Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Bertemu Fahmi
Tak terasa pagi telah menjelang. Hanin merasa baru saja dia terlelap, tapi pagi telah datang.
Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika Hanin membuka mata. Ia tidak benar-benar bangun, karena sejak semalam, ia tidak benar-benar tidur.
Tangis yang sempat mereda setelah membaca mushaf hanya menenangkan permukaan. Di dalam dirinya, sesuatu masih berdenyut. Sesak itu tidak lagi meledak seperti malam tadi, tapi tetap ada. Diam. Berat. Mengendap.
Lampu tidur masih menyala redup. Di sebelah tubuhnya, Ghania tertidur lelap. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat damai.
Hanin menatap langit-langit cukup lama. Keputusan itu sudah bulat. Ia harus pergi. Bukan ke pondok, tapi ke rumah. Ke tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura kuat.
Perlahan ia bangkit. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu dengan gerakan yang pelan, seperti tidak ingin mengusik pagi yang masih setengah tertidur. Apa lagi saat ini Ghania sedang datang bulan sehingga tak perlu solat.
Setelah itu, ia duduk di atas sajadah. Tidak ada doa panjang. Hanya satu kalimat lirih. “Ya Allah, kuatkan hatiku. Buat aku menjadi manusia yang paling ikhlas dan terima semua takdir mu ini dengan lapang dada."
Hari ini masih sama. Aku gagal memberikan ketenangan pada diriku sendiri. Kepalaku sedang berpesta ria oleh pikiran, yang datang tanpa di undang. Satu persatu kesedihan dan kekecewaan memenuhi isi kepalaku. Entah bagaimana menyembuhkannya. Satu hal yang pasti sakitnya itu nyata. Aku saat ini sedang berusaha bersama dengan diri sendiri. Berdamai dengan sesuatu yang tak bisa diubah. Belajar mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi. Belajar menerima keadaan dan belajar untuk tidak memaksakan sesuatu.
Pagi harinya, setelah bersiap, Hanin mengenakan gamis sederhana berwarna abu lembut. Ia tidak memakai riasan. Wajahnya tampak tenang, tapi ada bayangan lelah di matanya.
Ia keluar kamar tanpa suara. Langkahnya langsung menuju ruang kerja Ustaz Hamid.
Udara pagi masih dingin. Embun masih menempel di dedaunan. Hanin mengetuk pelan.
“Assalamu’alaikum .…”
“Wa’alaikumussalam.”
Tak lama, Ustaz Hamid muncul dari balik pintu. Ia tampak sedikit terkejut.
“Hanin? Ada apa pagi-pagi sudah mau bertemu.”
Hanin menunduk sopan. “Maaf mengganggu, Ustaz.”
“Tidak apa. Silakan masuk.”
Hanin duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Ia menarik napas pelan. “Ada yang ingin saya sampaikan, Ustaz.”
Ustaz Hamid memperhatikan wajahnya. “Ada apa, Hanin?”
Hanin menelan ludah. “Saya ingin meminta izin untuk pulang ke rumah beberapa hari.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi. Ustaz Hamid tidak langsung menjawab.
“Pulang?”
“Iya, Ustaz.”
“Ke pondok?”
Hanin menggeleng. “Ke rumah saya, Ustaz.”
Tatapan Ustaz Hamid berubah lebih dalam. “Ada keperluan khusus?”
Hanin mengangguk pelan.“Saya hanya ingin ziarah ke makam ayah dan ibu.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening. Ustaz Hamid menatapnya cukup lama. “Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu terasa berat bagi Hanin. Namun ia tetap menjaga suaranya stabil.
“InsyaAllah … saya hanya ingin pulang sebentar, Ustaz.”
Beberapa detik berlalu. Lalu Ustaz Hamid mengangguk. “Baiklah, Hanin. Pulanglah. Mungkin dengan melihat makam mereka hatimu jadi jauh lebih baik.”
Hanin tampak tersenyum, bahagia mendengar ucapan ustaz Hamid. Ada kelegaan yang langsung terasa di dadanya.
“Terima kasih, Ustaz.”
“Kapan berangkat?”
“Hari ini.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Ustaz Hamid tampak ingin menawarkan sesuatu. “Mau saya minta supir antar?”
Hanin tersenyum kecil. “Tidak usah, Ustaz.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Saya ingin sendiri.”
Ustaz Hamid mengangguk pelan.
“Hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai.”
“Iya, Ustaz.”
Hanin pamit. Ia keluar ruang itu dan langsung menuju kamar sahabatnya, tempat dia juga tidur selama menginap di sini.
Ghania sedang merapikan jilbab di depan cermin ketika Hanin masuk.
“Hanin?” Ia menoleh. “Dari mana kamu?”
“Aku tadi menemui Ustaz Hamid.”
Ghania langsung berdiri. “Ada apa bertemu dengan Abah?”
Hanin menatapnya. “Aku hanya ingin pamit.”
Ghania mengernyit. “Maksudnya?”
“Aku mau pulang hari ini.”
“Apa? Jadi kamu serius ingin pulang hari ini."
Nada suaranya Ghania jelas terkejut. Hanin mengangguk.
“Kita kan janji pulang bareng dua hari lagi.”
Hanin mendekat. “Aku ingin pulang duluan, Nia.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan.
Hanin menjawab jujur. “Aku ingin ziarah ke makam ayah dan ibu.”
Wajah Ghania langsung berubah. “Oh .…”
Sunyi sebentar. “Ya sudah, nanti aku suruh supir antar.”
Hanin langsung menggeleng. “Nggak usah.”
“Loh kenapa?”
“Aku bisa naik angkot.”
Ghania menatapnya tak percaya. “Angkot?”
Hanin tersenyum kecil. “Aku biasa kok.”
“Hanin .…”
“Nia, aku mau pulang .sendiri.”
Kalimat itu membuat Ghania berhenti. Ia paham. Namun tetap tidak tega.
“Setidaknya biar nyaman.”
“Nggak perlu.”
Ghania menghela napas panjang. Lalu berjalan ke meja rias dan membuka lacinya.. Mengambil dompet.
Hanin langsung tahu. “Nia, jangan.”
Ghania tetap mengeluarkan uang. “Sebagai pegangan.”
“Aku bawa uang juga. Gajiku selama mengajar di pondok masih cukup.
“Ini buat jaga-jaga.”
“Nia .…”
“Hanin ....” Nada suaranya berubah tegas. “Kalau kamu nolak … aku nggak anggap kamu sahabat lagi.”
Hanin terdiam. Ia menatap Ghania dengan wajah serius. Tanpa ragu.
Hanin akhirnya menyerah. Ia menerima uang itu. “Makasih, Ghania. Kamu baik banget, aku tak tau harus membalasnya gimana.”
"Tak ada yang perlu dibalas, aku ikhlas."
Ghania lalu meneruskan ucapannya. “Hati-hati ya.”
“Iya.”
Sebelum berangkat, Hanin kembali ke ruang kerja. Ustaz Hamid.
“Saya pamit berangkat sekarang, Ustaz.”
Ustaz Hamid mengangguk. “Mau diantar?”
“Tidak usah, Ustaz.”
“Saya bisa minta supir.”
Hanin tersenyum. “Saya ingin sendiri.”
Ustaz Hamid akhirnya hanya berkata, “Baik. Semoga perjalananmu lancar.”
“Aamiin.”
Angkot yang dinaiki Hanin tidak penuh. Ia duduk di dekat jendela. Tas kecil di pangkuannya. Tangannya menggenggamnya erat.
Kota bergerak di luar kaca. Orang berjalan. Mobil dan motor lalu-lalang. Warung yang mulai buka. Namun di dalam dirinya, semuanya masih riuh.
Di sisi jalan lain, Fahmi baru saja keluar dari mobil. Ia hendak menuju berkunjung Ustaz Hamid. Namun langkahnya terhenti. Matanya menangkap sesuatu.
Hanin. Ia melihat gadis itu naik ke angkot. Fahmi mengernyit.
“Hanin?”
Tanpa banyak pikir, ia menyalakan mobilnya kembali. Mengikuti.
Angkot berhenti di terminal. Hanin turun.
Ia membayar ongkos. “Terima kasih, Pak.”
Ia berbalik. Hendak berjalan masuk terminal. Namun, tiba-tiba tangannya ditarik.
Pegangan itu cukup kuat. Refleks, Hanin terkejut. Tubuhnya berbalik. Matanya membesar melihat siapa orang yang memegang tangannya.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??