NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Antek- Antek Delia

HAPPY READING!!!

Dengan wajah merah padam menahan amarah, Vely tiba-tiba menyapu semua barang yang ada di atas meja Lora.

Brak! Brak!

Map, pulpen, berkas, hingga beberapa dokumen berserakan jatuh ke lantai.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vely berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan tatapan menusuk penuh kebencian.

Langkahnya keras, seolah setiap langkah menahan amarah yang hampir meledak.

Para karyawan yang sejak tadi menyaksikan keributan itu perlahan membubarkan diri. Namun bisik-bisik mereka masih terdengar jelas, membicarakan pertengkaran antara Vely dan Lora yang baru saja terjadi.

Lora menghela napas kasar.

Ia menatap sejenak meja kerjanya yang kini berantakan.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berjongkok dan mulai memunguti satu per satu barang-barangnya yang jatuh ke lantai.

Kertas-kertas berserakan.

Beberapa bahkan terlipat dan kusut.

Saat itulah—

Seseorang mendekat.

Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan kulit sawo matang dan wajah tampan yang terlihat karismatik ikut berjongkok di sampingnya.

Usianya tampak tidak jauh berbeda dengan Lora.

Tanpa banyak bicara, pria itu ikut membantu memunguti barang-barang yang terjatuh.

Satu per satu ia mengumpulkan berkas dan alat tulis milik Lora, lalu menyerahkannya kembali.

Ketika keduanya berdiri bersamaan, pria itu tersenyum hangat.

“Terima kasih.” ucap Lora.

Ucapan itu keluar bersamaan dengan pria tersebut yang juga mengatakan hal yang sama.

Pria itu lalu mengulurkan tangannya.

“Perkenalkan, aku Steven. Satu divisi denganmu. Aku duduk di paling pojok… tapi jika kamu tidak keberatan, aku akan pindah ke sampingmu.” ucapnya santai.

Lora langsung mengerutkan kening.

Nada godaan dalam suara pria itu terlalu jelas untuk diabaikan.

“Satu divisi denganku… berarti dia salah satu antek Delia. Perempuan itu pasti punya rencana dengan laki-laki ini.” batin Lora.

“Akh… tidak usah.” jawab Lora dingin.

“Kamu bisa tetap di sana saja. Terima kasih atas bantuanmu. Dan tidak perlu menggodaku seperti itu. Aku sudah memiliki suami.” ucapnya mempertegas.

Steven hanya tersenyum.

“Aku tahu. Siapa yang tidak mengenalimu dan siapa suamimu? Apalagi barusan kamu juga sudah menyebutkannya dengan sangat lantang di depan semua orang.”

“Baguslah kalau kamu mendengarnya. Dengan begitu kamu bisa menjauh dariku.” balas Lora.

Ia hendak kembali duduk di kursinya.

Namun tiba-tiba Steven menahan tangannya.

“Aku hanya ingin berkenalan dan berteman denganmu.” ucapnya tenang.

“Berdiri sendiri di sini pastilah sangat sulit. Apalagi sekarang semua orang bergunjing tentangmu.”

Steven menatap sekeliling ruangan.

“Apa kamu sadar? Tidak ada orang yang menyukaimu bergabung di perusahaan ini, termasuk di divisi ini.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Meskipun kamu adalah istri dari Tuan Devon, tapi kamu hanya memiliki saham di sini. Bukan kuasa seperti yang dimiliki Pak Donni.”

Lora hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Tepat saat itu—

Delia datang.

Di tangannya ada setumpuk kertas yang cukup tebal.

Tanpa basa-basi, ia langsung meletakkan seluruh berkas itu di atas meja Lora.

Buk!

Kertas-kertas itu menumpuk tinggi.

“Ini tugas untukmu hari ini. Pastikan semua ini selesai sebelum jam lima.” ucap Delia dingin.

Lora menatap tumpukan kertas itu dengan terkejut.

“Aku ingin semuanya diketik dengan jelas secara manual dan kirimkan filenya kepadaku.” lanjut Delia.

Jumlah dokumen itu terlalu banyak untuk diselesaikan dalam beberapa jam.

“Tunjukkan kerja kerasmu jika kamu memang merasa sebaik dan sepantas itu untuk menjadi pimpinan perusahaan seperti kata-kata yang kamu sombongkan tadi.” tekan Delia lagi.

Setelah itu ia berbalik pergi.

Namun sebelum benar-benar menjauh, Delia sempat melayangkan sebuah senyuman licik kepada Steven.

Senyuman penuh rencana yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Lora tentu melihat semuanya.

Matanya menyipit tipis.

Steven kembali menatap tumpukan kertas di meja Lora.

“Itu tidak akan bisa selesai sore ini.” ucapnya pelan.

Ia kemudian tersenyum.

“Apa kamu ingin aku membantumu?”

Senyum yang ia berikan terlalu licin.

Dari caranya berbicara, Lora sudah bisa membaca satu hal—

Laki-laki itu playboy kelas teri.

“Sudah tidak perlu diragukan lagi… aku yakin pria ini disuruh oleh Delia untuk mendekatiku. Entah apa tujuannya. Sepertinya aku harus ikut permainan mereka.” batin Lora.

Perlahan, senyum muncul di wajahnya.

Ia menatap Steven.

“Sepertinya begitu. Apa kamu mau membantuku?” tanya Lora.

Steven langsung mengangguk cepat.

“Tentu saja. Aku akan mengambil laptopku dulu.” ucapnya bergegas kembali ke mejanya.

Saat berjalan pergi, sudut bibir Steven terangkat.

“Dengan pesonaku ternyata sangat mudah untuk menggodanya. Aku pikir sikap kerasnya akan menyulitkanku… ternyata ini terlalu mudah.” batin Steven.

Ia bahkan sempat melemparkan senyum penuh kemenangan ke arah ruangan Delia.

______

Sore harinya…

Lora pulang dengan wajah yang terlihat sedikit kelelahan.

Tugas dari Delia tadi siang benar-benar menguras tenaganya. Tangannya terasa pegal dan nyeri karena harus mengetik begitu banyak dokumen. Belum lagi jahitan di bahunya yang belum sepenuhnya sembuh—setiap gerakan kecil saja sudah cukup membuat rasa perih menjalar.

Namun begitu sampai di rumah, Lora tetap berusaha tersenyum.

Di tangannya terdapat satu kantong berisi cokelat, permen, berbagai camilan kesukaan Devon, serta sebuah lolipop raksasa—sesuai dengan janji yang ia berikan pagi tadi.

Ia membuka pintu rumah perlahan.

Begitu pintu terbuka—

“Queen!”

Suara riang itu langsung terdengar.

Devon berlari dengan penuh semangat ke arahnya. Wajah pria itu dipenuhi senyum polos tanpa beban.

Tanpa ragu ia langsung memeluk Lora erat.

“Queen, kenapa Queen lama sekali? Epon sampai ingin menjemput Queen ke kantor karena Epon begitu rindu dengan Queen.” ucap Devon sambil memeluknya hangat.

Pelukan itu terasa begitu tulus.

Aneh…

Namun entah mengapa, pelukan Devon justru seolah meluruhkan semua rasa lelah yang sejak tadi menumpuk di tubuh Lora.

Devon mengelus punggung Lora dengan lembut.

“Queen pasti lelah.” ucapnya pelan.

Kalimat sederhana itu membuat hati Lora bergetar.

Sejenak…

Lora seperti kembali ke masa lalu.

Masa-masa ketika ia bersama Devon dulu—saat pria itu selalu menyambutnya dengan pelukan hangat yang sama dan kata-kata yang hampir persis seperti yang ia ucapkan sekarang.

Perasaan yang lama terkubur seolah muncul kembali.

Lora perlahan melepaskan pelukan Devon.

Ia segera menepis matanya yang mulai berkaca-kaca, lalu memaksakan sebuah senyum lebar.

“Lihat… Queen membawakan Epon camilan yang enak, sekaligus lolipop raksasa sesuai dengan janji Queen.” ucap Lora sambil menunjukkan kantong yang ia bawa.

Mata Devon langsung berbinar-binar.

“Yeeayyy! Lolipop! Waahhh… ada cokelat juga!”

Ia melonjak kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.

“Terima kasih, Queen! Epon sangat suka sekali!” ucapnya dengan wajah penuh kebahagiaan.

Tiba-tiba Devon menghentikan lonjakannya.

Ia mendekat.

Lalu tanpa peringatan—

Devon menempelkan bibirnya ke bibir Lora.

Sebuah ciuman singkat.

Namun cukup untuk membuat waktu seolah berhenti.

Lora langsung membeku.

Ciuman yang dulu hanya ia pura-purakan demi menenangkan Devon…

Kini benar-benar terjadi.

Bibir Devon benar-benar menyentuh bibirnya.

Walaupun hanya kecupan singkat, kehangatan dari bibir pria itu terasa jelas di bibir Lora.

Jantungnya berdetak tidak teratur.

Namun___

Drttt… drttt… dtrrrrr…

Tiba-tiba ponsel Lora bergetar keras di dalam tasnya.

Suara itu membuatnya tersadar dari keterkejutannya.

Lora segera merogoh tasnya dan melihat layar ponselnya.

Sebuah panggilan video.

Dari Lestari.

Ibunya.

Tanpa berpikir panjang, Lora langsung mengangkat panggilan itu.

Begitu layar terbuka—

“Bunda!!!”

Teriakan dua suara kecil langsung terdengar bersamaan.

Di layar ponsel itu terlihat sepasang anak kembar berusia enam tahun yang menatap Lora dengan wajah penuh kerinduan.

.

.

.

💐💐💐Bersambung.💐💐💐

Wahhh . . .Kira- kira siapa yaaa yang panggil Lora dengan sebutan bunda itu????

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!