Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 13.
Calista tidak pernah terbiasa kalah. Bukan karena ia selalu menang, melainkan karena selama ini ia selalu tahu kapan harus mundur sebelum terlihat kalah. Tapi kali ini, ruang geraknya menyempit. Setiap pintu yang ia ketuk terasa lebih berat untuk dibuka, setiap senyum yang ia pasang tak lagi dibalas dengan kepercayaan penuh.
Ia duduk di dalam mobilnya, jari-jarinya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Ponselnya menyala dengan deretan pesan tak terbaca dari tim hukum. Kata-kata seperti klarifikasi lanjutan, audit independen, dan potensi pelanggaran etik muncul terlalu sering.
Viera tidak menyerang secara langsung.
Itulah masalahnya.
Wanita itu tidak berteriak, tidak memfitnah, tidak mengemis simpati. Ia hanya membuka celah, lalu membiarkan sistem menggigit siapa pun yang berdiri terlalu dekat dengan kebusukan.
Calista menarik napas dalam-dalam.
“Kalau sistem ingin bermain bersih,” gumamnya lirih, “Aku yang akan mengotorinya.”
Ia menekan satu nomor.
“Ini aku,” katanya singkat saat panggilan tersambung. “Aku butuh sesuatu yang cepat. Dan kali ini… aku tidak peduli bagaimana caranya.”
Damian duduk sendirian di ruang kerjanya malam itu. Hanya dirinya, lampu meja yang menyala redup, dan tumpukan dokumen yang tak lagi terasa seperti alat kemenangan—melainkan jerat.
Ia membaca ulang satu email yang baru ia temukan, terkubur di antara ratusan pesan lama. Email itu berasal dari Calista, dikirim beberapa waktu sebelum semuanya pecah. Isinya singkat, tapi kini terasa menampar.
[Aku sudah bicara dengan salah satu pegawai di pihak rumah sakit, tentang bayi tabung yang akan kau jalani dengan Viera. Jangan khawatir, semuanya akan berjalan sesuai rencana.]
Rencana apa maksudnya?
Damian menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sejenak. Potongan-potongan mulai tersusun, sebagai rasa tidak nyaman yang terus menekan dada. Selama ini, ia pikir ia mengendalikan narasi. Nyatanya, ia hanya membaca skrip.
Ia teringat bagaimana Calista selalu tahu lebih dulu darinya. Tentang jadwal, tentang celah hukum. Tentang reaksi Viera yang bahkan belum terjadi.
“Sejak kapan, aku berhenti berpikir sendiri dan selalu disetir Calista?“
Ponselnya bergetar, pesan masuk dari Calista.
Calista: [Kita harus bertemu, sekarang.]
Damian mengetik satu balasan.
Damian: [Tidak! Aku butuh jawaban lebih dulu.]
Calista: [Jawaban apa?]
Damian menutup ponselnya tanpa membalas, atau... ia sengaja tidak membalas.
Sementara Viera terbaring di ranjang rumah sakit keesokan paginya. Ruangan itu sunyi, bau antiseptik menggantung di udara, bercampur dengan kecemasan yang tidak sepenuhnya terucap.
Dokter berdiri di samping ranjang, ekspresi profesional penuh simpati. “Anak Anda ternyata kembar, tapi sayangnya... Anda kehilangan satu embrio.“
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya merambat pelan ke seluruh tubuh Viera. Satu embrio, satu harapan yang bahkan belum sempat Viera kenal. Tangannya bergerak refleks ke perutnya, napasnya tersendat sesaat.
“Yang satu lagi stabil?” tanyanya tenang.
Dokter mengangguk. “Untuk saat ini, ya. Bahkan sudah berbentuk janin karena memasuki usia 9 minggu."
Viera memejamkan mata, menarik nafas untuk meredakan rasa nyeri karena kehilangan satu anak.
“Karena ada risiko komplikasi kehamilan, Anda harus dirawat untuk pemantauan.“ Ujar Dokter.
“Baik.“
Saat dokter pergi, Viera tetap terbaring menatap langit-langit. Air mata akhirnya turun, satu, dua—tanpa suara. Tapi di balik kesedihan itu, ada sesuatu yang mengeras.
Ia kehilangan, tapi ia tidak akan runtuh. Tak berapa lama, ponselnya bergetar di meja samping ranjang.
Nomor Tidak Dikenal: [Aku baru saja mendengar kabar tentang kandunganmu dari sumberku. Apa kamu baik-baik saja?]
Viera mengetik balasan dengan tangan sedikit gemetar.
Viera: [Tentu saja, karena aku harus kuat untuk anakku yang lain.]
Beberapa detik tak ada balasan.
Nomor Tidak Dikenal: [Bolehkah aku menemuimu?]
Viera: [Kamu sebenarnya siapa? Kalau kamu jujur, aku mungkin akan mempertimbangkan bertemu denganmu.]
Balasan datang perlahan.
Nomor Tidak Dikenal: [ Aku David.]
Jantung Viera berhenti berdetak selama satu detik penuh. Nama itu—nama yang sudah ia kubur bersama masa mudanya, bersama hujan, bersama mimpi-mimpi yang pernah ia yakini cukup untuk melawan dunia.
Tangannya gemetar.
Viera: [Bagiku, kamu sudah mati.]
David: [Maafkan aku, bisakah kita bertemu? Ini tentang anak yang kamu kandung.]
Viera ingin menolak, tapi pada akhirnya dia mengiyakan.
Viera: [Oke.]
Mereka berdua bertemu di ruang perawatan, Viera duduk bersandar di ranjang. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam. Ia melihat pria itu mendekat dari kejauhan, langkah Lucca pelan... nyaris ragu.
Tidak ada jas mahal, tidak ada aura konglomerat. Hanya seorang pria dengan kemeja sederhana, wajah yang lebih matang… tapi mata yang sama.
“David,” ucap Viera datar.
Pria itu berhenti beberapa langkah darinya. Menatap Viera lama, seolah memastikan mereka akhirnya bertemu. “Kamu sudah berjuang...“
“Terima kasih atas pujiannya,” jawab Viera.
Lucca tersenyum tipis, lalu dia duduk di samping ranjang rumah sakit tanpa diminta. Keheningan menggantung di antara mereka, berat oleh tahun-tahun yang hilang.
“Aku tidak akan memintamu memaafkanku, karena dulu... aku pergi tanpa berpamitan padamu,” kata Lucca akhirnya. “Aku hanya ingin menjelaskan, alasan aku menghilang bertahun-tahun ini.”
“Tidak perlu, itu semua hanya masa lalu. Aku hanya akan hidup di masa kini dan masa mendatang.“ Tolak Viera.
Lucca menelan ludah, tapi akhirnya dia mengangguk. “Baiklah, aku tak akan membahas masa lalu jika kamu tak ingin mendengarnya. Sekarang aku ingin jujur tentang sesuatu. Sebenarnya, anak yang kamu kandung… adalah anakku.”
Udara terasa menegang, lalu Viera tertawa kecil—bukan karena lucu, melainkan karena pernyataan Lucca begitu absurd.
“Dokter bilang terjadi kesalahan prosedur,” kata Viera dingin. “Sp*rma Damian tertukar.”
Lucca menatap wanita itu dengan dalam. “Itu bukan kesalahan.”
“Apa maksudmu?” Viera terkejut.
“Aku yang menukarnya, dan aku adalah... Lucca.”
Dunia seolah menyempit.
“Apa?” suara Viera nyaris tak terdengar.
“Ini mungkin terdengar gila, tapi semua bermula dari Calista. Dia yang pertama kali ingin menukar sp*rma Damian. Aku mengetahuinya, dan aku mengambil alih permainan itu. Aku mengganti sp*rma Damian dengan milikku. Dan satu hal yang harus kamu tahu, Calista... adalah istriku. Maksudku, dia akan menjadi mantan istriku.”
Plak!
Tamparan itu datang cepat, Lucca menerima tanpa mengelak.
“Kamu keterlaluan!“ Ucap Viera dengan napas memburu.
“Aku tahu, makanya aku datang bukan sebagai Lucca, dan bukan sebagai David. Tapi sebagai… ayah biologis dari anakmu.”
Viera menatap pria masa lalunya itu dengan nafas tersengal, air matanya menggenang. “Kau pikir, aku akan memaafkanmu dan menerima semua ini?!"
“Aku sudah katakan, aku tidak datang untuk memaksamu untuk memaafkanku.”
“Lalu untuk apa?”
Lucca menatap perut Viera.
“Untuk memastikan kamu tahu… kalau kamu tidak sendirian menjaga anak itu. Apa pun keputusanmu nanti, aku akan selalu mendukungmu dan berada di dekatmu. Melindungi kalian berdua.”
Viera menutup mata sejenak, saat membukanya kembali suaranya dingin. “Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya, Pergi!“
Lucca berdiri. “Aku tak akan memaksamu, aku akan menunggu.”
Lalu, pria itu melangkah pergi tanpa menoleh.
Viera menunduk, tangannya gemetar saat menyentuh perutnya. Kini, ia tahu... anaknya bukan hasil kesalahan semesta semata. Namun, hasil dari sebuah permainan gila.