Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
“Kalian mau merobohkan rumahku? Silakan, langkahi dulu mayatku!”
“Kalian ini sekelompok preman dan perampok! Rumah ini warisan leluhur keluarga kami. Ada sertifikat resmi, hitam di atas putih dengan buku merah sebagai bukti. Atas dasar apa kalian memberi ganti rugi sekecil itu?”
“Kami tidak akan tanda tangan! Kami tidak akan menandatangani apa pun! Kalau kalian berani membongkar, aku… aku akan meledakkan kalian!”
“Bibi, Paman….”
Setelah turun di Stasiun Anggrek, Calvin menginap semalam di sebuah penginapan kecil dekat stasiun. Pagi-pagi keesokan harinya, ia langsung menuju rumah bibinya. Namun, baru tiba di depan rumah, ia mendapati suasana kacau balau.
Banyak orang berkerumun di sana. Bibinya duduk terpuruk di tanah, pamannya memeluk tabung gas dengan wajah putus asa, sementara sepupunya berdiri menangis kebingungan. Di hadapan mereka, sekelompok pekerja pembongkaran berhadapan langsung dengan keluarga itu. Di samping mereka, sebuah ekskavator terparkir dan warga sekitar berdiri menonton.
Apakah ini… pembongkaran paksa?
Hati Calvin langsung menegang, alisnya berkerut. Bibinya bernama Anita Arson, beberapa tahun lebih tua dari ayahnya. Anita sering diam-diam membantu Calvin dan adiknya di masa sulit. Karena itu, Calvin selalu sangat berterima kasih kepadanya.
“Bajingan pincang, mau menakut-nakuti siapa? Meledakkan kami? Ayo kalau berani, sialan!” beberapa orang dari tim pembongkaran tampak sangat temperamental; wajah mereka penuh aura ganas.
Saat itu, seorang pria gemuk berwajah bulat menjepit tas kulit di ketiaknya dan berkata, “Doni, Mike, kita ini orang beradab. Jangan bicara seperti itu. Menurutku keluarga ini hanya terlalu emosional. Begini saja, ajak mereka ke kantor kita, kita bicarakan pelan-pelan.” Sambil berbicara, pria gemuk itu memberi isyarat mata. Beberapa orang langsung maju dan menarik paksa keluarga Anita Arson.
“Ah! Kalian manusia terkutuk! Jangan tarik aku!” Dalam pergumulan itu, Anita Arson didorong keras hingga terhuyung mundur.
Pada saat itu, sosok seseorang melintas cepat. Sebuah tangan menopang tubuh Anita Arson dengan mantap. “Bibi, apakah Bibi tidak apa-apa?”
Itu adalah Calvin.
“Cal… Calvin? Kenapa kau ada di sini?” Anita Arson sangat terkejut. Namun, sebelum Calvin sempat menjawab, pria yang wajahnya tak sengaja tercakar oleh Anita tadi langsung mengamuk.
“Sialan! Berani-beraninya kau mencakar wajahku! Akan kupukul kau sampai mati!” Pria itu mengangkat kaki dan menendang ke arah perut Anita Arson dengan penuh tenaga. Tatapan Calvin langsung membeku. Ia pun menendang balik.
Duk!
Pria itu terlempar ke udara, berputar setengah lingkaran, lalu jatuh menghantam tanah dengan keras hingga dua gigi depannya rontok. Rekan-rekannya langsung meledak marah dan menyerbu Calvin secara bersamaan.
Namun hasilnya... Plak! Plak! Plak! Plak!
Wajah Calvin tetap tenang, matami dingin menusuk. Ia baru saja membunuh orang tempo hari; perkelahian semacam ini sama sekali tidak membuatnya ragu. Beberapa tamparan keras langsung menjatuhkan sekelompok preman itu ke tanah.
“Bibi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Calvin. Ternyata, kawasan ini akan dibangun apartemen. Masalahnya, nilai ganti rugi yang ditawarkan pengembang kepada Anita jauh lebih rendah dibandingkan tetangga lainnya.
“Kau mau lari ke mana?” Calvin berteriak ke arah pria gemuk bermata kecil yang hendak kabur. Secepat apa pun ia berlari, ia tak bisa menandingi Teknik Angin Kilat milik Calvin. Dalam dua tarikan napas, kerah bajunya sudah dicengkeram dari belakang.
“Bukankah tadi kau bilang ingin membicarakannya baik-baik? Baik. Kita ngobrol pelan-pelan di sana.” Calvin menyeretnya ke sudut.
“Calvin, jangan buat masalah! Jangan macam-macam!” Yang berbicara adalah putri Anita Arson, Susan. Hubungan Calvin dengan sepupunya ini tidak terlalu dekat; Susan cenderung bersikap dingin karena menganggap Calvin hanya akan membebani ibunya.
“Tenang saja,” jawab Calvin dengan senyum penuh keyakinan. Susan tertegun; ia merasa sepupunya ini berbeda dari biasanya.
Di sudut, Calvin mendorong pria gemuk itu hingga jatuh. “Kau yang bertanggung jawab di sini, kan? Jelaskan soal selisih ganti rugi ini.”
“A-aku cuma… cuma suruhan, Kak. Soal selisih harga, aku tidak bisa memutuskan,” jawab pria itu gemetar. Baru selesai bicara, ponselnya berdering menampilkan nama ‘Direktur Erick’.
“Angkat,” perintah Calvin.
“Halo, Tayson. Urusan pembongkaran sudah beres? Jangan sampai ada masalah rumah yang menolak dibongkar, mengerti?” suara di telepon itu terdengar. “Selesaikan sebelum jam dua belas siang.”
Calvin mengalirkan energi spiritual ke telinganya dan mendengar semuanya. Ia langsung paham bahwa Tayson sengaja menekan harga untuk dikantongi sendiri. Calvin merampas tas Tayson dan menemukan dua kontrak: satu senilai lima juta per meter, satu lagi tujuh juta per meter. Padahal, kepada Anita, ia hanya menawarkan satu setengah juta.
“Tayson, aku mendengar seluruh pembicaraan teleponmu. Kalau kau tidak memberi harga yang memuaskan, jangan harap bisa menyentuh satu batu bata pun dari rumah bibiku. Mungkin kau tidak mengenalku, tapi percayalah, mencarimu itu sangat mudah bagi seorang kultivator.”
Saat ia berbicara, terdengar teriakan panik dari belakang. Suara Anita Arson terdengar paling keras: “Calvin, cepat lari! Bala bantuan mereka sudah datang!”