Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar
Pagi telah tiba.Jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi.
“Jangan!!”
Mia berteriak.Dia baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk.Dia langsung terduduk,jantungnya berdebar dengan sangat kencang,nafasnya terengah.
Tanpa pikir panjang, dia beranjak dari tempat tidurnya. Dia langsung berlari keluar.Cuaca sedang mendung pagi ini,terlihat tanda-tanda sebentar lagi akan turun hujan.Dia berlari sekuat tenaga.Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
Saat di pertigaan jalan.Dia berhenti mendadak.
“Mia!”
“Nia!”
Mereka kompak menyebut nama satu sama lain, nafas mereka sama-sama masih terengah-engah.
“Kenapa?!”
“Kenapa?!”
Mereka kompak lagi bertanya pada satu sama lain dengan wajah panik dan sedikit ketakutan.Mereka berdua saling menatap, sepertinya mereka mulai mengerti apa yang sedang terjadi.
*duarrrr
Gemuruh guntur terdengar sangat keras disertai kilatan petir.
Dania menggenggam tangan Mia,dan dia menarik tangan Mia.
“Ayo!Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!Cepatlah sedikit, sebentar lagi turun hujan!”
Mereka berlari menuju rumah Dania.Angin kencang menerbangkan debu dan dedaunan.Kilatan-kilatan itu membuat mereka mempercepat langkah mereka. Gerimis sudah mulai menyentuh kulit putih mereka.
Mereka akhirnya sampai di teras rumah Dania.
“Aku bermimpi aneh malam ini!”
Dania dengan wajah panik serta ketakutan menggoyangkan bahu Mia dengan kedua tangannya.
“Aku juga sama!”
*duarrrr
Gemuruh besar terdengar lagi.
“Ayo masuk!Akan ku ceritakan di kamarku!”
Mereka memasuki kamar Dania. Dania menutup jendela dan juga pintu kamarnya itu.
“Aku bermimpi aneh malam tadi.”
Diana memelankan suaranya.
“Aku juga sama!”
“Apa isi mimpimu?”
“Aku melihat seseorang di penggal kepalanya.”
“Aku juga!”
Tangan mereka bergetar.
“Itu terasa sangat nyata!Jantungku bahkan sampai berdebar sangat kencang saat aku bangun. Tubuhku berkeringat, hingga kain ku basah.”
“Sama! Aku juga!”
“Bagaimana isi mimpimu?”
“Jadi begini…aku bermimpi kita kembali ke masa lalu….Di mimpi itu aku baru saja bangun tidur,namun saat aku membuka mataku aku malah melihat banyak mayat tergeletak di sekelilingku!Aku tak tau apa yang terjadi!Lalu ada kumpulan orang dengan pakaian seorang bangsawan…kalau tidak salah…pakaian yang biasa dipakai para bangsawan China!Bangsawan pejabat kerajaan!Aku tak tau apa yang mereka bicarakan…Yang jelas mereka berbicara menggunakan bahasa asing, mungkin bahasa China!Lalu tak lama setelah itu…ada seorang pemuda,sangat tampan dia menggunakan pakaian yang sama seperti pejabat itu…tapi!tapi dia dipenggal!melihat itu jantungku langsung berdetak dengan sangat kencang dan aku langsung terbangun!”
“Mimpi kita sama!Namun, di mimpiku lelaki itu menggunakan baju zirah. Baju seperti habis berperang!bahkan tubuhnya dipenuhi oleh bekas darah.Kau juga terbangun karena melihatnya dipenggal!”
Wajah mereka pucat. Tangan mereka dingin dan bergetar.
“Bagaimana mungkin mimpi kita bisa sama?...”
Suara pelan Mia seperti enggan mengetahui tentang apa yang terjadi sebenarnya.
“Coba kau tanya ayahmu, ayahmu kan sudah lama tinggal disini. Tanyakan tentang kuburan itu.”
“Aku sudah tanya, saat kemarin pulang dari tempat itu. Aku langsung bertanya pada ayah dan juga mamaku. Mereka bilang malam itu memang sudah ada sejak lama disana. Bahkan mereka tidak tau sama sekali kisahnya, hanya tau itu adalah kuburan orang Tionghoa.”
“Aku kemarin bertanya pada bapak ku, bapak ku bilang,kuburan itu adalah kuburan seorang jenderal…Zhang adalah marganya.Bapak ku bilang dulu ada penelitian tentang makam itu.”
“Penelitian?”
“Iya…”
“Mungkin jejak dari penelitian itu bisa kita temukan di kantor desa!”
“Kau benar!”
“Tapi… apa kita yakin ingin mencari tau kebenaran dari makam itu?”
“Entahlah… aku rada ngeri soalnya.”
“Aku juga sama…”
Mereka berbaring telentang di kasur empuk itu. Mereka sedang mencerna apa yang saat ini mereka alami.
Dania bangun,dia melihat ke arah Mia.
“Sudahlah! Kita cari tau saja, daripada kita penasaran… lagipula bagaimana jika kita bermimpi tentang itu lagi?”
Mia bangun.
“Baiklah!”
“Tapi, hujan masih deras… bagaimana kalau kita makan mie dulu?”
“Boleh…”
Mereka berdua langsung pergi ke dapur.
“Ada mi sambal ijo ndak?”
“Mana ada, mie itu udah gak dijual lagi disini. Aku ndak pernah liat soalnya.”
“Oh…ogheylah.Ada mie selera pedas gak?”
“Ada, tu disana.”
Dan ia menunjuk ke arah rak khusus mi.Dia pun pergi mengambil mi disana.
“Mia, ambilkan aku mi kaldu!”
“Oghey!”
Mia mengambilkan mi untuk Dania.Mereka masak mi. Cuaca sejuk memang sedap jika sambil makan sesuatu yang berkuah.
“Kurang seledri,ada seledri ndak Nia?”
“Ada, tunggu aku ambil dulu.”
“Oghey!”
Dania pergi ke luar,cuaca yang gelap disertai hujan dan petir itu tak membuatnya takut. Untung saja pohon seledri itu berada di samping rumah, jadi dia tidak kebasahan.
“Ini!”
Dania memberikan separuh daun seledri yang dia petik pada Mia.
“Oghey, zhengkyu!”
“Yoi!”
Mereka berdua makan di dapur, jendela dapur terbuka lebar. Kilatan besar menyilaukan mata mereka.
“Mia tutup jendela itu!”
*duarrrr
Mereka menutup telinga mereka.
“Kapan hujan ini akan berhenti?”
“Entah, aku pun tak tau…”
Mereka lanjut makan mie lagi. Lalu mereka membuka buku.
“Ayo, kita belajar bahasa Mandarin!”
“Mia, kau kan tau aku gak bisa… jangankan Mandarin, Inggris saja aku masih belepotan.”
“Ishh kita harus belajar, jadi… kalau nanti mimpi lagi kita bisa ngerti.”
“Iya juga ya…”
“Iyalah! Ayo belajar! Aku ajarin kata-kata yang biasa keluar di drama-drama kerajaan.”
“Kok kaya di drama kerajaan sih?”
“Ish kau pikir lah, ini zaman apa?mereka itu zaman apa? Kalau yang datang ke mimpi kita itu orang China modern kita gak perlu belajar bahasa Mandarin… pake bahasa Inggris aja mereka pasti ngerti.Tapi,yang datang di mimpi kita itu bajunya, baju zaman kerajaan…zirah nya ajah kaya zirah zaman perang gitu…”
“Hehe, iya juga ya…”
“Iyalah…”
Mereka mulai menulis kosa kata baru, kosakata yang mudah diingat dan sering digunakan.
“Mia… ini bacanya apa?”
“Ini dibaca Tianchi…”
“Tapi ini kan tulisannya,Tianqi.Kok dibaca Tianchi?”
“Ya mana aku tau… udah dari sananya muehehehe.”
“Yu… yu… yue!Ah,susah sekali!”
Dania cemberut. Dia merasa tidak akan mampu mempelajari bahasa tersulit nomor satu di dunia itu.
“Pelan-pelan… nanti juga bisa.”
Mia terus menyemangatinya.
“Mia, ini dibaca apa?”
“Dui itu dibaca twei.”
“Apalagi ini Tuhan?!”
Dania sampai ingin menangis.Lalu Mia menunjukkan buku cara membaca setiap alphabet yang ada pada bahasa Mandarin.
“Banyak sekali!”
Lagi-lagi dia mengeluh.
“Ini mah sedikit, kau belum tau karakter Hanzi… ada buanyakkkk!”
“Hah?!”
Dania lemas.
“Tenang! Kita ndak belajar Hanzi, kita make pinyin ajah. Supaya gampang di inget, kita gak perlu nulis cukup bisa ngomong ajah. Nanti, kalau kita udah lancar ngomong… barulah kita belajar nulis Hanzi dan baca Hanzi.”
“Baguslah kalau begitu…aku tak akan mampu jika harus ngafalin karakter Hanzi. Bisa-bisa berasap kepala ku.”
“Hahaha.”
Mereka belajar dengan serius, Dania belajar dengan bersungguh-sungguh. Dia menulis dan menghafal kosakata yang baru. Tak terasa tiga jam telah berlalu,hujan sudah mulai reda. Kini langit mulai cerah dan tinggal rintik kecil yang jatuh di tanah.