NovelToon NovelToon
Gadis Polos Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Polos Kesayangan Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:159.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Sebelum lanjut membaca, boleh mampir di season 1 nya "Membawa Lari Benih Sang Mafia"

***

Malika, gadis polos berusia 19 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Dijual oleh pamannya demi sejumlah uang, ia terpaksa memasuki kamar hotel milik mafia paling menakutkan di kota itu.

“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” perintah Alexander pada tangan kanannya.

Sejak malam itu, Alexander yang sudah memiliki tunangan justru terobsesi. Ia bersumpah akan mendapatkan Malika, meski harus menentang keluarganya dan bahkan seluruh dunia.

Akankah Alexander berhasil menemukan gadis itu ataukah justru gadis itu adalah kelemahan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?

Dan sanggupkah Malika bertahan ketika ia menjadi incaran pria paling berbahaya di Milan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Hujan turun semakin deras, membasahi setiap sudut jalan di Milan.

Albert, pria paruh baya berjas gelap, menurunkan kaca mobil dan melihat seorang gadis kecil sendirian, meringkuk di bawah atap halte bus.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu, Nak?” tanya Albert seraya menghampirinya.

Tanpa pikir panjang, Albert mengangkat tubuh Malika yang menggigil dan membuka pintu mobil dengan cepat. Ia merasakan panas tinggi dari kulit gadis itu.

Setelah memastikan Malika aman di kursi penumpang, ia mengarahkan kemudi ke sebuah bangunan terpisah yang terletak di area belakang Mansion Frederick, tempat tinggal para pelayan senior.

Begitu membuka pintu rumah, Albert berteriak lantang, “Sofia! Cepat kemari!”

Sofia, pelayan senior yang bertugas mengawasi dapur langsung muncul. Sofia membelalak kaget begitu melihat Malika yang basah kuyup dalam gendongan Albert.

“Astaga! Siapa gadis ini, Albert?!” tanyanya berseru panik.

Albert menidurkan Malika di sofa ruang tamu. Lau, ia berlari menuju kamar, mengambil selimut tebal dan kembali lagi untuk menyelimuti tubuh gadis itu. Albert seolah sedang melindungi sesuatu yang sangat rapuh.

“Dia keponakanku,” jawab Albert cepat. Kalimat yang terdengar tegas, tapi jelas sebuah kebohongan yang baru saja ia ciptakan.

Albert tidak punya pilihan. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa gadis ini hanyalah orang asing yang ia temukan pingsan di halte, para pelayan pasti langsung melaporkan ke Nyonya Besar Frederick.

Dan gadis ini akan diusir tanpa belas kasihan. Ia tak akan membiarkan itu terjadi.

“Keponakan?” Sofia menatap Albert sengit. “Bagaimana mungkin kau membiarkan keponakanmu kehujanan sampai pingsan begini? Kau meninggalkannya? Dasar paman yang tak punya perasaan!”

Albert hanya mengangkat tangan, tak mampu membalas makian itu. Ia menerima saja rasa marah Sofia.

Dengan langkah cepat, Sofia menuju dapur.

“Aku masakkan bubur dulu! Sudah pukul dua pagi, tapi tidak apa. Gadis ini harus makan. Agar perutnya tetap hangat,” ucap Sofia.

“Baiklah, aku titip keponakanku sebentar. Tolong ganti juga pakaiannya. Aku harus kembali ke pos jaga sebentar, memastikan tidak ada yang melihat mobilku basah,” balas Albert.

“Baik! Tapi setelah ini kau harus jelaskan semuanya!”

Albert tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan rahasia besar. Ia bergegas pergi untuk mengurus keperluan lainnya.

Tak lama kemudian, Malika membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan berputar.

“Ugh,” Malika mengerjap, menatap ruangan asing tempat ia berbaring.

“Ini di mana?” gumamnya pelan.

Sofia datang membawa semangkuk bubur panas langsung buru-buru duduk di samping Malika.

“Kau sudah sadar?! Syukurlah. Tadi demammu tadi tinggi sekali. Dan pamanmu itu, malah meninggalkanmu untuk bekerja lagi!”

“Paman?” Malika mengernyit bingung.

Apa paman yang dimaksud wanita ini adalah Paman Jhon? Tidak mungkin. Paman Jhon tak akan pernah membiarkannya selamat, apalagi membawanya ke tempat yang nyaman.

“Iya pamanmu. Albert," ujar Sofia memijat lengan Malika. “Siapa namamu, gadis manis?” tanyanya sambil mengangkat dagu Malika.

“Malika,” jawabnya.

Sofia tersenyum. “Nama yang sangat indah.”

“Bibi siapa?”

“Kepala pelayan. Panggil aku Bibi Sofia. Aku rekan kerja pamanmu. Nah, makan dulu buburnya, lalu tidurlah lagi. Agar besok kau bisa bangun dengan tubuh segar,” ucap Sofia.

Sofia meninggalkan Malika sendirian di ruang tamu.

Setelah Sofia pergi, Malika mulai menyantap bubur itu dengan lahap. Rasa hangat pun menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Enak...”

Selesai makan, gadis itu beranjak dari duduknya, melihat-lihat tempat itu. Tatapan seketika tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja.

Foto seorang pria berjas rapi dengan janggut putih tersenyum hangat.

“Jadi dia paman Albert?” gumam Malika.

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

Malika terlonjak kaget. Tak sadar jika sejak tadi Albert sudah berdiri di belakangnya.

“T-terima kasih sudah menyelamatkan Lika, Paman,” ucap Malika sembari berbalik lalu menunduk sopan.

Albert tersenyum dan mengeluarkan sebuah kalung kecil dari saku jasnya, kalung perak dengan liontin kecil bundar.

“Ini milikmu, bukan? Paman menemukannya di dekat halte.”

“Kalung Lika.” Gadis itu menerimanya dengan wajah senang. Ia memegangnya dengan erat. Karena itu satu-satunya benda yang tersisa dari hidupnya.

Tanpa sadar, air mata Malika jatuh tanpa nisa ditahan. Jhon pernah bilang kalau kalung itu adalah pemberian kedua orangtua Malika, yang dengan tega membuang Malika ke tempat sampah.

Albert tidak bertanya apa pun tentang arti air liontin itu. Ia hanya menepuk bahu Malika dan mengusapnya dengan lembut.

“Paman tidak akan memaksamu bercerita sekarang. Tapi setelah melihat keadaanmu, paman sudah mengambil keputusan.”

Malika mendongak. “Keputusan apa, Paman?”

“Mulai malam ini, jika kau mau, jadilah keponakan paman, Malika,” ucap Albert menatapnya dengan tatapan seorang ayah.

Malika tertegun. “Paman tahu nama Lika?”

“Bibi Sofia yang memberitahu paman.”

Malika mengangguk perlahan. Ini adalah sebuah keputusan besaryang akan mengubah hidup Nalika selamanya. Malika telah mendapatkan tempat berlindung, meskipun ia tidak tahu, tempat itu adalah area belakang dari mansion milik Alex.

“Semoga kali ini, Lika tidak akan dibuang lagi...” batinnya.

1
tinie
nah tebakanku Malika anaknya Jenifer yg dibuang atau ditukar sama bayi yg mati
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
yaaa kok udah tamat aja Thor astaga, blom juga punya anak gimana ya ampun
Febby fadila
Jimmy tugasmu bertambah untuk membeli pabrik kerupuk kesukaan calon nyonya federick
Febby fadila
kasihan Malika karena sellu disiksa sama John gila itu jadinya dia JD gadis yg tumbuh dlm kepolosan
Febby fadila
jangan egois dong bang Al, kasih Malika kesempatan untuk merasakan cinta dari ortunya, cos khaylin kamu bisa jaga dia lbih ketat lagi agar tidak bertindak lbih jauh untuk menyakiti malika
Febby fadila
yaa ketahuan kan klw kamu menyimpan rasa Sama leana
Febby fadila
khaylin ini emang rada gila terlalu obsesi karena ketakutan yg nggak jls padahal enak tu punya kakak kandung bisa berbagi cerita dan saling melngkapi
Febby fadila
nggak masalah cuman dicicip sedikit kok tuan muda 🤣🤣🤣🤣 yg penting jaga pertahanan
Febby fadila
tenang Jimmy bocah kematianmu lagi jatuh cinta sama kek papax dulu 🤣🤣🤣
Febby fadila
Alex harus menjaga Malika Denga baik karena khaylin sebagai adik lagi nggak waras
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣 iya benar Leon singa, Malika kamu ini ada² aja
Febby fadila
ckk.. khaylin jangan serakah, kamu itu seorang adik kandung tp sifatmu mencerminkan sikap yang tidak baik
Febby fadila
betul sekali tidak ada jln lain selain tes DNA
Febby fadila
ckkk... salah kamu sendiri klw bilang ciuman itu adalah tanda terima kasih
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣 malu ya Alex apalagi kalaw tau Malika pernah cium Leon sebagai salam perpisahan 🤣🤣🤣 langsung keluar asap tu dari kepala Alex 🤣🤣
Febby fadila
iya senjata yg akan membuatmu terbang nirwana 🤣🤣🤣 sekali ditembak
Febby fadila
jangan membantah ya Lika karena ada adikmu yg nggak tau diri itu nggak mulai ngak waras mau nyakitin kamu karena obsesinya
Febby fadila
astaga emangx benar kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohon sama kek khaylin ini sama kek Jenifer masih muda dulu
Febby fadila
awas kamu Jim klw sampai kamu belok lho 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!