NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 8 - PINTU YANG TAK SEHARUSNYA TERBUKA

Pertanyaan Mike menggantung di udara selama tiga detik yang terasa jauh lebih panjang dari itu.

Ara menatap Mike yang berdiri di sisi mejanya dengan ekspresi yang terlalu terbuka, terlalu langsung, terlalu persis seperti pertanyaan yang sama persis sudah ia hindari sejak kemarin. Di sebelahnya, Via duduk diam dengan buku catatan di tangannya yang sudah tidak lagi pura-pura dibuka.

"Gosip yang mana?" Ara bertanya, karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia ucapkan ketika otaknya belum siap.

Mike memiringkan kepalanya sedikit. Satu gerakan kecil yang menyampaikan bahwa ia tahu Ara tahu gosip mana yang ia maksud. "Yang soal kamu dan Gian William dari kelas XI-C."

Nama itu terdengar berbeda ketika diucapkan oleh Mike. Lebih formal. Lebih nyata. Seperti sesuatu yang tadinya hanya ada di kepala Ara sekarang tiba-tiba menjadi sesuatu yang cukup konkret untuk berdiri di antara mereka bertiga di ruang kelas ini.

Ara membuka mulutnya.

Dan tepat saat itu, Bu Sinta masuk ke kelas dengan tumpukan kertas di tangannya dan suara langkah yang selalu lebih keras dari yang perlu.

"Duduk semua, kita mulai," beliau berkata bahkan sebelum sampai di meja guru.

Mike melirik ke depan kelas, lalu kembali ke Ara sebentar. "Nanti lanjut ya," ia berkata pelan, lalu berbalik dan berjalan keluar kelas kembali ke kelasnya sendiri sebelum Bu Sinta sempat mempertanyakan kehadirannya di kelas yang bukan kelasnya.

Ara menatap punggung Mike menghilang di balik pintu.

Via menghela napas panjang di sebelahnya, sangat pelan, tapi cukup untuk didengar Ara.

Bu Sinta mulai membagikan kertas. Pelajaran dimulai.

Dan Ara duduk di bangkunya dengan satu masalah baru yang sekarang resmi masuk ke dalam daftar panjang hal-hal yang belum ia tahu cara menghadapinya.

---

Gosip itu ternyata sudah menyebar lebih jauh dari yang Ara perkirakan.

Ia menyadarinya sekitar jam kedua, ketika seorang anak dari kelas sebelah melirik ke arahnya di lorong dengan ekspresi yang terlalu penuh arti untuk sekadar tatapan biasa. Lalu saat jam ketiga, dua orang yang bahkan tidak ia kenal menyenggol satu sama lain dan berbisik begitu Ara lewat. Dan saat jam istirahat pertama, Lina mendatanginya dengan ekspresi seseorang yang baru melihat berita mengejutkan dan tidak bisa menyimpannya sendiri.

"Ara, jadi yang kemaren itu beneran?" Lina langsung bertanya begitu duduk di depan Ara. "Kamu sama Gill?"

Ara menatapnya. "Darimana kamu denger?"

"Semua orang udah tau." Lina mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya diturunkan tapi matanya bersinar dengan antusias yang tidak bisa disembunyikan. "Aku kira kemarin kamu cuma bercanda."

Ara tidak perlu bertanya lebih lanjut untuk tahu bagaimana bisa secepat itu. Kantin kemarin tidak sesunyi yang ia kira. Dan satu bisikan di sekolah sekelas Eldria International bisa menempuh jarak yang mengagumkan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Itu..." Ara memilih kata-katanya. "Situasinya lebih kompleks dari itu."

"Tapi beneran ada sesuatu?"

Ara tidak menjawab.

Lina mengambil keheningan itu sebagai konfirmasi yang cukup dan langsung menarik kursinya lebih dekat ke meja Ara.

Ara menarik napas panjang dan memutuskan bahwa hari ini ia perlu makan siang di tempat yang tidak ada seorang pun yang bisa menanyakan hal-hal yang belum bisa ia jawab.

---

Kantin adalah tempat yang harus ia hindari.

Ara memutuskan itu di perjalanan menuju kantin, lalu berbalik arah sebelum masuk, lalu berdiri di lorong selama beberapa detik sambil memikirkan alternatifnya.

Kelas terlalu terbuka. Ruang perpustakaan tutup untuk renovasi minggu ini. Ruang OSIS ada Mike di dalamnya.

Itu meninggalkan satu pilihan.

Ara sudah tahu tentang atap sekolah sejak kelas satu. Tapi ia tidak pernah benar-benar pergi ke sana karena tidak ada alasan untuk itu, karena biasanya kantin sudah cukup, karena biasanya ada Via yang mengisi setiap ruang kosong dengan obrolan dan tawa sehingga Ara tidak pernah merasa perlu mencari tempat yang lebih sunyi.

Tapi hari ini Via sedang di kelas karena ada sesuatu yang harus diselesaikan dengan guru Biologi, dan Ara tidak mau ke kantin, dan ia sudah menyiapkan bekal dari rumah pagi tadi setelah sadar bahwa kemarin ia pulang ke rumah dengan perut setengah kosong.

Jadi atap.

Tangga menuju atap ada di ujung lorong gedung B, di balik pintu yang tampilannya lebih mirip pintu gudang dari luar. Ara mendorongnya pelan, menaiki anak tangga yang sedikit berdebu, dan keluar ke bawah langit Eldria yang hari ini mendung tipis.

Angin menyambutnya.

Ara berdiri di ambang pintu selama beberapa detik, membiarkan angin itu menyentuh wajahnya, membawa serta suara-suara dari bawah yang terdengar jauh dan kecil dari sini. Suara kantin, suara lapangan olahraga, suara sekolah yang sedang berjalan normal seperti biasa sementara di dalam kepala Ara semuanya jauh dari normal.

Ia berjalan ke sisi atap yang terlindung dari angin langsung, dekat dinding, dan duduk di sana. Mengeluarkan bekalnya. Membuka tutupnya.

Nasi. Ayam. Sedikit sayur yang ibunya selalu masukkan meski Ara jarang menghabiskannya.

Ara mengambil sendok dan mulai makan.

Satu suapan.

Dua suapan.

Suara kota Eldria dari ketinggian ini berbeda dari suara yang biasa ia dengar dari dalam kelas atau lorong sekolah. Lebih lapang. Lebih jujur. Tidak ada yang bisa berpura-pura di tempat seterbuka ini.

Ara mengunyah pelan dan untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir, pikirannya tidak langsung berpacu ke mana-mana.

Ini yang ia butuhkan.

Ketenangan yang bukan hasil dari menghindari sesuatu, tapi ketenangan yang datang karena ia memilih untuk duduk diam dan membiarkan semuanya ada tanpa harus diselesaikan sekarang juga.

Mungkin semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin gosip itu akan reda dengan sendirinya.

Mungkin Via akan percaya penjelasannya.

Mungkin Mike akan lupa untuk melanjutkan pertanyaannya.

Mungkin—

Suara pintu atap terbuka.

Keras, tanpa peringatan, dan diikuti oleh suara langkah yang sama sekali tidak berusaha untuk tidak mengganggu ketenangan seseorang yang sudah dengan susah payah menemukannya.

Ara menoleh.

Seorang cowok berdiri di ambang pintu atap dengan kantong plastik di satu tangan dan es krim cone di tangan lainnya, mulutnya belepotan cokelat dari es krim yang sudah setengah dimakan, dan matanya sedang memindai atap mencari sudut yang paling jauh dari matahari.

Rambut hitam.

Seragam yang kali ini bersih.

Mata yang langsung berhenti bergerak begitu menemukan bahwa atap ini tidak kosong.

Gill menatap Ara.

Ara menatap Gill.

Kantong plastik di tangannya berisi apa yang terdengar seperti banyak sekali jajanan kalau dilihat dari volume dan beratnya. Es krim di tangannya sudah mulai meleleh di pinggir cone karena ia terlalu lama berdiri di sini tidak bergerak.

Tidak satu pun dari mereka yang bergerak selama tiga detik penuh.

Lalu Gill membuang pandangan, berjalan masuk ke atap seolah Ara tidak ada di sana, dan mulai mencari posisi duduk yang tepat di sudut yang ia inginkan, yang kebetulan bukan terlalu jauh dari tempat Ara duduk karena sudut paling teduh di atap ini memang hanya ada di satu sisi.

Ara menoleh kembali ke bekalnya.

Baik.

Ini tidak apa-apa.

Mereka hanya dua orang yang kebetulan ada di atap yang sama. Tidak ada yang mengharuskan mereka berbicara. Tidak ada yang mengharuskan mereka bahkan mengakui keberadaan satu sama lain. Gill jelas sudah sangat terlatih dalam hal itu.

Ara mengambil satu suapan lagi.

Gill duduk di sudutnya, mengeluarkan ponselnya dari saku, dan mulai bermain sesuatu dengan suara yang sudah ia matikan sehingga tidak ada bunyi apa pun dari arahnya selain sesekali suara kantong plastik jajanannya bergeser.

Dua menit berlalu.

Tiga menit.

Hening yang bukan tidak nyaman tapi juga bukan nyaman. Lebih seperti hening yang menunggu sesuatu meski tidak ada yang mau memulai.

Ara meletakkan sendoknya.

Jujur saja, sejak kemarin sudah ada sesuatu yang ia tahu harus ia lakukan dan terus ia tunda karena tidak tahu bagaimana memulainya. Dan sekarang orangnya ada di sini, dua meter dari tempat ia duduk, dan tidak ada Via yang harus ia jaga perasaannya, tidak ada Lina atau Diana yang mendengarkan, tidak ada Mike yang mungkin lewat.

Hanya mereka berdua dan langit Eldria yang mendung tipis.

"Maaf," Ara berkata.

Gill tidak menoleh. Jarinya masih bergerak di layar ponselnya.

Ara menarik napas. "Aku minta maaf soal kemarin di kantin. Yang nasi tumpah. Aku tau aku udah minta maaf dua kali sebelumnya tapi dua-duanya nggak beneran didengar, jadi aku mau minta maaf yang ketiga dan kali ini aku minta kamu dengerin."

Tidak ada respons.

Hening.

Angin lewat, menggerakkan ujung rambut Ara dan mengangkat sedikit kertas bekas bungkus sesuatu yang tergeletak di sisi atap.

Gill masih tidak menoleh.

Sesuatu di dalam dada Ara yang tadinya sudah mencoba bersabar bergerak naik satu tingkat.

"Kamu dengerin aku nggak?" Ara bertanya, kali ini nadanya sudah naik dari yang ia maksudkan.

Gill akhirnya mengangkat kepala dari ponselnya. Pelan. Dengan kecepatan yang menyampaikan bahwa ia melakukan ini bukan karena merasa perlu tapi karena suara Ara sudah mencapai volume yang melewati ambang batas kenyamanannya.

Matanya menatap Ara.

Datar.

"Kamu ngomong sama aku?" ia bertanya.

Ara menatapnya balik. Menahan napas sebentar. Lalu dengan suara yang berusaha keras untuk tidak terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan kesabaran, ia berkata, "Nggak. Sama angin. Ya sama kamu lah, cuma kita manusia berdua di sini."

Gill mengernyit tipis. Memindai Ara dari kepala sampai ke bekal yang masih setengah dimakan di tangannya, lalu kembali ke wajah Ara. "Apa maumu?"

Dunia berhenti berputar selama setengah detik.

Ara menatap cowok di depannya itu.

Cowok yang sudah dua kali dipanggilnya. Cowok yang nasi Ara tumpah ke bajunya kemarin. Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket semalam. Cowok yang namanya keluar dari mulut Ara sendiri tanpa perencanaan tadi di kantin dan sekarang sudah menjadi gosip yang menyebar ke seluruh sekolah.

Dan ia cuma berkata apa maumu.

Sesuatu di dalam dada Ara yang sedang ia tahan dengan kedua tangan hampir meledak keluar. Ia menghirup napas satu kali, dalam, mengumpulkan setiap sisa kesabaran yang masih ada, lalu menghembuskannya pelan.

Ia berdiri.

Mengambil bekalnya.

Memutuskan bahwa lebih baik ia pindah tempat daripada melanjutkan percakapan ini karena kalau ia melanjutkannya dalam kondisi seperti ini tidak ada yang bisa ia jamin tentang apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.

Ia sudah dua langkah menuju pintu ketika suara itu datang dari belakangnya.

Pelan. Hampir tenggelam di antara suara angin.

"Gosip itu benar?"

Ara berhenti.

Kakinya berhenti bergerak sebelum otaknya selesai memutuskan apakah ia ingin berhenti atau tidak.

Di belakangnya, tidak ada suara lain. Gill tidak menyusul, tidak mengulang pertanyaannya, hanya membiarkannya menggantung di udara antara punggung Ara dan tempat ia duduk.

Ara berdiri di tengah atap itu, bekal di tangannya, punggung ke arah Gill, dan pertanyaan itu masih menggantung menunggu sesuatu.

Ia menutup matanya sebentar.

Lalu berbalik.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!