Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Unbreak My heart
Mentari sore menggantung rendah di ufuk barat, menyepuh hamparan sawah Desa Sukamaju dengan warna emas yang kental. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan padi yang mulai menguning. Abbas, bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan kaus oblong kumal, berlari kecil sambil memegang gulungan benang layangan.
Di belakangnya, Jamila melangkah anggun, meski wajahnya tampak sedikit lelah setelah seharian membantu Nyainya di pasar.
"Ayo, mpok Mila! Di sana anginnya paling kencang," seru Abbas sambil menunjuk ke arah gubuk tua yang berdiri menyendiri di tengah sawah, jauh dari pemukiman warga.
Mila tersenyum tipis.
"Pelan-pelan, Abbas. Nanti jatuh."
Tiba-tiba Abbas berhenti. Ia menoleh ke arah Mila dengan tatapan yang tidak biasa bagi anak seusianya.
"Tapi janji ya, mpok Mila... mpok jangan sedih."
Mila mengerutkan kening, merasa heran dengan ucapan bocah itu.
"Sedih kenapa? Kan kita mau main layangan?"
Abbas tidak menjawab. Ia hanya menarik ujung baju Mila menuju gubuk kayu yang tertutup rimbunnya pohon bambu di sampingnya.
Semakin dekat ke gubuk, langkah Abbas semakin pelan. Suasana yang biasanya sepi hanya dengan suara jangkrik, kini diwarnai oleh suara-suara aneh yang tertahan suara gesekan kayu gubuk yang reot dan desahan yang tidak seharusnya terdengar di sore hari yang tenang.
Mila merasakan dadanya berdegup kencang. Ia mengenali motor trail hitam yang terparkir di balik semak-semak tak jauh dari gubuk itu. Itu motor Arjuna, tunangannya. Arjuna adalah putra tunggal Pak Kades, pria yang selama ini dipuja-puja warga desa karena ketampanan dan karisma kepemimpinannya.
Mila mendekat ke celah dinding bambu yang renggang. Matanya membelalak, namun anehnya, air matanya jatuh perlahan. Di dalam gubuk itu, di atas tumpukan jerami kering, ia melihat Arjuna, tunangannya tanpa busana.
Namun, pria itu tidak sendirian. Ia tengah bergelut mesra dengan Salina, sepupunya, baru saja pulang dari kota. Salina dikenal sebagai janda muda anak dua yang selalu tampil mencolok dengan pakaian ketat yang kontras dengan kesederhanaan orang desa.
Arjuna dan Salina seolah lupa dunia, tenggelam dalam nafsu di tempat yang seharusnya menjadi ruang istirahat para petani.
" Kamu cantik sekali Salina" Arjuna terus mencium Wajah Salina
" Aku sama mila cantikan mana? " tanya Salina minta validasi
" Cantikan kamu ke mana-mana sayang, Mila itu hitam, bulukan, gak terawat, kamu walaupun janda tapi cantik , sexy dan hot"
" Masa, mas Arjuna"
" Ya udah gimana kita main satu ronde lagi sebelum magrib, yang"
Beberapa menit kemudia Arjuna larut dalam gairah muda melupakan rencana pernikahannya.
" Terus mas Juna" desah Salina
Mila merasakan dingin menjalar di sekujur tubuhnya, tapi itu bukan dingin kesedihan, hatinya seketika membeku. Ia ingin berteriak, tapi ditahannya, Ia tidak mendobrak pintu dan memaki-maki. Baginya, tangisan hanya akan merendahkan harga dirinya di depan pria pengkhianat itu dan perempuan itu.
Dengan tangan yang gemetar, Mila merogoh saku gamisnya. Ia mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan tenang, ia mengarahkan kamera ke celah bambu, menekan tombol rekam. Layar ponselnya menangkap setiap detail adegan memuakkan itu wajah Arjuna yang penuh nafsu dan tawa genit Salina.
"Mpok Mila..." bisik Abbas ketakutan.
Mila segera mematikan rekaman setelah merasa durasinya cukup sebagai bukti yang tak terbantahkan, sambil menutup mata Abbas dengan telapak tangannya. Ia membawa Abbas menjauh beberapa meter dari gubuk agar suara mereka tidak terdengar.
"Abbas," bisik Mila, suaranya terdengar sangat tenang, hampir seperti es.
"Lo mau bantu mpok ?"
Abbas mengangguk ragu.
"Mpok nggak nangis?"
"Tidak, Sayang mpok justru berterima kasih lo ajak ke sini," jawab Mila sambil mengusap kepala Abbas.
"Sekarang, dengarkan mpok Mila baik-baik.lo lari ke arah balai desa. Di sana pasti banyak orang tua yang sedang duduk-duduk menunggu waktu Maghrib, termasuk Pak RT dan Pak Ustaz."
Mila menarik napas panjang.
"Lo teriak sekencang mungkin. Katakan ada pencuri masuk ke gubuk atau ada orang gila yang mengamuk. Apa saja yang membuat mereka semua datang berlari ke sini sekarang juga. Bisa?"
Abbbas mengangguk cepat Ia merasa seperti sedang diberi misi rahasia yang penting.
"Bisa, mpok !"
"Satu lagi," tambah Mila.
"Panggil juga Pak Kades. Katakan Abbas lihat maling di gubuk sawah. Cepat!"
Abbas langsung melesat seperti anak panah, kakinya yang kecil menapak kuat di pematang sawah. Mila berdiri diam di balik pohon besar, memperhatikan gubuk itu dengan tatapan tajam. Di dalam sana, dua manusia itu masih terbuai nikmat dunia, tidak menyadari bahwa sebentar lagi badai besar menuju ke arah mereka.
Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai suara riuh rendah terdengar dari kejauhan. Serombongan warga, dipimpin oleh Pak RT dan beberapa pemuda desa yang membawa pentungan, berlari mendekat. Di barisan belakang, tampak Pak Kades yang terengah-engah, wajahnya menunjukkan kekhawatiran luar biasa karena mengira ada sesuatu yang menimpa warga atau pencurian aset desanya.
"Di mana? Di mana malingnya?" teriak salah satu pemuda.
Mila bersembunyi dari balik pohon, melihat warga yang berdatangan.
Tanpa menunggu komando kedua, warga langsung mengepung gubuk tersebut. Pak RT menendang pintu kayu yang rapuh itu hingga terbuka lebar.
"ASTAGFIRULLAH!"
Teriakan serempak dari warga membelah kesunyian sore.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Arjuna. Ia melompat kaget, berusaha mencari kain untuk menutupi tubuhnya, sementara Salina menjerit histeris dan meringkuk di pojok gubuk dengan rambut acak-adakan. Pak Kades, yang baru saja sampai di depan pintu, mendadak lemas. Wajahnya yang biasanya merah berwibawa kini pucat pasi seperti mayat.
"Arjuna... apa-apaan ini?!" suara Pak Kades bergetar hebat antara amarah dan malu yang tak terhingga.
Jamal kakak Mila tiba-tiba datang memukul hidung Arjuna.
" Dasar brengsek"
Darah mengalir dari hidung Arjuna,
" kita arak saja pasangan mesum ini" teriak warg
" Saya mohon jangan " ucap Arjuna memelas, sementara itu Arjuna melemparkan jaketnya pada Salina.
'' Bikin malu saja kamu Juna" teriak Pak Kades
" Salina, lo tega berbuat gitu sama calon adik iparmu, kurang baik apa Mila sama kamu, anak kamu dia yang urus waktu kamu pergi ke kota " Jamal menumpahkan kemarahannya.
" Dan lo Juna, Laki-laki brengsek, bisa- bisanya lo duakan Mila, harga diri lo dimana, sebentar lagi nikah malah berbuat ulah" Jamal menuding tangannya kearah Salina dan Arjuna.
" Maafin aye bang Jamal tapi ini takdir diluar keinginan aye ucap Salina mencoba membela diri atas nama takdir.
" Dasar janda gatal, perebut tunangan orang" seru ibu- ibu yang gemas ingin melakban mulut Salina.
" Hu... Hu..., ibu ibu hati hati jangan sampai suami kita tergoda sama janda gatel ini" seru ibu yang lainnya.
Bersambung