Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Pertama Padi Emas
Malam semakin larut di lereng Menoreh. Hujan sudah berhenti, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan suara jangkrik yang bersahutan.
Di dalam gubuk reyot, suasana terasa begitu mencekam.
Ibu Rahayu terbaring meringkuk di atas amben bambu. Tubuhnya menggigil hebat, namun keningnya panas membara. Wajahnya yang tirus terlihat semakin cekung, pucat pasi seperti mayat hidup.
Sejak kejadian pengusiran tadi pagi, stres yang menghantam batinnya, ditambah perut yang kosong sejak kemarin, membuat asam lambungnya naik dan memicu demam tinggi.
Sekar duduk di samping ibunya, mengompres dahi wanita itu dengan kain basah yang airnya diambil dari gentong.
"Jangan usir kami... tolong..." Rahayu mengigau dalam tidurnya, air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam.
Hati Sekar terasa diremas. Janji 50 juta itu adalah beban yang sangat berat, tapi melihat ibunya seperti ini jauh lebih menyakitkan.
Sekar tahu, obat penurun panas saja tidak akan cukup. Ibunya butuh asupan nutrisi.
Tubuh Rahayu sedang memakan dirinya sendiri karena kelaparan.
Sekar membetulkan letak selimut lusuh ibunya. Dia memastikan pintu gubuk sudah terkunci rapat dengan palang kayu.
"Tunggu sebentar ya, Bu. Sekar carikan obat," bisik Sekar pelan.
Sekar membaringkan tubuhnya di sisi sempit amben, tepat di samping ibunya.
Dia mengatur napas, memejamkan mata, dan memusatkan pikiran pada tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manisnya.
Dalam hitungan detik, kesadaran Sekar tertarik masuk ke dalam dimensi lain.
Tubuh fisiknya di dunia nyata tampak tertidur tenang di samping ibunya, namun jiwanya kini berdiri tegak di hamparan tanah hitam yang subur.
Begitu Sekar membuka mata di dalam Ruang Spasial, indra penciumannya langsung diserang oleh aroma yang menakjubkan.
Wangi.
Sangat wangi.
Bukan bau tanah basah atau bau apek gubuk. Udara di ruang ini dipenuhi aroma manis yang legit, perpaduan antara wangi pandan, melati, dan santan yang baru mendidih.
Sekar terkesiap. Dia menatap ke depan, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Di hadapannya, petak tanah yang kemarin dia tanami benih sisa, kini telah berubah menjadi lautan emas.
Padi itu tumbuh setinggi pinggang, batangnya kokoh dan tegak lurus.
Namun, yang paling mencolok adalah bulirnya.
Bulir-bulir padi itu tidak berwarna kuning jerami biasa, melainkan kuning keemasan yang berkilau seolah disepuh logam mulia.
Mereka merunduk berat, tanda bahwa isinya padat dan siap panen.
"Luar biasa..." desis Sekar tanpa sadar.
Dia melangkah masuk ke tengah sawah mini itu. Tangannya menyentuh salah satu malai padi.
Sensasinya halus, tidak gatal seperti padi varietas biasa yang memiliki bulu-bulu halus tajam.
Sekar memetik satu butir gabah, lalu mengupas kulitnya dengan kuku.
Beras di dalamnya tidak berwarna putih susu, melainkan putih transparan dengan inti sari berwarna kemerahan di tengahnya, seperti permata delima kecil yang terbungkus kristal.
Analisis Profesor Sekar langsung bekerja otomatis.
Observasi: Terjadi mutasi genetik spontan akibat paparan air spiritual dan unsur hara tanah dimensi ini. Fenomena Bio-fortifikasi alami.
Kandungan nutrisinya pasti berkali-kali lipat dari beras biasa. Ini bukan sekadar makanan; ini adalah suplemen kehidupan dosis tinggi.
Namun, kekaguman ilmiah itu segera berganti dengan kekhawatiran praktis.
Aroma wangi ini... terlalu kuat. Baunya seperti nasi yang baru ditanak, padahal ini masih berupa tanaman di sawah.
Jika bau ini tercium sampai ke luar gubuk, Eyang Marsinah dan Bibi Mirna pasti akan langsung menuduhnya memelihara pesugihan atau membakar kemenyan.
Sekar bergegas lari ke pinggir batas ruang spasial, sebuah kabut putih yang menjadi dinding dimensi ini.
Dia mencoba mengendus udara di dekat perbatasan.
Aroma wangi itu berhenti tepat di batas kabut. Tidak menembus keluar.
Sekar menghela napas lega. Hukum fisika di ruang ini tampaknya terisolasi sempurna. Rahasianya aman.
Sekarang, saatnya kerja keras. Sekar tidak punya mesin pemanen modern. Dia berjalan menuju gubuk bambu kecil yang ada di tengah ruang spasial.
Di sana, dia menemukan beberapa peralatan pertanian kuno yang sepertinya sudah tersedia sebagai 'paket awal' ruang ini.
Ada sebuah ketam, pisau panen tradisional Jawa yang terbuat dari kayu dan besi tipis serta sebuah arit.
Sekar mengambil ketam itu. Dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menyingsingkan lengan kebayanya.
Di dunia nyata, tubuh Sekar mungkin lemah dan kurang gizi. Namun, di sini, kesadarannya terasa kuat, ditenagai oleh atmosfer ruang yang kaya oksigen murni.
Cekrek. Cekrek.
Suara batang padi yang terpotong terdengar ritmis.
Sekar memanen padi itu satu per satu dengan ketelatenan seorang petani dan presisi seorang bedah.
Keringat mulai menetes di pelipisnya. Punggungnya mulai terasa pegal.
Meskipun ini adalah tubuh proyeksi kesadaran, sensasi lelahnya terasa begitu nyata.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Tumpukan padi emas itu mulai menggunung di halaman gubuk bambu.
Sekar berhenti sejenak, meluruskan pinggangnya yang kaku. Dia menatap hasil kerjanya dengan rasa haru yang membuncah di dada.
Seumur hidupnya sebagai Profesor Sekar Ayu, dia selalu bekerja di laboratorium steril, menatap tanaman lewat mikroskop, dikelilingi asisten yang siap melayani.
Dia tidak pernah merasakan langsung beratnya memanen, kasarnya jerami yang menggores kulit, dan manisnya melihat hasil keringat sendiri.
Air mata menetes di pipi Sekar. Bukan air mata sedih, tapi air mata syukur.
"Terima kasih, Gusti..." bisiknya lirih. Dia merasa 'hidup'. Untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di tubuh gadis malang ini, dia tidak merasa sebagai korban takdir.
Dia merasa memiliki kendali. Dia bisa menanam, dia bisa memanen, dan dia bisa memberi makan ibunya.
Sekar mengambil segenggam padi yang sudah dipotong. Dia tidak mungkin memproses semuanya sekarang. Dia hanya butuh cukup beras untuk makan ibunya hari ini.
Dia merontokkan bulir padi itu dengan cara menginjak-injaknya di atas tikar anyaman, lalu menumbuknya pelan menggunakan lumpang batu kecil yang ada di sudut gubuk. Prosesnya lambat dan melelahkan.
Kulit gabah emas itu terkelupas, menampilkan beras kristal yang cantik di dalamnya. Setelah mendapatkan sekitar dua cangkir beras bersih, Sekar berhenti.
Waktu di dunia nyata sudah berjalan beberapa menit. Dia tidak boleh terlalu lama meninggalkan tubuh fisiknya, atau ibunya akan panik jika terbangun.
Sekar menyimpan sisa panennya di dalam gubuk bambu yang kering dan sejuk.
"Tunggu di sini. Kalian adalah tiket masa depanku," ucap Sekar pada tumpukan padi itu. Dia menggenggam beras bersih itu erat-erat, lalu memusatkan pikiran untuk kembali.