NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANGAN SEPERTI RANTAI YANG MAU MENJEPIT

Hidup yang sudah kembali tenang seperti danau yang terpijar matahari tiba-tiba diguncang oleh badai yang tidak terduga seperti gelombang besar yang menghantam pantai. Pagi itu, ketika Murni baru saja sampai di pabrik seperti burung yang baru saja tiba di sarangnya, dia melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk seperti tugu yang menghalangi jalan. Pria itu tinggi badannya seperti tiang listrik yang menjulang tinggi, jasnya terlihat mahal seperti kulit binatang yang langka, dan wajahnya yang tajam seperti pisau yang siap memotong – ini adalah Faksa, cowok yang selama ini hanya dikenal dari foto dan cerita Lestri.

Faksa mendekatinya dengan langkah yang yakin seperti singa yang mendekati mangsanya, matanya yang tajam seperti mata binatang pemangsa yang mengincar sasaran. "Kamu pasti Murni ya?" ucapnya dengan suara yang dalam seperti getaran dari mesin besar yang sedang berjalan. "Aku adalah Faksa – teman Lestri yang sudah lama ingin kenalan denganmu. Barang yang aku kirimkan dulu, kamu tidak suka ya?" Murni mundur sedikit seperti kelinci yang melihat harimau datang, hati nya berdebar kencang seperti mesin yang bekerja terlalu cepat.

"Aku sudah bilang kan aku tidak bisa menerima hadiah kamu, Pak Faksa," jawab Murni dengan suara yang sedikit gemetar seperti daun yang terkena hembusan angin kencang. "Aku sudah punya orang yang aku cintai, dan aku bahagia dengan dia." Tapi Faksa hanya tersenyum dengan wajah yang penuh dengan keyakinan seperti orang yang yakin bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. "Kamu belum tahu aku dengan baik, Murni. Cinta kamu pada pria itu hanya karena kamu belum menemukan yang lebih baik. Aku bisa memberikanmu segalanya – uang, kemewahan, kehidupan yang nyaman seperti ratu yang tinggal di istana emas."

Pada saat itu, Lestri datang dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran seperti anak kecil yang melihat kesalahan yang dia buat. "Faksa, kamu kok datang sendiri ya? Aku bilang kan harus nungguin waktu yang tepat," ucapnya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang takut didengar. Faksa melihatnya dengan tatapan yang menyuruh dia pergi seperti raja yang menyuruh pelayannya keluar, dan Lestri segera pergi seperti kambing yang takut dengan pemiliknya. Murni merasa seperti burung yang terkurung di dalam sangkar yang tidak bisa dilompati, tidak punya orang yang bisa membantunya seperti orang yang tersesat di tengah hutan gelap.

Sejak itu, Faksa datang ke pabrik setiap hari seperti matahari yang selalu muncul setiap pagi. Dia berdiri di sudut jalan seperti patung yang tidak bergerak, atau duduk di warung makan dekat pabrik seperti pelanggan yang menunggu seseorang. Setiap kali Murni lewat, dia akan datang mendekatinya seperti angin yang selalu mengikuti langkahnya, mengatakan kata-kata yang membuatnya tidak nyaman seperti serangga yang hinggap di kulit. "Kamu pasti merasa tidak nyaman dengan pekerjaanmu yang kotor seperti ini kan?" katanya dengan nada yang merendahkan seperti orang yang melihat sesuatu yang lebih rendah darinya. "Dengan aku, kamu tidak perlu bekerja keras lagi – cukup tinggal di rumah dan menikmati kehidupan saja."

Murni merasa seperti tanaman yang ditekan oleh batu besar, tidak bisa tumbuh dengan leluasa seperti burung yang sayapnya terikat. Dia mulai datang kerja lebih pagi dan pulang lebih larut seperti hewan yang menghindari pemangsa, memilih jalan yang lebih kecil dan sepi seperti orang yang ingin menyembunyikan diri. Tapi Faksa selalu bisa menemukannya seperti anjing yang bisa mencium jejak mangsanya, membuatnya merasa seperti binatang yang sedang dikejar tanpa akhir.

Suatu hari, ketika Murni pulang kerja sendirian karena Khem harus bekerja lembur seperti prajurit yang harus bertugas di medan perang, Faksa muncul dari balik gedung seperti bayangan yang tiba-tiba muncul. "Kamu tidak bisa menghindariku selamanya, Murni," ucapnya dengan suara yang penuh dengan kemarahan seperti guntur yang terdengar di kejauhan. "Aku sudah memberikanmu waktu yang cukup. Sekarang kamu harus membuat keputusan – memilih aku atau tetap dengan pria kasar yang bekerja di pabrik besi itu."

Dia mulai mendekat dengan langkah yang lambat tapi pasti seperti ular yang menyelinap ke arah mangsanya, tangannya siap untuk menyentuh Murni seperti cakar yang siap meraih. Murni merasa seperti burung yang terkurung dan tidak bisa terbang, matanya penuh dengan ketakutan seperti anak kecil yang tersesat di malam hari. Tapi dia tidak menyerah – dia ingat kata-kata Khem tentang kekuatan seperti besi yang kuat, dan dia tahu bahwa dia harus melindungi dirinya sendiri seperti pahlawan yang melindungi tanah airnya.

"Jangan mendekat padaku!" teriak Murni dengan suara yang lebih kuat dari yang dia kira bisa keluarkan seperti guntur yang menerangi langit. "Aku tidak akan pernah memilihmu! Cinta itu bukan tentang uang atau kemewahan – cinta itu tentang rasa hormat, pengertian, dan dukungan. Kamu tidak pernah memberikan itu padaku – kamu hanya ingin memaksakan kehendakmu seperti raja yang ingin menguasai semua yang ada di sekitarnya!"

Faksa melihatnya dengan wajah yang penuh dengan kejutan seperti orang yang tidak pernah ditolak sebelumnya, kemudian kemarahan muncul seperti api yang menyala besar. "Kamu tidak tahu apa yang terbaik untukmu, Murni!" teriaknya dengan suara yang keras seperti gong yang berdenting. "Pria itu tidak bisa memberimu apa-apa! Dia hanya akan membuatmu hidup susah seperti orang yang tinggal di rumah yang roboh!"

Tiba-tiba, suara mesin sepeda motor terdengar seperti harapan yang datang dari kejauhan. Khem muncul dengan wajah yang penuh dengan kemarahan seperti matahari yang sedang marah, tangannya sudah siap seperti petinju yang siap bertarung. Dia telah merasa bahwa ada sesuatu yang salah seperti mesin yang merasakan ada bagian yang rusak, jadi dia meninggalkan pekerjaannya dan mencari Murni seperti anjing yang mencari jejak pemiliknya.

"Jangan sentuh dia!" ucap Khem dengan suara yang dalam seperti getaran dari besi yang sedang dipukul. "Dia adalah orang yang kubenci dengan hidupku – lebih berharga dari semua uang dan kemewahan yang kamu miliki. Jika kamu benar-benar menyukainya, kamu harus menghargai pilihan nya, bukan memaksakannya untuk mencintaimu!" Faksa melihat Khem dengan tatapan yang merendahkan seperti orang yang melihat sesuatu yang lebih rendah darinya, tapi dia bisa merasakan kekuatan yang ada di dalam Khem seperti besi yang kuat dan tidak bisa ditembus.

"Aku punya uang dan kekuasaan yang lebih banyak darimu," kata Faksa dengan suara yang penuh dengan kesombongan seperti raja yang merasa lebih tinggi dari semua orang. "Aku bisa memberikan kehidupan yang lebih baik baginya." Khem mendekat dengan langkah yang tegas seperti prajurit yang siap menghadapi musuh, "Kamu bisa memberikan uang dan barang-barang mahal, tapi kamu tidak bisa memberikan cinta yang tulus dan pengertian yang sesungguhnya. Kamu hanya ingin memilikinya seperti barang yang bisa kamu beli dan jual, bukan mencintainya sebagai manusia yang punya hati dan pikiran sendiri."

Pada saat itu, beberapa rekan kerja Murni yang melihat kejadian itu datang mendukungnya seperti keluarga yang saling melindungi. Mereka berdiri di belakang Murni dan Khem seperti tentara yang siap melindungi kerajaan mereka, menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyaksikan salah satu anggota mereka diperlakukan dengan tidak baik seperti orang yang tidak akan menyaksikan keadilan ditekan. Faksa melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia tidak punya kekuatan untuk mengalahkan cinta dan persatuan seperti itu seperti badai yang tidak bisa mengalahkan pepohonan yang tumbuh berdampingan.

"Baiklah," ucapnya dengan suara yang lebih lembut seperti angin yang mulai reda. "Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, Murni. Aku mungkin salah dalam cara ku untuk mencintaimu – aku berpikir bahwa uang bisa membeli segalanya, tapi aku salah. Kamu benar-benar mencintai pria ini, dan dia juga mencintaimu dengan sepenuh hati. Semoga kamu bahagia bersama dia." Dengan itu, Faksa berbalik dan pergi seperti bayangan yang lenyap ketika matahari muncul, menghilang ke dalam keramaian kota yang seperti laut yang menghilangkan jejak kaki di pantai.

Murni menangis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat perlindungan, berlari ke arah Khem dan memeluknya erat seperti tanah yang memeluk akar pohon. Khem memeluknya dengan lembut seperti pelindung yang selalu ada, menepuk pundaknya seperti orang yang ingin menghilangkan rasa takut. "Kamu tidak perlu takut lagi, Murni," ucapnya dengan suara yang penuh dengan cinta seperti nyanyian yang menghangatkan hati. "Aku akan selalu ada untukmu – melindungimu, mencintaimu, dan mendukungmu dalam segala hal."

Rekan kerja Murni datang menghampiri mereka seperti keluarga yang menyambut anggota mereka yang terluka, memberikan dukungan dan kata-kata penghiburan seperti obat yang menyembuhkan rasa sakit. Lestri datang dengan wajah yang penuh dengan rasa minta maaf seperti orang yang menyadari kesalahannya, "Maaf ya Murni – aku tidak tahu kalau dia akan melakukan hal seperti ini. Aku hanya berpikir dia baik dan bisa memberikan yang terbaik buat kamu." Murni menyentuh pundaknya dengan lembut seperti teman yang memaafkan, "Gak apa-apa Lestri. Aku tahu kamu baik hati dan hanya ingin yang terbaik buat aku."

Setelah itu, mereka pulang bersama seperti keluarga yang baru saja melewati badai, hati mereka penuh dengan rasa syukur seperti orang yang mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Di kamar kecil mereka yang penuh dengan cinta seperti rumah yang selalu memberikan perlindungan, Khem membuat teh hangat seperti obat yang menyembuhkan rasa sakit, dan Murni menceritakan semua yang dia rasakan seperti air yang mengalir keluar dari wadah yang penuh.

"Kita seperti besi yang telah melalui proses peleburan dan pembentukan," ucap Khem dengan suara yang lembut seperti bisikan yang menyentuh hati. "Setiap rintangan yang kita lewati hanya membuat kita lebih kuat dan erat hubungan kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita – tidak ada uang, tidak ada kekuasaan, tidak ada orang apapun." Murni mengangguk dan memeluknya erat seperti orang yang tidak ingin melepaskan yang dicintainya, tahu bahwa dia telah menemukan cinta yang sejati seperti permata yang sulit ditemukan dan harus dijaga dengan baik.

Di luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, dengan semua godaan dan rintangan yang ada seperti ombak yang terus menghantam pantai. Tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kedamaian yang diraih dengan cinta yang kuat, kesetiaan yang tidak pernah goyah, dan pemahaman bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksakan atau dibeli dengan apa-apa selain hati yang tulus.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Kedamaian yang baru saja mereka rasakan seperti danau yang tenang setelah badai tiba-tiba kembali terganggu oleh suara yang tidak diinginkan seperti serangga yang berdengung di malam hari. Pada malam hari yang gelap seperti lapisan kain hitam yang menutupi dunia, ketika Khem harus bekerja malam di pabrik seperti pelindung yang menjaga wilayahnya, hp Murni tiba-tiba berdering dengan suara yang menusuk seperti gong yang berbunyi di tengah kesunyian.

Murni mengambil hp nya dengan tangan yang gemetar seperti daun yang terkena hembusan angin, melihat nama yang tidak dikenal seperti bayangan yang muncul dari kegelapan. Dia tahu siapa yang menelpon seperti orang yang mengenali suara kaki langkah musuhnya, tapi dia tidak punya keberanian untuk tidak menjawab seperti anak kecil yang takut akan konsekuensinya. "Halo?" ucapnya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang takut terdengar.

"Murni... aku Faksa," suara nya terdengar dari ujung saluran seperti angin yang menyebarkan kabar yang tidak diinginkan. "Aku tahu kamu sedang sendirian sekarang. Aku hanya ingin bilang bahwa aku tidak bisa melupakanmu – kamu seperti bintang yang terlalu cantik untuk hanya dilihat dari jauh." Murni menekan bibirnya agar tidak menangis seperti orang yang mencoba menahan rasa sakit, "Pak Faksa, aku sudah bilang kan aku tidak bisa bersama kamu. Tolong jangan hubungiku lagi."

Tapi Faksa tidak mau mendengarkan seperti orang yang sudah tersesat dalam kegelapan pikirannya sendiri. "Kamu hanya butuh waktu untuk melihat kebenaran, Murni. Pria itu tidak bisa memberikanmu apa yang aku bisa berikan – dia bahkan tidak ada di sampingmu saat kamu sendirian seperti ini. Aku bisa datang menemukannya sekarang – membawakanmu makanan hangat seperti kehangatan yang hilang dari hidupmu, atau hanya duduk bersama kamu seperti teman yang selalu ada."

Murni segera menolak seperti orang yang menghindari api yang akan membakarnya, "Jangan datang kesini, Pak Faksa. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Dan jangan hubungiku lagi – ini adalah permintaan terakhirku." Dengan itu, dia memutus panggilan dengan tangan yang gemetar seperti daun yang bergoyang kencang, kemudian mematikan suara hp nya seperti menutup pintu ke dunia yang penuh dengan kegelapan. Dia merasakan seperti orang yang sedang dikejar oleh hantu yang tidak bisa dilihat, rasa takutnya seperti gelombang yang menghanyutkannya.

Setiap malam setelah itu, ketika Khem bekerja malam seperti prajurit yang bertugas di malam hari, hp Murni akan berdering seperti jam yang berbunyi pada waktunya yang salah. Faksa selalu menelpon seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan, mengatakan kata-kata yang membuatnya tidak nyaman seperti bisikan yang mengganggu tidur. "Aku mencintaimu lebih dari dia, Murni," katanya pada salah satu panggilan. "Aku akan menunggu sampai kamu sadar bahwa aku adalah yang terbaik untukmu – seperti pelaut yang menunggu kapal yang hilang."

Murni tidak berani memberitahu Khem seperti anak kecil yang takut akan kemarahan orang tuanya. Dia takut bahwa Khem akan marah dan melakukan sesuatu yang tidak baik seperti raksasa yang kehilangan kendali, atau bahwa dia akan merasa bersalah karena tidak bisa ada di sisinya seperti orang yang merasa gagal dalam melindungi orang tersayang. Dia mencoba memblokir nomor Faksa seperti menutup pintu dengan kunci, tapi Faksa selalu menemukan cara baru untuk menghubunginya seperti pencuri yang menemukan celah baru untuk masuk – menggunakan nomor yang berbeda setiap kali seperti wajah yang selalu berubah.

Salah satu malam, ketika hujan turun seperti air mata yang jatuh dari langit, Murni sedang sendirian di kamar kecilnya seperti orang yang terkurung di dalam rumah selama badai. Hp nya berdering lagi, dan suara dering nya terdengar seperti hantu yang mengetuk pintu. Dia mengambil hp nya dengan tangan yang gemetar seperti orang yang akan menghadapi sesuatu yang menakutkan, dan mendengar suara Faksa yang penuh dengan kemarahan seperti guntur yang menerangi malam hari.

"Mengapa kamu selalu menolaknya? Aku sudah melakukan segalanya untukmu!" teriaknya dengan suara yang keras seperti gong yang berdenting. "Aku akan datang kesana sekarang – kamu harus mendengarkan aku dan membuat keputusan yang benar!" Murni merasa seperti burung yang terkurung di dalam sangkar yang akan roboh, matanya penuh dengan air mata seperti hujan yang mengalir di atas kaca jendela. Dia tidak tahu harus melakukan apa seperti orang yang tersesat di tengah hutan tanpa kompas.

Tiba-tiba, suara pintu yang diketuk dengan lembut terdengar seperti harapan yang datang dari jauh. Murni berlari ke pintu dan membukanya dengan cepat seperti orang yang menemukan jalan keluar dari labirin. Di sana berdiri Khem, wajahnya basah karena hujan seperti pohon yang basah setelah disiram hujan, tangannya membawa kantong plastik yang berisi makanan hangat seperti hadiah yang datang tepat waktu.

"Aku merasa tidak nyaman bekerja malam dan meninggalkanmu sendirian," ucapnya dengan suara yang penuh dengan cinta seperti nyanyian yang menghangatkan hati. "Jadi aku mengambil waktu istirahat sebentar untuk datang menemukannya – membawakanmu makanan yang kamu suka seperti perisai yang melindungimu dari kelaparan dan kesendirian." Murni menangis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan orang tuanya, berlari ke arah Khem dan memeluknya erat seperti tanah yang memeluk akar pohon yang kuat.

Kemudian, hp Murni berdering lagi seperti suara yang mengganggu momen indah. Khem melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan perhatian seperti dokter yang melihat pasiennya yang sakit, "Siapa yang menelpon malam-malam seperti ini?" Murni tidak bisa menyembunyikannya lagi seperti orang yang tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia yang berat, dia menangis dan menjelaskan semua yang terjadi seperti air yang mengalir keluar dari wadah yang penuh.

Khem mendengarkan dengan tenang seperti orang yang sedang mendengar cerita tentang penderitaan orang tersayang, kemudian dia mengambil hp Murni dan menjawab panggilan tersebut seperti pria yang siap melindungi orang yang dicintainya. "Halo, ini Khem – pacar Murni," ucapnya dengan suara yang tegas seperti hakim yang memberikan putusan. "Aku tahu kamu adalah Faksa. Murni sudah bilang berulang kali bahwa dia tidak ingin bersama kamu. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu harus menghargai pilihan nya dan meninggalkannya sendirian. Jika tidak, aku akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindunginya – seperti pelindung yang tidak akan pernah menyerah melindungi yang dicintainya."

Ada jeda sebentar seperti henti napas sebelum badai besar, kemudian suara Faksa terdengar dengan nada yang lebih lembut seperti angin yang mulai reda. "Aku hanya mencintainya, Khem. Aku berpikir aku bisa memberikan yang terbaik baginya." Khem menjawab dengan suara yang penuh dengan rasa hormat seperti orang yang menghargai perasaan orang lain meskipun berbeda pendapat, "Aku tahu kamu mencintainya, tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Murni bahagia bersamaku, dan aku akan melakukan apa saja untuk menjaga kebahagiaannya. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu harus berdoa agar dia bahagia – bahkan jika itu bukan bersamamu."

Dengan itu, Khem memutus panggilan dan mematikan hp Murni seperti menutup pintu ke dunia yang penuh dengan kegelapan. Dia memeluk Murni erat seperti pelindung yang selalu ada, menepuk pundaknya seperti orang yang ingin menghilangkan rasa takut dan kesedihan. "Kamu tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku lagi, Murni," ucapnya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang menyentuh hati. "Kita adalah pasangan – kita harus saling membantu dan melindungi satu sama lain dalam suka dan duka. Tidak ada yang bisa membuat kita terpisah – tidak ada orang, tidak ada masalah, tidak ada apa-apa pun."

Mereka masuk ke dalam kamar yang hangat seperti rumah yang selalu memberikan perlindungan, Khem menghangatkan makanan yang dia bawa seperti menghangatkan hati yang dingin karena rasa takut. Mereka makan bersama seperti dua orang yang baru saja melewati badai besar, berbicara tentang segala sesuatu dengan jujur seperti orang yang sudah membuka hati sepenuhnya satu sama lain. Murni merasa seperti beban yang selama ini ada di pundaknya akhirnya diangkat oleh tangan yang kuat, rasa leganya seperti udara yang masuk ke paru-paru setelah lama tidak bisa bernapas.

Pada hari berikutnya, Khem mengajak Murni untuk melaporkan kejadian itu ke polisi seperti orang yang ingin keadilan ditegakkan. Mereka juga memberitahu kepala pabrik agar bisa mengambil langkah pencegahan seperti menambahkan pagar besi di sekitar area pabrik. Rekan kerja Murni juga semakin peduli seperti keluarga yang saling melindungi, selalu menawarkan untuk pulang bersama atau menjaga Murni ketika Khem tidak ada seperti teman yang selalu siap membantu.

Setelah itu, panggilan dari Faksa akhirnya berhenti seperti hujan yang akhirnya reda dan langit mulai cerah. Murni tidak tahu apa yang membuatnya berhenti – apakah karena kata-kata Khem yang membuatnya sadar, atau karena dia akhirnya mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan seperti bunga yang tidak bisa dipaksa untuk mekar di musim yang salah. Yang penting bagi Murni adalah dia bisa kembali merasa aman seperti burung yang kembali ke sarangnya yang terlindungi, bersama Khem yang selalu ada untuknya seperti bintang yang selalu bersinar di langit malam.

Di luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, dengan semua godaan dan rintangan yang ada seperti ombak yang terus menghantam pantai. Tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kedamaian yang diraih dengan cinta yang kuat, kesetiaan yang tidak pernah goyah, dan pemahaman bahwa cinta sejati tumbuh dari rasa hormat dan kebebasan, bukan dari paksaan atau kekayaan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Ketika kelopak mata Murni bergerak perlahan dan terbuka lebar, sinar matahari siang yang menyinari kamar kosnya membuatnya sedikit menyipit. Badannya terkejut mendadak saat menyadari bahwa seluruh adegan yang penuh dengan ketegangan itu hanyalah khayalan belaka – sebuah mimpi yang begitu nyata hingga membuat peluh dingin menetes di dahinya. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap ke sekeliling kamar yang sebenarnya masih sama seperti biasa: rapi dengan seprai berwarna biru muda, rak buku yang penuh dengan novel dan catatan kuliah, serta beberapa pot tanaman kecil yang memberikan sentuhan hijau segar di sudut ruangan.

“Cuma mimpi… syukur cuma mimpi…” bisiknya pelan, menjentikkan jari-jari yang masih sedikit gemetar sebelum meraih gelas air yang ada di sisi tempat tidur. Saat air dingin mengalir ke tenggorokannya, dia bisa merasakan diri kembali ke kenyataan – dunia yang sebenarnya tidak sesakit dan sesulit yang digambarkan dalam khayalannya tadi.

Tiba-tiba, nada dering hp yang terletak di atas meja belajar membuatnya terkejut. Dia mengambilnya dengan cepat dan melihat nama yang muncul di layar: Khem Cinta Abadi – nama simpanan yang dibuatnya dengan rasa malu namun penuh cinta untuk kekasihnya. Dengan senyum yang perlahan muncul di bibirnya, dia segera menjawab panggilan.

“Halo, Sayang… sudah bangun?” suara khas Khem yang hangat terdengar dari ujung lain sambungan, langsung menghangatkan hati Murni yang baru saja terganggu oleh mimpi buruk.

“Barusan bangun aja, Sayang… tadi ketiduran siang dan jadi mimpi buruk deh,” jawab Murni dengan nada yang sedikit lesu, masih belum bisa sepenuhnya melepaskan kesan dari mimpi itu.

Ada jeda sebentar di ujung telepon sebelum Khem berbicara lagi: “Mimpi buruk apa ya? Kamu suara nya kayak masih takut aja. Aku ada di depan kosan kamu lho… bawa makanan kesukaan kamu – bubur ayam dari warung Mbok Min yang kamu suka banget sama es cendolnya. Mau buka pintu ngga?”

Hati Murni langsung terasa lebih ringan mendengar itu. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung turun dari tempat tidur dan bergegas menuju pintu kosan. Saat dia membukanya, sosok Khem yang tampan dengan baju kaos putih dan celana jeans biru sudah berdiri di sana dengan senyum lebar, tangan kanannya memegang tas plastik berisi makanan dan tangan kirinya memegang sebuah bunga mawar merah kecil yang masih segar.

“Untuk kamu, Sayang… biar hati kamu jadi lebih senang lagi,” ucap Khem dengan tatapan mata yang penuh perhatian, memberikan bunga itu kepada Murni sebelum mencium dahinya dengan lembut. Murni meraih bunga dengan tangan gemetar bahagia, mata sudah mulai berkaca-kaca karena rasa terharu.

“Terima kasih, Sayang… kamu terlalu baik buat aku,” ucapnya pelan, menarik tangan Khem masuk ke dalam kamar kecilnya. Saat mereka duduk bersebelahan di lantai kamar yang ditutupi karpet tipis, Khem membuka tas makanan dan menyajikannya dengan hati-hati seperti seorang koki profesional.

“Nah, kamu makan dulu ya… setelah itu ceritain aja mimpi buruk kamu tadi apa. Biar aku bisa bantu kamu legain hati,” kata Khem sambil menaruh tangan kanannya di atas kepala Murni, mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Murni mengangguk dan mulai menyantap bubur ayam yang masih hangat, rasanya yang lezat benar-benar membantu menghilangkan kesan buruk dari mimpi tadi.

Setelah makan cukup dan minum es cendol yang manisnya pas di lidah, Murni mulai menceritakan seluruh isi mimpi buruknya – mulai dari suasana kamar yang penuh kedamaian hingga gangguan yang datang dan membuat segalanya hancur berkeping-keping. Khem mendengarkan dengan seksama, tanpa pernah menyela atau membuat komentar yang tidak pantas. Hanya dengan tatapan penuh perhatian dan tangan yang terus memegang tangan Murni agar dia merasa tenang.

“Kalau itu cuma mimpi, tapi rasanya kamu kayak ada sesuatu yang kamu khawatirkan ya, Murn?” ucap Khem setelah Murni selesai bercerita, melihat langsung ke mata gadis yang dicintainya itu. Murni mengangguk perlahan, menundukkan wajah karena rasa malu.

“Sejak beberapa hari ini aku sering mikir… kita udah pacaran hampir setahun, kan? Aku lihat banyak pasangan yang awalnya bahagia tapi akhirnya putus karena tekanan dari luar atau karena mereka sendiri yang tidak bisa menjaga hubungan itu dengan baik. Kadang aku takut juga… kalau kita juga akan mengalami hal yang sama. Apalagi orang tuaku mulai nanya tentang masa depan aku, dan aku belum berani bilang tentang kamu karena khawatir mereka tidak menerima,” jelas Murni dengan suara yang semakin pelan, air mata mulai menetes di pipinya.

Khem segera menariknya ke dalam pelukan hangatnya, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. “Tenang aja, Sayang… aku mengerti perasaan kamu. Aku juga sering mikir sama hal itu. Tapi kamu harus ingat ya, hubungan kita dibangun dari rasa cinta yang tulus, saling menghormati, dan kita selalu komunikasi dengan terbuka kan? Tidak seperti yang ada di mimpi kamu tadi, kita tidak pernah menyembunyikan apa-apa dan selalu saling mendukung satu sama lain,” ucap Khem dengan nada yang menenangkan, mencium bagian atas kepala Murni.

“Tapi bagaimana dengan orang tua kita, Sayang? Aku takut mereka tidak akan setuju kalau kita mau melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius nanti,” kata Murni sambil mengangkat wajahnya dari pelukan Khem, mata masih berkaca-kaca.

“Aku sudah punya rencana, Murn. Bulan depan aku mau datang ke rumah kamu dan langsung bertemu dengan orang tua kamu. Aku akan menunjukkan bahwa aku adalah orang yang bisa dipercaya dan benar-benar mencintai kamu. Aku tidak akan pernah memaksakan apa-apa, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan restu mereka. Karena aku tahu, cinta yang didukung oleh restu orang tua akan lebih bahagia dan langgeng,” jelas Khem dengan tatapan mata yang tegas dan penuh keyakinan, membuat hati Murni semakin tenang.

Mendengar kata-kata itu, senyum kembali muncul di wajah Murni. Dia mengangguk perlahan dan mulai bercerita tentang rencana kuliahnya yang akan masuk semester akhir, serta impiannya untuk bisa bekerja di perusahaan yang fokus pada pengelolaan lingkungan hidup – sesuatu yang juga menjadi minat Khem yang sedang menempuh studi teknik lingkungan.

Saat mereka berbicara sambil tertawa dan saling berbagi cerita, kamar kecil itu yang tadinya terasa menyempit karena bayangan mimpi buruk kini kembali terasa seperti tempat yang paling nyaman dan aman di dunia. Suara kota yang sibuk di luar kamar tidak lagi terdengar seperti celaan, melainkan seperti irama kehidupan yang menunjukkan bahwa dunia terus berjalan dan ada banyak hal indah yang bisa mereka raih bersama.

Kemudian Khem mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya, membuat Murni sedikit penasaran. “Aku punya sesuatu untuk kamu, Sayang… bukan sesuatu yang mahal banget, tapi aku harap kamu suka,” ucap Khem dengan sedikit ragu sebelum membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah gelang tali kulit dengan liontin bentuk bunga mawar kecil yang terbuat dari perak.

“Kamu tahu kan, bunga mawar merah adalah simbol cinta yang abadi. Aku mau kamu pakai gelang ini sebagai pengingat bahwa cinta aku untukmu tidak akan pernah berubah, tidak peduli ada apa saja di depan kita. Kita akan menghadapinya bersama-sama,” jelas Khem sambil memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Murni dengan hati-hati. Murni melihat gelang itu dengan mata penuh cinta, segera menarik Khem untuk mencium bibirnya dengan lembut.

“Terima kasih banyak, Sayang… aku akan selalu pakainya ini. Aku juga cinta kamu selamanya,” ucapnya dengan penuh emosi, pelukan mereka semakin erat.

Saat matahari mulai bergeser dan memberikan warna jingga yang indah melalui jendela kamar, mereka tetap duduk bersebelahan, berbagi cerita dan mimpi masa depan yang ingin mereka wujudkan bersama. Mimpi buruk yang datang di siang bolong ternyata menjadi kesempatan bagi mereka untuk lebih terbuka satu sama lain, memperkuat ikatan cinta yang sudah mereka bangun dengan susah payah. Mereka menyadari bahwa tidak ada hubungan yang sempurna dan pasti akan ada rintangan di depan mereka, tapi dengan cinta yang kuat, kesetiaan yang tidak goyah, dan komunikasi yang terbuka – mereka yakin bisa menghadapi segala sesuatu dengan baik.

“Aku punya ide nih, Sayang… besok kita pergi ke kebun binatang aja yuk? Kita bisa jalan-jalan santai dan melihat kelinci-kelinci yang kamu suka banget. Kalau bisa kita juga makan es krim setelahnya,” ajak Khem dengan senyum ceria, melihat wajah Murni yang sudah kembali bersinar penuh keceriaan.

“Ya dong! Aku sudah lama ngga ke kebun binatang lagi. Bisa juga kita foto-foto banyak ya, biar ada kenang-kenangan baru,” jawab Murni dengan suara yang ceria, sudah tidak ada kesan lagi dari mimpi buruk yang pernah mengganggunya.

Mereka terus berbicara dan merencanakan kegiatan mereka untuk hari esok, suara tawa dan candaan mereka memenuhi kamar kecil itu. Di luar, kota masih terus bergerak seperti mesin yang tidak pernah berhenti, dengan ombak godaan dan rintangan yang tetap ada seperti ombak yang menghantam pantai. Tapi bagi Murni dan Khem, mereka sudah siap menghadapinya semua – karena mereka tahu bahwa di dalam hati masing-masing, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase tenang di tengah gurun luas, sebuah kedamaian yang diraih dengan cinta yang tulus dan kesetiaan yang tidak akan pernah goyah.

 

...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!