Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Abu di Atas Awan Hijau
Sore itu, sebuah kilatan cahaya berwarna merah darah jatuh di balik perbukitan hutan, menarik perhatian Li Yuan dan Dong Dong yang sedang bersantai. Merasakan firasat buruk, mereka memutuskan untuk memeriksa fenomena tersebut.
"Hanya sebentar, Dong Dong. Perasaanku tidak enak," ucap Li Yuan sambil mempercepat langkahnya.
Namun, pencarian itu nihil. Cahaya itu hilang seperti fatamorgana. Saat mereka berbalik untuk kembali ke Desa Qingyun, hidung tajam Dong Dong tiba-tiba bergetar. Ia berhenti mendadak, bulunya berdiri tegak.
"Li Yuan... bau ini... ini bukan bau masakan Ayi Meiling." Dong Dong berbisik dengan suara bergetar. "Ini bau daging terbakar dan... darah."
Jantung Li Yuan berdegup kencang. Ia berlari secepat kilat, menerjang semak belukar tanpa mempedulikan luka gores di tangannya. Begitu ia mencapai puncak bukit yang menghadap ke desa, dunianya seolah runtuh.
Langit jingga yang indah kini tertutup oleh asap hitam pekat yang membubung tinggi. Desa Qingyun yang tadi siang penuh dengan tawa, kini berubah menjadi lautan api.
"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!" Li Yuan berteriak, suaranya parau.
Ia menuruni bukit dengan panik. Begitu kakinya menginjak gerbang desa, pemandangan neraka menyambutnya. Rumah-rumah kayu yang asri telah rata dengan tanah, dilalap api yang menderu-deru. Di tengah jalan, ia melihat Lao Chen tergeletak tak bernyawa dengan dagangan yang berserakan. Tidak jauh dari sana, Zhang Wei mati dalam posisi berdiri, tangannya masih menggenggam kapak meski tubuhnya penuh dengan luka tusukan pedang yang sangat rapi—luka yang hanya bisa dibuat oleh seorang profesional.
Langkah Li Yuan terhenti di depan lapangan tempat ia melatih anak-anak pagi tadi.
Matanya membelalak, air mata mulai mengalir tanpa bisa ia bendung. Di atas tanah tempat mereka berlatih kuda-kuda, anak-anak itu—pasukan kecilnya—tergeletak kaku. Xiao Hua berada di tengah mereka, tangannya masih memegang erat setangkai bunga pemberian Li Yuan yang kini hangus dan bersimbah darah.
"Xiao Hua..." Li Yuan berlutut, menyentuh pipi gadis kecil itu yang sudah dingin. "Bangun... Kakak sudah kembali... Bangunlah..."
Dong Dong jatuh terduduk di sampingnya. Tongkat emasnya bergetar hebat di tangannya. "Siapa... siapa yang melakukan ini? Kenapa mereka membunuh orang-orang yang tidak berdosa?!"
Tiba-tiba, dari reruntuhan rumah kepala desa, terdengar suara batuk yang lemah. Li Yuan segera berlari ke sana dan menemukan Li Ming yang tertimbun puing, tubuhnya bersimbah darah.
"Kepala Desa!" Li Yuan berusaha mengangkat kayu yang menindihnya.
Li Ming menatap Li Yuan dengan pandangan sayu, darah mengalir dari mulutnya. "Li... Yuan... mereka... mereka mencari... sisa... kultivator..." Ia meraih kerah baju Li Yuan dengan sisa tenaga. "Itu bukan bandit... mereka adalah... Pasukan Elang Hitam dari... Kota Utama... Larilah... kau belum... cukup kuat..."
Tangan Li Ming terkulai. Napas terakhirnya terhembus di tengah kepulan asap yang menyesakkan.
Li Yuan terdiam. Ia tidak berteriak lagi. Kesedihan yang luar biasa hebatnya tiba-tiba membeku menjadi kebencian yang sedingin es. Aura di sekitar tubuhnya meledak secara tidak terkendali. Arus Qi di dalam tubuhnya yang tadinya mengalir tenang kini bergolak seperti badai di lautan hitam.
Ia berdiri perlahan. Pedang hitam di pinggangnya bergetar, seolah merespons amarah tuannya. Karat di bilahnya mulai rontok satu per satu, menyingkap logam hitam kelam yang memancarkan aura kematian.
"Pasukan Elang Hitam..." desis Li Yuan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara bocah jalanan, melainkan suara dari kedalaman jurang maut.
Ia melihat sekeliling. Desa yang memberinya harapan pertama tentang sebuah rumah, kini telah menjadi kuburan massal bagi orang-orang yang ia sayangi. Dunia yang ia anggap mulai membaik, ternyata jauh lebih busuk dan kejam dari yang ia bayangkan.
"Dong Dong," panggil Li Yuan dingin.
Dong Dong berdiri, matanya yang biasa jenaka kini hanya memancarkan kegelapan yang sama. "Aku bersamamu, Li Yuan. Sampai ke neraka sekalipun."
"Kita tidak akan lari," ucap Li Yuan sambil menggenggam Pedang Hitam Takdirnya yang kini mulai bersinar ungu gelap. "Mereka telah mematikan cahaya di dunia ini. Maka, aku akan menjadi kegelapan yang menelan mereka semua."
Di bawah langit malam yang memerah karena sisa api, Li Yuan bersumpah. Setiap tetes darah warga Desa Qingyun akan dibayar dengan nyawa.