Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pintu ruangan terbuka, dan semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di ambang pintu. Nafiza membeku, jantungnya berdebar tak karuan. Sosok itu adalah Farhan, pria yang beberapa hari lalu mengucapkan talak padanya.
Umi Maryam melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Buat apa kamu ke sini, Farhan? Belum puas kamu menyakiti Nafiza? Pergi kamu!" usirnya dengan suara bergetar.
"Umi, Farhan hanya ingin meminta maaf. Farhan menyesal, Farhan ingin memperbaiki semuanya. Umi," mohon Farhan dengan nada memelas, matanya berkaca-kaca.
"Tidak! Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Sebaiknya kau urus saja selingkuhanmu yang sedang hamil itu. Jangan pernah lagi muncul di hadapan anak saya. Tunggu saja putusan pengadilan!" Umi Maryam berkata dengan tegas, suaranya meninggi.
Farhan tetap bersikeras ingin mendekat ke arah Nafiza. Zayn, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya maju. Dengan langkah cepat, ia mencekram tangan Farhan dan menyeretnya keluar dari ruangan itu. Tatapan lembutnya kini berubah menjadi dingin dan tajam. Begitu berada di luar ruangan Zayn menyentak tangan Farhan dengan kasar.
"Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan ibunya Nafiza? Waktumu sudah habis, Farhan. Kau sudah menyia-nyiakannya. Dan sekarang, dia milikku. Jadi, jangan pernah mencoba mengganggunya lagi," tegas Zayn, suaranya dingin dan menusuk.
"Apa maksud Bapak? Dia masih istri saya, Pak Zayn. Anda tidak berhak ikut campur!" bantah Farhan, wajahnya memerah karena marah dan cemburu.
"Tapi kau sudah menalaknya. Itu artinya kau bukan lagi suaminya secara hukum agama. Dan tunggu saja keputusan pengadilan nanti."
"Tapi saya masih punya kesempatan untuk rujuk sebelum hasil pengadilan di putuskan. Dan saya memang manager di perusahaan bapak tapi bukan berarti bapak boleh seenaknya ikut campur dalam urusan saya." ujar Farhan dengan nada tak mau kalah.
"Kau yakin Nafiza masih mau sama pengkhianat kayak kamu? Apa kau yakin bisa menghentikan aku? Jadi jangan membuang waktumu untuk hal yang sia-sia!"
Farhan terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tahu, ucapan Zayn benar. Dan ia juga tahu jika pria saingannya itu memiliki segalanya, kekuasaan, kekayaan hingga tujuh turunan dan tujuh tanjakan tak akan habis, jika saja saingannya orang biasa mungkin ia masih bisa membusungkan dada dan melawannya dengan mudah. Tapi ini yang berdiri di hadapannya seorang Zayn Al Malik pewaris satu-satunya dari perusahaan raksasa PT Al- Malik Group.
****
****
Di dalam ruangan, Nafiza menunduk, air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Hatinya hancur melihat pertengkaran itu. Ia tak menyangka, pria yang dengan sengaja menancap mencampakkan dirinya, kini dengan seenak jidat datang minta memperbaikinya.
Maya mendekati Nafiza, memeluknya dengan lembut. "Sudah, Nak. Jangan dipikirkan. Ada Tante di sini. Kamu jangan khawatir, Zayn pasti akan melindungimu," bisiknya menenangkan.
Nafiza hanya bisa menangis dalam pelukan Maya. Ia merasa begitu rapuh dan tak berdaya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Umi Maryam menghampiri mereka berdua, mengusap lembut kepala sang putri. "Sudah, Sayang. Jangan menangis. Umi ada di sini. Umi akan selalu menjagamu," ujarnya dengan suara penuh kasih sayang.
Nafiza membalas pelukan Umi-nya erat-erat. Ia merasa sedikit lebih tenang dalam pelukan wanita yang selalu menjadi pelindungnya itu.
****
Di luar ruangan, Zayn mencengkeram bahu Farhan kuat-kuat. Matanya menatap tajam ke arah pria itu.
"Dengar baik-baik, Farhan. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Nafiza lagi. Jika kau berani mendekatinya, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu. Kau mengerti?" ancam Zayn dengan suara rendah namun penuh dengan amarah.
Farhan dengan sangat terpaksa mengangguk lemah, ia tak berani menatap mata Zayn. Ia tahu, pria itu bukan orang yang bisa dianggap remeh.
Zayn melepaskan cengkeramannya dan mendorong Farhan menjauh. "Pergi dari sini! Dan jangan pernah kembali!" usirnya dengan kasar.
Ingin rasanya Farhan menghajar Zayn sampai babak belur, tapi ia juga takut nyawanya melayang sia-sia kalau dia nekat. Akhirnya ia berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah gontai. Ia harus segera pergi sebelum Zayn berubah pikiran.
Zayn menghela napas panjang, berusaha meredakan amarahnya. Setelah merasa lebih tenang Ia kembali masuk ke dalam ruangan, menghampiri Nafiza yang masih menangis di pelukan Umi Maryam.
"Bagaimana Zayn apa pria itu sudah pergi?" tanya Maya khawatir.
"Sudah Mom! Zayn pastikan Farhan tidak akan berani kembali." jawab Zayn yakin.
"Jangan menangis lagi. Aku janji, aku tidak akan membiarkan Farhan menyakitimu lagi," gumam Zayn tapi hanya terucap dalam relung hatinya.
Nafiza menghapus air matanya lalu menatap Zayn dengan mata sembab. Ia melihat ketulusan dan ketegasan di mata pria itu. Ia merasa sedikit lebih aman dan terlindungi.
"Terima kasih, Pak Zayn," ucap Nafiza lirih.
Zayn tersenyum lembut. "Hmm! Tapi kalau bisa jangan panggil Pak. Panggil saja Zayn," pintanya lembut, berharap bisa lebih dekat dengan wanita itu.
Nafiza terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, Zayn," ucapnya dengan suara yang sedikit lebih cerah.
Suasana di ruangan itu masih terasa tegang. Nafiza berusaha menenangkan diri. Tapi bayangan Farhan dan Riana terus menghantuinya. Ia merasa bersalah karena telah membawa Zayn dalam masalahnya pribadinya.
"Maaf ya Zayn. Aku tidak bermaksud membuatmu terlibat dalam masalahku," ucap Nafiza lirih, memberanikan diri menatap Zayn dengan mata berkaca-kaca.
Zayn membalas dengan tatapan lembut. "Ini bukan salahmu. Aku yang memilih untuk berada di sini, bersamamu. Aku ingin melindungimu, karena aku ..." Zayn menghentikan ucapannya, ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Nafiza menatap Zayn dengan tatapan penasaran. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
"Karena aku akan datang melamar kamu saat masa 'iddahmu selesai," lanjut Zayn akhirnya.
Maya tersenyum lega mendengar ucapan putranya. Ia udah gak sabar menanti momen itu.
Umi Maryam dan Nafiza saling pandang tak menyangka dengan ucapan Zayn.
"Sebenarnya tak perlu menunggu masa Iddah, karena aku masif perawan!" jawab nafiza dalam hati, mana mungkin ia berani terang-terangan di depan Zayn dan Maya.
Umi Maryam tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Sedangkan Nafiza masih ragu dengan perasaannya. Hatinya masih terluka. Dan ia belum siap memulai hubungan yang baru, meskipun ia melihat ketulusan dari mata pria itu.
"Kamu serius Zayn? Aku ini janda!" lirih Nafiza. Ia merasa tak pantas bersanding dengan pria sesempurna Zayn.
Bersambung...