Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29#. Usaha keluarga atau usaha sendiri?
Ariel pulang ke rumahnya ketika malam hampir larut. Namun, dahinya tampak mengernyit karena lampu di ruang tamunya masih menyala. Dia buru-buru keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah dan mendapati ayah serta ibunya masih terjaga.
"Assalamualaikum, Yah, Bu," sapa Ariel seraya mendekat pada kedua orangtuanya dan menyalami mereka. "Kenapa jam segini belum tidur?"
"Waalaikumsalam," jawab keduanya dengan serempak.
"Mana ibu dan bapak bisa tidur to, Le. Kamu dihubungi juga nggak bisa, ayah dan ibu jadi khawatir," keluh Bu Endang.
"Mbok ya, kalau mau pulang malam itu kasih kabar ke rumah biar kami nggak kepikiran," sambung Pak Herman.
Ariel tersenyum lantas merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Dia merasa bahagia mendapat perhatian dari orangtuanya seolah masih anak-anak. "Terimakasih, Yah, Bu. Aku sangat bahagia, di saat seperti ini kalian ada untukku."
Ariel mengangkat kepalanya dari pangkuan ibunya dan sekali lagi dia mencium tangan kedua orangtuanya. Dia lantas menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku ya, Yah, Bu. Dulu aku terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasehat kalian. Sekarang aku menyesal sekali," lanjutnya, dengan nada menyesal.
Bu Endang mengelus rambut Ariel dengan lembut. "Sudahlah, Riel. Jangan ungkit masa lalu, semua sudah terjadi. Sekarang, yang penting kamu belajar dari kesalahanmu dan menjadi pribadi yang lebih baik," kata Bu Endang, menenangkan.
Pak Herman mengangguk setuju lalu menepuk pundak Ariel. "Ayah dan ibu selalu ada untukmu, Riel. Apapun yang terjadi, kamu tetap anak kami. Jangan sungkan untuk bercerita kepada kami jika kamu punya masalah."
Ariel tersenyum lega. Ia merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang begitu menyayanginya dan selalu mendukungnya dalam segala situasi.
"Terimakasih ya, Yah, Bu," kata Ariel, dengan tulus. "Aku janji, aku tidak akan membuat kalian kecewa lagi. Aku akan menjadi anak yang berbakti dan membanggakan kalian."
Bu Endang tersenyum. "Itu yang ibu harapkan, Nak. Sekarang kamu sudah dewasa dan lebih bijaksana. Ibu yakin kamu bisa menghadapi semua masalah dengan baik."
Pak Herman menambahkan. "Kapan-kapan kalau kamu tidak sibuk, kita pergi memancing bersama. Ayah sudah lama tidak memancing denganmu."
Ariel tertawa kecil. "Siap, Yah! Nanti akan aku usahakan luangkan waktu untuk memancing bersama ayah."
Bu Endang berdiri dari duduknya. "Sudah larut malam. Sebaiknya kita semua tidur. Ariel juga pasti lelah setelah bekerja seharian."
Ariel dan Pak Herman mengangguk setuju. Mereka semua kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar masing-masing.
Ariel merasa jauh lebih baik setelah berbicara dengan orang tuanya. Dia merasa beban di hatinya sedikit berkurang dan kini dirinya tidak sendirian menghadapi masalah ini. Dia memiliki orang tua yang selalu ada dan siap membantunya kapan saja.
*
*
*
Keesokan harinya, Ariel telah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia keluar kamarnya dengan wajah ceria. Bu Endang tersenyum melihatnya. "Sudah siap berangkat ke kantor, Riel?" tanyanya seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Iya, Bu," jawab Ariel. "Oh ya, ada yang ingin aku sampaikan pada Ayah dan Ibu."
"Apa itu, Nak?" tanya Pak Herman dengan cepat sambil menatap sang putra dengan serius.
"Saat ini aku sedang merintis bisnis sama temanku, Bu, Yah," kata Ariel, diapun menceritakan awal mula menjalani bisnis itu sampai Luna merasa cemburu dan akhirnya menggugat cerai.
"Dasar wanita tidak bersyukur," geram Bu Endang menanggapi cerita Ariel tentang Luna. "Tapi baguslah, akhirnya kalian sudah berpisah. Kalau tidak, entah sampai kapan kamu akan menjadi budaknya. Dan itu membuat ibu lebih tidak rela lagi."
"Apa pun usaha yang sedang kamu rintis saat ini, semoga nanti bisa menjadi berkah buat kamu ke depannya. Ayah dan ibu akan selalu berdoa untukmu, agar kamu diberikan jodoh yang terbaik." Pak Herman memberikan dukungannya dan mendapatkan persetujuan dari Bu Endang.
"Terima kasih, Yah, Bu. Aku jadi lebih bersemangat lagi menjalaninya." Ariel tersenyum lalu melanjutkan sarapannya.
"Lalu bagaimana dengan usaha keluarga kita? Siapa yang akan meneruskannya jika kamu punya usaha sendiri?" Mendadak wajah Pak Herman berubah muram.
"Ayah tidak perlu khawatir. Pasti nanti akan ada jalannya, kok. Untuk sementara ini aku ingin fokus pada apa yang sudah aku jalani dulu." Ariel mencoba menenangkan ayahnya.
"Tapi kamu tahu sendiri kan, Riel, ayah sudah semakin tua. Ayah butuh seseorang untuk meneruskan usaha ini," kata Pak Herman, dengan nada sedikit kecewa.
Ariel terdiam sejenak. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan ayahnya. Dia jadi merasa bersalah karena belum bisa memenuhi harapan ayahnya untuk meneruskan usaha keluarga. Namun, di sisi lain, dia juga merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan bisnis clothing line-nya bersama Dian.
"Aku mengerti, Yah," kata Ariel, akhirnya. "Aku janji, aku akan memikirkan ini dengan baik. Aku akan mencari cara untuk bisa membantu ayah meneruskan usaha ini, tanpa harus mengorbankan bisnisku sendiri."
Pak Herman mengangguk pelan. "Ayah percaya sama kamu, Riel. Ayah yakin kamu pasti bisa menemukan solusinya."
"Ibu juga percaya sama kamu, Nak. Yang penting kamu jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta petunjuk dari Tuhan." Bu Endang menimpali
Ariel tersenyum. "Iya, Bu. Aku janji."
Setelah selesai sarapan, Ariel berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dia mencium tangan kedua orang tuanya lalu berangkat ke kantor.
Dalam perjalanan menuju ke kantor, Ariel memikirkan perkataan ayahnya tentang usaha keluarga. Dia merasa dilema. Di satu sisi, dia ingin memenuhi harapan ayahnya. Di sisi lain, dia juga ingin fokus pada bisnis clothing line nya yang sedang mulai berkembang pesat.
"Apa sebaiknya aku bicara dengan Dian, ya? Aku yakin, Dian pasti bisa memberikan saran yang bijak dan membantuku menemukan solusi tepat dalam mengambil keputusan." Ariel pun mengangguk dan memutuskan akan berbicara dengan Dian tentang hal ini setelah pulang kantor nanti.
akhirnya... plong.
selamat, bestie. yuk gas karya baru.
semoga mengikut jejak Daren
Luna definisi wanita tidak tahu cara bersyukur. Di beri suami baik dan bertanggung jawab, bahkan finansial mereka bisa di bilang stabil. Namun, rumah tangga yang sebenarnya adem ayem harus berantakan, karena tuntutan yang nggak pernah ada habisnya.
Walau bab nya sedikit, tapi cukup puas karena pada akhirnya yang jahat tetap mendapat hukumannya.
Semangat selalu untuk Ibu. Semoga cerita satunya bisa panjang. Semangat dan sukses selalu💪❤❤❤🥰
.apa dengan begitu luna tobat gk ya
Padahal Ariel nya masih jadi duda😭😁
tapi Ariel dan Dian emang cuma partner kerja kan yah ... makasih Moms kita fokus ke Darrel dan anak kembarnya
aku pikir akan ada cerita Ariel dan Dian menemukan pasangan hidup atau malah mereka berdua jadi pasangan
harusnya Luna tau klu Ariel dan Dian tdk ada hubungan selain partner kerja.