata.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Tumpukan padi emas itu mulai menggunung di halaman gubuk bambu.

Sekar berhenti sejenak, meluruskan pinggangnya yang kaku. Dia menatap hasil kerjanya dengan rasa haru yang membuncah di dada.

Seumur hidupnya sebagai Profesor Sekar Ayu, dia selalu bekerja di laboratorium steril, menatap tanaman lewat mikroskop, dikelilingi asisten yang siap melayani.

Dia tidak pernah merasakan langsung beratnya memanen, kasarnya jerami yang menggores kulit, dan manisnya melihat hasil keringat sendiri.

Air mata menetes di pipi Sekar. Bukan air mata sedih, tapi air mata syukur.

"Terima kasih, Gusti..." bisiknya lirih. Dia merasa 'hidup'. Untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di tubuh gadis malang ini, dia tidak merasa sebagai korban takdir.

Dia merasa memiliki kendali. Dia bisa menanam, dia bisa memanen, dan dia bisa memberi makan ibunya.

Sekar mengambil segenggam padi yang sudah dipotong. Dia tidak mungkin memproses semuanya sekarang. Dia hanya butuh cukup beras untuk makan ibunya hari ini.

Dia merontokkan bulir padi itu dengan cara menginjak-injaknya di atas tikar anyaman, lalu menumbuknya pelan menggunakan lumpang batu kecil yang ada di sudut gubuk. Prosesnya lambat dan melelahkan.

Kulit gabah emas itu terkelupas, menampilkan beras kristal yang cantik di dalamnya. Setelah mendapatkan sekitar dua cangkir beras bersih, Sekar berhenti.

Waktu di dunia nyata sudah berjalan beberapa menit. Dia tidak boleh terlalu lama meninggalkan tubuh fisiknya, atau ibunya akan panik jika terbangun.

Sekar menyimpan sisa panennya di dalam gubuk bambu yang kering dan sejuk.

"Tunggu di sini. Kalian adalah tiket masa depanku," ucap Sekar pada tumpukan padi itu. Dia menggenggam beras bersih itu erat-erat, lalu memusatkan pikiran untuk kembali.

1
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
hahaha rasakan
Fauziah Daud
luar biasa
Lala Kusumah
intrik terus berlanjut, kuat dan semangat ya Sekar 👍👍👍
lin sya
begitulah klo sekar hdup dgn warga yg gk pinter ilmu percaya takhayul gmpang diadu domba, klo trbukti bikin kapok dan gak ganggu lgi
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!