𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14 - PULANG TANPA NAMA.
Pagi di bandara pusat kota masih setengah terjaga.
Langit berwarna abu muda, matahari belum sepenuhnya naik, dan lalu lintas belum mencapai puncaknya. Di salah satu gerbang kedatangan internasional, seorang pria muda berjalan keluar tanpa rombongan, tanpa sambutan, tanpa perhatian siapa pun.
Rizuki.
Ia mengenakan jaket gelap sederhana, masker hitam, dan ransel kecil di punggungnya. Tidak ada tanda bahwa pria ini adalah pemilik salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kota itu, bahkan di negara itu.
Tidak ada yang menunggu.
Tidak ada yang tahu.
Dan memang begitu yang ia inginkan.
BANDARA — PAGI YANG BIASA
Rizuki berhenti sejenak di pintu otomatis, menghirup udara kota yang sudah lama ia tinggalkan.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Ia melangkah ke area taksi umum, memilih antrean paling depan. Seorang sopir paruh baya dengan jaket coklat tua meliriknya dari balik kaca.
“Ke mana, Nak?”
“Ke apartemen di sisi barat kota,” jawab Rizuki singkat.
Sopir itu mengangguk. “Masuk saja.”
Mobil bergerak perlahan meninggalkan bandara, menyatu dengan jalan raya yang mulai ramai.
OBROLAN DI DALAM TAKSI
Beberapa menit pertama berlalu dalam diam.
Radio memutar berita pagi, membahas pembangunan kota, ekonomi yang stabil, dan proyek sosial. Nama Bluesky Corporation disebut sekilas.
Sopir taksi tertawa kecil.
“Kalau dipikir-pikir, hidup di kota ini sekarang jauh lebih enak, ya.”
Rizuki menoleh sedikit. “Kenapa?”
“Ya karena itu,” kata sopir sambil menunjuk radio.
“Bluesky Corporation. Mereka bangun sekolah, bantu usaha kecil, bikin lapangan kerja. Anak saya bisa kuliah karena beasiswa mereka.”
Rizuki tidak langsung menjawab.
“Dulu saya cuma supir taksi biasa,” lanjut sopir itu antusias.
“Sekarang? Tanya rizuki datar.
Tetap supir taksi sih, tapi tenang. Kota ini aman, kerjaan ada, hidup cukup.” Ia tertawa lagi, tulus.
“CEO-nya hebat,” katanya.
“Misterius memang, tapi kelihatan peduli. Saya bangga, jujur saja.” Lanjut ngomong supir taksi itu.
Rizuki menatap jalanan di depan.
Tidak ada senyum di wajahnya. Tapi matanya berubah.
“Bapak belum pernah lihat CEO-nya?” tanya rizuki pelan.
“Belum,” jawab sopir itu cepat.
“Katanya jarang muncul. Tapi ya… yang penting hasilnya, kan?” jawab supir taksi itu dengan senyum bahagia nya.
Rizuki mengangguk kecil.
“Iya. Yang penting hasilnya.”
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak pelan. Bukan kesombongan. Bukan juga kebanggaan.
Lebih ke… beban yang diterima dengan sadar.
KOTA YANG IA BANGUN
Mobil melaju melewati pusat kota.
Gedung-gedung tinggi berdiri rapi. Di kejauhan, Gedung Cakrawala menjulang, puncaknya hampir menyentuh awan pagi.
Rizuki menatapnya sekilas.
Ia tidak merindukan gedung itu.
Ia hanya memastikan… semuanya masih berdiri.
“Anak muda seperti kamu,” kata sopir tiba-tiba,
“Pasti punya mimpi besar.”
Rizuki terdiam sejenak.
“Mungkin,” jawabnya akhirnya.
“Kalau sudah sukses nanti,” lanjut sopir itu sambil tersenyum,
“Jangan lupa tetap jadi orang baik.”
Rizuki menatap kaca jendela.
“Akan saya ingat.”
TIBA DI APARTEMEN
Taksi berhenti di depan apartemen sisi barat kota.
Rizuki membayar, turun, dan mengangguk hormat.
“Terima kasih, Pak.”
“Semoga harimu menyenangkan,” balas sopir itu ceria.
Pintu mobil tertutup.
Rizuki berdiri sebentar di depan gedung apartemennya. megah namun Tidak mencolok. Tempat ini adalah satu-satunya ruang di mana ia tidak perlu menjadi siapa pun.
Ia masuk, naik lift, dan membuka pintu unitnya.
Sunyi.
Ia meletakkan tas, melepas jaket, lalu duduk di sofa. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi.
Hari ini… ia memutuskan istirahat.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul membuatnya berhenti bernapas sepersekian detik.
Vhiena.
Vhiena:
“Pagi, Ki.
Kamu baik-baik saja?”
Rizuki menatap layar lama.
Jarinya bergerak.
Rizuki:
“Pagi vhien.
Aku baik.
Maaf untuk kabar yang tak ada buat beberapa hari
Aku baru selesai urusan.”
Beberapa detik kemudian.
Vhiena:
“Hah??” vhiena mengetik sambil bertanya-tanya.
" Sudah seperti orang penting ini anak.* ucap vhiena dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Rizuki tersenyum tipis.
Rizuki:
" Ada sedikit persoalan yang harus aku selesai kan.*
" Namun kini, Sudah selesai kok tidak ada masalah." Lanjut ucap rizuki.
Di sisi lain kota, Vhiena membaca pesan itu di sela jam pelajaran. Dadanya terasa hangat tanpa alasan yang jelas.
Vhiena:
“Syukurlah.”
Satu kata itu membuat Rizuki menyandarkan kepalanya ke sofa.
ISTIRAHAT YANG SEBENARNYA
Siang itu, Rizuki tidur lebih lama dari biasanya.
Tidak ada rapat.
Tidak ada laporan.
Tidak ada sistem.
Hanya suara kota dari kejauhan.
Saat ia terbangun, matahari sudah condong ke barat. Ia duduk di tepi ranjang, mengambil ponsel.
Pesan baru.
Vhiena:
“Aku baru selesai sekolah.
Hari ini capek, tapi entah kenapa senang.”
Rizuki tersenyum kecil.
Rizuki:
“Kenapa?”
Beberapa menit berlalu.
Vhiena:
“Tidak tahu.
Mungkin karena hari ini terasa tenang.”
Rizuki menatap jendela.
“Kalau saja kamu tahu…” gumamnya pelan.
Rizuki:
“Kadang, hari tenang itu hadiah.”
Vhiena:
“Kamu lagi istirahat?”
Rizuki:
“Iya.
Hari ini aku tidak ke mana-mana.”
Vhiena membaca itu sambil duduk di kamarnya. Ia tersenyum sendiri.
Vhiena:
“Bagus.
Kamu memang butuh istirahat.”
Rizuki menutup mata sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa… diperhatikan tanpa diminta.
MALAM YANG SEDERHANA
Malam datang perlahan.
Rizuki membuat makan malam sederhana. Duduk sendirian di meja kecil apartemennya. Ponsel diletakkan di samping piring.
Getaran ponsel ringan.
Vhiena:
“Selamat malam, Ki.”
Rizuki:
“Selamat malam.”
Vhiena:
“Hari ini… kamu terasa dekat.”
Rizuki terdiam lama sebelum membalas.
Rizuki:
“Mungkin karena aku benar-benar di sini sekarang.”
Vhiena menatap layar itu dengan jantung berdebar pelan.
Vhiena:
“Aku senang mendengarnya.”
Rizuki tersenyum kecil. Bukan senyum CEO. Bukan senyum pemilik dunia.
Hanya senyum seorang pria muda…
yang akhirnya pulang.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/