Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sial! 12
Tak
Cekleek
Haaaah
Masuk ke rumah dengan membawa perasaan tidak karuan. Bestari mengambil mokapot (sejenis alat untuk membuat kopi). Mengisinya dengan air pada bagian bawahnya, lalu dibagian tengah diisi dengan kopi. Setelah siap, ia menyalakan api sedang dan menunggu kopi itu terekstrak.
Sambil menunggu, Bestari menghembuskan nafasnya dengan kasar. Nanta yang masih mengejarnya itu membuat dirinya jengah.
"Kalau emang cinta, kenapa khianat. Nggak tanggung-tanggung lagi, kamu sampai begituan sama cewek lain,"gumam Bestari lirih.
Jika mengingat waktu itu, dia sangat merasa sakit hati.
Hari itu adalah hari ulang tahun Nanta. Bestari yang masih dalam jam kerja bahkan meminta izin untuk keluar sejenak kepada atasannya. Sungguh sebuah effort yang luar biasa.
Bestari sudah menyiapkan kue ulang tahun untuk Nanta. Dengan langkah yang riang, gadis itu datang ke kantor Nanta untuk memberi kejutan.
"Eh, orang yang di sini dimana ya?" ucap Bestari ketika dia tidak menemukan sekertaris Nanta yang biasa ada di depan ruangan kekasihnya itu.
Tak pernah berpikir aneh-aneh, Bestari dengan percaya diri memegang handle pintu. Namun sebelum menekan untuk membukanya, dia mendengar suara yang membuat tubuhnya merinding tidak karuan.
"Ughhh lebih cepat lagi, Pak. Aaah ya di situ enak sekali."
"Ck, kamu ini. Coba kamu lihat wajahmu itu. Tapi aku suka sih, kamu kelihatan menikmatinya. Bersiaplah, aku akan ngelakuinnya lebih cepat lagi Ueughhh."
"Aaaah ya Pak, lebih cepat lagi. Ini sungguh enak sekali eughhhh."
Tubuh Bestari bergetar hebat. Tangannya juga gemetaran, dan dadanya terasa sangat sesak.
Dia tidak bodoh, suara-suara yang baru saja ia dengar itu jelas merupakan suara dua orang yang tengah bercinta. Mereka tengah mengerangg dan mendesahh dengan begitu senangnya. Dan Bestari sangat yakin, pemilik suara itu adalah nanta dan sekretarisnya.
Cekleel
"Selamat ulang tahun, bajingann."
Sreeet
Plaak
Dengan kekuatan penuh, Bestari melempar kue yang ada ditangannya tepat ke arah mereka berdua.
Suara pintu yang dibuka saja sudah membuat mereka terkejut, apalagi ketika kue itu mendarat pada tubuh mereka, tambah membuat mereka terkejut lagi.
"Best tunggu!" pekik Nanta.
Aaaahh
Si sekretaris berteriak, bukan karena nikmat tapi lebih ke sakit karena Nanta menarik paksa miliknya. Ya mereka melakukan itu di atas meja kerja dan sungguh pemandangan yang menjijikkan bagi mata Bestari.
"Best tunggu, aku bisa jelasin," teriak Nanta lagi tapi Bestari tidak peduli. Dan Nanta juga tidak bisa mengejar Bestari karena wajah dan tubuhnya yang terkena kue itu.
"Dasar bajingann!" pekik Bestari ketika dia mengingat kejadian itu.
Ia lalu menyeruput kopi yang sudah jadi dan sudah dipindahkan dari mokapot ke cangkir. Rasa pahit dari kopi robusta yang baru saja dia seduh itu benar-benar nikmat. Seolah bisa menyamarkan rasa pahit dari pengalaman hidupnya tentang membina sebuah hubungan.
"Best," suara Dewa yang baru saja terdengar membuat Bestari bergegas untuk keluar dari dapur.
"Ya Pak, kenapa?" tanya Bestari. Tumben sekali wajah ayahnya nampak kusut begitu.
"Soal cowok itu, dia itu mantan pacar kamu atau masih jadi pacar kamu? Bapak selama ini cuma diem aja karena bapak pikir kamu bakalan jelasin ke bapak,"tanya Dewa. Ternyata dia menanyakan perihal Nanta.
"Mantan Pak, mantan nggak guna. Jadi besok-besok kalau dia datang, usir aja. Males banget lihatin wajah itu orang,"sahut Bestari cepat tanpa berpikir.
"Ya udah kalau gitu. Bapak kan jadi ngerti harus ngapain kalau dia datang. Soalnya tadi bapak ketemu sama Lina. Terus dia tanya, apa bener kamu mau nikah. Lah bapak kan syok ya dapet pertanyaan kayak gitu,"ujar Dewa.
"Waah si brengsek itu. Sialan emang, kayaknya dia nyebar gosip nggak bener. Emang kudu dikasih pelajaran lebih itu orang, biar kapok,"tukas Bestari sambil mengepalkan tangannya.
Dewa hanya terkekeh geli melihat kelakuan putrinya tersebut. Dia sudah khawatir saja kalau-kalau Bestari terlarut dengan perasaannya.
Meski anak itu tidak menceritakan sepenuhnya terhadap apa yang terjadi pada dirinya, tapi Dewa tahu bahwa Bestari sangat kecewa dengan pria itu. Hanya dengan melihat ekspresi wajah sang anak, dan juga tatapan matanya, Dewa sudah sepenuhnya paham.
Tapi agaknya Dewa tidak pelu risau, karena Bestari bisa menghadapinya dengan sangat baik.
Setelah hari itu, Nanta tidak muncul. Agaknya pria itu sudah kembali ke kota tanpa pemberitahuan. Dan Bestari sama sekali tidak peduli.
"Huaaaah, pagi yang cerah meski dingin. Ini tumbenan kabut masih tebel amat. Tapi nggak masalah, kabut bukan halangan buat aku ketemu sama Om Dud dan anak-anak,"ucap gadis itu dengan seringai di bibirnya.
Dengan dalih membawa makanan yang dibuat kebanyakan, Bestari akan mengunjungi rumah Rohan meskipun masih pagi.
"Selamat pagi Riesha dan Rishi. Waah kalian udah mandi rupanya,"ucap Bestari saat dirinya sudah sampai di rumah Rohan. Pintu rumah pria itu terbuka sehingga dia bisa menyapa kedua anak yang lucu itu dengan mudah.
"Kak Cantik, silakan masuk,"ucap Rishi dengan senyumannya yang lebar.
"Terimakasih, mana ayah kalian? Ah ini, tadi kakak bikin kukis dan juga kue. Apa kalian mau?" tanya Bestari tentang keberadaan Rohan yang sama sekali tidak terlihat meski dia sudah mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Oh ayah ada di belakang sedang mencuci,"sahut Risihi.
Bestari menanggapi ucapan Rishi dengan anggukan kepala. Dia lalu memberikan kukis buatannya kepada dua anak itu. Mereka menikmatinya dengan sangat senang.
"Ah syukurlah kalian suka,"ucap Bestari.
"Makasih Ibun, kukisnya enak. Liesha suka. Besok ladi ya Ibun."
Perkataan Riesha sungguh membuat hati Bestari senang. Terlebih saat anak itu memanggilnya demikian.
"Dek, kan udah dibilang nggak boleh manggil gitu,"ucap Rishi memeringati sang adik.
"Nggak apa Bang, boleh kok. Sesuka Riesha aja mau manggil kakak apa. Abang kalau mau manggil gitu boleh kok,"jawab Bestari.
Rishi langsung tertunduk lesu dan Bestari hanya mengusap lembut kepala anak lelaki itu. Dia tidak tahu masalah apa yang menimpa Rohan dan ibu dari anak-anak ini. Tapi yang Bestari duga, sepertinya mereka berpisah bukan dalam keadaan yang baik.
"Udah udah, sekarang makan lagi ya kukisnya,"ucap Bestari. Sekali lagi, melihat anak-anak ini tanpa ibu mereka sungguh terasa menyedihkan.
Srupuuut
"Aaaah emang manteb ngopi pagi sambil makan kukis begini. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan wahai manusia. Mari syukuri segala yang kau miliki saat ini,"ucap Bestari setelah meminum kopinya yang mengepul. Dia tidak tahu bahwa aroma kopi yang dibawanya itu sangat mengusik pria yang tengah mencuci di belakang sana.
Hidungnya yang sangat peka dengan kopi bahkan bisa mencium aromanya meski terhalang tembok.
"Ughh sial, aroma itu lagi."
TBC