Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diary-nya Citra
"Ras, Laras!" Arini mencari Laras ke kamarnya, karena tadi ia mendengar kedatangan anaknya. Dia berencana mengajak Laras ke mall, mencari baju untuk perayaan kecil bersama keluarga, anniversary pernikahan Bayu dan Ria yang pertama weekend ini yang akan diadakan di sebuah restoran langganan keliatan Wiranata.
"Di mana anak itu?" Tak mendapati putrinya di kamar, Arini langsung menuju arah dapur, menduga Laras ada di sana.
"Oh, jadi Mas Bima sempat cerita soal Mbak Citra ke Bibi, ya?"
Arini menahan langkahnya masuk ke dapur, ketika ia mendengar nama Citra disebut oleh Laras. Keningnya berkerut mendengar nama mantan menantunya itu disebut Citra.
Penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh anak dan ART-nya, dia pun segera masuk ke dapur sambil bertanya dengan melipat tangan di dada.
"Kalian sedang bicara apa? Kenapa sebut-sebut nama Citra?" Suara Arini terdengar tak suka nama Citra disebut-sebut lagi di rumah itu.
"Mama?"
"Ibu?"
Baik Laras dan Bi Siti sama-sama tak menduga jika Arini akan muncul di dapur. Wajah mereka sama-sama menegang, terutama Laras yang tak ingin mamanya tahu lebih dulu soal kedekatan Citra dengan Bima, apalagi rencana sang kakak yang ingin menikahi Citra.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Arini menuntut jawaban cepat dari Laras dan Bi Siti.
"Hmm, tadi aku bilang kangen masakannya Mbak Citra." Karena memang itu awalnya ia membahas soal mantan kakak iparnya dengan Bi Siti.
"Untuk apa kangen masakan dia? Masakan Bi Siti juga lebih enak!" Arini menampakkan wajah tidak suka Laras masih saja mengenang Citra, padahal mereka sudah tak ada hubungan keluarga lagi.
"Bibi aja bilang masakan Mbak Citra emang enak, kok! Mama aja yang sensi kalau dengar nama Mbak Citra!" Merasa tak punya masalah dengan Citra, Laras membela mantan kakak iparnya dulu.
"Ngapain kamu belain dia!? Dia itu bukan kakak ipar kamu lagi! Kakak iparmu sekarang itu Ria!" Arini kesal karena anaknya masih saja membela Citra.
"Menantu Mama yang baru itu nggak bisa masak! Apa yang mau dibanggain!?" Laras dengan cepat membalas, "Lagi pula sebentar lagi Mbak Citra akan jadi istri Mas Bima, kok! Artinya Mbak Citra akan jadi kakak iparku lagi," batinnya kemudian.
"Aku makan di kamar aja, Bi!" Laras membawa piring yang sudah ia isi nasi dan lauk. Dia ingin kabur dan menyelamatkan diri dari pertanyaan mamanya.
Kini Arini menatap tajam pada Bi Siti yang masih berada di dapur.
"Apa ada yang dirahasiakan dari saya?" tanyanya mengintrogasi.
"Hmmm, ng-nggak ada, Bu." Bi Siti gugup menjawab, karena ia takut membocorkan rahasia soal Bima dan Citra.
"Bibi jangan coba-coba membohongi saya, ya! Mau saya p0tong gajinya!?" Arini bahkan mengancam Bi Siti agar ART-nya itu mau bersuara.
"Ng-nggak, Bu. Saya nggak bohong, kok!" Bi Siti membantah. Ancaman p0tong gaji bagaikan mimpi buruk baginya.
"Lalu, tadi kenapa bawa-bawa nama Bima segala?" Arini terus mencecar Bi Siti dengan pertanyaan.
"Hmm, itu ... itu kemarin Mas Bima cerita kalau Mas Bima bertemu sama Mbak Citra, Bu." Bi Siti terpaksa bercerita soal pertemuan Bima dengan Citra. Dia harap Arini tak lagi terus mencecarnya.
"Citra itu sudah bukan anggota keluarga Wardana, jadi nggak usah sebut-sebut nama dia lagi! Lagi pula nggak penting banget cerita hal itu!" Malas terus membahas soal Citra, Arini pun akhirnya meninggalkan dapur, membuat Bi Siti menarik nafas lega.
"Alhamdulillah, selamat ..." Bi Siti mengusap dada karena terselamatkan dari introgasi Arini.
***
"Mbak, aku kepingin kerja. Boleh, kan?"
Citra sedang mengoles night cream di wajahnya ketika Ambar yang sedang berada di kamar Citra meminta izin pada sang kakak untuk bekerja.
Citra melirik adiknya dari cermin di hadapannya, tanpa menghentikan aktivitas melakukan perawatan wajah di malam hari. Dia seorang pekerja dan banyak bertemu banyak orang, tentu ia harus tetap tampil menarik.
"Kerja apa? Kuliah kamu gimana?" tanyanya merespon permintaan Ambar.
"Om-nya teman kuliahku ada yang jadi manager cafe dan butuh pegawai dishwasher. Boleh 'kan, Mbak?" Ambar mengatakan pekerjaan yang diminatinya saat ini.
"Di cafe? Nggak! Nggak!!" Dengan tegas Citra melarang adiknya melamar pekerjaan di sana.
"Lho, memangnya kenapa, Mbak? Mbak jangan punya pikiran negatif orang yang kerja di cafe, ya! Bisa-bisa Mbak dituntut sama mereka kalau berkata jelek soal pekerjaan di sana." Ambar memperingatkan Citra dengan sedikit menakuti.
"Siapa yang berpikiran negatif? Mbak cuma nggak mau melihat kamu kuliah sambil kerja sampai malam. Nanti kuliah kamu keteteran." Citra sudah mengambil sikap, dia ingin adiknya itu menyelesaikan kuliah lebih dulu dan bekerja ketika lulus kuliah nanti di saat Ambar benar-benar siap dengan lingkungan pekerjaan.
"Aku 'kan kerja paruh waktu, Mbak. Dari sore sampai jam sebelas malam." Ambar menegaskan kalau dia bisa mengatur waktu antara kuliah dan bekerja. "Aku kasihan lihat Mbak Citra kerja terus. Kalau Mbak nanti menikah dan resign, aku jadi punya uang sendiri buat biaya kuliah." Ambar menyebut alasannya ingin bekerja agar tidak terus bergantung pada Citra.
"Nggak usahlah! Mbak masih sanggup biayai kuliah kamu! Jadi jangan kepikiran kerja, apalagi pulangnya sampai malam gitu! Bahaya untuk anak gadis seperti kamu!" Citra tetap melarang.
"Ck, Mbak nggak asyik banget, sih!" gerutu Ambar seraya berjalan meninggalkan kamar sang kakak karena kecewa mendapatkan larangan dari Citra.
Citra menggelengkan kepalanya, melihat sang adik yang langsung menekuk wajah dan menggerutu. Dia sangat menyayangi adiknya, tak mungkin ia akan membiarkan adiknya memikul tanggung jawab yang masih menjadi tugasnya saat ini.
***
Citra akhirnya menyetujui permintaan Bima yang ingin dikenalkan dengan sahabatnya, Vera dan Fian. Mereka pun akhirnya janji bertemu di sebuah restoran yang dipesan Bima sebelumnya.
Bima dan Citra sampai lebih dulu di restoran itu. Sementara Vera dan Fian baru tiba kurang dari lima menit setelah kedatangan Bima dan Citra.
"Hai, Cit! Ini yang namanya Mas. Bima?" Ketika sampai di meja yang dipesan, Vera menyapa Citra dan Bima.
"Hai, Ver." Citra menyapa Vera dengan malu-malu, sebab Vera langsung menyapa Bima, seolah-olah menyiratkan jika dirinya sering bercerita tentang Bima pada mereka. Apalagi ketika Bima langsung menoleh kepadanya dengan tersenyum.
"Apa kabar, Pak Bima? Saya Fian dan ini istri saya Vera. Kami sahabat dekat Citra." Fian pun menyapa dan mengenalkan dirinya kepada Bima.
"Alhamdulillah baik, Pak Fian, Bu Vera." Bima bangkit dan bersalaman dengan Fian dan Vera.
"Panggil nama saja, Mas." Merasa dirinya jauh lebih muda dari Bima, Vera keberatan dipanggil dengan sebutan ibu oleh Bima.
"Baiklah, silakan!" Bima mempersilakan Vera dan Fian duduk. "Sepertinya Citra sering bercerita tentang saya pada kalian." Dari cara menyapa Fian dan Vera, Dengan percaya diri Bima menduga kalau kedua sahabat Citra sudah banyak cerita tentang dirinya.
Citra membulatkan matanya, karena tebakan Bima benar. Rona merah pun mulai menghiasi wajahnya karena malu.
"Ya gitulah, Mas. Namanya juga sahabat. Bisa dibilang saya ini diary-nya Citra. Apa yang ada di hati dan pikiran Citra, saya pasti tahu." Jawaban dari Vera semakin menegaskan jika apa yang dikatakan Bima memang benar adanya.
"Oh ya?" Bima senang mendengar cerita Vera. Ternyata di belakangnya Citra menceritakan dirinya pada Vera.
"Iyalah, Mas. Dari dia ketemu Mas Bima waktu tugas kantor sampai Mas Bima antar Citra ke Bogor juga sekarang antar jemput Citra ke kantor, Citra cerita kok ke saya." Vera benar-benar tak bisa menjaga rahasia dan justru menceritakan semuanya pada Bima, membuat Citra mendelik tajam seolah menyuruh sahabatnya itu untuk berhenti bicara.
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best