Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
[8 Maret, Langit Cerah.]
[Hindari mulai bekerja dan bertunangan.]
[Selamat Hari Perempuan sedunia.]
[Episode kemarin kuanggap sudah tuntas.]
[Aku cuma tidak menyangka bakal memberikan ciuman pertamaku kepada Ratna Menur dalam reinkarnasi kali ini.]
[Dia benar-benar pemenangnya.]
Pemenang apanya!
Aku tidak butuh ciuman pertamamu!
Ratna Menur rasanya ingin menerbangkan kapal udaranya ke arah Jaka Utama dan menamparnya sekarang juga. Dia baru saja bangun untuk sarapan ketika dibuat naik pitam oleh tulisan Jaka.
Ciuman pertamamu memang ciuman pertamamu, tapi ciuman pertamaku itu jauh lebih berharga daripada ciuman pertamamu! (Maksudnya: Ratna merasa ciuman pertamanya jauh lebih penting).
Dia menggebrak meja jati dengan marah. Bubur ayam di mangkuknya terciprat keluar dan mendarat tepat di wajah pelayannya. Pelayan itu menyeka bubur dari wajahnya dengan pasrah dan berkata lirih:
"Neng, pengawal yang kemarin mengintai posisi kapal pribadi Gusti Jaka sudah kembali membawa kabar."
"Bagus! Suruh mereka bersiap, aku sendiri yang akan mencari si marga Utama itu!" perintah Ratna Menur geram.
Dia sudah memutuskan: selama beberapa hari ke depan, dia akan menempel terus di sisi Jaka Utama. Mari kita lihat bagaimana pria itu melanjutkan akting naskahnya!
Jangan harap karena kamu menyembuhkan kakiku, aku akan memaafkanmu, bajingan!
Hi hi hi… Hi hi…!!
Entah kenapa, saat teringat bahwa itu juga ciuman pertama Jaka, rasa kesalnya sedikit memudar. Dia langsung melahap sarapannya dalam sekejap, sangat tidak mencerminkan sikap putri Bupati yang anggun sampai pelayannya terbengong-bengong.
Ada apa dengan Neng Ratna... Kemarin pulang wajahnya merah seperti kepiting rebus, pagi ini makannya lahap sekali... Apa Neng sedang jatuh cinta?
[Yah, tidak ada jadwal syuting buatku hari ini, jadi aku bebas.]
[Aku ingin menjelajahi hutan pegunungan yang misterius ini.]
[Sekarang, si jagoan Langgeng Sakti harusnya sudah menemukan markas musuhnya.]
Saat Jaka sedang asyik menulis, di sisi lain...
Perimeter dalam hutan pegunungan.
Lembah Sunyi.
"Guru, Anda memang hebat! Bisa melacak markas rahasia tentara siluman cuma dari seekor siluman pohon kecil!" Langgeng Sakti berkomunikasi dengan gurunya di dalam pikiran.
Dia bersembunyi di celah batu besar, menatap tajam ke arah sekelompok siluman reptil di kejauhan. Kelompok siluman lipan raksasa itu memiliki kepala seperti batu kotak dengan tentakel besar dan duri tajam di ekornya. Mereka tampak merangkak tanpa tujuan, tapi Langgeng tahu mereka sedang menjaga gua tersembunyi.
Di dalam sana adalah markas rahasia Bangsa Siluman Cacing Pasir!
"Menurut petunjuk Siluman Pohon Getah Darah kemarin, pembantai keluargaku ada di gua itu!" Mata Langgeng membara. Gurunya kemarin menemukan Tanda Isap Sukma pada bangkai pohon itu—sebuah tanda unik bangsa cacing pasir untuk menyerap energi makhluk hidup.
Berdasarkan jejak itu, guru Langgeng menentukan lokasi markas mereka. Di dalam sana kemungkinan besar ada musuh bebuyutannya: Wisesa, seekor Siluman Cacing Pasir tingkat 'Transformasi' (setara Penyatuan Asal manusia).
"Guru, tolong bantu murid!"
Langgeng merasa aneh karena gurunya tidak menyahut.
"Guru? Ada apa?"
[Jangan berisik.]
Langgeng menahan amarahnya dan terus mengintai. Dia yakin gurunya sedang menyusun rencana penyerangan yang sempurna. Padahal, yang tidak diketahui Langgeng adalah... Gurunya di dalam cincin pusaka itu sedang santai membaca buku harian.
[Markas rahasia itu dipakai tentara siluman buat kumpulkan info pendekar manusia sebelum menyerang Kota Merapi nanti.]
[Markas itu ditemukan Langgeng Sakti. Harus kuakui, dia punya guru yang hebat.]
[Yah, plot utama hari ini adalah Langgeng menghancurkan markas itu dan mulai perang sama pemimpinnya, Wisesa. Itulah awal jalan balas dendamnya.]
[Dia punya guru yang kuat. Kalau tidak, dia sudah mati dikeroyok siluman bahkan sebelum ketemu Wisesa.]
[Tsk, bicara soal guru Langgeng Sakti, dia sebenarnya adalah sosok loli kecil yang cantik dengan rambut hitam panjang.]
[Meski wujudnya kecil, namanya sangar: Geni. Nama lengkapnya Nyai Geni Tirta, pemimpin Klan Ular Hitam.]
[Oh iya, dia juga pemeran utama wanita (heroine) ketiga.]
"Jadi aku benar-benar salah satu karakter wanita utamanya!" batin Nyai Geni Tirta terkejut namun bersemangat.
Awalnya dia curiga muridnya, Langgeng, sedang berkomplot melawannya melalui buku harian ini. Dia bahkan sempat ingin membunuh Langgeng. Maklum, dia siluman dan Langgeng manusia. Hubungan kedua ras ini sedang di ujung tanduk.
Tapi dia menunggu, dan hari ini dia menemukan jawabannya: dia adalah heroine ketiga setelah Ratna Menur dan Nyai Ratih!
"Karena aku adalah heroine, akhir ceritaku pasti memuaskan! Selama aku mengikuti plot dan memanfaatkan Langgeng Sakti dengan baik, tubuh asliku pasti bisa kembali!"
Nyai Geni Tirta menaruh harapan besar pada akhir cerita ini.
"Jaka Utama itu harus tetap hidup. Kalau dia mati, aku tidak bisa lagi mengintip takdirku lewat buku ini."
Dia melingkarkan ekor ular hitamnya yang panjang, bagian atas tubuh mungilnya bersandar pada tempat tidur batu di dalam dimensi cincin. Tangan putih kecilnya memegang buku harian gaib itu. Pupil emasnya berkedip penuh antisipasi.
[Nyai Geni Tirta ini aslinya loli berambut hitam lurus saat jadi manusia.]
[Tapi jangan tertipu tampang imutnya. Dia pemimpin klan, sudah hidup seribu tahun, dan pendekar tingkat Dewa Siluman.]
[Dia sangat menakutkan.]
"Menakutkan? Oh, manusia yang bodoh," gumam Nyai Geni Tirta sambil mengibaskan rambutnya. Wajah imutnya menunjukkan senyum meremehkan yang senang.
[Pikirannya sangat licik. Sering kali dia memaksa Langgeng membunuh orang yang sebenarnya tidak mau dibunuh Langgeng.]
[Dia sering ajarkan Langgeng kalau 'belas kasihan itu konyol' dan 'kepercayaan itu sampah'. Prinsipnya: 'Cabut rumput sampai akarnya, atau dia akan tumbuh lagi'.]
"Dia tahu banyak tentangku," batin si Nyai. "Haruskah aku jadikan dia budakku selamanya?"
Nyai Geni Tirta menjulurkan lidahnya yang bercabang, seolah menjilat buku harian itu, lalu lanjut membaca ke bawah.