NovelToon NovelToon
SOUL LAND WATCH CHRONICLES

SOUL LAND WATCH CHRONICLES

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Action / Romantis / Game / Fantasi
Popularitas:397
Nilai: 5
Nama Author: Meong Punch

📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.

⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.

🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.

⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.

🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.

🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[ Bab 23 ] » Fondasi Harem Pertama

Akademi Nuoding di malam hari memiliki sisi yang tenang, jauh dari keriuhan para siswa yang berlatih di siang hari. Di salah satu paviliun guru yang terletak agak terpisah dari asrama siswa, cahaya lampu minyak masih berpendar redup dari sebuah jendela di lantai dua. Itu adalah ruang kerja Instruktur Mo Lan, seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang dikenal karena kecerdasannya dalam teori sejarah roh, namun sering kali dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan guru pria karena ia tidak memiliki kekuatan tempur yang menonjol.

Mo Lan duduk di meja kayunya yang penuh dengan tumpukan dokumen. Wajahnya cantik dengan garis-garis kedewasaan yang tegas, namun matanya memancarkan kelelahan yang mendalam. Di dunia Spirit Master yang memuja kekuatan kasar, seorang intelektual wanita sepertinya sering kali dianggap hanya sebagai pelengkap administratif.

Tok, tok, tok.

Ketukan pelan di pintunya membuat Mo Lan tersentak. "Siapa? Ini sudah lewat jam kunjungan," ujarnya sambil merapikan kacamatanya yang sedikit merosot.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok kecil yang sangat ia kenali. Tang Siyun berdiri di sana, membawa nampan kecil dengan dua cangkir teh yang mengepul dan sepiring kue kering yang aromanya sangat menggoda.

"Hanya seorang murid yang tidak bisa tidur karena memikirkan betapa kerasnya gurunya bekerja," ujar Siyun dengan suara bariton lembutnya yang selalu terdengar janggal keluar dari tubuh seorang anak kecil.

Mo Lan menghela napas, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. "Siyun... kau lagi. Bukankah kau seharusnya berada di asrama? Dan dari mana kau mendapatkan teh Blue Mountain ini? Ini sangat mahal."

Siyun masuk tanpa menunggu izin, meletakkan nampan itu di meja kerja Mo Lan yang berantakan. Ia menggunakan jari kecilnya untuk menyingkirkan beberapa tumpukan kertas, menciptakan ruang kecil untuk mereka. "Mari kita katakan saja bahwa petugas gudang sangat menyukai prediksi cuaca ku. Minumlah, Guru Mo. Wajahmu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan sepuluh tahun dari usianya karena tumpukan kertas ini."

Mo Lan ragu sejenak, namun aroma teh itu terlalu sulit untuk ditolak. Ia menyesapnya dan seketika merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Terima kasih. Kau selalu tahu apa yang dibutuhkan orang lain, ya?"

Siyun duduk di kursi di depan meja, kakinya berayun pelan, namun tatapannya tetap terkunci pada mata Mo Lan. "Saya hanya tahu rasanya tidak dihargai, Guru. Saya melihat bagaimana instruktur pria lain berbicara padamu di rapat tadi pagi. Mereka mengabaikan teorimu tentang efisiensi energi roh hanya karena mereka pikir otot mereka lebih penting daripada otakmu."

Tangan Mo Lan yang memegang cangkir sedikit gemetar. Luka yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun di balik fasad profesionalnya tiba-tiba tersentuh oleh kata-kata bocah ini. "Itu hanya... begitulah cara dunia ini bekerja, Siyun. Kekuatan adalah segalanya. Pengetahuanku tidak bisa memenangkan pertarungan."

Siyun memutar jam saku peraknya di atas meja. Klik. Jarum jam itu berdetak dalam ritme yang menenangkan, seolah-olah menyelaraskan detak jantung mereka berdua.

"Dunia ini salah, dan kau tahu itu," bisik Siyun. Ia berdiri dan berjalan ke sisi meja Mo Lan, meletakkan tangan kecilnya di atas tangan wanita itu. "Kekuatan tanpa pengetahuan hanyalah binatang buas yang menunggu untuk dijinakkan. Kau memiliki kunci untuk membuat Spirit Master sepuluh kali lebih kuat, tapi mereka terlalu sombong untuk melihatnya. Tapi aku? Aku melihatmu, Mo Lan. Bukan hanya sebagai instruktur, tapi sebagai wanita yang menyimpan api jenius di balik mata yang kesepian itu."

Mo Lan menatap Siyun. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang, ia tidak melihat seorang anak berusia enam tahun. Ia melihat jiwa yang sangat tua, sangat memahami, dan sangat dewasa. Ia merasakan ketulusan yang tidak pernah ia dapatkan dari pria dewasa mana pun yang mendekatinya hanya karena wajah cantiknya.

"Mengapa kau mengatakan ini padaku?" tanya Mo Lan, suaranya hampir pecah.

"Karena di kehidupanku yang dulu... aku juga dikhianati dan diabaikan meskipun aku memberikan segalanya," jawab Siyun, memberikan sedikit kejujuran dari masa lalunya yang kelam. "Aku bersumpah tidak akan membiarkan orang-orang luar biasa sepertimu mengalami nasib yang sama. Kau butuh sandaran, Mo Lan. Bukan sandaran fisik, tapi seseorang yang mengakui nilai jiwamu."

Tanpa sadar, air mata jatuh di pipi Mo Lan. Bertahun-tahun isolasi emosional di akademi ini seolah runtuh oleh pengakuan sederhana dari Siyun. Ia menunduk, membiarkan isak tangis kecil keluar. Siyun tidak memeluknya dengan cara yang kekanak-kanakan; ia hanya berdiri di sana, memegang tangannya, memberikan kehadiran yang stabil dan menenangkan.

Setelah beberapa saat, Mo Lan menyeka air matanya, merasa malu namun juga merasa sangat ringan. "Maafkan aku... aku benar-benar tidak profesional."

Siyun tersenyum, senyuman yang penuh dengan pesona pria dewasa. "Profesionalisme adalah penjara yang kita buat sendiri. Di sini, di ruang ini, kau hanyalah Mo Lan, dan aku adalah Siyun. Dan jika kau mengizinkannya... aku ingin menjadi satu-satunya orang yang benar-benar mengenalmu."

Ia mengangkat tangan Mo Lan dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Bukan ciuman anak kecil, melainkan sebuah gestur janji seorang pria. "Biarkan aku membantumu dengan risetmu. Dengan kemampuanku mengatur waktu, kita bisa melakukan eksperimen yang tidak bisa dilakukan orang lain. Kita akan membuktikan bahwa mereka semua salah."

Mata Mo Lan berbinar dengan harapan baru. Ketertarikan intelektualnya kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih dalam, ketertarikan emosional dan romantis terhadap sosok misterius di depannya. Ia menyadari betapa gilanya ini, jatuh hati pada seorang murid yang begitu muda, namun ia tidak bisa menyangkal koneksi jiwa yang ia rasakan.

"Kau benar-benar berbahaya, Tang Siyun," bisik Mo Lan, jari-jarinya membelai rambut Siyun dengan lembut. "Kau tahu persis bagaimana cara mencuri hati seorang wanita yang sudah lama menyerah pada cinta."

Siyun menatapnya dengan pandangan nakal. "Aku tidak mencurinya, Mo Lan. Aku hanya menyimpannya untuk memastikan tidak ada orang lain yang merusaknya lagi. Dan percayalah, seiring berjalannya waktu, kau akan menyadari bahwa waktu adalah pelayan terbaik bagi cinta kita."

Malam itu, di ruang kerja yang sempit itu, sebuah fondasi diletakkan. Bukan fondasi kekuasaan politik, melainkan fondasi pertama dari apa yang akan menjadi harem Siyun di masa depan sebuah ikatan yang didasari oleh pengertian mendalam, rasa hormat intelektual, dan api asmara dewasa yang mulai membara.

Siyun meninggalkan ruangan itu beberapa jam kemudian, meninggalkan Mo Lan yang kini memiliki semangat baru dalam matanya. Saat berjalan kembali ke asrama, Siyun memutar jam sakunya dengan puas.

Satu aset intelektual dan emosional diamankan, pikirnya. Dunia ini memang penuh dengan 'bug', tapi jika kau tahu cara memprogram hati seorang wanita... kau bisa memiliki seluruh sistem di tanganmu.

Langkah kakinya terasa ringan. Ia tahu bahwa ini hanyalah awal. Ada banyak mawar lain yang menunggu untuk diselamatkan, dan ia memiliki seluruh waktu di dunia untuk memetik mereka satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!