NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Raka Dibawa ke Puskesmas

Mika duduk di lantai, lututnya menempel pada paha ayahnya yang dibalut kain tipis. Ember kecil di sampingnya sudah berwarna kemerahan.

“Ayah, lukamu. Apa terlalu sakit?” tanyanya pelan.

“Perlu dibawa ke puskesmas?” tambah Mika.

Pak Raka mengangkat bahu sedikit. “Tidak usah. Ini cuma memar.”

“Memarnya besar,” balas Mika. Ia memeras kain lalu menempelkannya ke pipi ayahnya yang lebam.

Pak Raka menarik napas pendek saat kain hangat menyentuh kulitnya. “Ayah sudah sering lebih parah dari ini.”

Mika menatapnya sebentar. “Dulu Ayah tidak pincang.”

Kalimat itu jatuh datar. Bukan menyalahkan. Hanya fakta.

Pak Raka terdiam.

Mika berpindah ke luka di kakinya. Ia membuka balutan lama dengan hati-hati, membersihkan darah yang mengering.

“Kamu terlalu nekat,” kata Pak Raka akhirnya. “Datang sendiri begitu. Kalau mereka lebih banyak?”

Mika tidak mengangkat kepala. “Aku lihat situasinya dulu.”

“Kamu bukan petarung.”

“Aku anak Ayah. Dan aku punya otak. Otak jangan hanya di pasang tapi juga digunakan untuk berfikir.”

Pak Raka hampir tersenyum, tapi rasa perih di bibirnya menahan.

“Justru itu,” katanya pelan. “Ayah tidak mau kamu belajar cara hidup seperti itu.”

Mika mengoleskan salep tipis di betis ayahnya. Gerakannya rapi. Terlatih bukan karena sering berkelahi, tapi karena sering merawat.

“Aku tidak ingin jadi seperti siapa pun,” ucapnya. “Aku cuma tidak mau Ayah diseret begitu saja.”

Hening sebentar.

Di luar, suara angin menyapu atap seng. Suara mesin motor lewat pelan di jalan tanah.

Pak Raka memandang wajah anaknya yang serius menutup perban.

“Kamu tidak takut?”

Mika berhenti sesaat. Lalu menggeleng kecil.

“Aku takut. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”

Pak Raka menatapnya lama. Ada garis keras di rahang Mika yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Setelah perban terpasang rapi, Mika membereskan obat dan kain bekas ke dalam ember.

“Besok kita tetap ke puskesmas,” katanya pelan. “Kalau Ayah tidak mau, aku yang akan paksa.”

Pak Raka mendengus pelan. “Kamu ini.”

Mika berdiri dan membantu ayahnya bersandar lebih nyaman.

Rumah kecil itu kembali tenang. Tidak ada suara keras. Tidak ada ancaman.

Hanya bau obat, kain basah, dan seorang ayah yang mulai sadar, anaknya sudah tumbuh lebih cepat dari yang ia kira.

.

Pagi itu Mika sudah bersiap sebelum matahari naik tinggi.

Pak Raka duduk di kursi bambu dekat pintu. Kakinya yang pincang dibalut perban baru, tapi memarnya masih terlihat jelas. Pipi kirinya kebiruan. Luka di pelipis mengering.

“Kita berangkat sekarang,” kata Mika.

“Ayah bilang tidak perlu,” jawab Pak Raka pelan.

“Perlu,” Mika mengangkat tas kecil berisi kartu berobat dan uang secukupnya. “Kalau infeksi, Ayah yang susah sendiri.”

Pak Raka tidak membantah lagi.

Puskesmas desa tidak ramai. Cat temboknya mulai mengelupas. Bau obat dan cairan pembersih bercampur di udara.

Mika membantu ayahnya duduk di bangku tunggu. Beberapa warga melirik sekilas pada wajah lebam Pak Raka, tapi tidak ada yang bertanya.

Ketika nama Pak Raka dipanggil, Mika ikut masuk ke ruang periksa.

Dokter jaga, perempuan muda dengan kacamata tipis, memeriksa luka di kaki terlebih dulu.

“Memarnya cukup dalam,” katanya sambil menekan pelan di sekitar betis.

Pak Raka menahan napas.

“Terpeleset di kebun?” tanya dokter itu santai.

Mika dan Pak Raka saling pandang sepersekian detik.

“Iya,” jawab Pak Raka singkat.

Dokter mengangguk. “Tidak ada patah tulang, tapi harus rontgen kalau bengkaknya tidak turun dalam tiga hari.”

Ia membersihkan ulang luka lecet, memberi salep antibiotik, lalu membalut lebih rapat.

“Wajahnya juga kena benturan keras,” lanjutnya. “Kalau pusing atau mual, langsung kembali.”

Mika mencatat semua di pikirannya.

“Bisa jalan jauh?” tanya Mika.

“Jangan dipaksa dulu,” jawab dokter. “Istirahat total beberapa hari.”

Setelah resep obat diberikan, Mika membantu ayahnya keluar.

Di halaman puskesmas, angin terasa lebih hangat.

“Terima kasih sudah memaksa Ayah,” kata Pak Raka pelan saat mereka berjalan pelan ke arah rumah.

Mika tidak menoleh. “Ayah yang selalu bilang, jangan anggap remeh luka.”

Pak Raka tersenyum kecil.

Beberapa warga yang mereka lewati menyapa biasa saja. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang tahu Pak Raka semalam diikat dan dibawa pergi oleh orang kota.

Dan mungkin lebih baik begitu.

Sampai di rumah, Mika langsung menyimpan obat di meja.

“Ayah istirahat di dalam saja,” katanya.

Pak Raka menurut. Ia berbaring, menatap langit-langit kayu yang mulai kusam.

“Mika.”

“Iya.”

“Kita tidak bisa pura-pura ini tidak ada hubungannya dengan orang itu.”

Mika berhenti sejenak di ambang pintu.

“Aku tahu.”

“Kamu tidak menyalahkannya?”

Mika diam beberapa detik.

“Aku menyalahkan orang yang menculik Ayah.”

Jawabannya datar. Tidak membela. Tidak juga menyerang.

Pak Raka memejamkan mata.

Di luar, suara anak-anak pulang sekolah terdengar. Desa tetap berjalan seperti biasa.

Tapi Mika mulai mengunci pintu lebih cepat hari itu.

Dan tas kecil berisi obat tidak ia letakkan jauh dari jangkauan.

Siang bergeser pelan.

Pak Raka sudah tertidur setelah minum obat. Nafasnya teratur. Kakinya disangga bantal tipis agar tidak terlalu nyeri.

Mika duduk di lantai dekat dipan, membuka botol obat sekali lagi untuk memastikan dosisnya benar. Ia membaca ulang aturan pakai, lalu menaruhnya kembali di meja.

Di dapur kecil, ia menanak nasi. Suara air mendidih pelan. Bau beras hangat memenuhi ruangan.

Sesekali ia melirik ke arah pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada motor berhenti.

Tidak ada suara asing di jalan tanah.

Hanya tetangga yang lewat membawa kayu bakar.

Hanya anak-anak yang berlari sore hari.

Mika menjemur kain perban bekas yang sudah dicuci. Tangannya bergerak biasa saja. Tidak tergesa. Tidak gemetar.

Ia kembali ke dalam rumah saat matahari mulai turun.

Pak Raka masih tidur.

Mika menutup jendela satu per satu. Menggeser kait pintu. Memeriksa kunci dua kali.

Lalu ia duduk di kursi bambu dekat pintu depan.

Bukan karena takut.

Hanya berjaga.

Di luar, senja menyentuh ujung atap rumah. Warna langit berubah pelan.

Desa tetap seperti kemarin.

Tenang.

Biasa.

Dan di dalam rumah kecil itu, untuk hari ini saja, tidak ada yang datang lagi.

1
Kam1la
“Aku sangat terbuka dengan masukan dari kalian. Kritik dan saran akan sangat membantu agar novel ini semakin baik. Jika suka, boleh juga beri like ya.”
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat kak /Smile//Ok/
total 1 replies
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!