"Gue ga nyangka lo sanggup nyelesain 2 tantangan dari kita" Ardi menepuk pundak Daniel
"Gue penasaran gimana caranya si culun Rara bisa jatuh cinta sama lo?" Tanya David.
Daniel kemudian mendekati David dan berkata "lo harus pintar - pintar ngerayu bro.. bahkan gue ga nyangka kalo bisa dapat perawannya dia" dengan bangganya Daniel berkata demikian kepada para sahabatnya.
Eric yang duduk di atas meja langsung berdiri "gila! Yang bener lo bro! Lo ga bohongin kita kan?" David dan Ardi hanya melongo menatap Daniel tak percaya
"Emang selama ini gue pernah bohong apa" ucap Daniel menyakinkan mereka.
Ardi melemparkan kunci mobilnya ke meja David "karena lo menang taruhan, mulai sekarang mobil gue jadi hak milik lo. Surat-suratnya semua ada di dalam mobil" Ucap Ardi menambahkan.
Tanpa mereka sadari, Rara yang mendengarnya, tak kuasa menahan laju air matanya. Hatinya begitu sakit mengetahui bahwa dirinya hanya di jadikan taruhan. Kehamilannya di jadikan taruhan. Pandangan Rara mulai kabur, dan semakin lama semakin gelap. Hingga ia jatuh tak sadarkan diri
Baaaaaaappp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LidyaMin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pernikahan
Sampai di apartemen Rara segera membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi Rara duduk di depan meja riasnya. Saat akan menyapukan pembersih wajahnya, dia teringat dengan ucapan bu Halimah tadi.
"Kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak berani memulai. Ibu yakin semuanya akan baik-baik saja ketika kamu berani berkata YA. Ingat anak-anak kamu butuh seorang ayah yang selalu ada buat mereka. Mereka butuh kasih sayang ayah mereka. Kasih sayang seorang ibu tidak akan cukup tanpa ayah untuk melengkapinya."
Rara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. "Sepertinya aku memang tidak boleh egois. Si kembar butuh Daniel" Gumam Rara.
Pintu kamar terbuka dan muncul lah Daniel dengan raut mukanya yang selalu memberikan senyum tulusnya untuk Rara. Dia memeluk Rara dari belakang dan memandang wajah mereka berdua di cermin. Daniel mencium puncak kepala Rara.
"Kamu wangi banget. Aku suka."
Rara membalas ucapan Daniel dengan senyuman. Rara menatap wajah Daniel di cermin. Dia menyentuh lengan Daniel yang memeluknya.
"Dan, apa kamu bersungguh-sungguh akan memberi kebahagiaan untuk ku dan anak-anak?"
Daniel membalas tatapan Rara dan menaruh dagunya di atas kepala Rara.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku. Aku gak mau kehilangan kalian lagi. Aku akan membahagiakan kalian dengan cara ku. Sekalipun itu nyawaku, aku akan melindungi kalian dengan cara apapun."
Rara tidak bisa menahan air matanya yang jatuh saat mendengar ketulusan Daniel mencintai dirinya. Daniel membalik tubuh Rara agar berhadapan dengannya. Dia mengusap air mata di pipi Rara.
"Hei, sayang kenapa nangis?"
Rara memeluk Daniel. "Terimakasih karena sudah mencintai ku dan memilih ku."
Daniel melepas pelukan Rara perlahan dan menangkup wajah Rara dengan kedua tangannya. "Aku sangat mencintai mu dan aku melakukan apapun asal kamu tetap di sisiku. Kamu dan anak-anak adalah hidup ku, nyawa ku."
"Aku percaya padamu." Ujar Rara dan mengecup bibir Daniel sekilas.
Perbuatan Rara tadi membuat Daniel terdiam sesaat. Dia tidak percaya Rara berani menciumnya lebih dulu. Karena selama ini dia yang selalu bersikap mesra pada Rara.
"Aku mau menikah denganmu." Ujar Rara malu-malu.
Daniel membulatkan matanya sempurna. "Aku gak salah dengar kan?" Rara mengangguk.
"Kamu sungguh-sungguh kan?" Rara kembali mengangguk.
"Kamu mau menikah denganku?" Dengan semangat Rara mengangguk lagi.
Daniel berteriak gembira dan melompat kegirangan. "Aku mencintai kamu Rara Anstasia." Seru Daniel kegirangan dan membawa Rara ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang." Berkali-kali Daniel mencium puncak kepala Rara karena bahagia.
"Sekarang kamu mandi. Aku gak mau di peluk kalau kamu belum mandi." Rara mendorong Daniel ke kamar mandi.
"Baiklah Nyonya Daniel Mahendra. Apapun untuk mu sayang." Daniel mencolek hidung Rara dan membuat tanda cinta dengan kedua tangannya. Rara tertawa geli melihat tingkah konyol Daniel.
Rara memandang dirinya kembali di cermin dan tersenyum pada dirinya sendiri. "Aku yakin keputusan yang ku ambil sudah benar." Batin Rara.
Selesai mandi dan memakai piyamanya Daniel ikut berbaring di samping Rara. Dia merengkuh Rara ke dalam pelukan, membelai lembut rambut Rara.
"Besok kita memberitahukan kabar bahagia ini untuk mami dan papi. Sekalian jemput si kembar dan mengajak mereka jalan-jalan." Ujar Daniel.
"Hemm."
"Sayang, tadi Asti bilang apa aja ke kamu?"
"Dia ngancam aku kalau dekat sama kamu."
"Kamu gak usah kuatir. Aku gak akan biarin dia melakukannya."
"Aku percaya sama kamu."
"Baiklah. Sekarang kita tidur." Daniel semakin mempererat pelukannya.
***
Daniel dan Rara saat ini sedang berada di rumah utama. Mereka berencana menjemput si kembar yang menginap semalam. Senyum terus mengembang di wajah Daniel seperti tidak akan hilang. Dia merasa begitu bahagia karena semalam Rara mengatakan mau menikah dengannya. Inilah yang sudah lama di nantikannya.
"Ayah, Bunda!"
Ketika melihat kedua orang tuanya, si kembar menghambur ke dalam pelukan mereka. Rara memberikan kecupan pada kedua anaknya dan menggandeng Ria. Sedangkan Rio berada dalam gendongan ayahnya.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Tuan Arnold sedang menikmati tehnya sambil membaca koran. Sedang Nyonya Maria duduk di sebelah suaminya sambil mengawasi si kembar saat bermain tadi. Daniel dan Rara menyalami papi mami mereka.
"Gimana acara semalam lancar?" Tanya Tuan Arnold.
"Lancar Pi." Jawab Daniel.
"Mami lihat kamu senyum terus dari sejak masuk tadi. Apa ada hal yang menyenangkan?" Goda Nyonya Maria sehingga membuat Daniel tersipu malu.
"Iya Mi. Sangat menyenangkan dan membahagiakan buat Daniel." Ujar Daniel sambil menggenggam tangan Rara yang duduk di sampingnya.
Kalau si kembar jangan di tanya lagi, sudah pasti sibuk dengan mainan mereka masing-masing. Keberadaan si kembar adalah pekerjaan sibuk bagi para pelayan yang di tugaskan untuk mengawasi mereka. Karena mereka takut akan di pecat apabila terjadi sesuatu pada si kembar. Jadi mereka harus ekstra hati-hati untuk menjaga si kembar. Tidak boleh luput dari pandangan mereka ketika si kembar tidak bersama dengan oma dan opa nya.
"Daniel dan Rara memutuskan segera menikah dalam waktu dekat." Ucap Daniel dengan bahagia.
"Benarkah? Syukurlah. Mami turut berbahagia untuk kalian." Ucap Mami Daniel dengan berbinar-binar karena ikut merasakan kebahagiaan putranya.
"Mau konsep seperti apa? Nanti biar Papi yang urus." Tuan Arnold ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Rara ingin yang sederhana saja Pi. Kalau boleh yang hadir saat ijab kabul hanya sahabat dan keluarga dekat saja. Karena mengingat publik banyak yang sudah mengetahui kalau kami sudah menikah. Untuk resepsi Rara serahkan semua dengan mami dan papi saja." Rara mengungkapkan keinginannya pada orang tua Daniel.
Dia tidak ingin publik di luar sana heboh kalau mengetahui ternyata sesungguhnya mereka belum menikah. Untuk menghindari itu semua, maka Rara meminta untuk pernikahan mereka di adakan secara tertutup saja.
Tuan Arnold yang mendengar hal itu menganggukkan kepalanya, melipat korannya dan meletakkannya di atas meja.
"Baiklah. Papi setuju jika itu yang kamu minta. Kita akan lakukan secara tertutup dengan di saksikan beberapa orang saja. Asalkan kalian sudah sah menjadi suami isteri. Untuk resepsi nanti biar mami saja yang mengurusnya. Bagaimana Mi?" Tuan Arnold menoleh pada isterinya.
"Serahkan semua pada mami. Mami akan lakukan yang terbaik untuk kalian." Senyum sumringah mengembang di wajah Nyonya Mahendra. Akhirnya yang di nantikan akan tiba juga. Dia tidak akan khawatir lagi dengan status putranya.
"Kalian tentukan saja tanggal pernikahannya, nanti Papi yang akan mempersiapkannya. Kita akan adakan di rumah ini saja untuk ijab kabulnya." Ujar Tuan Arnold.
"Iya Pi." Jawab Daniel.
Suasana rumah utama menjadi ramai karena keberadaan si kembar. Daniel menemani anak-anaknya bermain bahkan rela menjadi kuda untuk Ria. Raut wajah kebahagiaan terpancar dari si kembar kala bermain bersama dengan ayah mereka. Rara yang memperhatikan interaksi mereka hanya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan anak-anaknya.
"Terimakasih sudah mau menerima putra mami." Rara menoleh ke samping saat mendengar Nyonya Maria berbicara dan ikut berdiri di sampingnya. Bahkan dia tidak menyadari kapan calon ibu mertuanya ini ada di sampingnya.
"Rara yang harusnya berterimakasih pada mami dan juga papi yang mau menerima keadaan Rara yang jauh dari yang di harapkan." Ujar Rara merendah.
Nyonya Maria menarik tangan kiri Rara dan mengelus lembut punggung tangan Rara dan menatap Rara dengan sorot mata yang memberikan keteduhan di hati Rara.
"Kami tidak pernah mengharapkan menantu kami harus berasal dari keluarga kaya raya. Tapi yang kami harapkan adalah menantu kami bisa memberikan kebahagiaan bagi putra kami. Tentu saja dia harus memiliki sikap dan hati yang baik. Dan kami menemukan itu semua ada di dalam dirimu. Jadi jangan pernah menganggap kalau kamu tidak pantas menjadi menantu keluarga Mahendra. Kamu sangat pantas. Mami sangat menyayangimu."
Rara tersentuh mendengar perkataan Mami Daniel. Dia memeluk wanita paruh baya itu dan memberikan kecupan di pipinya.
"Terimakasih Mi. Rara juga menyayangi mami dan juga papi."
Mami Daniel membalas pelukan Rara dan tersenyum lembut padanya. "Sekarang lebih baik kita memasak untuk makan siang. Mami yakin cucu-cucu mami sudah kelaparan." Ucapnya sambil tertawa ringan.
Rara juga terkekeh kala mengingat Ria selalu berkata 'ade lapar' saat dia sudah merasa kelaparan. Rara beranjak dari tempatnya dan menyusul calon ibu mertuanya untuk membantu di dapur.
Setelah makan siang, Daniel dan Rara pamit untuk pulang. Mereka menghabiskan hari ini dengan mengajak si kembar jalan-jalan dan bermain di mall. Semua permainan yang ada di time zone di coba oleh si kembar dan di turuti oleh Daniel. Sedangkan Rara hanya mengikuti mereka bertiga dari belakang. Rara memilih duduk di tempat yang sudah di sediakan bagi pengunjung. Kakinya merasa lelah karena harus kesana kemari mengikuti kemauan ayah dan si kembar.
"Kamu lelah?" Rara mendongakkan kepalanya mengangguk.
"Kamu sama anak-anak gak ada lelahnya sama sekali. Aku capek tau." Muka Rara yang cemberut membuat Daniel gemas ingin mencubit pipinya.
"Aduh lutuna calon isteriku." Ucap Daniel sambil mencubit kedua pipi Rara gemas.
"Iiisssssshhh. Malu di lihat orang." Rara melepaskan tangan Daniel dari wajahnya. Daniel hanya terkekeh.
"Daniel, Rara."
Sontak Daniel dan Rara menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama mereka. Tenyata orang itu adalah Rosa.
"Kalian ngapain di sini?"
"Ayah, bunda. Ade haus."