Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Calon Ayah Dari Bayi Melitha
Kriswanto menengadahkan wajahnya, ada rasa ragu menyelinap dihatinya, tapi disatu sisi harga diri keluarganya lebih berharga dari apapun.
"Celo telah menghamili adik saya, -- Nana -- dan usia kandungannya sudah lima bulan..." pelan Kriswanto, ada bersit amarah pada kalimat yang terucap dari mulutnya.
Pandangan Bu Harun langsung berkunang-kunang mendengarnya, Pandji dengan sigap menangkap tubuh ibunya yang terhuyung, hampir terjerembap menghantam sofa.
"Tolong, maafkan saya, pak Pandji... Bu... Kami terpaksa melakukannya karena Celo tidak mau bertanggung jawab pada Nana," Kriswanto masih bersujud di hadapan keduanya, semakin merasa bersalah melihat kondisi ibu dari atasannya itu.
"Ibu, kita ke rumah sakit sekarang," Pandji membaringkan tubuh ibunya di sofa lalu meraih ponselnya.
"Tidak," tangan lemah bu Harun menghalangi layar ponsel Pandji agar putranya itu tidak menghubungi ambulan seperti biasanya. "Ibu tidak apa-apa..." sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Saya akan menarik laporannya besok pagi," janji Kriswanto, kembali berbicara.
"Tidak perlu ditarik laporannya, pak Kris. Celo pantas mendapatkan ganjarannya," tegas bu Harun dengan suara lemahnya.
"Justru kami yang harusnya minta maaf, kami merasa sangat malu atas apa yang dilakukan Celo pada adiknya, pak Kris...."
Pandji memandangi wajah ibunya, ada gurat kekecewaan di sana, hatinya terasa berat melihat ibunya seperti itu.
...***...
Pasca kedatangan Kriswanto semalam ke kediaman mereka, Pandji sengaja menginap karena sakit ibunya kembali kambuh.
Pagi itu, bel rumah terus berbunyi memanggil. Pandji buru-buru membukakan pintu, menemukan seorang kurir menyodorkan sepucuk surat begitu melihat dirinya muncul di depan pintu. "Dari Kapolsek, Mas."
Pandji menerimanya, membaca sebentar pada sampul yang memang ditujukan untuk Celo sebagai surat panggilan. Tak merasa kaget, karena sudah tahu itu pasti tindak lanjut pihak berwajib atas pelaporan yang dilakukan oleh Kriswanto.
"Terima kasih, Mas," Pandji tersenyum seraya menandatangai lembaran yang disodorkan kurir sebagai bukti terima.
"Sama-sama, Mas. Saya pamit," ujar si kurir balas tersenyum, bergegas pergi untuk melanjutkan tugasnya.
"Anak itu, jam segini belum juga bangun," Pandji bergumam. Langkahnya cepat menaiki tangga menuju kamar Celo.
Tok! Tok! Tok!
"Bangun, Celo!" panggil Pandji, tapi tidak ada sahutan.
"Celo, Mas dobrak ya pintunya, biar kamu nggak punya pintu!" ancam Pandji, pagi ini dirinya tidak punya stok kesabaran yang cukup untuk adiknya itu, sebab buru-buru ingin mengantarkan ibunya ke rumah sakit.
"Ugh! Tunggu, Mas!" terdengar erangan dan keluhan berat dari dalam.
Celo memang tidak berani lalai bila kakaknya sudah berucap demikian. Hampir setahun kamarnya pernah tak punya pintu ketika SMU dulu, satu kali tendangan sang kakak menghantam, pintu kamarnya jebol dan terpelanting hampir menghantam tubuhnya di kasur kala itu gara-gara menolak membuka pintu kamarnya.
Klek-klek.
Pandji menatap wajah adiknya yang nampak pucat di depan pintu. "Kamu kenapa?"
"Sakit, Mas..." sahut Celo singkat.
Mendengarnya, punggung tangan Pandji langsung terangkat dan menempel di dahi Celo. Semalam adiknya itu memang pulang larut malam saat dirinya sibuk mengurus ibu mereka yang sakit.
"Hangat," gumam Pandji pelan tidak lupa memeriksa area tubuh Celo yang lain.
"Kamu masih bisa ke kantor polisi. Bersiaplah cepat, Mas sendiri yang akan mengantarkanmu kesana sekalian membawa Ibu ke rumah sakit," Pandji menaruh surat yang ia terima dari kurir ke tangan Celo.
Pemuda itu kaget melihat namanya tercetak lengkap di sampul surat panggilan, buru-buru membuka dan membaca isinya.
"Mas, tolong aku..." panik Celo begitu mengetahui isinya, area sensitifnya semakin berdenyut ngilu.
"Mas tidak bisa bantu, Celo. Kamu harus mempertanggung jawabkannya sendiri," sahut Pandji. "Selama ini, Mas dan Ibu sudah cukup menasehatimu mulai dari cara lembut hingga keras, tapi kamu terus saja bandel."
"Tapi aku benar-benar sakit, Mas.... Bukankah aturannya orang sakit boleh mangkir dari panggilan?" Celo.
"Kamu?" Pandji jadi gemas mendengar argumen adiknya. "Alasan sakit pun, harus ada keterangan resmi dari dokter! Ayo, bersiap... Jika sakit, Mas sekalian bawa kamu periksa ke dokter, jadi kamu tidak punya alasan lagi!"
"Tapi, Mas--" Celo tetap bersikeras hendak menolak.
"Apa lagi?!" Pandji melotot, tak mau mendengar alasan apapun lagi, segera menyambar tangan Celo untuk menarik dan menyeretnya paksa.
Merasa tak ada pilihan lain, Celo yang lebih takut berhadapan dengan polisi mengesampingkan rasa malunya, melorotkan celana piyamanya "Ini yang sakit, Mas!"
Pandji berhenti melakukan aksi paksanya, tenaganya seketika mengendor kala netranya menangkap penampakan aset berharga adiknya diantara rimbunan rambut gondrong yang kusut, nampak lebam dan membengkak.
...***...
Di sekolahnya, Melitha mengintip dengan hati penuh debar, mengawasi langkah Pandji di kejauhan yang di arahkan oleh seorang security menuju ruang kepala sekolah. "Ternyata mas Pandji beneran datang...." gumamnya dalam hati.
"Woi! Liat cowok macho aja langsung jelalatan!" Teriak suara cempreng ketua kelas.
Melitha terlonjak kaget, spontan berbalik badan mendapatkan semua teman-teman perempuannya juga melakukan hal yang sama dari balik jendela kaca kelas mereka.
"Itu cowok udah mapan, udah om-om, mana main sama cewek ingusan macam kalian, lulus aja belom!" sarkas ketua kelas itu lagi, membuat cowok seisi kelas tertawa ngakak mendengarnya.
Wajah Melitha merona, andai saja teman-temannya tahu? Bisa-bisa dirinya jadi bahan bullyan, batinnya.
"Ayo, kumpulin tugas kalian, Bentar lagi pulang!" sambil mengambil paksa satu persatu buku-buku tugas teman-temannya dari atas meja mereka masing-masing.
Sementara itu, Harjanto yang telah diberitahu oleh security lewat telepon langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Pandji muncul di depan pintu ruang kerjanya. Sama sekali tidak menduga bila Melitha akan secepat itu menghadirkan seorang Komandan Korem yang diakuinya sebagai sepupu.
"Selamat siang, pak Pandji," sambutnya ramah seraya mengulurkan tangan lebih dulu. "Suatu kehormatan bagi saya bisa dikunjungi secara pribadi oleh seorang Komandan Korem."
Pandji tersenyum mendengarnya.
"Sepertinya itu terlalu berlebihan, saya datang kemari bukan membawa jabatan itu, saya datang karena Melitha, pak Kepala Sekolah," ujarnya, lalu mendudukan diri pada kursi yang dipersilahkan setelah selesai berjabat tangan.
"Maaf, saya langsung saja ya, Pak. Khawatir mengganggu kesibukan Bapak sebagai Kepala Sekolah." Pandji menyodorkan berkas yang ia bawa.
Harjanto berdebar menatap berkas yang disodorkan, bila Melitha benar ketahuan meretas, tentu dirinya dan nama sekolah juga pasti terbawa-bawa.
"Ini data sekolah paket C yang akan dituju oleh Melitha." lanjut Pandji berucap. 'Kondisinya sekarang tidak memungkinkannya terus bersekolah disini, jadi surat pindahnya bisa ditujukan ke alamat yang tertera di dalam berkas ini."
Harjanto langsung merasa lega, ternyata Pandji datang bukan untuk membahas hal.yang sempat ia cemaskan beberapa hari ini.
Ia mengangguk mengerti akan kondisi Melitha yang dimaksud oleh tamunya itu. Cepat atau lambat ia tahu bila Melitha, salah satu murid terbaiknya akan pergi tanpa mendapatkan ijazah dari sekolah yang ia pimpin.
"Biasanya pak Harry yang datang sebagai walinya..." ucap Harjanto sedikit heran.
"Ya, beliau sangat sibuk, Pak. Sebagai calon suaminya, saya yang akan menjadi walinya."
"Calon su-a-mi?" Harjanto terbelalak, tanpa sadar menegakan tubuhnya yang tadinya bersandar di kursi. "Bukannya Melitha mengaku bila Anda adalah kakak sepupunya?"
"Dua-duanya, Pak," sahut Pandji tak terlalu ambil pusing pada apa yang difikirkan oleh kepala sekolah Melitha itu.
"Jadi pak Pandji ini... adalah ayah dari ba-yi Melitha?" tanya Harjanto sedikit menggali.
"Iya, saya calon ayahnya, Pak," jawab Pandji, tahu kemana arah fikiran sang kepala sekolah, terlebih saat pandangan pria itu akhirnya jatuh ke selangkangannya.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.