Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
Setelah menyelesaikan pertemuan di PT FYP Investama, Darrel keluar dari gedung dengan perasaan lega bercampur harapan. Presentasinya berjalan lancar, dan dia merasa para investor tertarik dengan KopiKeliling. Namun, belum sempat dia sepenuhnya menikmati euforia itu, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Darrel sedikit bingung, tapi langsung menjawab, "Halo?"
"Selamat siang, Pak Darrel. Saya Arman dari PT Mitra Inovasi Nusantara. Kami sudah melihat proposal KopiKeliling Anda dan sangat tertarik. Kami ingin mengajak Anda bertemu secepatnya untuk membahas potensi kerjasama."
"Namun, ada satu hal penting yang perlu kami sampaikan – kami telah melakukan riset mendalam dan menemukan bahwa ada pihak lain yang tengah mengembangkan aplikasi dengan konsep sangat mirip, dan mereka sudah dalam tahap akhir negosiasi dengan investor besar dari luar negeri."
"Jika Pak Darrel tidak bersedia untuk melakukan kesepakatan dengan kami dalam waktu dua puluh empat jam ke depan, kami khawatir peluang untuk mengembangkan bisnis ini akan sangat sempit..."
Suara di ujung telepon membuat jantung Darrel berdebar kencang. Belum sempat dia menjawab, ponselnya kembali bergetar dengan notifikasi baru – sebuah email dengan subjek "Peringatan Hak Cipta dan Konsep Bisnis" dari sebuah kantor hukum yang tidak dia kenal.
Darrel terdiam sejenak, matanya menatap layar ponsel yang masih menyala. Bagaimana mungkin ada orang lain yang punya konsep sama? Apakah proposalnya bocor? Atau benar-benar hanya kebetulan? Dan apa yang harus dia pilih – menerima tawaran dari PT Mitra Inovasi dalam waktu singkat, atau menunggu keputusan dari PT FYP Investama yang baru saja dia temui hari ini?
Kebingungan dan kekhawatiran bercampur aduk di benaknya. Darrel merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Waktu dua puluh empat jam bukanlah waktu yang lama untuk mengambil keputusan penting. Dia harus mempertimbangkan segala kemungkinan dan risiko dengan cermat.
Darrel lantas membuka email dari kantor hukum tersebut. Isi email itu membuatnya semakin terkejut.
Mereka menuduh bahwa konsep bisnis aplikasi KopiKeliling yang Darrel kembangkan memiliki kemiripan signifikan dengan konsep aplikasi yang sedang mereka kembangkan dan menduga adanya pelanggaran hak cipta serta konsep bisnis. Mereka juga mengancam jika dalam waktu tujuh hari tidak menghentikan pengembangan aplikasi KopiKeliling maka mereka akan mengambil tindakan hukum yang sesuai."
Setelah membaca email ancaman hukum tersebut, Darrel merasa semakin terdesak. Dia merasa tuduhan pelanggaran hak cipta ini benar-benar gila. Dia yakin tidak mencuri ide siapapun. Dia mengembangkan aplikasi KopiKeliling berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai penjual kopi keliling dan keinginannya untuk membantu para pedagang kopi kecil.
Namun, ancaman hukum ini sangat serius. Dia harus cepat bertindak untuk mengamankan aplikasi yang sudah dibuatnya dengan susah payah. Darrel butuh bantuan dan dia tahu siapa yang harus dihubungi yaitu Zeya. Bagaimanapun, Zeya adalah orang yang membantunya mewujudkan ide KopiKeliling menjadi aplikasi. Zeya juga ahli IT yang handal, dan mungkin bisa menemukan solusi untuk masalah ini.
Tanpa membuang waktu, Darrel segera menuju ke rumah adiknya. Sesampainya di sana, Darrel menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu.
"Siapa?" suara Zeya terdengar dari dalam.
"Ini abang, Ze," jawab Darrel.
Pintu terbuka, dan Zeya muncul dengan wajah terkejut. "Bang Rel? Ada apa? Anak-anak mana?" cecarnya pada Darrel.
"Anak-anak ada di rumah, abang titipkan pada tetangga. Abang ke sini butuh bantuanmu, Ze," kata Darrel. "Ini tentang aplikasi KopiKeliling."
Zeya mempersilakan Darrel masuk. Darrel menceritakan semua yang terjadi: tentang tawaran dari PT Mitra Inovasi, email ancaman hukum, dan kecurigaannya bahwa ada pihak yang ingin mencuri idenya.
Zeya mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk mengerti. "Ini nggak bisa dibiarkan. Kita harus cari tahu siapa yang mencoba mencuri ide kita," katanya, setelah Darrel selesai bercerita.
"Abang nggak tahu harus mulai dari mana," kata Darrel putus asa.
"Tenang, Bang. Serahkan sama Ze," jawab Zeya. "Ze akan coba lacak siapa yang mengirim email itu dan mencari tahu apakah ada kebocoran informasi dari aplikasi kita."
Zeya segera menyalakan laptopnya dan mulai bekerja. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengetik kode-kode rumit dengan cepat dan tepat. Darrel hanya bisa memperhatikan dengan kagum. Dia percaya, Zeya adalah seorang hacker handal, pasti bisa mengatasi masalahnya.
"Ze akan coba meretas sistem mereka," kata Zeya sambil fokus pada layar laptopnya. "Kalau memang ada yang mencuri ide kita, pasti akan ada jejaknya."
Beberapa jam kemudian, Zeya akhirnya menemukan sesuatu. "Bingo!" serunya. "Ze menemukan bukti bahwa ada seseorang yang mencoba mengakses database aplikasi KopiKeliling secara ilegal."
"Siapa?" tanya Darrel penasaran.
Zeya menunjukkan IP address yang mencurigakan. "Ini berasal dari server di luar negeri. Tapi, Ze akan coba lacak lebih jauh."
Setelah beberapa saat, Zeya berhasil mengidentifikasi pemilik server tersebut. "Ini perusahaan outsourcing IT yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar," kata Zeya. "Mungkin mereka disewa oleh kompetitor kita untuk mencuri ide kita."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Darrel tampak frustasi.
"Kita harus mengamankan aplikasi kita," jawab Zeya. "Ze akan memperkuat sistem keamanan aplikasi KopiKeliling kita dan menambahkan enkripsi data. Ze, juga akan membuat sistem yang bisa mendeteksi dan mencegah upaya peretasan di masa depan."
"Bisakah kamu mengunci aplikasi kita?" tanya Darrel. "Supaya tidak bisa ditiru oleh orang lain."
"Bisa, Abang tenang saja," jawab Zeya. "Ze, akan membuat sistem yang bisa memverifikasi keaslian aplikasi KopiKeliling. Kalau ada aplikasi yang mencoba meniru, sistem akan otomatis memblokirnya."
Zeya kembali fokus pada laptopnya dan mulai menulis kode. Darrel merasa lega karena Zeya berhasil mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin, dengan bantuan Zeya, dia akan mampu melawan perusahaan besar yang mencoba mencuri idenya.
Zeya dan Darrel masih berjaga di depan laptop, memastikan sistem keamanan aplikasi KopiKeliling telah diperkuat dan aplikasi telah "dikunci" dengan sistem verifikasi keaslian.
"Oke, Bang. Untuk sementara ini aplikasi KopiKeliling sudah aman. Tapi, kita nggak bisa berhenti di sini. Mereka pasti akan mencoba cara lain." kata Zeya memberitahu.
Meski ia tidak tahu bahwa musuh mereka jauh lebih kuat dan licik dari yang mereka bayangkan.
"Benar, dan yang paling membuat abang khawatir adalah ancaman hukum itu." Darrel meraup mukanya kasar.
"Ya kita harus melawan ketidakadilan dan membuktikan bahwa ide mereka layak untuk diperjuangkan. Mereka nggak bisa seenaknya mencuri ide orang lain," sahut Zeya.
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Darrel. "Abang tidak mengerti tentang hukum, Ze. Mereka perusahaan besar dengan sumber daya tak terbatas."
Darrel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba matanya membulat. Dia sepertinya teringat sesuatu
"Tunggu! Sepertinya abang tahu apa yang harus abang lakukan!"