Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 32
Zahra masih duduk di sofa panjang yang menjadi tempatnya beristirahat semalaman. Punggungnya pegal, matanya sembab, dan kepalanya penuh dengan hal-hal yang belum selesai.
Tagihan rumah sakit.
Kamar VIP.
Dan Zaidan.
Ia tidak bertemu lagi dengan pria itu setelah dirinya mengatakan sebuah kenyataan yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Ketika Zahra keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat Zaidan masuk kembali ke dalam kamar ibunya itu. Bahkan ia tidak tahu apakah Zaidan pulang atau masih di sekitar rumah sakit.
“Hah…” Zahra mengembuskan napas kasar.
“Ra…”
Zahra tersentak. Ia menoleh cepat ke arah ranjang.
“Ibu sudah bangun?” Ia segera berdiri dan mendekat.
Bu Anti membuka mata perlahan. Wajahnya masih pucat, tapi tidak sesakit tadi malam.
“Jam berapa ini?” tanyanya pelan.
“Masih pagi, Bu. Ibu mau minum? Haus? Atau mau ke kamar mandi?” Zahra membantu menaikkan kepala ranjang dan menyanggakan bantal agar ibunya bisa duduk sedikit tegak.
“Minum sedikit saja.”
Zahra segera menuangkan air putih ke gelas, lalu membantu ibunya memegangnya. Tangannya telaten dan tampak sudah biasa.
Setelah beberapa teguk, Bu Anti memandangi ruangan itu. Tatapannya berkeliling, memperhatikan televisi, sofa, kamar mandi dalam.
“Kita di mana, Ra?”
“Di rumah sakit, Bu. Semalam Ibu jatuh, ingat?”
“Iya… ingat.” Bu Anti mengernyit pelan, lalu kembali melihat sekeliling. “Tapi kenapa ibu di kamar ini? Biasanya Ibu sekamar sama enam atau tujuh orang.”
Zahra terdiam sepersekian detik.
“Ini… kamar sendiri, Bu.”
“Kenapa bisa di sini?” Tatapan Bu Anti mulai curiga. “Yang bayar siapa?”
Pertanyaan itu membuat Zahra menelan ludah.
Ia sempat diam sebelum akhirnya menjawab, “Zahra yang bayar, Bu. Pakai tabungan.”
Bu Anti langsung mengerutkan kening. “Apa? Kenapa boros sekali kamu, Ra?”
“Biar Ibu lebih nyaman…”
“Nyaman-nyaman apa? Uang kamu susah payah dikumpulkan.” Nada Bu Anti mulai terdengar kesal. “Pindahkan Ibu ke kamar biasa saja. Sesuai kelas asuransi.”
Zahra menggigit bibir bawahnya. “Tapi… Ibu nggak apa-apa kalau dipindah? Takutnya kakinya masih sakit.”
“Nggak apa-apa,” jawab Bu Anti tegas. “Ibu ini cuma keseleo, bukan ratu yang harus kamar besar begini.”
Zahra tersenyum tipis, walau hatinya terasa berat. Sejujurnya ia ingin sekali memberikan perawatan yang terbaik untuk sang ibu. Namun apa daya, keuangannya belum bahkan sangat jauh jika melakukan hal itu saat ini.
“Kalau memang Ibu nggak keberatan… nanti Zahra urus ke administrasi, ya.”
“Iya. Jangan boros-boros begitu lagi.”
Zahra mengangguk pelan. Setidaknya Bu Anti tidak keberatan jika dipindahkan ke kamar biasa, dan ia tidak akan semakin kebingungan membayar tagihan rumah sakit, pikirnya.
Belum sempat ia melangkah menuju pintu, tiba-tiba terdengar ketukan singkat.
Tok. Tok.
Pintu terbuka sebelum Zahra sempat menjawab.
Seorang pria tinggi dengan seragam polisi lengkap masuk ke dalam kamar. Rambutnya rapi, wajahnya tegas, namun pagi itu terlihat lebih lembut dari biasanya.
Zahra membeku di tempatnya.
Bu Anti menoleh, menatap pria berseragam itu dengan bingung.
“Selamat pagi, Bu,” ucap Zaidan sopan, sambil sedikit menundukkan kepala. “Bagaimana kakinya hari ini?”
Bu Anti berkedip beberapa kali. “Ini… siapa, Ra?”
Zahra merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kenalan, Bu,” jawabnya singkat.
Zaidan melirik Zahra sekilas, lalu kembali menatap Bu Anti dengan senyum tenang.
“Saya Zaidan, Bu. Tadi malam yang antar Ibu ke sini.”
“Oh…” Bu Anti tampak mengingat samar-samar. “Kamu yang tadi malam, ya?”
“Iya, Bu.”
“Maaf ibu tidak tahu. Tadi malam ibu tidak terlalu memperhatikan wajahmu, Nak. Sekali lagi ibu minta maaf.”
Zaidan tersenyum hangat pada Bu Anti. “Tidak apa-apa, Bu. Yang terpenting itu ibu sehat.”
Bu Anti membalas senyuman Zaidan. “Ternyata kamu polisi ya, Nak.”
Zaidan mengangguk tipis dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Suasana menjadi sedikit canggung.
Zahra bisa merasakan tatapan Zaidan sesekali mengarah padanya. Tapi ia belum berani membalasnya.
“Saya tadi sudah bicara dengan dokter,” lanjut Zaidan. “Alhamdulillah tidak ada patah tulang. Cuma perlu istirahat beberapa hari.”
“Syukurlah…” Bu Anti mengangguk pelan.
“Kalau ibu boleh tahu… kenal dengan Zahra dimana?”
“Kenal di—”
“Di tempat kerja, Bu. Mas Zaidan sering belanja di tempat.” Zahra memotong ucapan Zaidan. Ia menjawab dengan cepat, takut jika Zaidan menjawab jujur pertanyaan dari ibunya itu.
Bu Anti hanya mengangguk kecil, sedangkan Zaidan menahan senyumnya. Ia tahu jika Zahra takut jika ia berbicara jujur. Namun tentu saja, Zaidan tidak sebodoh itu.
“Ibu sudah makan? Sarapannya belum diantar, ya?” tanya Zaidan yang tidak melihat ada nampan yang biasanya diletakkan di meja makan.
Belum Zahra ataupun Bu Anti menjawab, pintu kembali diketuk dan terbuka dari luar.
“Permisi, Bu. Saya antarkan sarapannya.” Seorang petugas rumah sakit datang membawa nampan yang berisikan makanan untuk pasien.
“Terima kasih, Mbak.”
Zahra mengambil nampan itu, meletakkan ke meja dorong dan mendorongnya mendekati Bu Anti.
“Dimakan dulu, Bu, baru nanti minum obatnya lagi.” Zahra berniat ingin membantu Bu Anti, namun wanita tua itu segera menghentikan tangan Zahra.
Zahra mengernyitkan dahinya melihat sikap Bu Anti.
Bu Anti yang ditatap itu hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zaidan.
“Maaf, Nak Zaidan. Kalau ibu boleh minta tolong lagi… bisa tolong ajak Zahra untuk sarapan di bawah? Kasihan… pasti dari kemarin malam dia belum makan.”
“Oh iya, Bu. Tentu saja saya bisa,” jawab Zaidan cepat. Tentu saja sangat bisa, pikirnya. Pria itu bahkan sampai izin telat kerja agar bisa melihat keadaan Bu Anti dan mengajak Zahra untuk sarapan.
“Bu… Zahra nanti saja makannya. Ibu dulu yang penting.”
“Ibu bisa sendiri. Kamu dulu yang makan. Nanti langsung urusin pindah kamar ibu.”
Ucapan Bu Anti barusan tentu saja membuat Zaidan bingung.
“Kenapa pindah, Bu? Apa kamarnya tidak nyaman?” tanyanya.
“Sangat nyaman malah. Tapi…” Bu Anti sedikit tertawa pelan. “Kami tidak punya uang untuk membayar tagihannya nanti.”
Zaidan langsung menoleh ke arah Zahra yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Mereka sama-sama diam. Zaidan bahkan sampai menutup matanya dan menarik napasnya pelan.
“Kenapa aku bisa suka sama cewek keras kepala kayak dia, sih?” gumamnya.
...****************...