NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Penjara baru

Sedikit percakapan manis sebelum memulai pahit...

BTS—Behind The Scene...

Pharita memeluk Dion dari belakang.

Pharita: Pendek banget ya kamu itu... Tinggian aku...

Dion: Idih... Najis...

Aluna keluar, disambut pelukan hangat oleh Arkan.

Arkan: Sakit gak perutnya...

Aluna: Ga ah kan pura-pura.

Sutradara memarahi mereka, bersama Vera juga akan menulis bab ini, malah asyik berfoto didepan gedung pencakar langit.

"Eh iya mas... " teriak Vera.

Sutrada: Jangan ke mana-mana! Ini belum selesai!

Selamat membaca...

Kini kedua mata Pharita membelalak tak percaya. Selama dia berada di tongkrongan, tak ada yang sama sekali menyebutnya jamet atau sebutan menghina lainnya. Bahkan Si Gondrong menghormati dirinya sebagai rekan kerja yang dua bulan lebih tua darinya, tapi pria yang lebih pendek, memakai kemeja garis-garis, yang entah datang dari mana ini berani menyenggolnya? Pharita mencekik rokoknya di tempat, dia menyilangkan kedua lengan di depan dada.

​"Oh tidak kusangka, aku disebut jamet oleh pencuri yang tidak mau ngaku pencuri. Ya maklum sih, soalnya pasaran juga."

​Kini mata Dion yang berganti membelalak terkejut. Pria itu melempar dompet yang sudah dia simpan setengah hari di dalam sakunya—dilempar ke wajah wanita itu, keras. "Kalau segitunya pengen dikembalikan, tuh!"

​Pluk— dahi Pharita mengenai dompet miliknya yang dikembalikan dengan cara tidak sopan. Pharita membola mata kaget dia melihat isi dompetnya yang masih utuh bersama dengan KTP miliknya juga. "Sekarang di mana Nyonya Aluna? JAWAB!"

​"Aluna kenapa kalian nyari—" Pharita segera mengatup bibir cepat. Arkan melihat gerak-gerik mencurigakan dari wanita itu melotot tajam. "Kau tahu di mana dia?" tanya Arkan menurunkan nada satu oktaf. Di sini Pharita terus geleng kepala, padahal mereka berdua bisa tahu kalau dia sedang membohongi mereka. Dion menggeram kesal, karena wanita itu, dia jadi dimarahi tuannya—karena wanita di depannya ia mendapatkan tugas paling berat dalam hidupnya. Belum apa-apa Dion sudah menunjuk kesal, sudah memastikan bahwa Pharita-lah pelakunya.

​"Sialan kau! Jangan bohong! Ngaku aja apa susahnya!!"

​"Apa? —" lantas Pharita tak terima.

​"Tuan, kau mau ke mana?!" cegah Pharita di tengah jalan, dia segera memasang tameng di depan pintu. Arkan melirik Dion, saat ditatap pria itu langsung melemparkan diri ke perut Pharita sampai menabrak dinding. Pharita terkejut, perutnya ditendang dengan kepala pria itu yang kini berada di pangkuannya. Pharita segera berdiri lekas akan mencegah Arkan masuk ke dalam, tapi Dion tak akan membiarkan itu terjadi. "Bangsat, lepasin! Lepasin!!!" rengek Pharita, dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa lepas dari cengkeraman tangan pria itu, tapi setiap ia ingin melangkah kakinya serasa digigit semut.

​"Ah! Sakit—"

​"Lepaskan—" mata Pharita menuju Arkan yang terus berusaha membuka pintu. Ia tersenyum licik karena pintu sudah ia kunci, dan kuncinya berada di saku celananya tak akan mungkin Arkan maupun asisten nakalnya ini tahu. Arkan mendesah berat, dia melirik Dion dari atas. "Carikan kunci pintu ini, barangkali berada di tangan wanita yang kau pegang itu." Dion langsung berdiri, dia merogoh kedua saku Pharita dengan kekuatan secepat kilat. Di saat Pharita belum sadar bahwa kunci rumahnya sudah diambil, Arkan sudah memegang kunci rumah yang harusnya dia simpan di dalam saku.

​"BAJINGAN!!!" teriak Pharita kencang, hampir memecahkan gendang telinga Dion. "Kecilkan suaramu. Perempuan tapi tidak bisa jaga sikap." ejek Dion sambil kedua tangan menutup telinganya rapat-rapat.

​Lampu apartemen dinyalakan, Pharita datang dari belakang dengan napas tak beraturan—ia berusaha membujuk suami juniornya itu berkali-kali. "Maaf saja kalau aku terkesan ikut campur atau apa Tuan Arkan, tapi kamu sudah salah paham dia sebenarnya gak kabur dari rumahnya... dia malam itu cuma mau menyadarkan ayahnya yang sudah kecanduan judol, tapi pada saat itu Aluna hampir didorong dari atas jembatan oleh ayahnya sendiri jadi... saya langsung memukul ayahnya dari belakang dan membawanya kemari." jelas Pharita panjang lebar, dia ragu apakah ucapannya akan dipercaya atau tidak karena dengan melihat raut wajah Arkan yang seolah bisa meledakkan bumi kapan saja, wanita tomboi itu tak yakin sama sekali.

​Melihat istrinya tidur pulas dalam genggaman boneka rajutan, ia berjongkok. Pharita masih menjelaskan panjang lebar, "Tadi dia itu demam Tuan Arkan... jadi saya merawatnya, saya mohon—"

​PLAK!

​Mata Pharita membelalak terkejut, ia menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aluna yang sedang di mimpi terindahnya, terbangun oleh rasa sakit menjalar di pipinya. Ia mendongak, gemetar ketakutan saat kini wajah Arkan menyapu semua mimpi konyol yang barusan dia alami.

​"Ma—mas Arkan..."

​"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEKK!!" seru Pharita, dia akan maju memukul Arkan dari belakang. Jelas siapa yang tak marah kalau orang sakit lagi tidur terus ditampar tanpa kejelasan tepat berada di depan matanya? Pharita yang tak bisa melihat kekerasan di depan matanya, selangkah maju sebelum dari belakang Dion menariknya, memberikan pukulan spesial ke dadanya.

​"Ukh—" wanita itu memegang dadanya sendiri, dia melihat pria pendek itu berani memberikan rasa yang tak pernah ia dapatkan lagi setelah ajang kompetisi bela diri, kini ia terduduk menahan rasa sesak yang menyeruak.

​Aluna berteriak kala tangannya ditarik, "Mas! Maaf! Maafkan aku Mas!"

​"Ulangi."

​"Aku—maaf Mas, maaf!"

​"Ulangi."

​Dion tak bisa ikut campur soal ini, karena pria itu yakin kalau yang bersalah di sini adalah Aluna.

​"Aku... maaf telah kabur darimu, niatnya aku akan pulang besok Mas! Aku tidak bohong!"

​PLAK!

​"Tidak... jangan..." desis Pharita di belakang, tangannya mencoba menggapai Aluna yang ditampar berkali-kali oleh suaminya. Setengah kesadaran dimiliki wanita itu, dia jatuh terkapar tak berdaya karena pukulan yang dilayangkan barusan pada dadanya. Mata Pharita mengkilat amarah kepada Dion yang berdiri tak jauh di depannya hanya berdiri mematung, tak melakukan apa-apa'Lihat saja nanti... kubalas kau..'

​Dion melihat bahwa wanita itu sudah tak sadarkan diri. Ia berbisik pada tuannya dari belakang, "Tuan... wanita ini sudah pingsan, apakah ini kesempatan?"

​Aluna geleng kepala, dia meneriakkan nama seniornya berkali-kali tapi jelas itu mustahil untuknya. "Siapa yang kau panggil hah? Tinggal bersama seorang pria—"

​"Di—dia seniorku di kafe Mas! Dia itu wanita!"

​"Oh, salah siapa bertingkah seperti laki-laki... salahnya kan? Kalau dia bersikap layaknya seorang wanita pasti tak akan saya tampar sekeras ini kepadamu..."

​Aluna kaget tak menyangka, matanya yang tadi siang hidup seperti bintang di langit sekarang redup lagi. Lengan Aluna ditarik, ia tak memiliki kuasa untuk menolak. 'Kan, seharusnya aku tak keluar malam itu... bodoh sekali kau Aluna, kenapa malah keluar malam-malam tanpa izin...'

...****************...

​Sesampainya di mansion beberapa pelayan memandangi Aluna yang digeret rambutnya oleh suaminya itu, seperti pel-pelan tak ada harga dirinya lagi. Tak luput dengan Dion yang juga mengekor dari belakang memastikan para pelayan tidak membocorkan kejadian ini kepada kepala besar Tuan Seo. Berhenti di depan pintu misterius, Aluna menoleh ke belakang, kedua pipinya memerah, tangisnya sudah seperti lem, ingusnya meluber ke mana-mana, kram sakit karena menstruasi yang seharusnya sudah reda kini timbul lagi seenaknya.

​Aluna mengernyit, itu adalah pintu yang dulu pernah dilarang Bu Lastri saat awal mereka bertemu bukan? Setelah Arkan menerima kunci kamar dari salah seorang pelayan laki-laki, rambut Aluna kembali digeret kencang. "Tolong maafkan aku! Maafkan aku Mas, aku mohon! Aku janji tak akan ulangi lagi! Aku janji—" Sudah terlambat, yang namanya nasi akan jadi bubur.

​Kini di kedua tangan dan kakinya dipasangkan borgol, Aluna mengernyit meminta jawaban dari hukuman yang tak biasa ini. Arkan terkekeh, dia berjongkok—menaikkan dagu wanita itu ke atas.

​"Lihatlah ini Aluna... saya yang kau sebut orang baik itu tidak ada, kau pikir karena saya berbaik hati mengusir ayahmu di bandara membuat diri saya menjadi pribadi yang berubah? Oh ayolah Aluna... jadilah dewasa sedikit, selamanya kau itu hanyalah seorang budak kontrak."

​"Uhuk—Mas... ini sudah salah, aku tak yakin itu tidak ada di kontrak—"

​Arkan menoleh ke belakang, memberikan kode dengan siluet matanya agar Dion memberikan surat kontrak sekali lagi. "Baiklah, well biar saya bacakan keras-keras sekali lagi ya... sudah saya bilang, baca dengan teliti. Dulu kau kuliah untuk apa?" kata Arkan mengejek, dia membuka tutup map lalu dilempar ke belakang.

—​Tidak ada kontak fisik (hanya berlaku pada hubungan badan saja, ciuman, itu tidak termasuk karena dengan bentuk kesenangan bukan cinta).

—​Tidak ada cinta di antara pihak lain.

—​Tidak mengintip kehidupan pribadi, namun sang pemilik berhak bebas melakukan apa saja termasuk mengintip kehidupan pengontrak dan tidak termasuk melanggar aturan.

—​Keluar dari pekerjaan lama, akan diberikan beasiswa ke kampus yang diinginkan.

​Membaca poin keempat tersebut, Arkan menaikkan sebelah alis. Dia meminta poin keempat dicoret, "Sia-sia saja kalau saya berikan hak pendidikan untukmu, kalau setiap kali kau membuat saya marah saja... ini tak setimpal dengan apa yang saya berikan, kalau begitu diam saja di sini bagaimana? Kuliah kan merepotkan... ya kan?"

​Mendengarnya seketika Aluna refleks menggelengkan kepala, dia membungkuk memeluk kaki suaminya erat-erat. Kalau untuknya berkuliah ia mohon untuk tidak dicabut, demi mengembalikan memori masa lalunya—ia butuh pendidikan yang sama seperti masa lalu. Tapi jelas yang namanya pria denial yang menjadi suaminya itu malah melakukan seenaknya saja, dia menendang kepala istrinya sampai kejedot tembok di belakang.

​Brak!

​Aluna meringis kesakitan, ia menyentuh hidungnya yang keluar darah. Tendangan suaminya memang ampuh, dia gemetaran memegang darah mimisan di jemari kecilnya. "Mas... darah—aku..."

​"Jangan lebay, masih ada poin lain... lihat ini, lihat dengan seksama bodoh!"

​Setelah aturan setiap minggu akan ada pesta makan malam, dan beberapa peraturan yang sebenarnya tidak memberatkan sama sekali. Aluna menyipitkan mata guna melihat apa yang dimaksud. Tertulis di sana, bahwa bila melakukan tindakan nekat termasuk kabur dari rumah tanpa izin ia akan dikurung tanpa makan dan minum di kamar kosong selama tiga hari, kemungkinan sampai satu minggu.

​Siapa yang tak kaget membacanya? Seketika tangis air mata dengan darah mimisan bercampur jadi satu. "Mas... itu... itu bercanda kan Mas? Aku mohon... katakan padaku kalau Mas cuma main-main—"

​Ucapannya dipotong, pria itu memegang erat kedua pipi wanita itu dalam sekali tangkap. "Katakan Aluna, katakan pada saya... apa kurangnya saya di matamu, hm? Apa kurang enak di sini? Tinggal nyaman? Hm?"

​"Mas... hiks—"

​"Apa menurutmu di sini saya selalu memperlakukan secara tidak adil? Memberikan perlakuan buruk, seperti tinggal di mes pembantu atau makan sisa sarapan?"

​"Tidak Mas... kamu baik—"

​"Oh katakan sekali lagi! Katakan sekali lagi!!!" seru Arkan, mendengar dirinya disebut baik sekali lagi lantas membuatnya kecewa. Pria itu mendengus berat, dia menampik wajah istrinya ke samping. "Hari ini kau menstruasi Aluna..."

​Aluna mendongak, dia angguk cepat. Mencoba membujuk suaminya itu kalau dia tak akan bisa di tempat gelap, sambil diborgol seperti ini dengan keadaan sedang datang bulan. Tapi yang namanya pria jenius dari anggota keluarga lain, dia meletakkan satu kotak pembalut di samping wanita itu. Berbisik kecil, "Saya di sini sudah sangat baik hati Aluna... sudah saya siapkan pembalut khusus untukmu, bukan?"

​"Mas—TIDAK! AKU TIDAK MAU! MAS ARKAN! LEPASKAN—"

​"AKHH! —" Tiba-tiba tangannya diinjak keras oleh pria itu tanpa iba, diputar ujung sepatunya di atas punggung tangan wanita itu—gembira dengan perbuatannya. "Aluna, di sana ada kamar mandi, tak perlu khawatir kalau haus ada air yang tersedia khusus untukmu..."

​Aluna jatuh tak berdaya, air matanya sudah kering di sana. Ia menatap pelan ke depan, hanya bisa melihat kedua kaki suaminya yang melangkah pergi, sebelum pintu benar-benar ditutup kedua mata mereka saling bertemu.

...****************...

​"Tuan... ini—"

​"Tidakkah terlalu berlebihan, saya rasa sehari saja cukup Tuan." ucap Dion memberikan saran terbaik, karena tak mungkin juga kan tiga hari dua malam tidak diberi asupan gizi? Bagaimana kalau Tuan besar Seo sampai tahu soal kejadian ini? Memang tuannya ini selalu melakukan hal nekat, bahkan kamar yang dulu menjadi tempat terburuk untuk tuannya itu, sekarang sudah berani melangkah masuk demi bisa mengurung Aluna di dalamnya.

​"Diam Dion, saya lakban lama-lama kalau gak bisa diam."

​Gluk— Dion tak bisa mengelak, dia segera menutup bibirnya cepat seolah benar-benar ada lakban yang mengunci bibirnya. Malam itu langit tidak mendung, bahkan banyak bintang menyinari tapi entah mengapa hawa di dalam mansion ini sangat mencekam. Yang seharusnya keluarga pasutri baru itu dipenuhi tawa dan bahagia menjadi ranjau untuk Aluna yang berusaha tetap berdiri apa adanya.

...****************...

​Di kafe nampak wajah Pharita lesu, matanya seperti habis dipanggang. Tercetak jelas di bawah pelupuk matanya hitam keruh. Ini sudah dua hari berlalu sejak Aluna dibawa pulang oleh suaminya, tapi Pharita tak yakin kalau juniornya itu akan diperlakukan baik-baik saja.

​Nina menghampiri, memberikan martabak manis padanya. "Kenapa sih kau itu Rita, apa yang sedang kau pikirkan? Mantan terkasihmu itu?" tanya Nina, dia mencomot satu martabak melahap tanpa embel-embel gigit kecil dahulu. Pharita ikut mengambil martabak keju, dia melahap setengahnya. "Tidak, hanya aku kepikiran tentang bagaimana kabar Aluna..."

​"Oh katanya di televisi juga Aluna sudah ketemu ya? Katanya juga dikasih uang yang nemu, 500 juta gilak! Siapa ya kira-kira yang dapat? Dirahasiain sih soalnya..." ucap Nina cemberut, matanya menaruh dagu di atas punggung tangannya yang terdapat tato lucu.

​Pharita mendengus, kalau dipikirkan semakin pusing dirinya. Ia melihat ke dalam tas, dompet pria pendek, bawahan suaminya itu belum dia kembalikan. Wanita tomboi itu tak tahu siapa nama pria pendek tersebut, dia berharap bisa bertemu lagi untuk menanyakan di mana keberadaan Aluna saat ini, apakah baik-baik saja.

​Si Gondrong masuk, "Gantian Rit, capek aku..." katanya, lalu kembali berbinar ketika melihat martabak manis di depan meja khusus pegawai. "Eh siapa ini yang beli!!! Mau dong!!"

​Nina mempersilahkannya, "Ambil aja, cukup satu aja kalau dua menyakitkan."

​Di depan Pharita menjaga di bagian kasir, ia mendengus pelan—menepuk pipi cepat agar tidak terus berpikiran negatif. "Saya es americano, dua."

​"Siap, mau take away atau dine in?"

​"Take away saja."

​"Pakai kartu kredit bisa?" tanya pria itu sekali lagi. Pharita tidak sengaja menguap, dia angguk kepala. Saat akan menerima kartu kredit sebagai pembayaran, ia salah fokus dengan jam tangan yang pernah dia lihat sebelumnya.

​Matanya pelan-pelan terangkat, ia mengedip kedua matanya cepat. Walau memakai masker dan kacamata hitam pekat untuk menutupi wajahnya. Jelas dengan tinggi badan yang bisa dibedakan, Pharita dengan seenaknya menurunkan masker pelanggannya sendiri.

​"Sudah kuduga... itu kau..."

​Dion langsung panik, dia buru-buru akan memakai maskernya kembali. Tapi tangan Pharita langsung menarik kepalanya, "Mau kabur ke mana kau hah—sialan... kau telah memukul ayam jantan jadi-jadian ini, mau kupukul balik juga?" tanya Pharita kejam.

​Dion meneguk ludah dengan wajah ketakutan.

​Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!