Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Rachel yang sejak tadi hanya diam memperhatikan akhirnya menghela napas panjang. Ia berdiri perlahan, menatap Danzel dengan senyum manis—senyum yang sekilas tampak lembut, tapi menyimpan bara di baliknya.
“Menarik sekali,” ujarnya pelan namun tajam. “Bahkan Rey, yang dulu membuat Alice trauma... kini justru jadi orang yang paling peduli pada gadis itu.”
Danzel menoleh sekilas, alisnya sedikit berkerut. Rey hanya menunduk singkat, memberi salam pamit tanpa banyak bicara, lalu berjalan pergi menyusuri koridor.
Begitu sosoknya menghilang di tikungan, Danzel memalingkan pandangannya kembali pada Rachel.
“Apa maksudmu dengan ucapan itu, Rachel?” tanyanya datar.
Rachel tersenyum tipis, menggeleng perlahan. “Oh, tidak ada. Lupakan saja.”
Namun Danzel tidak langsung menanggapinya. Ia hanya memandang ke depan.
“Kadang,” ucapnya tiba-tiba, suaranya tenang, “orang seperti Alice memang mudah disalahpahami. Dia terlihat lemah, tapi sebenarnya dia punya kebaikan luar biasa. Aku... kagum padanya.”
Rachel terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar, tergantikan tatapan yang sulit diartikan—antara kaget, kecewa, dan tersinggung.
“Kau... kagum padanya?” tanyanya akhirnya, mencoba terdengar santai, meski suaranya sedikit bergetar.
Danzel menatap Rachel kembali, kali ini dengan ekspresi jujur dan tanpa ragu. "Alice adalah gadis yang sangat baik, tidak ada satupun seseorang yang sepertinya. hatinya begitu lembut dan matanya selalu membinarkan kebaikan. dari dulu aku selalu mengaguminya."
"Lihatlah walaupun Rey selalu menindasnya dan menyakitinya, dia tetap memaafkan Rey dengan ikhlas. Dan dibalik penampilan yang terkesan culun, sebenarnya dia memiliki kecantikan pada wajahnya dan juga hatinya."
Danzel tiada hentinya memuji Alice di hadapan kekasihnya itu, sehingga membuat hati Rachel memanas dan muak dengan pembicaraan Danzel yang terus membahas Alice.
Tanpa mengucapkan apapun, Rachel bergegas pergi begitu saja dengan perasaan marah.
"Rachel, kau mau kemana?" teriak Danzel mengejar Rachel yang pergi meninggalkannya tiba-tiba
Hingga akhirnya Danzel berhasil menghentikan Rachel. "Kenapa kau pergi begitu saja?"tanya Danzel menatap Rachel sedangkan Rachel enggan membalas tatapan itu
"Ada apa Rachel? apakah aku membuat kesalahan?"tanya Danzel sekali lagi karena tidak ada jawaban dari Rachel
"Ya Danzel!! kau telah membuat kesalahan yang sangat besar, kau telah menyakiti perasaanku."
Danzel mengerutkan dahinya."Apa kesalahanku sehingga membuatmu tersakiti? tolong jelaskan padaku, aku tidak tahu?"
Rachel menatap Danzel dengan penuh amarah yang tertahan."Kesalahanmu adalah membicarakan Alice dan terus memujinya di hadapan kekasihmu sendiri! tidakkah kau memikirkan perasaanku?"
Danzel terdiam, dia memang terlalu asyik membicarakan Alice. tetapi dia tidak pernah berniat membuat Rachel cemburu.
"Rachel, aku hanya memuji sahabat ku sendiri. perasaan kagumku hanya sebatas kagum kepada sahabatku dan tidak lebih dari itu."
Rachel tertawa sinis."hhh..hanya sebatas sahabat katamu?"
"Sahabat apa yang menunjukkan kepedulian yang begitu besar saat sahabatnya itu di lecehkan. ya aku tahu rasa kepedulian memang harus ada dalam persahabatan, Tapi...
"Tapi, entah kenapa aku merasa kepedulianmu sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih. Sesuatu yang... seperti perasaan sayang dan cinta."
Danzel terkejut, tak tahu harus berkata apa. "Rachel, itu tidak benar. Aku hanya ingin melindungi Alice sebagai teman-
Rachel menggeleng,memotong kata-kata Danzel"Jangan bohongi dirimu sendiri, Danzel. Aku bisa melihatnya. Cara kau memandang Alice... Itu bukan hanya sekadar sahabat yang peduli. Ada sesuatu yang lebih di sana, dan kau terlalu buta untuk menyadarinya."
"Tidak Rachel, Aku hanya mencintaimu. hanya kau percayalah padaku." sangkal Danzel mencoba menyakinkan
Rachel sempat terdiam beberapa saat
hingga akhirnya ia sedikit luluh, meskipun tak sepenuhnya percaya. "hm baiklah, aku percaya padamu. Tetapi bolehkah aku meminta suatu hal kepadamu Danzel."
"Katakanlah..."
"Kau harus menuruti keinginanku, jika aku ingin menghabiskan waktu bersamamu kau harus selalu ada untukku. jangan pernah membahas Alice saat kita sedang bersama dan jangan pernah gunakan dia sebagai alasan saat kau jauh dariku."
Danzel terdiam merasakan keinginan itu begitu berat baginya"Tapi-
"Ada apa? apa kau tidak bisa melakukannya? kau tidak mencintaiku?"potong Rachel seolah ingin Danzel segera menuruti kemauannya
"Tidak, bukan begitu," Danzel menghela napas panjang, merasa terjebak. Tanpa berpikir panjang, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, sesuai keinginanmu."
Rachel tersenyum puas dan langsung memeluk Danzel erat. Danzel membalas pelukan itu, namun matanya kosong, pikirannya berkelana jauh. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hampa.
Rachel merasakan kemenangan di tangannya. Senyum sinis dengan sentuhan keangkuhan menghiasi wajahnya, seolah memastikan bahwa dia telah mengendalikan situasi. Baginya, Alice bukan lagi ancaman.
**
Sejak saat itu, Danzel mulai berubah. Dia tidak lagi menjadi sosok yang selalu ada di sisi Alice seperti sebelumnya. Alice, yang awalnya menganggap perubahan ini sementara, mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang.
Danzel tak lagi berbicara banyak dengannya; obrolan mereka kini hanya sebatas percakapan kecil yang dangkal. Meskipun mereka masih duduk sebangku di kelas, jarak di antara mereka terasa semakin nyata.
Pengaruh Rachel begitu kuat. Danzel kini lebih sering memenuhi permintaan kekasihnya untuk selalu berada di sisinya. Saat di sekolah, perubahan Danzel begitu mencolok. Selama jam pelajaran, ia tampak tidak fokus, seolah pikirannya berada di tempat lain. Wajahnya selalu terlihat murung, tidak lagi antusias seperti dulu ketika dia sering berbincang dengan Alice.
Di luar jam pelajaran, situasinya semakin jelas—Danzel selalu bersama Rachel, seolah-olah seluruh dunianya hanya berputar di sekitar kekasihnya itu. Bahkan di luar sekolah, Danzel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Rachel, meninggalkan Alice yang semakin terpinggirkan dalam hidupnya.
Alice hanya bisa menyaksikan perubahan ini dengan perasaan campur aduk—kehilangan, kesepian dan kesedihan yang tak terungkapkan.